CUT

CUT
Bimbang...


__ADS_3

Hai...hai...Cut dan Rendra datang lagi. Maaf ya suka ketetaran sama kemageran plus kemalesan...xixixixix


Maunya bisa up tiap tapi kondisi tidak memungkin... Terima kasih buat kalian yang masih setia mau nunggu update... sebisanya aku usahakan untuk up.


love you all...😘😘😘


***


“Umi, Bang Rendra ingin menikah sama Cut dan dia berniat membawa kita sekeluarga ke Jawa. Bagaimana, Umi?”


“Apa kamu ingin menikah dengannya?” tanya Umi yang membuatku sedikit ragu.


“Kamu menyukainya?” tanya Umi kembali.


Aku terdiam. Bagaimana harus aku katakan pada Umi jika aku sendiri bingung dengan perasaanku sendiri.


“Ketika kita menyukai seorang pria, kita akan merasa bahagia bila dapat melihatnya walaupun dari jauh atau sekilas.” sepertinya Umi menyadari keraguanku.


Aku menatap Umi sedang tersenyum menatapku. “Apa yang kamu rasakan saat bersamanya?”


“Bagaimana perasaan Umi saat dulu bertemu Abu?” Umi terkekeh seperti sedang mengejekku.


“Umiiii...” aku merengek kesal karena Umi seperti sedang mempermainkan rasa penasaranku.


“Menyukai seorang pria itu hal yang normal bagi setia gadis. Begitu juga dengan Umi. Begitulah kuasa Allah yang menanamkan rasa bagi setiap makhluknya supaya mereka bisa berpasang-pasangan.”


“Bagaimana rasanya, Umi?”


Umi semakin tertawa mendengar pertanyaanku.


“Kamu ibarat buah dalam daun.”


“Buah dalam daun, maksudnya?” Umi sepertinya sedang bermain teka teki denganku.


“Apa kamu bisa melihat buah dalam daun?” aku menggeleng.


Buah yang tumbuh dan besar dalam daun sangat susah untuk dilihat karena dia ditutupi oleh dedaunan yang membuatnya selamat dari incaran orang-orang.


“Kamu adalah gadis yang belum pernah merasakan perasaan suka sama seorang pria. Dan kamu tumbuh besar menjadi secantik ini di kampung terpencil yang jarang dilihat oleh orang-orang. Sampai akhirnya datanglah Rendra yang menaruh rasa setelah melihatmu di kampung. Rendra yang berasal dari pulau yang sangat jauh menemukan gadis yang memikat hatinya di ujung pulau. Tidak ada yang salah dengan perasaan kalian. Baik Rendra ataupun kamu. Kalian berhak bahagia dengan jodoh kalian masing-masing. Bila kamu yang ditakdirkan sebagai jodohnya maka sejauh apa pun kamu berlari atau sekuat apa pun kamu menolak dia tetap akan kembali. Allah selalu punya cara untuk menyatukan setiap pasangan yang sudah dijodohkan.”

__ADS_1


Aku terdiam mendengar pepatah panjang Umi yang tidak seperti biasanya. Tapi, aku tetap belum mengerti bagaimana keputusan Umi. Haruskan aku perjelas supaya lebih pasti?


“Coba ceritakan sama Umi, apa yang kamu rasakan saat di dekat Rendra?” masih menatap Umi yang lagi-lagi tersenyum ke arahku.


“Sepertinya dia pria yang tidak baik, Umi.”


Kening Umi berkerut, “Tidak baik bagaimana?” tanya Umi penasaran.


“Dia membawa penyakit untuk Cut. Saat di dekatnya Cut sering merasa sesak di dada serta susah bernafas, jantung Cut juga berdetak sangat cepat.”


Kali ini Umi tertawa sedikit keras berbeda dari biasanya. “Itu bukan penyakit tapi rasa suka dari hati kamu untuk Rendra. Ya Allah, kamu benar-benar buah dalam daun.”


“Rasa suka kok begitu? Seperti penyakit saja.” aku menggerutu sendiri.


“Memang seperti itu. Kamu akan susah tidur jika ingat dia dan akan senyum-senyum sendiri jika bisa melihatnya.”


“Senyum-senyum sendiri? Seperti orang gila jika begitu.”


“Karena jika kita suka sama orang kita seperti orang gila yang terus saja memikirkan dia. Makan tak enak tidur pun tak nyenyak.”


“Tapi Cut enak-enak saja kalau makan dan tidur juga nyenyak.”


“Ih...kalau suka sama Rendra bisa bikin gila lebih baik tidak usah.”


“Begitulah seharusnya, rasa suka dan benci jangan berlebihan. Rasa sayang terhadap seseorang cukup sekedarnya saja walaupun sama suami sendiri. Karena yang berlebihan itu tidak baik. Jadi bagaimana? Apa kamu mau menerima lamaran Rendra kali ini?”


Pertanyaan Umi menyadarkanku jika sedari tadi Umi sedang menyelidikiku dengan caranya.


“Apa Abu dan Umi merestui jika Rendra dan Cut menikah? Apa Umi dan Abu mau ikut bersama dengan Cut?”


“Cut, Jangan membebani Rendra dengan kehadiran kami. Setiap orang yang ingin membina sebuah rumah tangga pasti ingin mengatur dan mendiaminya sendiri tanpa ada orang lain apalagi orang tua atau mertua. Jauh sebelum kamu bertanya tentang hal ini, Umi dan Abu sudah lebih dulu membicarakan ini berdua. Umi dan Abu sepakat jika memang kamu menikah nanti, kami akan tetap di sini membesarkan Teuku.”


“Tapi, Cut tidak bisa jauh dari Umi dan Abu. Apalagi Teuku, dia pasti akan mencari Cut. Lagi pun, kenapa Abu dan Umi membicarakan ini tanpa sepengetahuan Cut? Cut belum tentu mau menerima Rendra.”


“Jadi bagaimana jika dia datang melamar? Apakah harus Umi dan Abu tolak kembali?”


Aku menatap bingung pada Umi. “Istikharahlah! Insya Allah kamu akan menemukan jawaban dari kebimbanganmu.”


“Baiklah, mulai malam ini istikharahlah sampai kamu benar-benar yakin. Umi dan Abu akan membicarakan ini dengan Rendra jika dia datang. Mintalah dengan sungguh kepada Allah, karena hanya Allah yang maha mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya.” aku mengangguk pelan lalu Umi keluar meninggalkan kamarku.

__ADS_1


 


Dua hari kemudian...


 


Tok...tok....tok...


“Assalamualaikum.”


Suara seorang laki-laki memberi salam.


Abu yang tengah bersantai sore bersama kami sambil memakan pisang goreng bangun dari duduknya.


“Alaikumsalam, silakan masuk! Kebetulan Umi Cut membuat pisang goreng.”


Glek...


Dua hari tidak melihatnya kenapa dengan jantungku? Apa ini yang dimaksud oleh Umi. Ya ampun kenapa rasanya tidak menyenangkan? Kenapa aku gemetar dan kenapa aku harus malu? Dia bukan siapa-siapa tapi apa yang terjadi denganku? Ternyata rasa suka itu tidak menyenangkan.


“Cut, buatkan kopi untuk Nak Rendra!”


“Tidak usah repot-repot, Abu.”


“Tidak lengkap rasanya makan pisang goreng tanpa ditemani kopi.”


Aku bangun dari duduk lalu bergegas ke dapur. Sayup-sayup aku mendengar perbincangan Abu dan Rendra dari dapur.


“Nak Rendra, kapan kami bisa kembali ke kampung? Abu sudah rindu sama kampung, sawah, ladang dan ternak-ternak di sana.”


“Maaf Abu, kami belum menemukan Khalid. Akan sangat berbahaya bisa Abu sekeluarga kembali ke sana. Karena Abu sudah membahas masalah ini lebih dulu maka saya tidak ingin berbasa-basi lagi. Kedatangan saya sore ini untuk melamar kembali putri Abu dan Umi. Dan saya juga berniat untuk mengajak serta Abu, Umi dan si kecil Rendra pastinya ke pulau Jawa. Saya ingin Abu sekeluarga tinggal di sana dan Insya Allah lebih aman dari pada di sini.”


Dari balik dinding dapur aku hanya bisa menghela nafas mendengar semua perkataan Rendra. Abu sendiri tidak langsung menanggapi perkataannya. Apa yang sedang Abu pikirkan? Apa Abu setuju?


Jika mencerna kembali apa yang Umi katakan malam itu aku rasa Abu tidak akan mengikuti apa yang Rendra mau. Tapi, apa aku sanggup berpisah dengan kedua orang tuaku? Tinggal di daerah yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan. Kenapa tiba-tiba aku merasa takut? Aku bersandar di dinding dapur seraya menengadahkan wajah ke atas.


“Ya Allah, beri petunjukmu...”


***

__ADS_1


__ADS_2