
Malam ini di kediaman Bapak Wicaksono begitu ramai dengan kehadiran Anugrah dan Wulan. Bapak Wicaksono juga mengundang sahabatnya yaitu Pak Wahid beserta keluarga. Awalnya Rendra sempat merasa kesal lantaran sang ayah mengundang keluarga mantan istrinya tapi berhubung rumah itu masih milik sang ayah. Mau tidak mau Rendra harus menerimanya.
Anugrah sedang membantu membungkus barang-barang seserahan bersama ibu dan Kak Julie. Ia duduk di atas karpet sementara sang nenek duduk di atas sofa bersama Wulan.
“Nak, cepatlah sembuh! Siapa tahu kalian bisa mengadakan resepsi setelah kamu sembuh nanti.” Ucap Ibu Murni pada Wulan.
“Kalian tidak memberinya seserahan seperti ini dulu?” tanya Ibu Murni kembali pada Cut dan Rendra.
“Belum, Buk. Seperti kata Ibu tadi, kami akan mengadakan resepsi setelah Wulan sembuh. Dia juga belum melewati pedang pora.” Sahut Rendra.
“Kamu jangan hamil dulu ya! Pengantin yang sedang hamil kurang semangat karena badannya yang mudah capek. Resepsi itu sangat melelahkan makanya kalau kamu hamil, bakal susah nanti.”
Gleg...
Baik Anugrah maupun Wulan hanya tersenyum kaku. Bagaimana mau hamil, tidur saja pisah.
“Kisah kalian the real MBA ya? Menikah karena kecelakaan.” Celutuk Risma yang sedari tadi bergabung di sana tapi seolah tidak dianggap.
“Jalan jodoh tidak ada tang tahu, Nak. Sama seperti Cut. Dulu dia menantu kami tapi akhirnya malah menjadi istri dari mantan suamimu. Jodoh itu rahasia Allah sama seperti hati manusia. Tidak ada yang tahu apa warna hati tersebut bahkan diri kita sendiri.” Jelas Ibu Murni membuat Risma enggan membalas apalagi wanita itu sudah tua.
“Kamu sudah menikah lagi, Nak?” tanya Ibu Murni pada Risma.
Risma merasa malu ditanya begitu. Umurnya sudah melewati angka 40. Ia selama ini menghabiskan waktu dengan bekerja dan pacaran dengan beberapa orang yang dia temui. Keinginan untuk menikah sudah kandas setelah kegagalan hubungannya dengan beberapa pria akibat pengkhianatan.
“Aku sudah tidak ingin menikah, Nenek. Ribet dan susah gerak. Aku bekerja dan memiliki uang yang lumayan jadi aku tidak butuh lagi menopang hidup pada laki-laki bergelar suami. Lebih baik seperti ini.” Ujar Risma.
“Memang benar pilihanmu. Saat tidak ada laki-laki yang baik dan setia. Memutuskan untuk hidup sendiri adalah yang terbaik dari pada menderita dengan pasangan. Tapi kalau ada laki-laki baik dan setia mungkin keputusanmu akan berubah nantinya.” Suara lemah Ibu Murni ternyata sarat akan makna dan penekanan yang membuat setiap orang yang mendengarnya akan mengerti ke mana tujuan perkataan itu.
“Kuncinya adalah jodoh itu cerminan diri. Kalau kamu setia maka pasanganmu juga akan setia. Tapi kalau tidak maka jangan harap kamu akan mendapatkan pasangan yang setia. Allah itu maha adil termasuk dalam jodoh.” Lanjut Ibu Murni.
“Betul itu, Nenek.” Celutuk Anugrah.
“Tapi menikah karena terpaksa juga tidak baik kan, Buk? Seperti Anugrah dan Wulan. Anugrah itu kan cinta mati sama pacarnya yang beda agama itu terus karena menabrak gadis itu dia dipaksa menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab lalu setelah Wulan sembuh mereka akan bercerai. Apa mereka sedang mempermainkan pernikahan? Cut dan Rendra malah yang paling berperan dalam pernikahan mereka. Lebih tepatnya, mereka yang memaksa Wulan menerima Anugrah. Apa kalian tidak menanyakan pendapat Wulan terlebih dahulu?”
“Ini malamnya Iskandar. Lebih baik kita fokus ke dia saja.” Sahut Rendra membuat semua yang hadir ikut terdiam.
Iskandar sendiri malam itu berada di taman belakang bersama teman-temannya.
“Aku pikir kamu dan Ari akan jadi ipar tapi malah beralih ke rumah mahasiswamu sendiri.” Celutuk Reski. Sahabat till jannah malam ini ikut hadir memeriahkan acara Iskandar. Malam ini mereka menginap di sana supaya lebih efisien.
“Kamu sudah menghubungi Aisyah?” tanya Dwi.
“Sudah. Aku sudah memintanya memakai cadar besok.”
“Dia mau?” Iskandar mengangguk.
Dreeet...
“Kamu sungguh akan lamaran besok? Wah, aku tidak kamu undang? Tega banget sama adik sendiri.” Pesan dari Anindita.
“Datanglah kalau kamu sempat!” balas Iskandar kembali.
“Serius? Aku datang ini. Di mana acaranya?”
Iskandar mengirim alamat tempat berlangsungnya acara lamarannya esok hari pada Dita. Entah kenapa, dia menghubungi Dita dan memberitahukan Dita tentang acara lamarannya esok.
__ADS_1
“Oke, besok aku datang!” balas Dita.
“Kamu di Surabaya?” Iskandar sedikit terkejut.
“Tidak, aku di Jakarta. Tapi besok aku pastikan akan hadir di sana.”
“Jangan paksakan dirimu. Aku hanya ingin memberitahumu saja.”
“Sampai jumpa besok, KAKAK.”
Iskandar tersenyum kecil membaca pesan terakhir yang Dita kirimkan.
Acara lamaran yang Iskandar pikir akan diadakan di rumah secara sederhana nyatanya berubah di H-5. Aisyah tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan jika orang tuanya akan mengadakan acara lamaran di gedung sebuah hotel.
Iskandar beruntung karena semua seserahan yang sudah dibeli adalah pilihan Aisyah sendiri. Untuk cincin pertunangan, Iskandar memilih sendiri cincin tersebut. Sebuah cincin berlian seharga 80 juta tanpa siapa pun tahu. Dia tidak ingin pamer atau ria. Baginya, harga cincin itu biar menjadi rahasia agar tidak terjadi kesenjangan atau kehebohan. Ia juga tidak mau membuat istri dari Anugrah merasa terkucilkan karena hanya mendapat mahar seadanya dari Anugrah.
Keesokan harinya....
Riuh mulai terdengar begitu azan subuh berkumandang. Acara lamaran akan diadakan tepat pukul 10 pagi.
“Ayo, aku bantu!” Anugrah memapah Wulan menuju kamar mandi.
Di saat Anugrah menyiapkan sabun dan sampo, Wulan yang sudah duduk di atas kloset tiba-tiba memutar kran shower hingga badan Anugrah basah.
“Maaf, aku pikir krannya rusak.” Panik Wulan.
Anugrah berdiri tegak di bawah shower seraya menatap Wulan lekat. Ia berjalan pelan lalu mengangkat tubuh Wulan hingga keduanya sama-sama berdiri di bawah guyuran shower. Keduanya saling menghadap tapi Wulan tidak berani menatap Anugrah. Dalam guyuran air itu, bentuk tubuh keduanya tercetak jelas termasuk bentuk dada keduanya.
“Tinggalkan aku sendiri!” ketus Wulan.
Wulan hampir terjatuh jika Anugrah tidak menangkapnya. Wajah keduanya begitu dekat dengan sorot mata yang berbeda dari keduanya. Dada Wulan terasa sesak dengan posisi rapat begini.
“Pegangan!” ucap Anugrah kemudian mengambil tangan Wulan lalu diletakkan di gantungan handuk yang tertancap di dinding.
“Balik badanmu!” titah Anugrah.
Setelah melihat Wulan membalikkan badan, ia segera membuka pakaiannya yang basah kuyup dengan handuk.
“Panggil kalau sudah selesai. Jangan jalan sendiri, licin.”
Anugrah pergi meninggalkan kamar mandi. Sementara Wulan kembali melanjutkan mandinya dengan membuka pakaiannya yang basah.
“Sudah.” Ucap Wulan dalam kamar mandi.
Anugrah sudah berganti dengan celana selutut lalu masuk ke kamar mandi untuk menjemput Wulan. Gadis itu sudah memakai pakaian dalamnya lalu membungkus badannya dengan handuk kimono.
Setelah keluar kamar, Anugrah mendudukkan Wulan di tempat tidur lalu mengambil pakaiannya dan segala alat rias yang selama ini dia pakai. Alat rias yang cukup sedikit menurut Anugrah. Bedak, pembersih wajah dan lipstik.
“Sisir.” Lirih Wulan.
Setelah menyerahkan sisir, Anugrah langsung ke kamar mandi.
“Jangan lupa ketok kalau keluar.” Pinta Wulan.
Begitulah interaksi mereka selama ini lalu saat Anugrah di kamar mandi, Wulan langsung berganti pakaian.
__ADS_1
“Yahhh...kenapa resletingnya di belakang?” gerutu Wulan melirik pakaian baru yang diberikan oleh ibu mertuanya.
“Aku keluar!” ucap Anugrah lalu segera membuka pintu kamar mandi.
Anugrah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian tadi.
“Ada apa?” tanyanya melihat gelagat Wulan seperti ingin meminta sesuatu tapi tertahan.
“Tolong resleting!” lirih Wulan kemudian melirik ke arah belakang punggungnya. Tanpa canggung, Anugrah segera melangkah menuju punggung sang istri lalu-
Anugrah segera menarik resleting itu tanpa mengatakan apa pun.
“Ada lagi?” tanya Anugrah lalu Wulan segera menggelengkan kepalanya.
Setelah keduanya berpakaian, mereka langsung keluar dan bergabung dengan yang lain. Mereka sarapan pagi bersama kemudian memeriksa kembali semua barang-barang yang akan dibawa nanti.
Dua jam kemudian...
Iskandar keluar menggunakan kemeja batik berwarna gelap hingga kulit putihnya terpancar jelas.
“Kak, cincinnya jangan sampai lupa.” Anugrah mengingatkan sang kakak.
“Bunganya sudah datang?” tanya Rendra pada si Bibik.
“Sudah, Pak.”
“Ayo, jangan sampai telat.” Ajak Rendra. Mereka menaiki mobil yang sudah terparkir di depan rumah.
Di salah satu ruangan, Aisyah sedang dirias ditemani sang ibu. “Kamu bahagia, Nak?”
“Tentu, Ma. Ini mimpiku, Ma.”
“Alhamdulillah kalau kamu bahagia. Kami merasa tenang melepasmu.”
“Ini cadarnya dipakai juga ya, Mbak?” tanya perias itu.
“Iya, Mbak. Calon suami saya tidak mau kalau ada pria lain yang melihat saya hari ini.”
“Iya, saya paham.”
30 menit kemudian, seorang petugas datang menginfokan jika keluarga Iskandar sudah memasuki gedung.
Wajah Aisyah yang tadinya ceria tiba-tiba berubah sedikit tegang.
“Tenang, Mbak. Masnya belum bisa gigit.” Goda perias itu kembali.
Pihak keluarga Aisyah sudah berdiri di tempat masing-masing. Kemudian, MC mempersilakan keluarga Iskandar untuk memasuki ruang utama lalu menempati bangku masing-masing.
Begitu mereka berada di posisi masing-masing dan saling berhadapan,-
“Fais!”
***
__ADS_1
Siapa ya???