
“Maaf, aku bukan lupa mengundangmu tapi aku memang sengaja tidak ingin mengundangmu ke pernikahanku.”
“Kenapa? Apa kita menjadi musuh setelah putus? Seingatku, kamu sendiri yang mengatakan jika kita masih tetap berteman walaupun sulit." balas seorang wanita melalui sambungan telepon.
“Bukan begitu, aku hanya tidak mau menyakitimu dengan datang ke pernikahanku.”
“Hohooo...perkiraanmu salah Fais. Aku tidak selemah itu.”
“Ya sudah kalau kamu tetap memaksa. Aku tunggu.”
“Tidak, aku tidak berminat lagi ke pernikahanmu. Selamat berbahagia saja dan terima kasih.”
Tit.....
Perbincangan itu diputus sepihak oleh Shinta. Faisal mengacak rambutnya secara kasar, hubungannya selama ini dengan mantan kekasih yang berbeda suku dan agama baik-baik saja namun, karena ia tidak mengundang Shinta akhirnya sang mantan kekasih tersebut justru marah dan merasa diabaikan.
Makan malam kali ini diisi dengan suara ejekan yang dilontarkan oleh kedua J bersaudara. Kakak dan abangnya tidak berhenti mengejeknya hingga sang ayah harus turun tangan menangani ketiga anaknya.
“Jika kalian masih mengganggunya maka, ayah pastikan pelaminan ini akan tetap terpasang setelah pesta Fais.”
“Ayah mau kawin lagi?” tanya Adi yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang ibu.
“Kamu dan Juli yang akan Ayah nikahkan. Biar kalian tahu rasa.”
“Memangnya ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya untuk menikah dengan kami? Ayah....ayah....” ucap Juli lalu keduanya kompak meninggalkan meja makan.
“Usaha melarikan diri yang bagus.” gumam Faisal.
Selepas makan malam di rumah keluarganya, Faisal kembali lagi ke rumah paman dan bibinya yang juga dihuni oleh mertua serta sang istri yang baru ia nikahi kemarin. Cut merapikan tempat tidur, memakai wangi-wangian untuk menyambut sang suami pulang. Suara sepeda motor Faisal terdengar dari lubang angin jendela dan tanpa sadar membuat Cut tersenyum senang.
“Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam,” ucap para penghuni rumah yang tengah menghias beberapa talam untuk dibawa saat acara antar dara baro.
“Kamu sudah makan?” tanya Mak Cek Siti.
“Sudah, Mak Cek. Ini titipan dari Ibuk.
Saat Mak Cek Siti hendak mengambil barang yang dibawa Faisal, Rabiah lebih dulu mengambil barang tersebut dari tangan Faisal. “Apa ini, Bang? Dari baunya seperti kue.” ucap Rabiah dengan senyuman yang dibuat-buat.
“Kamu buka saja. Hmmm...Cut ke mana?” tanya Fais pada Mak Cek Siti.
“Kak Cut di kamar lagi bersih-bersih.” sahut Rabiah kembali.
__ADS_1
Para tetua hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah Rabiah. Faisal meninggalkan para ibu-ibu lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.
Ceklek...
“Mau salat?” tanya Faisal pada sang istri yang sudah mengenakan mukenanya.
“Sudah, Abang?”
“Sudah juga.”
Faisal berjalan ke kamar mandi meninggalkan Cut yang masih menggunakan mukenanya. “Kenapa masih memakai mukena?” tanya Faisal ketika keluar dari kamar mandi.
Cut terlihat bingung dan malu-malu. Faisal menyadari ada yang aneh dengan sang istri hingga membuat ia penasaran dan secara perlahan melangkahkan kakinya mendekati sang istri yang berdiri dengan canggung.
Faisal terkejut ketika mendapati seorang wanita dengan rambut panjang terurai serta pakaian tidur yang indah setelah menyingkap mukena yang dipakai Cut. Ia sangat mengenali pakaian itu karena dia sendiri yang memilihnya ketika ibunya mengajak membeli perlengkapan pribadi yang akan dibawa untuk Cut.
Cut menunduk malu sementara Faisal mengulum senyum karena usaha sang istri untuk menarik perhatiannya berhasil Cut lakukan.
“Cantik.”
“Kamu sangat cantik dengan baju ini. Tidak salah aku memilihkan baju tidur ini untuk kamu.”
“Faisal sendiri yang memilih baju ini untuk kamu. Jadi, pakailah untuk menyenangkan hatinya karena itu juga bisa menjadi amal untuk kamu kelak.” begitulah Mak Cek Siti berujar lalu ia menyerahkan baju tidur yang baru mereka buka sore tadi.
Dan detik berikutnya kedua pengantin kembali memadu kasih tanpa peduli jika jam masih bertengger pada pukul sembilan malam. Masih terlalu cepat untuk tidur namun begitulah ketika pengantin baru bersama di kamar. Tidak ada kata cepat atau lambat, gairah dan nafsu terus meronta ingin disalurkan.
Jika di kamar pengantin baru, sepasang suami istri tengah bermandikan keringat karena kelelahan memabukkan. Di seberang pulau yang tidak jauh dari pusat kota, seorang suami tengah menghadapi kedua istrinya yang merajuk karena cemburu.
Di sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah Keuchik Banta, Khalid sedang dibuat pusing oleh kedua istrinya yang merupakan putri dari Keuchik Banta. “Kak Ceudah mengalah sedikit demi adik. Aku kan lagi hamil, anak aku lagi rindu sama ayahnya, masak Kakak tidak mau mengerti.” protes Tari.
“Aku tidak mau mengerti karena sekarang masih jatahku, Tari. Lebih baik kamu pulang ke rumahmu.” usir Ceudah pada sang adik.
Putro Tari dan Putro Ceudah menikahi laki-laki yang sama yaitu Khalid. Pernikahan itu berlangsung setelah Khalid hampir tertangkap aparat keamanan saat berada di kota. Melalui Bang Mayed, Khalid bisa kembali ke pulau dan akhirnya ia menikah dengan kedua putri Keuchik Banta dan membuat rumah satu persatu untuk istrinya.
Hormon kehamilan tengah melanda Tari. Seharusnya malam ini masih milik kakaknya tapi tiba-tiba ia datang ke rumah kakaknya untuk meminta Khalid menemaninya tidur malam ini karena ia sulit untuk memejamkan mata.
“Kalau tidak, izinkan Bang Khalid untuk menemani aku sampai tertidur. Setelah itu, Bang Khalid bisa kembali ke sini bersama kakak, bagaimana?” Tari mencoba cara lain.
“Tidak. Sekali tidak tetap tidak. Selama ini aku juga tidak bisa tidur tapi tidak pernah meminta Bang Khalid untuk ke sini.”
Khalid berjalan mendekati Ceudah yang terlihat emosi. “Abang pernah menemui kamu diam-diam kan?”
__ADS_1
Glek...
Ceudah langsung bungkam oleh bisikan Khalid dan detik berikutnya Tari tersenyum senang karena Khalid akan menemaninya tidur malam ini. Sementara, Ceudah hanya bisa terdiam melihat kepergian sang suami ke rumah adiknya.
“Apa yang Abang bisikkan ke Kak Ceudah sampai dia langsung berubah begitu?” tanya Tari sambil memeluk sang suami erat.
Khalid tersenyum kecil, “Rahasia!”
“Tidurlah!”
“Tidak bisa.”
Khalid sadar betul bagaimana menghadapi istri mudanya ini. Kecupan-kecupan ringan lalu berubah menjadi tuntutan hingga sampai ke puncak kenikmatan mampu membuat Tari tertidur nyenyak karena kelelahan.
Khalid menyelimuti sang istri kecil lalu bergegas ke rumah kakak dari istri mudanya tersebut.
Tok...tok....
“Assalamualaikum.”
“Assalamualaikum.”
Pintu terkunci dan tak ada tanda-tanda orang terjaga di dalamnya. Angin pantai mulai menusuk pori-pori kulit Khalid hingga sebuah rumah menyita perhatiannya. Kakinya melangkah pasti menuju rumah tersebut.
Tok...tok...
“Assalamualaikum.”
“Assalamuala-“
“Walaikumsalam, Abang.” suara wanita lembut nan manja terdengar begitu menggoda ditambah dengan baju ketat dengan dada yang hampir menyembul keluar semakin menambah keseksian istri ke tiga dari Khalid.
“Kamu belum tidur?” tanya Khalid ketika masuk ke rumah tersebut.
“Belum, Mala lagi baca buku cerita baru yang dibawa pulang sama Minah dari kota.”
“Abang kok ke sini? Harusnya malam ini di rumah Ceudah.” tanya Mala kembali.
“Apa Abang juga tidak diterima di sini?”
***
LIKE....KOMEN...SHARE....
__ADS_1