CUT

CUT
SAH???


__ADS_3

Iskandar memperkenalkan Dika pada orang tuanya begitu mereka memasuki rumah. Ia menjelaskan secara rinci pada mereka tentang kejutan dan peran masing-masing saat prosesi akad besok.


“Apa kamu yakin Aisyah tidak akan curiga?” Tanya Dika. Dia sudah sering mengurus kejutan-kejutan seperti ini.


“Tidak karena Aisyah akan diperlakukan sama dengan yang lain sebagai pagar ayu.”


“Berarti aku  yang harus tampil maksimal kan aku yang jadi pengantinnya.”


“Ya. Aktingmu harus benar-benar maksimal.”


“Mama sama Papa ikut saja. Kalian ini menikah saja pakai drama seperti sinetron saja.” Keluh Cut.


“Harus, Ma. Ini kan sekali seumur hidup.”


“Amin.”


“Tante, aku juga ingin menikah. Carikan aku calon suami ya!” seloroh Dita.


“Itu di depanmu banyak. Pilih saja salah satu!”


“Mereka tidak mau sama aku, Tante. Apa aku pakai pelet saja?”


“Mau. Asal seiman pasti mereka mau.”


Dita terdiam, “Maaf, Tante tidak berm-“


“Tidak apa-apa Tante. Aku paham.” Sahut Dita cepat. Dia memang tidak bisa memiliki salah satu dari mereka karena perbedaan keyakinan. Lalu ke manakah hatinya akan berlabuh nanti??? Sepertinya hanya tuhan yang tahu.


Menjelang siang, mereka semua pergi meninjau lokasi acara. Sementara itu, Teuku baru tiba di rumah yatim milik Aisyah dan ia langsung disambut oleh Abdul. Tawa bocah itu langsung hilang saat melihat bahwa orang yang turun dari mobil bukanlah Om Imannya melainkan orang lain.


“Assalamualaikum.” Ucapnya ramah.


“Walaikumsalam, Om siapa?”


“Saya Teuku, kakaknya Ummi Aisyah. Kamu tidak ingat sama saya?”


Abdul tersenyum menampakkan deretan giginya. “Ummi Aisyah ada?” tanya Teuku.


“Ummi di dalam lagi menyuci. Masuk saja, Om!”


Teuku berjalan melihat-lihat keadaan rumah yatim. Beberapa furnitur baru membuatnya tersenyum senang karena rumah yatim terlihat hidup dan berwarna.


“Kak, kenapa tidak bilang kalau mau ke sini?” tanya Aisyah yang sudah berada di ruang tamu setelah Abdul memanggilnya.


Teuku tersenyum kecil lalu mendudukkan dirinya di sofa. “Kakak mau jemput kamu.” Wajah Teuku sudah berubah muram.


“Ada apa?” Aisyah panik. Ia langsung mendekati sang kakak.


Teuku menatap manik mata gadis yang selama ini ia tahu sebagai adiknya. “Papa meminta kamu pulang. Kita akan menghadiri pernikahan-“


Deg...


Aisyah langsung lemah. Ia sudah menduga jika Iskandar akan menikah secepat ini untuk melupakannya.


“Kapan pernikahannya, Kak?” tanya Aisyah tanpa menatap Teuku.


“Besok. Kita diminta hadir sebagai keluarga sekaligus pagar ayu untuknya. Ai, kamu baik-baik saja?”


Aisyah tersenyum getir walaupun hatinya sakit. “Aku siap-siap dulu.” Ia langsung meninggalkan Teuku. Matanya sudah berembun sejak tadi dan saat ini ingin sekali ia menangis. Andai semua orang tahu kalau ia sedang tidak baik-baik saja. Ia kecewa, marah dan sedih tapi pada siapa harus ia tumpahkan semua itu? Ini bukan salahnya ataupun Iskandar. Ini adalah permainan takdir yang membuat hubungannya dengan Iskandar menjadi seperti ini.


Aisyah menghapus air matanya lalu mencuci muka dan mengoleskan bedak tipis di wajahnya untuk menutupi kemuraman dan kesedihan. “Ayo, Kak!”

__ADS_1


Setelah berpamitan,  Teuku langsung melajukan mobil menuju kota. Ia langsung dibawa ke kediaman Faisal. Kepulangannya disambut bahagia oleh Faisal dan Ayu. Ibu Murni dan Pak Fahri juga bahagia menatapnya. Tatapan yang menurut Aisyah sangat aneh dan berbeda.


“Baju untuk kamu sudah Mama siapkan. Tapi maaf ya, Sayang. Karena acaranya sedikit mendadak jadi penjahit langganan Mama memberikan baju yang agak berbeda untuk kamu. Baju itu milik gadis yang akan menikah tapi pernikahannya gagal karena calon suaminya selingkuh. Tidak apa-apa kan kamu pakai baju itu? Bajunya simpel kok.”


Aisyah tersenyum getir, “Aku bahkan memakai baju pernikahan orang lain di saat calon suamiku menikah dengan gadis lain dan aku yang menjadi pagar ayunya. Tragis sekali nasibku.” Gumamnya yang terdengar ke telinga Ayu tapi wanita itu pura-pura tidak mendengar.


“Coba kamu pakai, Nak!” pinta Ayu.


Aisyah menurut. Ia langsung berganti dengan baju yang diberikan oleh ibunya itu. “Kamu cantik, Sayang.”


“Sayang hanya menjadi pagar ayu.” Batinnya lalu tersenyum getir menatap cermin di depannya.


Makan malam di keluarga Faisal terlihat bahagia. Mereka sangat bersemangat menyambut hari esok dan terus membahas tentang pernikahan Iskandar yang membuat telinga Aisyah rasanya mau pecah.


“Mama sudah menyiapkan baju istimewa untuk mereka menghabiskan malam pertama.” Bisik Ayu yang entah kenapa bisa sampai ke telinga Aisyah.


“Papa sudah menyiapkan tiket liburan ke Lombok. Penginapannya juga istimewa dengan pemandangan laut yang romantis dan cocok untuk mereka yang sedang dimabuk cinta.” Faisal menambahkan minyak ke dalam api.


“Kami juga sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk mereka.” Tambah sang nenek.


“Aku ke kamar duluan,” ucap Aisyah lalu dengan langkah lebar ia ingin segera menghilang dari sana. Tawa bahagia dari keluarganya seakan menusuk relung hatinya yang rapuh. Air mata seakan menjadi teman setia yang menemaninya saat ini.


“Bisakah aku tidak pergi saja besok?” ucapnya lalu kembali meraung dalam dekapan bantal.


Sementara di meja makan, Ayu merasa bersalah telah mengerjai putrinya tapi permintaan Iskandar juga tidak bisa ia abaikan. Sampai tengah malam, Aisyah masih menangis hingga tanpa sadar terlelap dalam kesedihan. Suara ketukan pintu terdengar begitu keras membuat Aisyah yang baru tiga jam tertidur itu harus bersusah payah untuk bangun.


“Sayang, mata kamu kenapa?” Ayu terkejut menatap mata bengkak Aisyah.


“Nanti aku kompres pakai es batu. Kenapa Mama bangunkan aku pagi sekali?” Aisyah hendak tidur lagi tapi tangannya langsung ditarik oleh Ayu.


“Kamu mau jadi pagar ayu. Apa kata orang kalau melihat matamu bengkak begini? Ayo, kita kompres sekarang!” Ayu membawa Aisyah ke meja makan lalu mendudukkannya di sana.


“Ini, kompres sekarang juga!” Titah Ayu.


Dita sangat cantik dengan riasan natural dan pakaian pengantin serba putih. Penutup kepala yang ia gunakan semakin menambah kecantikannya di pagi itu.


“Bagaimana? Apa aku sudah pantas menjadi pengantin?” tanyanya penuh senyum.


“Kamu sangat cantik sampai membuat wajahmu begitu berbeda. Suamimu nanti pasti sangat bahagia memilikimu.” Ucap Cut memeluk gadis itu sekilas.


Sahabat till jannah juga sudah bersiap dengan kemeja batik yang sangat pas di badan mereka masing-masing. Tapi yang paling menonjol di sana adalah penampilan Dika. Postur tubuh Dika membuat Dita tidak berhenti menatapnya.


Di saat semua lengah, Dika mendekati Dita lalu meminta foto bersama. Tentu saja Dita langsung setuju. Mereka berfoto bersama seperti pasangan suami istri menggunakan ponsel Dika.


“Kirimkan ke aku fotonya ya, Mas!”


“Aku tidak punya nomormu.” Dita merebut ponsel Dika lalu memasukkan nomor ponselnya.


“Tolong foto aku sendiri, boleh?” Dika mengangguk lalu memotret gadis itu.


“Cantik!” ucap Dika membuat Dita tersenyum malu.


“Aku mau mengirim ini untuk Mama. Aku yakin Mama pasti syok kalau melihatku begini apalagi kalau tahu aku menikah.”


“Jangan jadi anak durhaka!” sahut Dika dengan tatapan tajamnya.


Sebelum berangkat, mereka berdoa terlebih dahulu lalu melangkah dengan mengucapkan bismillah. Mereka keluar dari rumah menuju gedung tempat acara.


“Mama dapat kabar dari Buk Ayu. Katanya, Aisyah menangis semalaman sampai matanya bengkak.” Iskandar tersenyum kecil mendengar berita dari ibunya. Hatinya tidak tega tapi ia ingin membuat pernikahannya dengan Aisyah menjadi sesuatu yang sulit dilupakan. Ia bahkan sudah menyewa kameramen untuk mendokumentasikan kegiatan di rumahnya dan di rumah Papa Faisal termasuk saat di gedung nanti.


Bapak penghulu sudah sampai dan menempati meja yang sudah disediakan. Beberapa tamu undangan juga sudah hadir seperti dosen dan rektor tempat Iskandar mengajar. Beberapa teman Aisyah juga hadir. Tamu terpenting hari ini sudah duduk di meja penghulu. Beliau yang akan menjadi saksi pernikahan Iskandar.

__ADS_1


“Ayo, kalian harus bertemu seseorang dulu!” ajak Iskandar pada keempat sahabatnya.


“Siapa, Is?” tanya Ari.


“Kejutan untuk kalian!” ucap Iskandar seraya melangkah kakinya menuju meja penghulu.


“Assalamualaikum, Abah.” Ucap Iskandar lalu mencium tangan pria tua itu penuh takzim. Seketika air mata para sahabatnya luruh melihat pria tua bersarung itu duduk di sana. Mereka berhambur mencium tangan Abah yang selama mereka kecil selalu mengajarkan banyak hal. Pria itu adalah Abah, pemilik pondok pesantren tempat mereka mondok dulu.


Dari mereka berlima, Abah menatap Dika lekat. “Abah selalu berdoa semoga suatu hari nanti kamu akan bertemu dengan mereka dan kalian akan terus saling mengingatkan satu sama lain hingga ajal menjemput.” Dika memeluk pria tua itu seraya menangis. Di saat ia terluka oleh perlakuan ayahnya, hanya Abahlah yang membuatnya tetap waras untuk berpikir bahwa tidak semua pria berstatus ayah itu seperti ayahnya.


“Terima kasih, Abah. Selama ini doa Abah yang sudah membawaku tetap di jalan yang lurus walaupun aku juga sering khilaf dan berbuat maksiat.”


“Tidak ada manusia suci selain bayi. Kamu adalah yang terbaik dibanding teman-temanmu. Kamu hidup bukan dalam lingkungan yang baik tapi kamu masih bisa menjaga dirimu. Itulah kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-temanmu.” Dika mengangguk kecil.


“Terima kasih, Abah.” Ucapnya lalu melerai pelukan mereka.


“Terima kasih, Abah. Sudah bersedia hadir di pernikahanku.” Ucap Iskandar.


“Abah tidak bisa menolak karena kamu menyurih orang tuamu langsung yang menjemput Abau.”


Ya, Faisal dan Rendra yang bertugas menjemput Abah langsung ke pondok pesantren. Dari perjalanan itu juga, Faisal mengetahui banyak hal tentang putranya melalui Rendra. Ia berterima kasih dan meminta maaf karena telah membuat Rendra kerepotan mengurus anaknya. Rendra juga berterima kasih karena Faisal sudah merawat Teuku dan menjadikan Teuku sebagai dokter terkenal. Padahal ia berencana menjadikan Teuku sebagai tentara seperti dirinya.


Aisyah dan keluarganya sudah sampai di gedung. Salah satu petugas WO memberikan info jika para sahabat mempelai laki-laki sudah bisa bersiap menyambut mempelai yang akan memasuki tempat acara diikuti oleh para pagar ayu. Mereka tidak membuat barisan tapi menjadi pasukan paling depan yang akan mengantar mempelai wanita.


Di ruang tempat mempelai wanita menunggu, Aisyah sudah berkumpul dengan para pagar ayu dan satu sosok yang ia kenal di sana adalah Wulan. Aisyah tersenyum kecil menyapa Wulan yang sudah berpakaian dengan warna senada dengannya.


“Cuma aku sendiri yang bajunya lain ya?” tanyanya pada Wulan.


“Yang penting warnanya sama, Kak.” Jawab Wulan melirik baju pengantinnya.


“Aku rasa bajuku lebih mirip baju pengantin dari pada pengantin itu sendiri.” Melirik Dita yang sudah memakai cadarnya. Sementara Anggia yang baru datang juga langsung bergabung dengan Aisyah dan Wulan. Ia tetap memakai cadarnya membuat Aisyah hampir tidak mengenali jika Anggia tidak menyapanya lebih dulu.


“Oh iya, kenalkan ini Wulan. Istri dari Anugrah. Keponakan calon suamimu. Umur kalian kayaknya sama.” Ucap Aisyah memperkenalkan Wulan dan Anggia.


Mereka saling berjabat tangan lalu mencium pipi kiri dan kanan. Aisyah hampir tidak bisa tersenyum saat Dita sudah berdiri menatap mereka. Seorang petugas WO datang memberikan informasi jika acara ijab kabulnya akan segera dimulai. Petugas WO langsung meminta para pagar ayu untuk berdiri di depan mempelai wanita. Aisyah terkejut saat seorang petugas WO di ruang rias memasangkan cadar untuknya dan Wulan. Hari ini Wulan secara khusus memakai kerudung karena Anugrah memintanya dengan alasan di sana ada seorang ulama besar. Tidak baik memperlihatkan aurat apalagi dia akan menanggung dosa istrinya. Kata-kata yang membuat hati Wulan menghangat.


“Yang sabar ya Kak!” Ucap Wulan. Ia sudah diberitahu oleh Anugrah sementara Anggia yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menggerutu kesal.


“Kalau aku jadi Kakak. Tidak akan mau aku kalau disuruh jadi pagar ayu. Keluarga Kakak punya hati tidak? Kok bisa-bisanya mereka meminta Kakak menghadiri pernikahan mantan Kakak.”


Aisyah diam saja mendengar ucapan Anggia. Ucapan yang tidak sepenuhnya salah karena ia juga tidak mengerti kenapa keluarganya bisa meminta ia melakukannya.


“Kak, kalau mau kabur masih ada waktu!” Aisyah menatap Anggia.


“Jangan!” cegah Wulan panik. Kini Wulan yang mendapat tatapan aneh dari mata Anggia dan Aisyah.


“Hidup harus terus berjalan. Kalau tidak berjodoh kenapa harus dipaksakan. Lagian ini semua murni takdir bukan karena kesalahan siapa-siapa.” Ujar Wulan.


“Benar juga sih.” Anggia seperti pengacau dibalik cadarnya membuat Wulan kesal.


Pintu ruang utama terbuka. Aisyah memperhatikan dari jauh pria yang sedang duduk menghadap penghulu. Air matanya tidak bisa tertahan lagi membuatnya harus menunduk. Bumi tempatnya berpijak seakan berhenti dan menjadi sunyi. Hanya Aisyah sendiri di sana tanpa suara.


“Sah!”


“Sah!”


“Sah!”


 


***

__ADS_1


Nah...apa yang terjadi.???


__ADS_2