
“Sial!” batin Risma.
“Kamu jangan terlalu senang dulu. Kamu diterima jadi menantu hasil ancaman. Mama tidak pernah setuju dengan pernikahan kalian. Kalau pun ia menerima Anugrah karena itu adalah benih Rendra. Tapi tidak dengan kamu. Nasib kamu sungguh sial, Cut. Dibalik kebaikan yang kamu dapatkan, kamu tidak lebih sebagai mesin pencetak cucu untuk mereka. Apa kamu tidak tahu jika mereka sudah menyiapkan warisan untuk Anugrah bahkan saat ia lahir. Lalu, dimana posisi anak pertamamu? Jawabannya adalah tidak ada! Anak pertamamu tidak pernah mendapat tempat di hati keluarga Rendra. Mereka menyayangi dia hanya karena dia anak yatim korban tsunami. Bahkan kamu harus meminum semua ramuan yang Mama bawa supaya kamu hamil lagi kan? Bagaimana rasanya?”
Risma tertawa keras menatap Cut penuh dengan rasa kasihan. Cut tidak menampik, semua yang dikatan Risma memang benar. “Kamu tahu, apa jadinya setelah kamu memberikan cucu tampan untuk mereka? Apa kamu berpikir dapat membuat mereka menerima kamu jadi menantu seutuhnya? Tidak, Cut. Jangan berharap banyak! Aku takut kamu kecewa. Apa kamu yakin Rendra akan selamanya mencintai kamu? Rendra itu tegas hanya pada anak buahnya tapi pada ibunya? dia tidak akan berani. Bahkan untuk menikahimu saja, dia hanya bisa mengancam dengan merusak dirinya sendiri tidak berani berbuat lebih. Bagi Rendra, ibunya adalah segalanya.”
Risma menatap Cut sesaat, “Apa kamu tahu saat Rendra mengatakan jika dia jatuh cinta pada kamu. Ibunya langsung melarang dan tidak merestui hingga akhirnya kalian batal bersama. Kira-kira menurut kamu itu kenapa? Jawabannya adalah restu ibu. Rendra tidak mendapat restu dari ibunya untuk menikahi kamu. Makanya kalian gagal menikah. Lalu, ibunya meminta Rendra untuk menikahiku. Kamu tahu, dia langsung setuju. Bukan tidak mungkin kan jika itu akan terulang lagi?”
“Baju yang sudah dibuang tidak akan diambil lagi. Mungkin Mbak tidak tahu tapi itulah prinsip hidup suamiku. Apalagi pengkhianatan yang Mbak lakukan tidak akan membuatnya menerima Mbak kembali. Dan apakah Mbak yakin jika Mama dan Papa akan menerima Mbak jika kami bercerai? Kalau saya sih tidak yakin. Kekuatan Mama masih kalah dengan suara Papa. Dan sampai sekarang, Papa tidak pernah mengungkit nama Mbak sekalipun. Bahkan, Papa meminta putranya untuk menjauhi masalah dan masalahnya adalah Mbak Risma. Jadi, sudah paham sejauh ini? Saya rasa, Mbak Risma pasti paham lah. Mbak kan orang kota dan berpendidikan.”
“Ternyata memang benar, kamu keturunan pemberontak. Ok, kalau itu maumu. Secara tidak langsung kamu sudah menyalakan api peperangan antara kita.”
“Mbak, saya ini korban perang. Jujur saja, capek Mbak kalau hidup dalam peperangan. Mbak belum rasa kan? Nah, lebih baik kita tidak perlu berperang lagi. Aceh saja bisa damai masak kita tidak. Apa harus tunggu tsunami kedua baru Mbak mau berdamai dengan saya? Saya tidak merebut Rendra tapi Mbak yang melepasnya sendiri. Jadi, jangan marah kalau saya mempertahankannya sekarang. Karena saya sangat amat mencintai suami saya dan kami juga menikah atas dasar cinta dan sayang. Jadi, kenapa kita harus berperang sementara objeknya sudah memilih saya?”
“Cih, tidak heran Rendra menjadi seperti ini. Ternyata istrinya pandai bersilat lidah dan sangat licik. Padahal, aku tidak berniat merebut Rendra kembali. Aku hanya ingin berteman dengannya. Tapi melihat sifat istrinya yang seperti ini. Justru membuatku tertarik untuk merebutnya dari wanita licik sepertimu.” Risma berdiri lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu.
“Mbak,-“ panggil Cut saat Risma hendak keluar.
“Tidak ada pertemanan antara pria dan wanita apalagi antara mantan. Saya takut Mbak terpesona kembali dengan perhatian dan kelembutan suami saya. Walaupun saya tidak khawatir dengan suami saya. Karena dia laki-laki setia.”
Brak…
Risma membanting pintu lalu keluar meninggalkan rumah Cut.
Buh..
Cut roboh di atas sofa. Sekuat tenaga ia menahan sesak di dadanya saat berbicara dengan Risma. Cut menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diri sesaat.
Risma yang sudah terang-terangan mengobarkan api peperangan mulai melakukan aksinya. Ia mengambil ponsel dalam tas lalu menghubungi sebuah nomer.
“Hallo, Ren. Kamu sibuk gak? Aku mau bicara sebentar bisa?”
“Kamu tidak kerja?” balas Rendra diseberang sana.
“Kerja, ini aku lagi jalan. Kita ketemuan di tempat biasa aja jam istirahat. Gimana?”
“Baik.”
__ADS_1
Setelah mendapat jawaban dari Rendra, Risma segera menuju kantornya. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Rendra nanti. Sebuah senyum smirk dia sunggingkan sebelum memasuki kantor. Sementara di kantornya, Rendra sedang diinterogasi oleh Wahyu.
“Kamu harus memikirkan perasaan Cut. Dia yang sekarang menjadi istrimu bukan Risma.” Protes Wahyu saat mengetahui jika Rendra menerima ajakan Risma.
“Yu, aku tidak berniat apa-apa. Pertemuan kali ini tidak ada arti apa-apa. aku hanya ingin memberitahukan Risma baik-baik. Aku tidak mau bermusuhan dengan orang dan aku juga kasihan sama dia. Banyak orang yang mengejeknya di jejaring pertemanan itu. Aku harap dia mau menurut saat aku memintanya menutup akun media sosialnya.”
“Cih, perhatian sekali kamu padanya. Apa kamu tidak memikirkan istrimu?”
“Yu, aku tidak berselingkuh dengan Cut. Aku hanya menganggap Risma sebagai teman. Lagian orang tua kami masih bersahabat sampai sekarang walaupun kami bercerai. Perceraian tidak harus membuat kami saling bermusuhan kan? Coba pikirkan, kenapa aku harus bermusuhan? Justru kalau kami bermusuhan atau aku masih membencinya. Bukankah itu tandanya masih ada rasa diantara kami?"
Wahyu tampak berpikir. Memang yang dikatakan oleh temannya itu benar. Jika Rendra membenci Risma karena apa yang dia perbuat di masa lalu. Itu berarti bahwa Rendra masih mencintai Risma dan belum menerima apa yang Risma lakukan.
“Aku benar kan?”
“Iya kamu benar tapi apakah dia juga berpikir sama dengan kamu? Bukankah wanita itu suka baper kalau diperhatikan oleh pria? Aku takutnya dia malah jatuh cinta lagi sama kamu karena semua perhatianmu itu.”
Rendra tergelak, ia tidak percaya dengan yang dikatakan Wahyu. “Itu tidak masuk akal, Yu. Dia wanita bebas dan bisa mendapatkan pria yang lebih dariku. Buktinya, saat bersamaku saja dia bisa menjalin cinta dengan rekan kerjanya apalagi sekarang.”
Perdebatan mereka terheti karena pekerjaan. Namun keduanya masih dengan pikiran masing-masing. Hingga jam istirahat tiba. Rendra langsung menuju ke warung ketoprak tempat pertemuannya dengan sang mantan istri.
Setelah memesan ketoprak tidak lama Risma langsung menyusul ke dalam. Ia juga memesan hal yang sama lalu mendudukkan diri di depan Rendra. Setelah berbasa-basi sebentar, Rendra langsung menanyakan tujuan Risma mengajaknya bertemu.
“Aku rindu…hahahah… bercanda. Jangan serius begitu.” Jawab Risma seraya tergelak.
“Ris, ada apa?” tanya Rendra dengan mode tegasnya.
“Aku mau tanya, apa istrimu marah karena kita berteman?”
Rendra tidak bisa menjawabnya. Dia terdiam sesaat lalu menghela nafasnya.
“Kalian kan sesama wanita ya pasti ngertilah kalau urusan begini tanpa perlu aku katakan.”
Risma menatap Rendra lekat, “Ren, kita memang sudah cerai dan aku akui salah karena masih memajang foto itu. Tapi aku tidak mau kita bermusuhan. Tolong beri pengertian pada istrimu. Kamu kan suaminya, masa dia tidak percaya pada suaminya sendiri. lagian, kamu kan buka tipe peselingkuh seperti aku.”
Rendra menatap sang mantan yang tengah menunduk. Tersirat penyesalan yang dalam dari ucapan Risma tadi.
“Menyesal juga tidak berguna, Ren. Aku ingin memperbaikinya tapi jalannya sudah tertutup. Aku ingin kita berteman seperti dulu sebelum kita menikah. Kita saling berbagi cerita bersama tanpa sungkan. Apa istrimu tidak bisa menerima itu? Bilang padanya jika aku tidak akan merebutmu darinya. Aku bukan pelakor, Ren. Aku masih bisa mendapatkan laki-laki lain yang lajang bukan suami orang seperti kamu.”
__ADS_1
Rendra kembali menghela nafasnya. “Aku juga tidak tertarik lagu untuk menjadikanmu kekasih. Aku mencari pria lain dan siapa tahu mereka memiliki apa yang tidak kamu miliki.”
Rendra menautkan alisnya, “Maksudmu?”
Risma tergelak, “Gaya, Ren. Aku sudah melihat berbagai gaya yang kamu punya. Mungkin ada orang diluar sana yang memiliki gaya lain yang lebih hot mungkin.”
Risma tergelak kembali melihat wajah pias Rendra. “Lihat, aku bisa bebas mengekspresikan diriku saat bersama kamu. Kalau aku berniat merebutmu mungkin aku akan lebih kalem dan anggun seperti dulu, ya kan?”
Rendra mengangguk kecil, “Nanti akan aku bicarakan pada istriku.”
“Sip…”
“Apa istrimu bermain sosial media juga, Ren?”
Rendra mengangguk, “Tapi dia tidak terlalu aktif. Dia suka melihat resep masakan dan motif-motif pakaian.”
“Kamu pernah melihat akunnya?”
Rendra kembali mengangguk. “Dia memperlihatkannya.”
“Apa kamu tidak takut dia akan terpengaruh dunia maya?”
“Aku ingin melarangnya tapi saat aku lihat apa yang dia mainkan akhirnya aku membiarkannya. Tapi tetap aku pantau. Aku tidak mau dia salah main. Dunia maya tetap berbahaya bagi mereka yang kurang paham."
"Yups...aku setuju.”
Perbincangan keduanya terus berlanjut sampai jam istirahat selesai. Rendra juga mengantar Risma ke depan Bank sebelum kembali ke kantornya.
Sementara di rumah, Cut sedang beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Anugrah sedang bermain mobil-mobilan sedangkan di belakang Aanugrah, Cut tengah berbaring malas sambil berselancar di dunia maya. Salah satu yang sangat suka dia lakukan adalah membaca cerita tentang pelakor yang dibagikan oleh beberapa akun. Setelah bertemu langsung dengan Risma, dia semakin gencar mencari pengalaman korban pelokor.
Ting…
Sebuah pesan masuk ke dalam akun Cut.
“Salam kenal, Mbak.”
***
__ADS_1