CUT

CUT
99,99% Cocok...


__ADS_3

Keesokan harinya di kediaman Tiara. Dita sedang terlelap menikmati tidur siangnya setelah seharian bergelut di dapur membantu sang adik menyiapkan makan siang untuk mereka dan sang nenek. Sementara Mama Shinta masih berjaga di rumah sakit di sela-sela kesibukannya sebagai dokter. Tidur Dita mulai terganggu setalah pergerakan kasur dan benda yang menghimpit tubuhnya. Matanya perlahan terbuka dan langsung tersenyum senang saat melihat siapa yang berada di depannya saat ini.


Sebuah kecupan berhasil didaratkan oleh sang suami di bibirnya. Kecupan penuh kerinduan setelah mereka sah menjadi suami istri. “Masih mengantuk?” Dita menggeleng lalu memeluk suaminya erat-erat. Dia sangat merindukan suaminya itu terlebih lagi mereka belum melakukan malam pertama. Sebagai gadis yang sudah cukup umur, Dita tentu menginginkan momen malam pertamanya dengan Dika. Di cium oleh Dika saja sebelum menikah sudah membuatnya menginginkan lebih apalagi sekarang.


Dia mendusel-dusel dada sang suami seperti seekor kucing, “Kenapa?” Dika tersenyum lucu melihat tingkah istrinya yang mau tapi malu. “Sudah tahu doanya?” tanya Dika setengah berbisik.


Dita menganggukkan kepala lalu dengan perlahan Dika memulai siang pertama mereka sebagai suami istri dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


Sementara di Surabaya, Faisal sekeluarga sedang berada di rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA milik Aisyah. Iskandar juga ikut menemani sang istri hingga suara dokter dari laboratorium memanggil nama Faisal. Setelah mengucap terima kasih pada dokter tersebut, Faisal segera membuka amplop dan membaca keterangan yang tertulis, “99,99 % cocok.” Pria itu menatap Aisyah lekat lalu menyerahkan hasil tes tersebut pada gadis yang selama ini ia anggap anak.


“Akhirnya keajaiban berhasil mempertemukanmu dengan mereka. Selamat ya, Nak.” Ucap Faisal lalu Ayu pun berhambur memeluk bayi yang dulu ia temukan di barak pengungsian. “Selamat, akhirnya kamu menemukan orang tuamu.”


“Seperti janji Papa pada kedua orang tuamu, maka kalian sendiri yang akan ke sana untuk menyampaikan berita bahagia ini. Untuk selanjutnya, kamu kalian sendiri yang akan memutuskan kapan akan ke sana.” ucap Faisal.


Mereka kembali ke rumah, Aisyah masih merasa asing dengan orang tua kandungnya. Tapi berkat kehadiran sang suami, Aisyah merasa sedikit tenang. “Mas tahu kamu tidak biasa, tapi mereka tetap orang tua kandungmu. Mungkin kita akan mengahabiskan masa libur semester dengan menetap di rumah orang tuamu, bagaimana?” Aisyah terkejut lalu tersenyum.


Pada akhirnya, Iskandar dan Aisyah memilih kembali ke tanah kelahiran mereka meninggalkan orang tua dan paraa sahabat untuk sementara. Cut dan Rendra pun langsung menyetujui keinginan Iskandar yang akan menetap di sana selama libur semester. Dua hari setelah membaca hasil tes DNA, Iskandar dan Aisyah langsung terbang menuju Aceh kembali. Perjalanan yang tidak pernah terbayangkan oleh Aisyah sebelumnya namun kini dia harus menerima kenyataan jika di sinilah tempatnya berasal.


Di antar oleh Faris dan Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti, Iskandar dan Aisyah disambut meriah oleh keluarga orang tua kandungnya serta para tetangga. Sebelumnya, Faisal sudah memberitahukan mereka jika Aisyah dan Iskandar akan menetap sementara di sana. Mala dan Ibrahim langsung melakukan berbagai persiapan menyambut kedatangan putri dan menantu mereka. Dalam waktu sehari, kamar yang akan ditempati oleh Aisyah sudah diperindah dengan cat baru, lemari dan tempat tidur baru. Mala melakukan semuanya dengan hati bahagia, selama ini mereka hanya hidup berdua dengan suaminya tanpa kehadiran buah hati setelah musibah tsunami. Mala berkali-kali meminta suaminya untuk menikah lagi tapi sang suami malah betah hidup berdua dengannya walaupun tanpa kehadiran sang anak. Kini, anak yang dulu hilang sudah kembali ke pangkuan mereka.


Sebuah tenda besar sudah terpasang di depan rumah mereka lengkap dengan berbagai hidangan. Mala juga mengundang anak yatim di daerah sekitar untuk berdoa mencari keberkahan serta rasa syukur karena anaknya yang hilang telah ditemukan. Bukan hanya Mala dan Ibrahim saja yang antusia, para wartawan ikut meliput kepulangan Aisyah sang bayi hilang saat tsunami.


Berita ini sampai ke telinga mereka setelah Ayu menghubungi penerbit untuk memberitahukan jika bayi itu telah menemukan keluarganya melalui hasil tes DNA. Para wartawan langsung bergegas ke rumah Mala di kabupaten sebelah untuk meliput kedatangan Aisyah.


Kepulangan Aisyah menjadi viral di jagad maya setelah banyak video yang bermunculan dari para pengguna akun media sosial. Aisyah di sambut dengan ritual tepung tawari oleh seorang sesepuh kamudian dia melakukan sungkeman dengan orang tuanya dan para kerabat yang sudah menunggunya dengan penuh haru. Tidak ada yang tidak meneteskan air mata saat Aisyah mencium satu persatu tangan para kerabata dari orang tuanya.


Faisal, Ayu, Cut dan Rendra menatap layar ponsel masing-masing saat beberapa video tentang Aisyah beredar. “Dia disambut layaknya artis.” Celutuk Faisal.


“Dia memang sudah menjadi artis hari-“ Ayu berlari menuju kamar mandi.


Suara wanita muntah membuat kening Faisal berkerut lalu mendekati kamar mandi untuk melihat istrinya. “Kamu salah makan, Ma?” tanya Faisal menatap istrinya.


“Tidak tahu, Pa. Perasaan aku makan seperti biasa. Kayak wanita hamil saja.” gerutu Ayu mengusap perutnya. Faisal terkekeh, “Ya mana tahu kamu memang hamil.”


“Jangan ngawur, Pa. Umurku tidak muda lagi.”


“Keajaiban itu bisa datang pada siapa saja yang dikehedaki, Ma. Siapa tahu Mama dikasih kesempatan untuk hamil. Kalau masih datang bulan berati masih sub-“ Faisal menjeda ucapannya saat sebelah tangan sang istri terangkat.


Ayu langsung mengambil kalender di atas meja lalu matanya melebar melihat tanggal yang tertera di sana. “Pa, ayo ke rumah sakit!” Ayu panik, berkali-kali wanita itu menggelengkan kepala seakan tidak percaya dengan apa yang dipikirnya.


“Ada apa, Ma? Jangan bikin Papa panik.”


“Jalan saja, Pa. nanti juga tahu.”


Begitu mobil berhent di area parkir, Ayu langsung turun tanpa menunggu suaminya. Faisal mencoba mengejar sang istri yang berjalan dengan kecepatan seperti sedang menerima pasien di ruang gawat darurat.


“Poli kandungan?” guman Faisal lalu memilih masuk menyusul sang istri.


Begitu Faisal masuk, Istrinya sudah terbaring di atas brankar dengan tangan seorang perawat yang sedang menaruh gel di atas perutnya. Dokter Bella tersenyum menatap kebingungan temannya itu.

__ADS_1


“Istrimu mengubah jadwal kepulanganku. Kalian harus membayar mahal untuk waktu berhargaku ini.” Gurau Dokter Bella.


“Ayu kenapa?” tanya Faisal mendekat.


“Ayo kita lihat ada apa dengan istri tercintamu!”


Dokter Bella memainkan alat USG di atas perut Ayu dengan mata mengarah pada monitor. Faisal dan Ayu juga menatap monitor yang sama dengan perasaan campur aduk.


“Ini dia yan sudah membuatmu muntah tadi. Apa kamu tidak mengingat masa haidmu lagi, Yu?” tanya Bella tersenyum ke arah suami istri yang sudah tidak muda lagi.


“Belakangan ini aku terlalu sibuk tidak sampai memikirkan itu. Jadi dia benar-benar ada?” tanya Ayu masih menatap monitor tapi matanya sudah berembun.


“Ya, dia sudah datang walau terlambat tapi inilah keajaiban dan hadiah untuk kesabaran kalian selama ini.”


“Apa maksudmu? Ayu hamil?” Faisal seorang dokter tapi kali ini dia seperti orang bodoh. “Iya, dia hamil. Ayu hamil! Kamu akan menjadi seorang AYAH!” Bella menekankan kata ‘Ayah’ supaya Faisal tersadar.


“Pa,-“ Faisal langsung memeluk istrinya. “Kamu hamil, Ma.”


Bella tersenyum haru menatap kebahagian kedua sahabatnya tersebut. Ia tahu pasti seperti apa kisah sedih mereka saat menanti kehadiran seorang anak namun mereka tidak mendapatkannya sampai keajaiban ini hadir.


Setelah berpelukan dalam tangis bahagia, Kedua suami istri itu kembali duduk di depan rekan mereka. “Karena umurmu tidak muda lagi jadi aku sarankan untuk kamu mengurangi pekerjaanmu dan kalau bisa kamu benar-benar istirahat total untuk menghindari segala kemungkinan. Tolong, untuk kali ini saja kamu mendengarku untuk berhenti sejenak mengurus rumah sakit. Bersantailah dan  nikmati masa kehamilanmu dengan bahagia.”


“Ayu akan melakukannya, Bella. Aku akan memastikan Ayu akan istirahat total kali ini.” Tegas Faisal.


“Aku akan meresepkan vitamin untuk menguatkan kandunganmu.”


“Tapi kalau dilihat dari riwayat perjalananku sebelumnya, kurasa anakku sangat kuat di dalam sana. Buktinya aku tidak merasakan apa-apa saat bepergian jauh sampai ke Aceh.”


“Sudah, jangan bertengkar. Setelah sekian lama, apa kalian tidak ingin menikmati waktu kehamilan berdua dengan suasana romantis?” goda Bella.


“Baiklah, ini resepnya. Dan kalau ada apa-apa, hubungi aku! Sekarang pulanglah! Aku juga mau pulang.” Bella mengusir teman rasa pasiennya tersebut karena sudah waktunya makan malam.


Keluarga besar Faisal dan Ayu turut berbahagia mendengar kabar bahagia tersebut. Sementara di depan Kabah, Bapak Fahri tersenyum dengan hati tidak berhenti mengucap syukur setelah mendengar kabar bahagia yang disampaikan oleh Kak Julie.


“Apa ini doa rahasia Bapak?” selidik Kak Julie. Saat ini Pak Fahri tengah beristirahat setelah melaksanakan salat berjamaah lalu dilanjutkan dengan salat sunat serta doa dan zikir.


“Salah satunya. Julie, Bapak haus, tolong ambilkan air zam-zam!” Kak Julie langsung berjalan menuju sebuah keran di mana di sana bisa mengambil air zam-zam dan sudah disediakan wadah untuk menampung air suci tersebut.


Kak Julie mengambil dua gelas air zam-zam tapi saat hendak menghampiri bapaknya, seorang wanita paruh baya sudah lebih dulu memanggilnya. Wanita itu tampak kelelahan seraya memegang dadanya. Tanpa banyak kata, Kak Julie langsung membantu wanita tua itu untuk minum air yang dibawanya. Melihat sang anak yang sedang membantu orang lain, Pak Fahri tersenyum kecil dari tempat duduknya.


“Are you oke, Madam?” tanya Kak Julie dalam bahasa Inggris karena tanda pengenal yang dipakai wanita itu terdapat bendera Kanada.


“Mom,” suara seorang pria dari belakang menghampiri Kak Julie dan dia langsung merangkul sang ibu.


“Your Mom?”


“Yeah?” lalu pria itu menjelaskan jika ibunya menderita penyakit sesak. Tadi beliau meminta putranya untuk mengambil kurma muda tapi sesaknya justru kambuh setelah sang putra pergi. Pria bernama Richard itu mengucapkan terima kasih. Wanita tua itu juga sudah mulai membaik setelah mendapatkan obatnya.


Kak Julie kembali mengambil zam-zam untuk sang ayah lalu memberikannya pada Pak Fahri yang masih duduk di tempat semula. “Kenapa dengan Ibu itu?”

__ADS_1


Kak Julie menceritakan kondisi ibu tersebut pada sang ayah. Di saat mereka sedang berbincang, wanita bersama anaknya tersebut datang menghampiri. Mereka berkenalan lalu anak dari wanita itu mengajak mereka untuk makan bersama sebegai ucapan terima kasih. Kak Julie ingin menolak tapi Pak Fahri malah menerima ajakan itu dengan santai.


“Bapak kenapa semangat begitu? Jangan bilang kalau Bapak naksir sama Madam itu. Aku tidak setuju Bapak kawin lagi.” Bisik Kak Julie membuat Pak Fahri terkekeh. Tanpa Kak Julie sadari, Pak Fahri sedang melirik pria di samping wanita tua itu.


“Jadi kalian berasal dari Indonesia?”


Suara Richar membuat Kak Julie terkejut. “Kamu bisa bahasa Indonesia?” Richard mengangguk. “Mendiang Ayahku berasal dari Indonesia tapi menetap di Kanada.”


“Siapa namumu, Nak?” Lagi-lagi Kak Julie terkejut membuat ibu tersebut terkekeh.


“Julie, Madam.”


“Dia anak perempuan saya satu-satunya yang tidak mau menikah karena mau menjaga saya. Padahal di sisa umur saya yang sudah tua ini, saya ingin melihatnya menikah.” Kak Julie mulai mencium aroma tidak sedap dari perkataan sang ayah. Ia melirik tajam ke arah Pak Fahri namun beliau seolah tidak peduli.


“Kenapa kamu tidak mau menikah, Nak? Kamu cantik dan pintar. Apa yang mengganggumu?” tanya wanita tua itu lagi.


“Mom, It’s not my-“ sebelah tangan wanita itu terangkat membuat Richard menghentikan ucapannya lalu menghela nafasnya.


“Maaf,” lirihnya menatap Kak Julie.


“Aku rasa, kita punya orang tua yang sama.” Ucap Kak Julie tanpa segan.


Dia tidak berniat mendekati laki-laki manapun hingga tidak membuatnya harus mengubah sikapnya di depan mereka. “Saya hanya tidak mau, Madam. Mungkin karena tidak ada laki-laki yang saya sukai.” Ucap Kak Julie santai. Walaupun harus mendengar dengusan sang ayah di sampingnya.


“Setelah ini kalian berencana ke mana?” tanya wanita itu.


“Kami akan ke Turki, Madam. Saya ingin membawa Bapak saya jalan-jalan supaya melihat betapa indah dan luasnya dunia ini.” Sindir Kak Julie membuat Pak Farhan terkekeh.


“Bolehkan kami ikut denganmu?”


“Eh?” Kak Julie terkejut.


Bagaimana wanita itu mengajak mereka sedangkan Kak Julie dan Pak Fahri megikuti jemaah yang lain. “Maaf Madam, tapi kami ke sini tidak hanya berdua. Kami mengikuti jemaah yang lain. Dan pulangnya juga bersama mereka di hari yang sudah ditentukan.” Kak Julie mencoba memberi pemahaman.


“Mom,-“


“Bapak, Saya ingin melamar putrimu, Apakah lamaran saya diterima? Richard belum menikah karena sibuk bekerja dan mengurus saya. Ini adalah tempat suci, bagaimana kalau kita menikahkan mereka di sini?” Kak Julie melongo menatap Richard dan ibunya bergantian.


“Mom,”


“Madam,”


“Saya menerima lamaran anda, Madam!”


“APAAAA???


***


jangan SKIP IKLAN ya...makasih...

__ADS_1


LIKE...KOMEN....


__ADS_2