
Ada hati yang meragu. Sekeras apapun batu karang, ia akan hancur juga oleh amukan ombak di lautan. Lalu, apakah hati Rendra juga berubah setelah berteman dengan mantan istrinya kembali? Tidak ada jawaban pasti untuk ini tapi satu yang pasti. Cut kecewa!
Dalam keadaannya yang masih lemah, sayup-sayup ia mendengar pembicaraan ibu mertua dengan sang suami dari dalam kamar. Air matanya bururai dan hatinya memberontak. Wanita yang menemuinya ternyata bermuka dua. Dia bersembunyi dari kepolosan dan keluguan dengan status pertemanan bahkan melibatkan ikatan antara keluarga mereka. Badai itu datang setelah pernikahan yang tidak lagi baru. Bahkan, sudah ada hasil yang lahir dari cinta mereka lalu kenapa rumah tangganya masih goyah? Lebih tepatnya, kenapa hati suaminya masih goyah?
“Bang, aplikasi pertemanan di hp Cut kok gak ada ya?” Cut bingung karena tiba-tiba aplikasi pertemanan di ponselnya sudah tidak ada lagi.
Cut mulai membaik setelah beberapa hari beristirahat. Fisiknya sudah cukup kuat tapi pikiran dan tubuhnya terasa lelah ditambah suasana kondisi hatinya yang tidak karuan setelah mendengar pembicaraan kemarin.
“Sudah Abang hapus. Abang rasa kamu tidak perlu bermain aplikasi itu, Sayang. Banyak penipu di sana.”
“Apa aku sebodoh itu, Bang? Aku suka membaca cerita-cerita yang mereka unggah di sana.”
“Kamu bisa mencarinya di mesin pencari, Sayang. Tidak harus di aplikasi itu. Nanti Abang beli novel saja kalau kamu suka.”
“Kenapa ya aku merasa semakin lama Abang semakin berubah. Apa Abang tidak percaya sama aku?”
Awal mula kehancuran hubungan suami istri adalah saat salah satu pasangan tidak mempercayai pasangannya. Rasa lelah dalam batin yang telah menumpuk selama ini akhirnya berubah menjadi minyak yang akan membuat percikan api kecil menjadi besar kelak bila tidak ditangani secara tepat.
“Gak ada yang berubah, Sayang. Abang hanya tidak suka kamu bermain aplikasi itu.”
“Kalau begitu Abang juga harus hapus aplikasi itu di hp Abang.”
Rendra menyerahkan hp pada sang istri lalu Cut segera menghapus aplikasi tersebut. Sebelum Cut menghapus aplikasi itu, ia lebih dulu masuk ke akun Rendra kemudian mengunggah foto mereka dari galeri Rendra. Foto saat mereka mengunjungi pondek pesantren. saat itu, Cut sempat meminta salah satu temannya Iskandar untuk memotret mereka berempat.
Cut tidak bodoh, wajah kedua anaknya yang terlihat ia buramkan. Lalu wajah keduanya hanya terlihat dari samping karena saat itu posisi mereka sedang duduk berhadapan di aula. Cut menambahkan keterangan di bawah foto dengan kalimat.
“Pak RW dan keluarga…masihkah kau berpikir untuk merebutnya?”
“Kenapa lama sekali, Sayang?” tanya Rendra saat melihat Cut justru sedang mengutak-atik ponselnya.
“Selesai.”
Cut tidak menghapus akun sang suami. Dia hanya keluar dari aplikasi itu baru setelah itu dia menghapus aplikasinya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk memancing amukan sang pelakor bermuka dua. Risma kembali mengamuk saat banyak netizen yang mengunggah lalu menandai dirinya di aplikasi tersebut.
“Sepertinya Pak RW sudah kembali ke jalan yang benar. Lihat saja kalimat di bawah. Sepertinya ini tulisan Ibu RW.”
“Wah, ini pasti pekerjaan Ibu RW. Aku yakin, Ibu RW sudah tahu kalau suaminya jadi incaran rubah betina.”
“Ibu RW pake kerudung ya? Itu kelihatannya lagi di pesantren deh. Coba kalian lihat anak laki-laki di sana. Semua memakai peci. Aku yakin anak-anak Pak RW sedang di mondok. Istrinya aja pakai kerudung. Jadi penasaran sama Ibu RW. Ayo Bu, buat akun dong, biar kita bisa kenalan!”
__ADS_1
“Kalau akun Pak RW bisa di tangan si Ibu. Itu berarti, Pak RW cinta mati ya sama Ibu RW. Aku juga penasaran nih sama Buk RW.”
“Pria yang bejat sekalipun akan tetap mencari istri yang soleh. Apalagi sekelas Pak RW yang aku yakin pasti pria baik-baik. Mana mau memiliki istri seperti Mbak Risma. Tubuhnya saja dipamerin apalagi yang lain.”
“Setuju!”
Berbagai komentar itu hanya bisa Risma baca sementara Rendra dan Cut justru tidak tahu apa-apa. Sampai beberapa hari kemudian, Risma menghubungi Rendra dan tepat saat itu ia sedang berada di rumah.
“Hal-“
“Ren, apa maksudmu mengunggah foto kalian? Kamu sengaja ingin mempermalukan aku?” Rendra menatap sang istri yang sedang menyuapi Anugrah.
“Aku sudah menutup akunnya beberapa hari lalu.”
“Kenapa kamu menutup akunmu?”
“Aku dan Cut sepakat untuk tidak bermain aplikasi itu lagi. Dan aku rasa kami memang tidak perlu bermain di sana.”
“Kamu pikir foto kalian itu bisa muncul dengan sendirinya? Yang benar saja dong Ren. Aku tidak peduli kamu mau mengunggah foto apapun tapi tolong pikirkan aku juga. Bagaimana pun kita pernah mengunggah foto bersama. Mereka sudah menghina aku habis-habisan di sini karena foto kamu.”
Rendra menghela nafasnya seraya melirik sang istri. Cut tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi. Satu hal yang pasti, dia sudah membalaskan apa yang menurutnya perlu.
“Sayang, kamu jangan bertingkah kekanak-kanakan begini. Tidak baik saling menyakiti. Kalau kamu tidak suka Risma biarkan saja. Dengan kamu unggah foto kita, kamu sudah membuatnya jadi bahan olokan dari orang-orang itu.” Rendra menasehati sang istri setelah Risma mematikan ponselnya secara sepihak.
Seminggu sudah berlaalu tapi keadaan rumah tangga mereka tidak pernah tenang seperi dulu. Cut dengan kemarahannya dan Rendra dengan rasa bimbangnya. Ingin menasehati tapi justru mendapat kemarahan dari sang istri. Begitu juga saat Rendra hendak keluar saat akhir pekan. Cut langsung berkata ketus dengan menuduhnya ingin bertemu sang mantan terindah. Entah apa yang Cut pikirkan tapi hampir sebulan ini dia begitu over thinking pada Rendra.
“Siapa?” tanya Cut saat suara dering telepon milik Rendra berbunyi.
Sampai orang yang menelpon ke ponsel suaminya saja, Cut curigai.
“Wahyu, lihatlah sendiri!” Rendra memberikan ponselnya pada sang istri.
Dan benar saja, yang menelepon itu adalah Wahyu. Setelah melihat itu, Cut langsung kembali mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasa. Cut hanya ingin tahu apakah Risma menelepon suaminya atau tidak.
Sebulan telah berlalu tapi kondisi pernikahan mereka belum juga kondusif. Cut terus menyindir atau menjawab dengan asal jika Rendra menasehatinya. Hanya pada ibu mertuanya saja ia penurut karena masih menghargai belia walaupun setiap kata-kata yang keluar dari mulut Ibu Yetti sering membuat Cut kesal.
Risma sempat mengadu masalah unggahan foto dari Cut di akun Rendra namun sayang, Ibu Yetti tidak bisa memberikan solusi atau pembelaan.
“Ma, Cut hanya ingin orang-orang tahu kalau Bang Rendra sudah memiliki anak dan istri. Jadi wanita-wanita di luar sana akan tahu diri untuk tidak merebut suami Cut. Apa tindakan Cut salah, Ma? Cut bingung kenapa hanya mengunggah foto keluarga saja sampai dia semarah itu? Bahkan, Cut tidak menyebut namanya di sana.”
Ibu Yetti tidak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang menantunya ucapkan memang benar. Lalu saat ini dia harus menghadapi mantan menantunya yang meributkan hal yang sama.
__ADS_1
“Sayang, Mama tidak bisa melarangnya. Itu hak dia sebagai istri. Tidak ada yang salah dari itu. Kenapa kamu tidak ikuti saja mereka untuk menghapus akun di sana. Ngapain bermain yang tidak bermanfaat seperti itu.” nasehat bijak Ibu Yetti nyatanya tidak berpengaruh pada Risma. Dia justru semakin kesal pada ibu mertuanya itu.
Ibu Yetti memang kurang menyukai Cut tapi tetap saja wanita itu telah memberikannya cucu tampan dan akan menambahkan lagi jumlah cucu untuknya. Sementara Risma, dia adalah mantan menantu. Dan yang pasti, baik Rendra maupun Risma tidak akan kembali bersama. Akan sangat memalukan untuk Rendra di angkatannya jika dia kembali dengan Risma yang jelas-jelas alasan mereka bercerai karena sang istri selingkuh.
Setelah bertemu dengan mantan ibu mertuanya dan tidak mendapatkan hasil. Lantas, Risma mengambil ponselnya untuk menghubungi Rendra.
“Hallo, Ren-“
“Maaf Mbak, suami saya lagi istirahat. Ada apa ya?”
“Kamu kenapa sih Cut? Kamu cemburu sama saya? Kamu sedang melakukan hal yang sia-sia, Cut. Saya tidak akan merebut Rendra dan Rendra sendiri tidak tertarik dengan saya. Kami hanya berteman.”
“Saya tidak menuduh Mbak merebut suami saya. Saya hanya tidak suka suami saya terlalu akrab dengan Mbak. Karena akan ada fitnah dari orang-orang jika seorang suami yang sudah beristri sering bertemu dengan mantan istrinya. Saya sedang menyelamatkan nama baik keluarga suami saya dari fitna-fitnah mereka yang tidak tahu apa-apa.”
Di samping Cut sudah ada Rendra yang menghela nafasnya berulang kali setiap mendengar perkataan Cut. Risma sendiri tidak bisa berkata-kata kasar saat menghadapi Cut apalagi ia menduga jika Rendra ikut mendengar pembicaraan mereka.
“Baiklah kalau begitu. Saya minta maaf karena telah membuat nama baik suami dan keluargamu menjadi buruk. Selamat siang.”
Tut…
Jika Risma ingin berteriak di seberang sana maka lain halnya dengan Cut. Dia malah berdecih saking muaknya dengan wanita bermuka dua itu.
Cut menyerahkan ponsel tersebut ke tangan Rendra, “Jika masih ingin bicara, hubungi saja kembali!” ketus Cut lalu pergi meninggalkan Rendra di meja makan.
Rendra sengaja pulang saat jam istirahat siang untuk makan sekaligus ingin melembutkan hati istrinya yang sudah dua bulan ini berubah seperti pemberontak. Istrinya selalu ketus dan selalu menyindirnya jika ada kesempatan. Cut benar-benar telah menjelma menjadi pemberontak yang membuat Rendra kualahan dalam menghapinya. Dari pada menghadapi pemberontakan sang istri lebih baik baginya untuk menghadapi para pemberontak asli. Dia hanya perlu mengangkat senjata lalu –
Dor…
Pemberontak tumbang dengan mudah tapi ini? Ia tidak mungkin membasmi pemberontakan istrinya dengan cara menembak. Ia tidak mau menjadi duda untuk kedua kalinya.
“Sayang, kemarilah! Ada yang ingin Abang bicarakan.” Pinta Rendra lembut.
Cut mendudukkan dirinya di samping sang suami. Rendra menghela nafasnya berat lalu, “Bisakah kita kembali seperti dulu? Saya rindu kelembutan dan senyum indahmu. Bisakan permintaan saya diterima kali ini?” Rendra menggenggam tangan sang istri lembut lalu secara perlahan menarik tubuh sang istri dalam dekapannya.
“Saya sangat mencintaimu bahkan saya berusaha memperjuangkanmu. Apa kali ini kita akan menyerah pada badai pernikahan yang sudah lama kita jalani dan kita perjuangkan sebelumnya hanya karena seorang wanita? Sayang, berapa kali lagi saya harus membuktikan padamu jika hati saya hanya untukmu tidak akan tergantikan. Saya merindukan Cut Zulaikha saya yang dulu. Yang manis, senyumnya menawan dan sorot matanya sungguh membuat hati saya dag-dig-dug. Pertama kali melihat kamu saat saya memeriksa rumah kalian di kampung. Saat itu saya menyadari jika hati saya sudah terpaut untukmu. Setelah itu saya mencoba untuk menjalin komunikasi dengan cara membeli telor bebek dan ternyata kamu saat itu sangat ketus dan dingin. Tapi saya tetap semangat untuk mengincar kamu. Tidak dapat abangnya, adiknya pun jadi. Itulah slogan saya saat itu bahkan satu pos itu tahu semua kalau saya mengincar kamu. Makanya, anggota yang lain tidak berani dekat-dekat sama kamu. Ah…saya merindukan Cut Zulaikha itu kembali. Sangat manis dan mendebarkan.”
Rendar terus mengungkapkan isi hatinya sedangkan Cut hanya mendengarkan dengan sesekali tersenyum kecil membayangkan masa itu. Biarkan saja Risma, rumah tangga kita, kita yang atur dan hati kita hanya kita berdua yang tahu. Kamu tahu hati Abang hanya untuk kamu dan Abang tahu hati kamu juga sebaliknya. Untuk apa memikirkan orang lain? Jalani saja hidup kita. Nanti kalau dia lelah, dia akan berhenti sendiri. Bisa kan kita kembali seperti dulu?”
Sebelah tangannya terus mengusap naik turun punggung Cut dan tidak dapat Cut tolak jika semua perkataan dan perbuatan Rendra sangat menenangkan untuknya. Selama dua bulan ini mereka terus memperdebatkan hal yang sama setiap saat. Hingga mendung serta kilat terus bergemuruh di atas rumah tangga keduanya.
“Anak-anak sebentar lagi akan tumbuh remaja dan kita sudah mulai tua. Rambut Abang juga sudah ada yang beruban. Wajah Abang akan berkerut dan menua. Apakah ada wanita yang mau dengan aki-aki? Gaji Abang juga tidak besar, lalu senjata di bawah juga tidak akan sekuat sekarang. Apa mereka masih mau? Tidak kan? Untuk apa takut jika Abang selingkuh, nyatanya gaji Abang kamu yang pegang. Kamu selalu tahu jadwal Abang, seluk belukk Abang. Bukan kah seorang istri memiliki insting yang kuat. Tanpa dibilang pun, seorang istri akan tahu jika suaminya selingkuh atau tidak. Sekarang pakai insting itu lalu katakan apa yang insting kamu rasakan? Apa Abang sedang berselingkuh dengan Risma atau dengan perempuan lain? Atau, apakah Abang masih mencintai Risma dan berniat kembali padanya? Itu saja yang haru kamu kuatkan dalam dirimu? Apakah semua pertanyaan itu sudah instingmu katakan? Atau kamu hanya mnuruti nafsumu saja selama ini untuk marah-marah sama Abang? Kapan lagi kamu bisa marah-marah jika bukan sekarang selagi ada pemicunya. Sekarang jawab Abang dengan jujur! Apa semua yang Abang katakan itu benar? Kalau selama ini kamu hanya menggunakan Risma sebagai alasan untuk marah-marah sama Abang atau ada hal lain yang tidak Abang ketahui?”
__ADS_1
***