
Hari yang ditunggu, penantian yang cukup lama hingga menguras banyak emosi akhirnya berakhir hari ini. Semua kesakitan, kerinduan berpadu menjadi satu dalam ikrar suci pernikahan yang Rendra ucapakan secara tegas, lugas dan penuh kemantapan sebagai pertanda jika dia sudah siap menjalani biduk rumah tangga bersama Cut. Dia siap menjadi imam atau apapun yang Cut butuhkan dari dirinya. Dia juga memantapkan diri untuk menjadi ayah sambung terbaik untuk Iskandar.
Dengan sekali tarikan nafas, “Saya terima nikah dan kawinnya Cut Zulaikha binti Almarhum Bapak Salahuddin Nur dengan mas kawin emas murni sebesar 15 mayam dibayar tunai.”
“Sah!”
Pak Cek Amir tersenyum bahagia. Hari ini, dia telah menyelesaikan tugasnya sebagai wali dari Cut untuk menikahkannya. Ia tidak menyangka hari ini akan menjadi wali nikah dari keponakannya. Selama ini, dia selalu berpikir jika nanti ia dipanggil oleh yang kuasa, maka putrinya yang bernama Intan akan dinikahkan oleh abangnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Cut diantar untuk duduk di samping pria yang sudah menjadi suaminya. Pria yang memakai baju adat aceh tersebut sedang menandatangani buku nikahnya.
Cut sendiri menggunakan baju adat Aceh yang berpasangan dengan Rendra. Ia juga menandatangani buku nikahnya lalu keduanya bersalaman. Cut mencium tangan sang suami penuh takzim. Rendra tersenyum menatapnya. Seakan semua perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Ia telah berhasil memperjuangkan cintanya kali ini. Cinta yang bersemi beberapa tahun silam kini berhasil ia gapai.
Seorang ustad dipercaya untuk memberikan khutbah nikah kepada pasangan yang tidak baru lagi tersebut. Setelah selesai acara akad nikah yang diselenggarakan di sebuah masjid tidak jauh dari kediaman Mak Cek Siti, sepasang pengantin itupun kembali berpisah.
Acara tueng linto baro diadakan di rumah Mak Cek Siti secara sederhana. Tidak banyak tamu yang diundang. Hanya beberapa teman dekat serta para tetangga yang memang tidak boleh dilewatkan. Sesuai kesepakatan, rombongan Rendra tidak membawa seserahan lengkap seperti biasanya yang berlaku di sana. Jika biasanya mempelai laki-laki akan membawa beras, batang tebu, pisang dan bibit kelapa tapi kali ini tidak. Mak Cek Siti sendiri menyetujuinya karena tidak mau terlalu menuntut Rendra dengan adat.
Hanya beberapa set perlengkapan wanita yang Rendra bawa sebegai seserahan. Selebihnya, ia hanya membawa uang tunai sebagai ganti barang yang tidak ia bawa. Rendra dan Cut menjalani prosesi adat sepert paangan lainnya. Saat mendapat kesempatan, Rendra akan terus memandang Cut dengan tatapan penuh cinta dan senyuman manis yang membuat Cut berdebar. Ia bahkan susah menelan salivanya sendiri saat harus bertatapan dengan sang suami yang hari ini entah kenapa sangat tampan dari sebelumnya.
“Apa dia melakukan perawatan diri seperti yang Mak Cek suruh padaku?” batin Cut.
Tentu saja Rendra melakukan perawatan apalagi kulitnya sering terkena matahari saat Latihan atau bertugas. dia tidak mau wajahnya kusam saat hari penting dalam hidupnya terjadi. Sebulan waktu yang cukup untuk Rendra melakukan perawatan pada wajah. Dia bahkan tidak ragu meminta adik perempuannya untuk menemani ke salon dan spa. Tentu saja tidak gratis karena harus membayar lebih buat adiknya juga.
Setiap malam dia memakai masker wajah, memakai berbagai produk muka supaya tampil mempesona pada sang istri saat bertemu kembali.
Usaha Rendra membuahkan hasil, Cut sungguh terpesona dengan penampilan sang suami yang baru pertama kali ia temui setelah berpisah. Jika tidak malu, ia ingin sekali memandangnya lama. Sebagai seorang yang sudah pernah menikah, tentu saja hati dan Hasrat ikut memprovokasi di dalam sana.
“Jangan ragu atau malu untuk memandangi suami sendiri. Kita sudah sah!” ucap Rendra penuh percaya diri saat keduanya sedang dipajang di atas pelaminan.
__ADS_1
Cut berusaha membuang muka dengan melihat ke berbagai arah dan Rendra menyadarinya. “Saya rindu kamu.”
Deg…
Cut menatap ke depan tapi telinganya tentu saja mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh sang suami. Rendra bahkan dengan beraninya menatap Cut tanpa malu pada beberapa tamu dan anak kecil yang melihat.
“Lihat tuh Kakak! Pasti sekarang dia lagi melepaskan rayuan gombalnya.” Ucap Reni pada Riko.
“Kok kamu tahu?” tanya Riko penasaran.
“Hadeuhhh…kamu kayak tidak pernah pacarana saja. cewe baik-baik kalo dirayu dia akan buang muka atau tidak menatap langsung lawan bicaranya. Seperti Kakak Ipar kit aitu. Lihat saja dia meremas jemarinya seraya menatap ke depan sementara kakak kit aitu terus bicara sambal menatapnya.”
“Wah, adikku yang telat dua menit setengah ini pandai membaca gestur tubuh orang lain. Kalau begitu, cob abaca gestur tubuh cowo yang memakai baju kemeja warna biru muda sambal memangku seorang bayi.”
Reni mengedarkan matanya mencari sosok yang dibicarakan oleh Riko dan –
“Cih, sombong sekali mantan Ipar Kak Cut.”
“Kamu kenal?” tanya Riko.
“Semalam kan sudah kenalan, masak lupa? Wajah pas-pasan gitu aja sombong. Apa kabar kalo wajahnya tampan.”
“Jangan menjelek-jelekkan orang nanti malah cinta.”
“Najis. Siapa yang mau ke sini lagi. Sudah jauh, kotanya juga biasa aja. Makanannya juga tidak bisa diajak kompromi sama lidah. Hadehhh…aku gak akan ikut-ikut Kak Rendra lagi kemari. cukup sekali!”
__ADS_1
“Kalau aku sih memang berencana kemari. kayaknya prospek di sini menjanjikan untuk membuka usaha.”
“Yakin Cuma prospek untuk usaha? Bukan prospek mencari jodoh?” goda Reni.
“Jodoh tidak perlu dicari. Aku sudah ketemu dan akan segera ku ikat dia supaya tidak jadi milik orang.”
“Hah…ketemu di mana? Siapa?”
“Panjang umur ternyata, tuh…gadis berkebaya kuning kunyit rok hitam yang berdiri dekat pria yang kamu bilang sombong itu.”
Reni menatap gadis itu dan –
“Dia adik sepupu Kak Cut?” tanya Reni tidak percaya dan langsung diangguki oleh saudara kembarnya.
Perdebatan keduanya terus berlanjut sementara Bang Adi yang berada tidak jauh dari sana sesekali tersenyum menatap dua saudara kembar sedang berdebat sengit.
“Apa yang membuatmu berbeda?”
Kak Julie hendak menyapa sang adik yang terlihat serius lalu dia pun mengikuti kemana arah tatapan sang adik dan berakhir di –
“Kamu menyukai adik ipar Cut?”
“Apa???”
“Kamu menyukai putri saya?”
__ADS_1
“Hah???”
***