
“Saya lihat kamu sedikit aneh sama orang tuamu. Maaf, bukannya saya mau ikut campu-“
“Mereka bukan orang tua saya. Mereka itu orang tua dari anak yang telah membuat saya begini dan membuat saya kehilangan kesempatan untuk melihat ibu saya untuk terakhir kalinya. Mereka sangat jahat dan kejam, Dokter. Mereka bahkan memaksa saya untuk menikah dengan anaknya itu.” luruh sudah air mata serta beban yang selama ini ditahan oleh Wulan.
“Dokter jangan terpedaya dengan penampilan mereka. Apa Dokter bisa membantu saya untuk kabur dari mereka?” tanya Wulan penuh harap.
“Kalau kamu dipaksa menikah, sebaiknya kamu melapor ke polisi.”
“Bagaimana caranya, Dok? Saya selalu dikurung di rumah itu.”
Dokter Rendra berpikir sejenak, “Kalau kamu dikurung kenapa mereka mau membawa kamu terapi? Ini aneh menurut saya.”
“Mereka itu selalu dihantui rasa bersalah, Dokter. Apalagi perempuan tua itu. Dia selalu sok lembut dan perhatian untuk menutup rasa bersalahnya.”
“Jadi sekarang kamu sudah dinikahkan dengan putra mereka?” Wulan mengangguk pelan.
“Tolong saya, Dokter. Saya ingin pergi jauh dari mereka. Saya membenci mereka terutama putra mereka itu. Pria itu sangat menjijikkan.”
Dokter Rendra menatap bingung pada pasiennya. Ia meresa serba salah saat ini. Lalu dia menekan sesuatu di ponsel pintarnya.
“Hallo, selamat siang. Saya Dokter Rendra dari Rumah Sakit Harapan. Saat ini, saya bersama seorang pasien lumpuh akibat kecelakaan dan dipaksa menikahi pria tersebut dan pasien saya terkurung di rumah itu. Bagaimana, Pak. Saya bingung ini.”
“Baiklah, sebentar lagi kami akan mengutus anggota kami ke sana.” Setelah memberitahukan nama dan ruang polinya, Dokter Rendra segera menutup teleponnya lalu menatap sang pasien.
“Padahal nama kami sama, saya tidak menyangka jika ceritanya akan berbeda.”
“Dokter jangan terlalu naif melihat orang. Nama koruptor juga banyak yang pakai tapi apa mereka juga koruptor? Belum tentu. Begitu juga dengan nama Dokter. Namanya sama tapi orangnya belum tentu baik. Pak Tua yang namanya sama dengan Dokter itu sangat pemaksa. Dia selalu memaksakan kehendaknya sama saya.”
“Apa kamu pernah dilecehkan?” tanya Dokter Rendra serius.
“Pak Tua itu menggendong saya tiba-tiba tanpa permisi apakah itu termasuk tindakan pelecehan?”
Dokter Rendra kembali berpikir, “Kalau posisinya itu kamu seperti sekarang tidak bisa dikatakan pelecehan. Saya juga akan melakukan hal yang sama kalau bertemu orang dengan kondisi seperti ini.”
Rendra yang sedagng menunggu di luar ruangan terkejut melihat kedatangan polisi bersama seorang perawat dan sekuriti rumah sakit. Seketika, keadaan rumah sakit mendadak heboh.
“Ada apa ya? Kok polisi mencari Dokter Rendra?”
“Dokter Rendra baru di pindah ke rumah sakit ini tapi sudah berurusan dengan polisi. Kira-kira kasus apa ya?”
“Apa dia dipindahkan kemari karena terlibat kasus di rumah sakit sebelumnya?” Berbagai berita miring terus bermunculan dari mulut para perawat hingga berita itu sampai kepada telinga seorang wanita yang berusia sekitar 45 tahun. Wanita berkerudung itu terkejut saat asistennya memberitahukan perihal kedatangan polisi yang mencari putranya.
Wanita tersebut segera mengambil jas putihnya lalu berjalan menuju lift seraya menekan sebuah nama di ponselnya.
“Hallo, di mana Dokter Rendra?”
“Di ruangannya, Buk.”
Wanita itu langsung turun menuju ruangan poli saraf dimana sudah ada polisi dan Wulan yang duduk bersama. Sementara Rendra dan Cut diminta tetap di luar. Mereka bingung saat tahu Wulan meminta Dokter Rendra untuk melaporkan mereka ke polisi.
“Anak ini benar-benar di luar dugaan.” Ucap Rendra.
“Apa kita harus menghubungi Anugrah, Pa?”
__ADS_1
“Tidak perlu! Biar Papa yang bicara sama Polisinya nanti.”
Seorang wanita berjalan cepat memasuki ruangan Dokter Rendra. Wanita itu mengabaikan sepasang suami istri yang tengah duduk di luar ruangan.
“Selamat siang, Pak Polisi. Ada apa ini, Nak?”
“Perkenalkan, saya Ayu Saraswati. Ibu dari Dokter Rendra.” Ucap wanita itu seraya bersalaman dengan kedua orang petugas kepolisian. Ibu Ayu duduk lalu mendengar semua laporan yang diajukan oleh Wulan pada sepasang suami istri yang sedang berada di luar. Pihak kepolisian sudah mendengar laporan dari Wulan kemudian salah satu perawat diminta untuk memanggil sepasang suami istri itu untuk masuk ke dalam. Wulan menggeser kursi rodanya lebih dekat dengan Dokter Rendra.
Rendra mengambil KTA lalu menujukkan pada pihak kepolisian. Lalu salah satu petugas polisi mengkonfismasi apa yang sudah mereka dengar dari Wulan sebelumnya.
“Semua yang dikatakan menantu kami benar bahwa kami memaksa membawanya ke sini untuk pengobatan dan sebagai bentu tanggung jawab kami juga janji kami pada mendiang ibunya yang secara jelas meminta kami untuk menjaga dan merawatnya. Lalu perihal kami kami menikahkannya dengan putra kami juga itu benar. Umur tidak ada yang tahu, kami ingin Wulan memiliki seseorang yang akan menjaganya dalam ikatan pernikahan yang sah jika kami meninggal nanti. Putra kami anak yang baik dan bertanggung jawab. Dia juga langsung bersedia saat kami memintanya untuk menikahi Wulan. Wulan juga perlu dibantu di saat-saat tertentu jika kami tidak ada dan alangkah baiknya jika putra kami membantu dalam keadaan mereka sebagai mahram. Ini semua untuk menghindari dosa sekecil apa pun yang bisa terjadi pada keduanya saat mereka berdua.” Rendra menjeda ucapannya sesaat.
“Masalah dia dikurung, kami tidak mengurungnya. Istri saya selalu mengajaknya duduk di teras atau taman saat pagi hari sambil memijit kakinya. Kalau dia sudah bisa berjalan, saya akan membiarkannya keluar kemana saja yang dia mau. Bahkan kalau dia ingin melanjutkan kuliah, saya juga bersedia menanggung biayanya. Hanya saja, kami menjauhi dia dari berbagai barang berbahaya karena dia pernah mencoba menyayat pergelangan tangannya dengan tujuan ingin menyusul mendiang ibunya. Saya tanya sama Bapak-bapak polisi dan Dokter, apakah semua tindakan kami termasuk kriminal? Kalau masalah dipaksa menikah, putra saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari Wulan. Jangankan tidur sekamar, putra saya selalu menjaga jarak dengannya karena setiap kali Wulan melihat putra kami. Dia selalu menyebutnya dengan ‘Pembunuh’ dan berbagai sumpah serapah lainnya. Bukan hanya pada putra kami, pada kami juga sama. Tapi kami masih memaklumi karena dia marah dan kecewa. Tapi melaporkan kami ke polisi seperti ini sungguh tindakan yang membuat kami harus menarik nafas dalam-dalam. Kami tidak berpikir akan dipermalukan seperti ini oleh menantu kami sendiri.”
“Aku tidak sudi jadi menantu kalian!” sela Wulan emosi.
“Baiklah, kalau begitu. Di depan bapak-bapak polisi dan Dokter rumah sakit ini. Saya berjanji akan menyuruh putra saya untuk menceraikan kamu setelah kamu sembuh total. Ingat itu, setelah kamu sembuh total maka putra saya akan menceraikan kamu dan kamu bisa bebas seperti yang kamu inginkan.” Ucap Rendra tegas seraya menatap tajam ke arah Wulan.
Ketegangan lain juga terjadi di dalam ruangan seorang dosen. Iskandar sedang memeriksa setiap lembaran dihadapannya. Aisyah hanya sendiri di ruangan itu karena temna-temannya yang lain belum ada yang siap.
Aisyah menjelaskan secara detail isi skripsinya layaknya sidang. Iskandar mendengar dengan saksama seraya matanya memperhatikan setiap kalimat di dalam sripksi milik Aisyah. Keringat di telapak tangan Aisyah menandakan jika ia sedang gugup yang teramat sangat. Ketegangan Aisyah tidak berhenti sampai di sana, setelah memjelaskan isi skripsinya, Aisyah juga harus menjawab beberapa pertanyaan dari Iskandar.
Sesekali, Iskandar melirik tajam ke arah Aisyah untuk menghindari kecurangan yang Aisyah lakukan. Iskandar sangat tegas dalam membimbing mahasiswanya.
“Kamu bawa contekan?”
“Tidak, Pak”
Alangkah terkejutnya Aisyah saat Iskandar meminta botol mineral tersebut darinya. Setelah memutar sedikit tanpa melepas habis tutup botol tersebut. Iskandar kembali menyerahkan kepada Aisyah.
“Terima kasih, Pak.”
“Kamu belum jawab pertanyaan saya.”
“Eh, saya tidak bawa contekan. Itu murni dari kepala saya, Pak. Skripsi itu saya yang buat sudah pasti saya tahu apa yang saya tulis di dalamnya.”
“Kamu tidak menghafal?”
“Tidak perlu menghafal, Pak. Tapi terhafal dengan sendirinya.”
“Apa motivasimu untuk cepat wisuda?”
“Saya ingin segera bekerja, Pak.”
“Hanya itu?”
Dengan ragu Aisyah mengangguk. “Apa kamu tidak berniat untuk menikah?”
“Hah? Me-menikah?”
“Iya,”
“Saya belum punya calon, Pak.”
__ADS_1
“Kalau begitu saya ingin melamar kamu, apa kamu mau?”
Aisyah hampir tidak berkedip menatap sang dosen, bukan karena tampan tapi karena kaget dengan ucapan sang dosen yang tidak pernah ia bayangkan.
“Saya tidak bisa menerima orang sembarangan tanpa tahu seluk beluk pria tersebut. Saya tidak mau menikah karena dikejar usia atau apa pun alasan lainnya. Saya ingin menikah dengan pria yang membuat hati dan pikiran saya tidak baik-baik saja saat bersamanya.”
Iskandar mengernyit menatap gadis yang selama ini terlihat kalem tapi ternyata pemikirannya tentang pasangan hidup membuat Iskandar harus bekerja keras untuk mendapatkannya. “Jadi kamu mau saya bagaimana? Saya tidak bisa membaca pikiranmu jadi katakan saja apa yang kamu mau.”
“Bapak yakin mau melamar saya? Sejak kapan Bapak menyukai saya?” Entah angin apa yang menghampiri Aisyah hingga gadis ini ingin mengintrogasi sang dosen.
“Entahlah, saya hanya memikirkan kenapa kamu bisa ada dalam mimpi saya saat itu?”
“Lalu?” tanya Aisyah kembali seakan sedang berbalik peran.
Iskandar tersenyum kecil, “Kamu ingin menguji saya?”
“Saya hanya ingin tahu. Sama seperti Bapak yang ingin tahu tentang isi skripsi saya. Bapak belum jawab pertanyaan saya.”
“Lalu saya salat meminta petunjuk sama Allah dan hasilnya adalah kamu.”
“Pak, menikah tidak bisa hanya berdasarkan saya ada di mimpi Bapak. Tapi lebih dari itu.”
“Contohnya?” tanya Iskandar cepat.
“Bapak memiliki perasaan pada saya saat ini atau belum? Gimana ya saya bilangnya. Sebelum menikah atau melamar saya, sebaiknya kita saling berkomunikasi untuk sekedar saling berkenalan satu sama lain. Untuk menciptakan keakraban anatara kita jangan belum apa-apa udah nikah saja. Apa kabar setelah itu?”
“Intinya seperti orang pacaran tapi kita kan tidak bertemu dan tidak perlu sayang-sayangan juga. Seperti itulah, Bapak ngerti kan? Saya bingung menjelaskannya.”
Iskandar tertawa kecil menatap gadis di depannya. “Apa kabar mereka yang menjalani taaruf?” pertanyaan yang membuat Aisyah cemberut karena Iskandar mengambil kalimatnya.
“Itu lain kasus, Pak.”
“Hem, baiklah. Jadi saya harus berlakon seperti seorang pacar yang menghubungi kamu untuk bertanya apa kamu sudah makan? Kamu lagi di mana? Sama siapa? Sedang berbuat apa?” Aisyah makin cemberut dan itu sukses membuat Iskandar menahan nafasnya dalam-dalam. Ia membuang muka sembarang karena tidak tahan melihat gadis yang diam-diam sudah mengetuk hatinya dari beberapa bulan lalu.
“Pak, terlepas dari lamaran tadi. Apa saya bisa ikut wisuda tahun ini atau tidak?” Iskandar mengambil pulpen lalu membubuhkan tanda tangannya di lembaran persetujuan.
“Ada beberapa tanda baca yang masih keliru, tolong kamu perhatikan secara rinci. Sampai bertemu di persidangan.”
“Bukan di KUA, Pak.” Iskandar menatap tajam gadis yang sedang menggodanya itu.
“Setelah sidang langsung ke KUA juga boleh.” Jawabnya membuat wajah Aisyah langsung berubah tegang.
“Kamu sudah bisa membicarakan ini dengan orang tuamu. Tanyakan pada mereka, kapan keluarga saya bisa bersilaturrahmi dengan mereka?”
“Kalau Bapak lulus dengan ujian saya baru bisa bertemu mereka.”
“Aisyah!!!”
“Assalamualaikum, Pak.”
***
Up jam 04.34
__ADS_1