CUT

CUT
Dr. Rendra???


__ADS_3

Status mereka memang sudah berubah tapi kamar mereka masih terpisah. Cut belum mau membiarkan mereka sekamar berdua. Apalagi Kebencian Wulan masih kentara terhadap Anugrah. Sementara Anugrah sendiri hanya bisa memperhatikan Wulan dari jauh. Dia tidak bisa mendekati Wulan. Jangankan dalam jarak dekat, melihatnya dari jauh saja Wulan lansung meneriakinya sebagai pembunuh dan berbagai sumpah serapah lainnya.


Bahkan saat Wulan kesusahan mengambil gelas, Anugrah hanya bisa melihat tanpa bisa mendekati ataupun membantu. Sementara di tempat lain, Iskandar sedang mencoret-coret lembaran skripsi milik beberapa mahasiswa bimbingannya dan salah satu dari mereka ada Aisyah.


“Ini megacu kemana?”


“Maksudnya apa?”


“Jelaskan secara rinci?”


Dan masih banyak lagi coreta-coretan indah Iskandar di lembaran milik Aisyah. Keesokan harinya, Aisyah dan beberapa mahasiswa lainnya sudah mengantri untuk menerima bimbingan di ruangan Iskandar.


“Pak Is itu aneh bin ajaib. Saat jadi pembimbing KKN, dia baik banget tapi waktu jadi dosen pembimbing skripsi berubah jadi killer.” Celutuk salah satu dosen.


“Setuju, aku juga sempat mikir kalau baiknya dia akan keterusan saat bimbing skripsi. Lumayan kan untuk mempermulus jalan kita. Eh, jadinya malah di luar dugaan.” Ucap Dodik si ketua KKN.


“Padahal nilai kalian bagus semua waktu KKN biarpun sempat terjadi tragedi.”


Dodik mengangguk setuju. “Sudahlah, Kita dengarin saja kalau dia mengomel.” Celutuk Aisyah.


“Masalahnya bukan mengomel, Aisyah. Tapi mencoret tanpa mengomel ini yang bikin sulit.”


“Kalau dia mengomel, justru kita akan bertanya apa dia seorang emak-emak?”


Mereka membicarakan seseorang yang berada di balik pintu sedang mendengar dengan baik bagaimana para mahasiswa membicarakannya secara lantang termasuk Aisyah.


Ceklek…


Pintu ruangan yang semula mereka kira terkunci karena sang dosen belum datang ternyata sengaaa dikunci dari dalam. Mereka menelan salivanya dengan susah seraya menatap sang dosen yang sedang tersenyum manis pada mereka. Sesuatu yang menurut mereka suatu pertanda buruk. Iskandar yang mereka kenal tidak akan tersenyum seperti itu tanpa alasan yang jelas. Dan ini jelas sebuah ancaman untuk mereka.


“Silakan masuk!” ucap Iskandar lalu kembali duduk di kursinya. Para mahasiswa mengambil skripsi masing-masing lalu membuka satu persatu halaman yang di dalamnya sudah tertulis berbagai instruksi yang lumayan membuat hidup tidak tenang.


“Pak, ini salahnya dimana?” tanya salah satu mahasiswa.


“Coba baca!”


“Kalian semua, dengarkan!”


Mahasiswa itu membaca salah satu alasan teoritis yang ditulisnya dan setelah itu tiga mahasiswa termasuk Aisyah ikut menyanggah alasan tersebut.


“Sekarang tahu kan salahmu dimana?” tanya Iskandar. Para mahasiswa ini mendadak diam dan pasrah menerima nasib skripsi mereka yang masih dicoret walaupun sudah hampir lima kali pertemuan.


“Pak, kira-kira kami bisa ikut wisuda akhir tahun ini, Tidak?”


“Semua ada di tangan kalian! Saya hanya membimbing.”


“Tolong dibantu dong, Pak supaya kami bisa ikut sidang bulan depan.” Mohon Dodik. Dia merasa dekat hingga berani untuk memohon pada Iskandar.


“Iya, Pak.” Mohon mereka serentak.


Iskandar menatap satu persatu mahasiswanya dengan mimik datar, “Perbaharui sripsi kalian sesuai arahan saya dan buat sesempurna mungkin tanpa ada salah sedikitpun lalu jelaskan kepada saya tentang penelitian kalian di luar kepala saat datang lagi. Kalau kalian berhasil meyakinkan saya saat itu maka saya pastikan kalian bisa wisuda akhir tahun ini.” Wajah-wajah yang tadinya lesu kini tersenyum cerah menatapnya tak terkecuali Aisyah.


“Terima kasih, Pak.”


“Hem, tapi ingat! Jelasan kepada saya tanpa salah sedikitpun. Jangan beralasan kalau manusia itu tempatnya salah karena tidak akan mempengaruhi keputusan saya. Keluarlah dan segera perbaiki skripsi kalian!”


Setelah mereka keluar, Iskandar kembali mmenyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Saat ini ia begitu lelah memikirkan nasib dirinya dan adiknya. Belum lagi kabar dari Aceh yang membuatnya sedikit emosi. Bagaimana tidak emosi jika gadis yang mengaku anak dari sang ayah berbuat ulah di rumah neneknya.


Kak Julie menghungi Iskandar menyampaikan perihal Anindita. Kak Julie sengaja menghubungi Iskandar langsung karena Cut sudah bukan lagi anggota keluarga mereka walaupun hubungan mereka masih terjalin dengan baik.


“Dia meminta warisan yang sama denganmu pada orang tua Tante. Kamu tahu, Nenek dan kakekmu langsung luluh saat anak itu marajuk karena tidak diberikan warisan yang sama denganmu.”


“Bagi dua saja yang hak aku, Tante.”


“Masalahnya tidak sesederhana itu, Iskandar. Iya, kalau itu anak memang anak ayahmu. Kalau bukan? Di dunia ini ada orang yang mirip tanpa ada hubungan darah, apa kamu tidak melihat berita? Sekelas Salman Khan dan Shah Rukh Khan aja ada yang mirip masa ini yang hanya anak orang biasa tidak ada yang mirip?”


Perkataan Kak Julie ada benarnya juga tapi ibunya jelas-jelas orang yang dikenal oleh sang mama. Iskandar sendiri sudah melihat dari foto yang dikirimkan oleh Kak Julie padanya. “Jadi, Is harus bagaimana, Tante?”


“Kamu hubungi ibunya. Suruh jemput anaknya jangan menggangu di rumah orang.”


“Baik, Tan. Nanti aku minta nomernya pada Anugrah.”


“Oh ya, bagaimana kabar adik kamu itu?”


“Baik, Tante. Dia sudah mulai bekerja lagi hanya saja istrinya masih belum bisa diajak bicara.”

__ADS_1


“Tante ikut prihatin. Maaf karena tidak bisa menjenguk.”


“Tidak apa-apa, Tante. Tapi tolong rahasiakan ini dari Mama ya! Aku tidak mau Mama semakin tertekan.”


Setelah mengakhiri obrolannya via telepon, Iskandar mencoba menghubungi Anugrah yang sedang berada di kantornya.


“Assalamualaikum, Kak.”


“Di kantor. Kenapa, Kak?”


“Em, aku mau minta nomer Tiara. Apa kamu masih simpan?”


“Sudah lama aku blok, Kak. Tapi aku punya nomer Doni. Sebentar, aku kirim.”


Iskandar melihat pesan masuk dari sang adik. “Boleh tahu untuk apa, Kak?”


“Ada yang mau kakak tanya.”


“Apa yang mau Kakak tanya? Apa karena mereka hingga membuat aku kecelakaan? Tolong, Kak. Jangan ungkit lagi masa lalu aku. Aku sudah menerima kesalahan dan hukumanku. Aku terlalu terbawa perasaan malam itu saat tahu mereka telah bertunangan hingga tidak sadar membawa motor dalam kecepatan tinggi sampai menabrak Wulan. Aku bersalah, Kak. Aku ingin menebus kesalahanku sendiri. Jangan bawa lagi mereka dalam hidupku.”


Iskandar membisu, ia tidak menyangka akan mendengar pengakuan ini dari adiknya. Selama ini keluarganya sepakat untuk menerima kecelakaan itu sebagai musibah tanpa mencari tahu penyebabnya. Tapi sekarang? Anugrah mengakui sendiri padanya.


“Kak, Kakak dengar aku kan?”


“Tenang saja, ini tidak menyangkut kamu sama sekali. Aku memerlukan nomer ibunya Tiara.”


Setelah pembicaraan dengan sang adik, Iskandar langsung mengirip pesan pada Doni.


“Selamat siang, saya Iskandar kakak dari Anugrah. Saya ada keperluan dengan Ibu dari Tiara. Apa kamu memiliki nomer ponselnya?”


Hanya centang satu, Iskandar menghela nafasnya lalu mematikan ponsel kemudian berjalan menuju salah satu kelas. Di tempat lain, Doni yang baru selesai mengikuti rapat terkejut ketika membuka pesan dari nomor tidak dikenal.


“Siapa?” Doni memperlihatkan isi pesan dari Iskandar pada Tiara.


“Ada apa ya? Kenapa tiba-tiba kakak Anugrah meminta nomer ponsel Mamaku?” Doni mengedikkan bahunya.


“Gimana, aku kasih atau tidak?” tanya Doni memastikan.


“Kasih aja lah, siapa tahu penting. Tapi apa ya? Aku jadi penasaran.”


“Hallo, selamat malam.”


“Selamat malam, maaf dengan siapa ini?”


“Saya Iskandar, Tante. Kakak Anugrah.”


“Oh, ada ya?”


“Maaf, Tante. Saya hanya mau memberitahukan jika putri Tante yang bernama Anindita saat ini ada di Aceh di rumah kakek nenek saya.”


“Apa???” Shinta terlonjak kaget.


“Ngapain dia di sana?”


“Tante Julie bilang, putri Tante ingin mengenal keluarga ayahnya.”


“Gila, untuk apa anak itu melakukannya.”


“Ya sudah, Tante. Saya hanya ingin memberitahukan itu saja.”


“Terima kasih.”


“Tapi Tante, apa dia benar-benar anak ayahku?”


“Bukan, anak ayahmu sudah mati.”


Tuttt……..


Iskandar manatap nanar layar ponselnya. Siapa sebenarnya Anindita?


Ting…


“Assalamualaikum, Pak. Kapan saya bisa bimbim langi?”


“Apa kamu sudah perbaiki semua sesuai yang saya tandai?”

__ADS_1


“Sudah, Pak.”


“Besok, jam 12.00 di ruangan saya. Jangan lupa presentasimu!”


“Insya Allah.”


Iskandar menatap pesan terakhir yang Aisyah kirim untuknya. Lalu ia kembali menghubungi sang adik.


“Assalamualaiku, kapan jadwal fisioterapi istrimu lagi?”


“Besok, Kak. Kakak mau menemani?”


“Tidak. Aku pikir sudah. Mau tahu perkembangannya saja.”


“Ouh,”


“Sudah ya! Tetap sabar. Assalamualaikum,”


“Walaikumsalam.”


Iskandar mengingat kembali bagaiman ia memarahi Wulan di rumah sakit setelah melakukan percobaan bunuh diri. Iskandar sangat murka apalagi yang menemukan gadis itu adalah dirinya. Selama hidupnya ia tidak pernah berbicara dengan nada tinggi pada seorang wanita asing tapi saat melihat perbuatan Wulan pada dirinya sendiri sungguh membuatnya murka. Ditambah lagi, bayang-bayang tentang almarhum ibu dari Wulan terus menghantuinya. Pesan yang wanita paruh baya itu titipkan pada ibunya membuat Iskandar seperti ikut menanggung amanah tersebut.


Ting…


“Saya minta kirimkan alamat nenekmu di Aceh. Dita tidak menjawab panggilan saya.”


Iskandar langsung mengirim alamat rumah neneknya di Aceh pada Shinta. Ia berharap kedatangan Shinta akan menyelesaikan masalah di masa lalu mereka.


Keesokan harinya, Cut dan Rendra kembali mengantar Wulan ke rumah sakit. Sementara Anugrah hanya melihat dari balik dinding. Ia tidak mau membuat Wulan emosi ketika melihatnya walaupun rasa bersalah Anugrah tidak akan pernah hilang walaupun Wulan memaafkannya.


Mereka sampai di rumah sakit langsung menuju ke ruang praktik dokter spesialis saraf. Rendra menuju loket pendaftaran.


“Pagi, Mbak. Saya mau mendaftar untuk bagian saraf.”


“Boleh saya lihat berkas-berkasnya, Pak!” rendra menyerahkan berkas-berkasnya pada petugas loket.


“Ini sebelumnya dengan Dokter Gunawan ya Pak?”


“Iya, Mbak.”


“Maaf, Pak. Dokter Gunawan sudah pindah ke luar kota dan sekarang diganti dengan dokter baru. Bagaimana?”


“Baik, Mbak. Tidak masalah.”


Setelah menyelesaikan administrasi, Rendra kembali bergabung dengan Cut dan Wulan. “Kamu mau makan atau minum?” tanya Rendra tegas. Ia mulai bersikap tegas pada Wulan setelah berbagai aksi protes yang gencar dilakukan oleh gadis itu yang membuat kepalanya sakit. Yang terakhir adalah percobaan bunuh diri yang membuat dirinya sama murka dengan sang putra.


“Nak, kamu mau makan atau minum?”


Wulan masih bergeming, “Heh, lakukan saja apa yang kalian mau. Aku tidak akan peduli. Dasar egois.” Rendra hanya bisa menahan diri ketika acap kali kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu selalu menyakiti istrinya.


Cut mengusap lembut tangan sang suami seraya menggeleng pelan. “Kalau kamu haus atau lapar, bilang ya!” Cut berkata sangat lembut pada menantunya walaupun tidak diabaikan.


“Ibu Wulandari!”


Kedua suami istri itu mengangkat tangan bersamaan, “Silakan masuk, Buk.”


Rendra mendorong kursi roda milik Wulan masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Seorang perawat datang lalu memeriksakan tekanan darah Wulan. “Ada keluhan, Mbak?”


“Saya ingin mati, Mbak bisa bantu saya?” Perawat itu tersenyum kecil lalu kembali masuk ke dalam salah satu ruang diikuti oleh mereka.


“Selamat Pagi, Bapak, Ibu dan Mbak Wulandari. Pasiennya Dokter Gunawan ya? Apa boleh saya menggantikan?”


“Silakan, Dok.”


“Terima kasih. Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik ya Mbak Wulan. Oh iya, sebelumnya perkenalkan nama saya Dokter Rendra.”


“Dokter Rendra? Ternyata kita punya nama yang sama.”


 


***


Berikan BINTANG untuk CUT ya...Happy Weekend....


bantu CUT dengan TIDAK SKIPP IKLAN... MAKASIH

__ADS_1


__ADS_2