CUT

CUT
A Vs Mauren...


__ADS_3

Anugrah menatap datar pada perempuan di depannya. Sebelah tangannya di masukkan dalam saku celana lalu tersenyum sinis.


“Sepertinya kamu salah minum obat, Kak.” Sarkas Iskandar lalu meninggalkan Mauren bersama ke dua temannya.


Tidak ada yang tidak mengenal Mauren di sekolah ini. Sekolah kejuruan yang kebanyakan diisi oleh siswa laki-laki membuat Mauren sukup terkenal dikalangan siswa lainnya. Selain karena jumlah siswi disana yang sedikit tapi juga karena Mauren juga dikenal cantik dan seksi untuk ukuran anak SMA. Mauren juga sering digosipkan berpacaran dengan Arash karena kedekatan mereka bahkan beberapa siswa pernah menangkap mereka sedang bercumbu salah satu café.


Pesona Arash yang memiliki darah campuran Jawa – Arab sedikit terganggu dengan kehadiran siswa baru bernama Anugrah dengan ketampanan yang hampir menyamai dirinya. Hanya, badan Anugrah lebih berotot dibandingkan Arash yang jarang olahraga. Tinggi badan Anugrah sekitar 1,79 cm semakin membuat pesonanya sebagai anak baru memancar sempurna dikalangan para siswa baik seleting maupun kakak letingnya seperti Mauren.


“Untung ganteng,” ucap Rena


“Dia milik gue! Gak ada yang boleh dekatin dia.” Mauren mendakan Anugrah sebagai miliknya. Sementara sang objek malah terlihat biasa saja tanpa peduli dengan apapun disekitarnya. Yang dia mau hanya satu, lulus secepatnya dari sini dan mengejar mimpinya menjadi tentara mengikuti jejak sang ayah.


Hari-hari Anugrah mulai jauh dari kedamaian saat kelebihan fisikinya justru menjadi boomerang tersendiri. Wali kelas memintanya untuk mewakili kelas mereka untuk menjadi anggota basket sekolah. Grup basket sekolah mereka selalu juara setiap tahunnya. Seleksi yang diadakan oleh sekolah tidak tanggung-tanggung. Mereka dikarantina selama seminggu untuk melihat daya tahan tubuh dan fisiknya sebelum dipilih menjadi pemain inti. Jangan tanyakan soal pelajaran, karena mereka tetap mendapatkan berbagai materi walaupun tidak sekolah. Nilai lebihnya adalah mereka yang mengharumkan nama sekolah tentu sudah memperoleh 30 % nilai kelulusan.


Dunia Anugrah yang damai kini telah tiada. Bahkan saat SMP, ia masih memeliki kedamaian karena hidupnya lurus-lurus saja tanpa gangguan. Kalaupun ada gangguan itu adalah dari tante-tante girang yang sok akrab dengan ayahnya. Tapi selama SMA, dunianya seperti terbalik. Ia harus berhadapan dengan kakak leting penggoda lalu menghadapi tatapan benci dari Arash. Belum lagi  teman sekelas yang kebanyakan menyebalkan menurutnya. Seperti sekarang, Anugrah sedang kesal karena kebanyakan temannya belum hadir saat mereka sedang mengerjakan tugas kelompok. Mereka berkumpul di salah satu café dan yang datang baru tiga orang dari 7 orang dari yang sudah ditetapkan. Satu diantaranya adalah Tiara yang masuk dalam kelompok yang sama dengan Anugrah.


“Sabar, A.” lirih Tiara.


Antara sadar atau tidak tapi itulah panggilan teman-teman sekelasnya pada Anugrah.


“Merek memang tidak berniat mengerjakannya. Ya sudah, kita kerjakan saja, tapi hapus nama mereka dari daftar. Enak saja main nebeng nama tanpa kerja.” Gerutu Anugrah pada Doni.


Mereka langsung mengerjakan tugas tersebut tanpa mau menunggu lagi. Anugrah sudah didik untuk tepat waktu oleh ayahnya. Ibunya yang terbiasa menghadapi sang ayah juga sudah terbiasa hingga keluarga mereka tidak pernah terlambat dalam mengerjakan apapun.


Semua yang Anugrah dapat dari sang ayah, ia aplikasikan dalam kesehariannya sehingga menjadikannya murid teladan dan menjadi buah bibir setiap guru. Hari-harinya juga tidak dilewati dengan banyak agenda. Dia tidak pernah keluar malam karena teringat sang ibu dan mengikuti nasehat sang kakak.


Kakaknya selalu bertanya dan memberikan nasehat yang membuat Anugrah berpikir panjang karena setiap nasehat yang diberikan Iskandar selalu berisi ancaman di ujungnya.


“Jangan keluar malam! Kalau mau menjadi adikku.”


“Jaga Mama! Kalau kamu ingin berbuat apapun di luar sana, pikir Mama dulu. Kalau sampai kamu berulah dan Mama kecewa, aku akan membawa Mama pergi darimu!”


Keesokan harinya, Anugrah yang baru sampai di sekolah langsung disambut dengan senyum menggoda milik Mauren dan tentu saja ada sorot mata lain yang menghunus tajam kepadanya. Ia sekaan tidak peduli walaupun Mauren menempelinya setiap jam istirahat. Sampai suatu kejadian yang membuat Anugrah hilang kesabaran pada Mauren.


Saat Anugrah hendak masuk ke dalam toilet ia di dorong lalu tampa diduga, Meuren mencium bibirnya secara brutal. Anugrah langsung mendorong Mauren hinggal ia terjatuh tapi Mauren tetap memberikan senyuman menggodanya pada Anugrah.


“Kau milikku, A!!!”


“Cih,”


Anugrah mencuci mukanya berkali-kali, ia juga berkumur lama untuk menghilangkan bekas ciuman menjijikan Mauren di bibirnya.

__ADS_1


Tanpa Anugrah sadari, seseorang sedang mengunggah rekaman aksi tak senonoh itu dalam grup kelas tiga lalu mengirim ke grup kelas dua hingga grup kelas satu. Semua terjadi dalam sekejap mata dan Anugrah yang sedang berjalan dengan amarah yang membuncah mengabaikan tatapan mata setiap siswa yang sedang melihatnya.


Jam pelajaran segera dimulai. Doni yang duduk dekat Anugrah hanya bisa meliriknya saja karena tidak berani menatap apalagi harus mengatakan apa yang baru saja ia lihat di ponselnya.


Guru bidang studi masuk dan setelah mengabsen kehadiran para siswa, beliau langsung meminta para siswa untuk mengumpulkan tugas kelompok.


“Anugrah, kenapa anggotanya cuma tiga orang?” tanya si ibu guru.


Teman-temaan satu kelompok dengan Anugrah terkejut. Mereka mengira namanya akan ada dalam tugas ternyata tidak.


“Hanya yang datang dan ikut andil dalam menyelesaikan tugas yang saya tulis namanya, Buk.” Jawab Anugrah lantang.


Sontak empat temannya yang lain marah, “Kami kan sudah bilang tidak bisa datang karena berhalangan. Kenapa tidak bertemu saat kami ada waktu?”


“Cih, siapa kalian sampai aku harus menunggu waktu luang kalian?” sinis Anugrah.


“Siswa mesum kayak loe gak pantas ngomong gitu ke kita!”


“Apa maksud loe, heh?”


Ibarat bara yang sudah panas ditambah dengan bensin maka bertambah panaslah bara itu lagi hingga mengeluarkan api.


“Apa maksud loe ngatain gue mesum, heh?”


Guru mereka sudah panik lalu memanggil sekuriti untuk memisahkan kedua remaja putra tersebut. Perkelahian itu tidak sampai terjadi tapi permusuhan dari keduanya jelas terjadi sampai seorang Feri yang namanya tidak ditulis oleh Anugrah menunjukkan video Anugrah kepada gurunya.


Seorang guru kembali mendatangi kelas lalu meminta mereka yang bertikai datang ke ruang BK. Ruang yang membuat para siswa seperti mengikuti persidangan atas tindak kejahatan karena guru BK yang mereka tahu adalah seorang guru killer.


Seperti yang sudah-sudah, pihak sekolah langsung merespon cepat tentang video yang beredar setelah memastikan bahwa sosok yang sedang bercumbu itu adalah siswa dari sekolah mereka. Rendra dan Cut kembali mendatangi sekolah Anugrah untuk yang kedua kalinya.


“Ma, kok kayak kejadian Iskandar ya?” ucap Rendra sambil tersenyum lucu.


Sementara Cut hanya bisa menghela nafasnya, “Kenapa Anugrah baru berulah sekarang? Sangat sulit menangani kenakalan remaja dari pada anak-anak. Salah dikit, dia bisa bertambah nakal.” Ucap Cut.


“Kira-kira, kali ini anak kita buat salah apa ya?” tanya Rendra memikirkan apa kesalahan yang mungkin diperbuat sang putra.


“Abang kayak senang banget ya dipanggil ke sekolah?” selidik Cut.


Rendra tidak sedikitpun menampakkan wajah gelisah padahal ini sudah kedua kalinya mereka dipanggil.


“Paling cuma berkelahi, biasalah anak remaja. Apalagi anak kita itu hidupnya sudah teratur jadi kalau ada yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Dia pasti berontak,”

__ADS_1


“Anak laki-laki kalau terlalu penurut dan lemah juga patut dicurigai.” Rendra melirik sang istri dengan senyum nakalnya.


Mereka tiba di ruang kepala sekolah. Di sana sudah ada seorang ibu-ibu yang cukup muda dan cantik menurut penglihatan Rendra sebagai lelaki normal. Mereka dipersilakan duduk oleh kepala sekolah lala beliau menceritakan perihal pemanggilan mereka ke sekolah hari ini. Kepala sekolah menunjukkan video yang beredar pada Rendra, Cut dan Ibu dari Mauren.


“Cih, mereka seperti tidak tahu tempat saja.” Ibu dari Mauren berdecih kesal karena dirinya dipanggil ke sekolah hanya karena hal sepele begini.


“Ya ampun, anak kita kenapa jadi begini?” tanya Cut panik setelah melihat adegan ciuman tersebut.


“Kami tidak bisa mentolerir setiap perbuatan tak senonoh di sekolah ini. Jadi kami akan mengeluarkan keduanya karena sudah membuat malu sekolah.


“Apa???” barulah kedua orang tua tersebut terkejut.


Mereka tidak menyangka jika pihak sekolah langsung mengeluarkan mereka hanya karena video tersebut.


“Bapak yang benar saja, Mauren sebentar lagi lulus. Kenapa harus mengeluarkan anak saya? Jelas-jelas anak saya di sini sebagai korban.”


“Jadi Ibu menuduh anak saya mesum? Anak saya itu anak baik-baik. Bahkan, dia tidak pernah kelaur malam. Saya tidak yakin kalau anak saya yang mesum. Bisa saja anak ibu yang menggoda anak saya.” Cut mulai emosi. Ia sangat mengenal Anugrah. Anak laki-lakinya tidak pernah berbuat aneh-aneh tapi sudah dituduh mesum oleh orang yang bahkan tidak pernah melihat anaknya secara lansung.


Rendra terus memutar video tersebut berulang kali tanpa niat menyela para emak-emak yang sudah mengeluarkan tanduk masing-masing. Kepala sekolah mulai pusing mendengar para emak-emak adu mulut.


“Pantas anaknya mesum, ayahnya saja sampai emnonton berkali-kali video anaknya.” Batin kepala sekolah melirik tingkah Rendra seraya menggelengkan kepalanya.


“Ibu-ibu, harap tenang! Kita bicarakan baik-baik.” sela kepala sekolah berkepala botak itu.


“Tidak bisa!” jawab ke dua emak-emak tersebut.


“Bagaimana mau bicara baik-baik kalau Bapak saja langsung mengeluarkan mereka tanpa mempertimbangkan banyak hal yang sudah mereka berikan untuk mengharumkan nama sekolah. Apa Bapak pikir anak saya tidak turut andil dalam mengharumkan nama sekolah? Hanya karena video yang belum tentu dia yang memulai lebih dulu, Bapak sudah mengeluarkannya. Apa Bapak sudah menanyakan pada mereka terlebih dulu?” Cut terus menyerang kepala sekolah sementara Ibu dari Mauren hanya mendengar saja karena sejauh ini kata-kata Cut memang benar. Anaknya juga pernah mengharumkan nama sekolah saat menjadi pemenang dalam kompetisi chiliders tingkat sekolah se-provinsi.


“Saya setuju!” Cut menatap sinis ibu dar Mauren yang ikut menyetujui perkataannya.


“Pak, sepertinya memang ada yang salah dengan video ini!” sahut Rendra tiba-tiba.


 


 


 


 


***

__ADS_1


__ADS_2