CUT

CUT
Tiga Pria...


__ADS_3

Rumah dinas yang kecil itu tiba-tiba menjadi sempit malam ini. Kamar yang biasanya dipakai sebagai kamar ganti kini berubah menjadi kamar para pria. Cut dan Wulan tidur berdua di kamar yang biasanya dipakai oleh Anugrah dan Wulan. Sedangkan di kamar sebelah, para pria tidur bertiga di atas selembar karpet.


“Pa, berasa lajang lagi gak?” seloroh Anugrah saat ketiganya sudah berbaring bersama.


“Ogah Papa jadi lajang kalau kenyataannya enak setelah menikah. Kalau kalian sudah merasakan nikmatnya menikah kalian akan menyesal karena telat kawin.”


“Pa, jangan mengotori pikiran kami dengan hal-hal seperti itu.” protes Anugrah.


“Kenapa? Papa hanya mengatakan yang seharusnya. Kalian bukan anak kecil lagi. Menikahlah supaya kalian tenang!”


“Kita sudah lama tidak tidur seperti ini. Dulu, saat Papa tugas, kami selalu tidur bertiga sama Mama.” Iskandar mengenang masa kecilnya dulu. Walau ia tidak akur dengan sang adik tapi mereka selalu tidur bersama dengan Cut sebagai penengah.


“Tapi Kakak tidak mengizinkanku memeluk Mama saat itu. Kakak juga tidak pernah memelukku.” Protes Anugrah kembali.


“Aku geli dipeluk olehmu. Kita ini laki-laki, ngapain meluk-meluk?” sahut Iskandar.


“Tapi kan aku adik kakak. Teman-temanku semua memeluk adiknya. Kalau jalan berdua selalu rangkulan. Nah, Kakak? Mana pernah. Aku selalu jalan dibelakang Kakak.”


“Itu supaya kamu gak kecebur dalam parit. Kalau kamu ngikutin aku pasti aku jalan di jalan yang benar, kalo gak udah pasti kamu masuk parit.”


“Aku kan punya mata buat melihat.”


“Eh, kenapa kalian malah berdebat tentang masa lalu? Apa ada yang belum selesai dari masa lalu kalian?”


“Ada!” jawab keduanya serentak.


“Apa lagi?” tanya Rendra.


“Aku masih belum ikhlas kalo belum tahu berapa jumlah deposito yang Kakek berikan untuk Kakak?” Rendra dan Iskandar menatap Anugrah dengan kening berkerut.


“Kenapa kamu ingin tahu, Papa saja selaku anak kandungnya tidak ingin tahu.” Protes Rendra.


“Tapi memang iya sih, Papa juga penasaran tapi dikit. Memangnya berapa, Is?” tanya  Rendra kemudian menatap pada sang putra.


“Bilangnya gak penasaran tapi pengen tahu juga.” Cibir Anugrah.


Iskandar menghela nafasnya lalu berkata, “Gak banyak, Pa. cuma 300 juta.”


“Apa? CUMA 300 juta dan itu gak banyak???” Iskandar diam-diam tertawa riang dalam hati karena berhasil mengerjai ayah dan adiknya.


“Sudahlah, aku mau tidur.” Ucapnya kemudian.


“Pa, Kakak itu hartanya banyak juga ya! Kalau aku minta sama orang tua Papa Fais kira-kira dikasih gak? Secara aku juga menantunya, anak dari Mama.”


Plak…


Sebuah tamparan kecil mendarat di pipi Anugrah. “Papamu itu Papa Rendra. Berhenti memanggil pria lain sebagai Papa. Minta saja sama orang tua Fasi setelah itu warisanmu dicabut kembali sama Kakek, mau?” Anugrah langsung menggeleng cepat.


“Tidur sana!”


Rendra kesal lalu berbalik membelakangi sang putra. Sementara Iskandar sekuat tenaga menahan tawanya.


Plak…


Bahunya dipukul oleh Rendra, “Ketawa sepuasnya sebelum ketawa itu dilarang.” Malam itu suasana rumah dinas menjadi sangat ceria sementara di kamar sebelah, para wanita sudah terlelap dalam mimpi masing-masing hingga suara azan berkumandang.


Cut merasa nyaman tinggal kembali di rumah dinas. Dulu, dia hanya sebentar merasakan tinggal di sana karena suaminya sudah membeli rumah di komplek milik tentara juga. Tapi tinggal di rumah dinas tanpa pagar membuat suasana keakraban semakin erat antara sesama.


“Pagi, Buk. Ibu orang tua Om Anugrah atau istrinya.” Sapa seorang ibu persit yang sedang menyuapi anaknya.

__ADS_1


“Saya ibu dari Anugrah.” Setelah memasak, Cut keluar untuk menikmati udara sejuk dan bersih di pagi hari. Suaminya sudah pergi ke masjid bersama kedua putranya dan sampai sekarang belum pulang. sementara Wulan sedang belajar berjalan dari kamar ke teras dan dia menolak untuk didampingi.


Wulan keluar dengan siutas senyum, “Wah, sudah bisa jalan ya Buk? Selamat ya!”


“Terima kasih, Buk.” Balas Wulan.


“Mau jalan lebih jauh?” tanya Cut namun langsung mendapat gelengan dari Wulan.


“Kenapa, Buk? Kan lebih bagus kalau jalan pagi. Udara juga masih bersih.” Sahut ibu sebelah.


Ketiga pria sudah terlihat di jalan pulang menuju rumah. Mereka berjalan kaki dan saat pulang mereka memilih berlari kecil hingga nafas Rendra tersengal-sengal. “Papa jangabn ngikuti anak-anak. Umur Papa sudah beda jauh dengan mereka.”


“Ma, Papa masih sanggup ngasih adik untuk mereka. Jangan lihat umurnya tapi lihat ketangguhannya.” Ibu sebelah tersenyum memperhatikan interaksi keluarga tersebut.


“Kamu mau makan sekarang?” tanya Cut pada Anugrah.


“Bentar lagi, Ma.”


“Kalau begitu bawa Wulan jalan ke situ. Biarkan kakinya menginjak rumput.”


“Aku ganti baju dulu,” Anugrah keluar dengan setelan olahraga. Ia langsung membawa Wulan ke area taman yang dipenuhi dengan rumput seperti karpet.


“Mama suka di sini?” tanya Rendra memperhatikan senyuman di bibir sang istri. Cut mengangguk pelan, “Jadi ingat dulu, Pa.”


“Iya ya. Jalan-jalan yok!” Rendra langsung menggenggam mesra tangan sang istri lalu mengajak istrinya berjalan pagi bersama dan sukses membuat Iskandar iri.


“Ma, aku?”


“Sudah semalam!” jawab Rendra membuat Iskandar mencibirnya.


Iskandar yang ditinggal sendiri memilih masuk ke dalam lalu menikmati sarapan paginya. Sampai suara ponsel mengagetkannya.


“Iya, thank’s.”


Iskandar bergegas menyelesaikan makanannya lalu berpamitan pada orang tua dan adiknya. Ia harus kembali ke kampus sementara urusan Aisyah akan ia urus nanti. Semua rencana sudah tersusun dengan rapi tinggal menunggu eksekusi. Ia membiarkan Aisyah menikmati hari-harinya sebagai gadis lajang sebelum ia ikat dan tidak akan ia biarkan lepas lagi.


“Nikmti harimu, Aisyah! Karena setelah ini kamu akan menerima pembalasanku.” Batinnya menatap foto Aisyah di layar ponselnya.


Cut dan Rendra masih betah tinggal di sana dan Wulan juga senang karena hari ini rumah itu tidak sepi lagi. Para wanita sedang membuat kue di dapur sementara Rendra memilih membersihkan rumah sang putra. Anugrah sudah pergi ke kantor yang tidak jauh dari rumahnya saat ini. Sementara di kediaman Bapak Wicaksono, Teuku harus menelan kekecewaan karena kedatangannya seolah mendapat penolakan dari alam. Di saat ia datang, Cut justru tidak ada di rumah.


“Ibu sama Bapak sudah pergi dari semalam ke rumah Den Anugrah. Maaf, ini dengan siapa ya?” tanya si bibik.


“Tidak apa-apa, Bik. Nanti kami kemari lagi.” Teuku langsung balik badan meninggalkan rumah itu.


“Apa kita ke rumah Kak Anugrah saja?” tanya Anggia menatap raut wajah kecewa dari pria itu.


“Tidak, nanti saja kalau mereka sudah pulang kita ke sini lagi.”


“Paman, apa Paman tidak tahu malu? Membawa anak gadis orang sesuka hati. Itu namanya tidak sopan, Paman dan memalukan.” Ucap Anggia.


“Ya sudah, ayo saya halalkan supaya kamu tidak lagi jadi anak gadis orang.”


Gleg…


Nah kan, Anggia tidak bisa membantah lagi kalau sudah menggunakan kata-kata itu.


“Dan berhenti memanggil saya ‘Paman’! Saya buka Pamanmu!”


“Tapi aku mau menjadikan Paman sebagai Pamanku!”

__ADS_1


“Jangan harap!”


“Paman…Paman…Paman…” Teuku tiba-tiba berhenti lalu menatap manik hitam Anggia.


“Sekali lagi kamu memanggil saya ‘Paman’ saya pastikan detik itu juga kamu sah jadi istri saya.”


Gleg…


Anggia diam lalu masuk ke dalam mobil. Tidak ada yang sepatah katapun yang keluar dari mulut ke duanya dalam perjalanan tersebut. Anggia selalu takut dengan ancaman menikah karena dia belum siap apalagi teman-temannya selalu mengatakan pria dewasa seperti Teuku sangat liar dan tidak akan membiarkannya lepas kalau sudah menikah.


Anggia tidak akan membiarkan dirinya terkurung dalam pernikahan apalagi pria itu bukan pria idamannya.


Di rumah Shinta, Dita yang sudah bersiap dengan santainya menuruni tangga. Ia hendak berkunjung ke rumah papanya tapi sayang, Shinta sudah berdiri di bawah dengan tangan bersedekap di dada dan tatapan mata yang tajam seperti singa betina.


“Mau kemana?”


“Keluar, Ma.”


“Keluar mana?”


“Ma, jangan berlagak seperti itu. Aku ini bukan anak kecil lagi.”


“Serahkan kartu kredit, kunci mobil dan ponselmu!”


“Ma, apa-apaan ini?”


“Kamu tidak memerlukan materi kan? Itu semua hasil keringat Mama selama ini. Kamu protes karena selama ini Mama hanya memikirkan pekerjaan tanpa mempedulikan kamu. Sekarang, Mama akan memberikan kamu perhatian dan kasih sayang. Tapi Mama tidak akan memberikanmu materi karena kamu tidak memerlukan materi dari Mama. Ini kan yang kamu inginkan?”


Dita menelan salivanya dengan susah. Tenggorokannya tercekat, ia tidak menyangka jika keinginannya malah menjadi bumerang untuknya saat ini.


“Selama ini Mama jarang mengambil cuti dan sekarang sudah saatnya Mama menikmati cuti lalu menikmati waktu dengan kamu. Karena kamu tidak bekerja jadi selama 24 jam kita akan selalu bersama.”


“Ma, becanda Mama tidak lucu. Sumpah!”


“Apa Mama kelihatn sedang bercanda?” tatapan tajam Shinta sangat mengintimidasi Dita saat itu.


“Mana?”


“Ma, ini serius?” Dita memperhatikan tangan Shinta yang masih mengadah didepannya.


Dengan terpaksa Dita menyerahkan semua fasilitas yang selama ini ia peroleh dari sang ibu. Lidahmu lebih tajam dari pada pedang sangat cocok disematkan kepadanya.


“Ma, tapi aku mau pergi ke rumah Papa.”


“Kemasi bajumu, kita akan pergi!”


“Pergi? Kemana, Ma? Kenapa mendadak begini?”


“Mama ingin jalan-jalan berdua dengan putri Mama. Apa itu salah? Itukan yang kamu mau?”


“Kemasi barang-barang mu segera! Mama tunggu!”


Tanpa banyak kata, Dita kembali menaiki tangga lalu mengemasi barang-barangnya. Wajahnya ditekuk habis-habisan sementara Shinta tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak akan membiarkan Faisal dan keluarganya memperngaruhi putri yang selama ini ia besarkan dengan susah payah.


“Jangan harap kamu akan mendapatkannya! Aku tidak akan membiarkanmu mendekati putriku!”


 


***

__ADS_1


__ADS_2