CUT

CUT
Pulang...


__ADS_3

7 tahun kemudian…


Dua orang pria berbeda penampilan sedang menarik koper masing-masing dipintu kedatangan berbeda. Yang satu keluar dari pintu kedatangan luar negeri dan yang satu lagi berjalan tegap dengan seragam lorengnya dari pintu kedatangan domestik.


“Is, tunggu kami!!!” panggilan ke tiga sahabat till jannah menghentikan langkah Iskandar yang sudah lebih dulu keluar. Sebuah mini bus sudah berdiri di depan pintu keluar khusus menjemput mereka di bandara. Ari si anak baik sengaja meminta kepada orang tuanya untuk mengakomodasikan kendaraan saat mereka tiba di Indonesia.


Sedangkan di pintu keluar yang lain, Anugrah segera menarik kopernya menuju salah satu taksi yang akan mengantarnya ke markas untuk memberikan laporan sebelum berangkat kembali menuju kediamannya.


“Assalamualaikum, Ma. Kami sudah di mobil ini.” Ari mengabarkan pada sang ibu melalui panggilan video.


“Walaikumsalam, Mama tunggu kalian di rumah ya. Semuanya wajib kesini dulu ya!”


“Baik, Tante. Terima kasih sudah dijemput.” Ucap Reski di belakang Ari.


“Besok aja kalian pulang ke rumah ya! Nginap di tempatku semalam.” Pinta Ari.


Ke tiga sahabat till jannah itu tidak bisa menolak permintaan itu. Selama ini hanya sama Ari saja mereka bisa meminta tolong saat lagi butuh-butuhnya di bulan-bulan pertama berada di sana. Selanjutnya, mereka sudah bisa mandiri setelah memulai membangun usaha bersama.


“Kalian hubungi saja keluarga di rumah lebih dulu supaya mereka tidak khawatir.”


Masing-masing menghubungi keluarga mereka termasuk Iskandar.


Ting…


“Kak, aku baru menadarat juga. Besok pulang bareng aku aja, gimana?” Anugrah langsung membalas pesan sang kakak.


“Oke!”


Mobil akhirnya berhenti di rumah Ari. Suasana haru menyambut kehadiran para haji muda yang baru kembali dari Mesir tersebut. Ke empatnya sudah menunaikan ibadah haji saat mereka menimba ilmu di sana. Sebuah kesempatan emas yang sayang jika dilewatkan.


Mama dari Ari hanya memeluk putranya selanjutnya beliau hanya mengatupkan kedua tangan di depan dada. Bagaimanapun, para haji muda ini adalah pria non mahram untuk ibu dari Ari. Ayah Ari tersenyum lalu memeluk ke empatnya dengan penuh suka cita.


Tiga remaja dengan kadar kemiripan yang sangat kentara menyembul dari dalam rumah. Satu di anatara ke tiga saudara kembar tersebut adalah seorang gadis yang sangat cantik dibalik kerudungnya. Gadis itu melirik sekilas ke arah teman-teman kakaknya. “Kamu gak mau peluk Kakak?” tanya Ari yang sudah berdiri di depan adik perempuan satu-satunya itu.


Sedikit canggung, sang adik akhirnya memeluk sang kakak yang pulang di saat ia sudah besar. “Selamat datang, Kak.” Ucapnya singkat lalu langsung masuk ke dalam kembali.


Orang tua Ari menyambut kepulangan mereka dengan baik. berbagai hidangan sudah tersaji di meja makan. “Kok Tante tahu aku lagi pengen makan ketoprak?” tanya Dwi yang berbinar melihat ketoprak di atas meja.


“Ari bilang kamu pengen makan itu begitu tiba di Indo. Jadi, Tante siapin khusus untuk kamu.”


“Syukran Tante. Tante paling tahu yang kami mau.”


Reski dan Iskandar juga terkejut menatap makanan kesukaan mereka tersedia di atas meja. “Ri, kamu gak sedang mewujudkan keinginan kami kan?” selidik Iskandar.


Ari tersenyum penuh arti. Iskandar sudah menduga jika ini semua kejutan dari Ari untuk mereka. Banyak cerita yang bergulir dari mulut ke empatnya saat bercerita pada orang tua Ari. Suasana rumah malam itu jauh kebih hidup dari biasanya.


“Jadi setelah ini kalian akan ngajar di mana?” tanya ayah dari Ari.


“Iskandar udah dapat panggilan dari kampus Syariah.” Jawab Ari.


“Wah, selamat ya! Terus, kalian?”


“Kami sedang menunggu panggilan di kampus yang sama dengan Iskandar, Om.”


Kening kedua orang tua Ari berkerut, “Kenapa Iskandar cepat sekali dipanggil?”


Ari dengan senyum malu-malunya menjawab, “Iskandar sudah lulus lebih dulu dari kami, Pa, Ma.”


Dengan raut bingung, “Kenapa pulangnya bisa bareng gini?” tanya sang ibu masih bingung.

__ADS_1


Seraya menggaruk tengkuknya, “Ari sama teman-teman minta Iskandar tetap di sana, Ma. Kami butuh bantuan Is untuk selesai lebih cepat.”


“Is gak bisa naik pesawat sendiri, Tante. Jadi payah tunggu mereka. Nanti tidak ada yang ngasih pelastik kalau muntah.” seloroh Iskandar membuat ke tiga temannya hanya tersenyum malu-malu pada sang ayah dan ibu yang melirik mereka.


Ke esokan harinya mobil travel milik Dwi dan Reski sudah berdiri di depan rumah Ari. Ayah Ari memesan mobil travel tersebut untuk mengantar ke duanya ke kampung masing-masing. Sementara Iskandar masih menunggu jemputan sang adik yang katanya sebentar lagi akan tiba setelah menyelesaikan beberapa urusannya di kantor.


“Saling berkabar, oke! Sampaikan salamku pada keluarga kalian!” 


Mereka saling berpelukan sekilas lalu mobil travel tersebut melaju pelan hingga menghilang dari pandangan mata mereka. Satu jam kemudian, mobil suv berwarna hijau army dengan plat TNI berhenti di depan rumah Ari.


“Assalamualaikum,” ucap Anugrah. Ia datang menggunakan seragam tentara. Ari yang sedang membuka pintu langsung tahu jika yang bertamu itu adalah adik dari Iskandar.


Setelah berkenalan dan berbincang sebentar dengan keluarga Ari, mereka akhirnya meninggalkan kediaman Ari untuk melanjutkan perjalanan menuju kota mereka sekitar dua jam lagi.


“Kamu cocok dengan seragam itu. Mirip Papa.” Puji tulus sang kakak.


“Makasih, Kak.”


Suara dering telepon menghentikan kecanggungan antara kakak beradik itu.


“Hallo,-“ Anugrah yang sudah menggunakan earphone melirik ke arah kakaknya sesaat. Ia belum berani menyebut ‘sayang’ pada sang kekasih di depan kakaknya.


“Aku lagi dalam perjalanan pulang bareng Kakakku.”


“Ooopsss, ya sudah lanjut nyetir! Nanti kita bicara lagi, oke!” ucap Tiara lalu memutuskan sambungan telepon mereka.


Iskandar sendiri bukan kakak yang akan ikut campur masalah percintaan adiknya. Tapi dia akan mengingatkan jika Anugrah berbuat  sesuatu yang dilarang agama.


Tiara masih bekerja di perusahaan sepeda motor milik Jepang bersama Doni di Jakarta. Sementara Anugrah bertugas di Kalimantan Timur. Hari ini adalah kepulangannya yang ke tiga setelah lulus pendidikan. Sang papa juga memintanya untuk pulang karena kondisi neneknya sedang sakit dan ingin bertemu dengannya. Seakan sudah diatur, Iskandar juga pulang ke Indonesia setelah tujuh tahun menghabiskan waktu di Mesir hingga mendapatkan gelar S2.


“Apa nenek sakit parah?” tanya Iskandar.


“Bagaimana di Kalimantan, enak tinggal di sana?”


“Lumayan, Kak. Namanya juga di kota besar. Kalo tugas pun palingan mengamankan perbatasan. Banyak sisi menariknya. Tapi karena aku punya kemampuan di bagian mesin, aku lebih banyak di markas bagian pemeriksaan alutista. Kakak sendiri habis ini ngapain?”


“Kakak dipanggil ke salah satu kampus untuk mengajar di sana.”


“Wah, hebat. Selamat ya kak. Gak nyangka kakak bakal jadi dosen.”


“Aneh ya?”


Anugrah menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum, “Cocok kok. Penampilan Kakak lebih juga berwibawa.”


“Tante itu apa kabar?” tanya Iskandar lagi.  Selama ini mereka tidak pernah membahas masalah Risma lagi.


“Tidak tahu, Kak. Aku juga tidak mungkin tanya sama Mama soal dia. Nanti dikira aku penyuka tante-tante.”


Mobil mulai memasuki komplek perumahan. Perjalanan keduanya terasa singkat dengan saling bercerita satu sama lain. Tidak ada lagi kakak beradik yang saling mendiamkan.


“Assalamualaikum,” suara salam berulang kali diucapakan oleh Anugrah dan Iskandar tapi tidak ada yang menyahut.


“Anugrah ya?” tanya ibu-ibu di samping yang sedang menyiram tanaman.


“Iya, Buk. Ini sama Kakak juga.”


“Assalamualaikum, Buk.” Sapa Iskandar.


“Eh, sudah pulang dari Mesir, toh. Oh iya, orang tua kalian sudah keluar dari dua jam yang lalu. Coba telepon saja!”

__ADS_1


“Ke rumah nenek saja ya, Kak?” Iskandar mengangguk lalu berpamitan pada ibu tersebut.


Mereka langsung melajukan mobilnya menuju rumah sang nenek. Ada beberapa mobil yang sudah terparkir di sana.


“Kayaknya Om sama Tante sudah tiba juga.” Ucap Anugrah.


Mereka turun langsung bergegas memasuki rumah. “Assalamualaikum,” ucap keduanya.


Riko menyambut kedua ponakannya sembari tersenyum lebar, “Kalian sudah pulang. keren banget sih ponakan dua ini.” Riko memeluk satu persatu keponakannya.


“Mama sama Papa mana?”


“Masuk saja, mereka ada di dalam kamar nenek.”


Ke duanya kembali berjalan menuju kamar sang nenek. Pintu kamar sudah terbuka dan beberapa orang sedang berbicara pelan di sana. Tampak sang kakek juga ikut duduk di samping sang istri yang sudah mendampinginya puluhan tahun.


“Assalamualaikum,” ucap ke duanya lagi.


Semua mata menoleh ke arah pintu. Dua pemuda dengan pakaian berbeda memasuki ruang di mana sang nenek sedang terbaring lemah dimakan usia.


“Sini!” panggil sang ayah untuk mendekati sang nenek.


“Ma, Anugrah sama Iskandar sudah pulang. Mereka ada di dekat Mama saat ini.” Ucap Rendra.


Anugrah dan Iskandar menyalami Ibu Yetti bergantian. Berbeda dengan Anugrah, Iskandar membisikkan sesuatu ke telinga sang nenek setelah menyalaminya.


“Maafin segala kesalahan Is, Nek. Is juga sudah memaafkan kesalahan Nenek.”


Seakan Ibu Yetti mendengar jelas apa yang dibisikkan oleh sang cucu sambung, air matanya menagalir perlahan.


“Ma-afka-Nenek.”Lirih sang nenek sambil berurai air mata.


Semua mata terkejut saat Ibu Yetti memberikan reaksi tak terduga. Lalu Iskandar mengangguk pelan masih memegang tangan lembut sang nenek dengan kulit yang sudah keriput.


“Is sudah memaafkan nenek jauh-jauh hari. Sekarang Nenek berzikir dalam hati ya!”


Iskandar melihat orang-orang yang duduk di dalam kamar tersebut saling berbicara pelan atau sekedar berbalas pesan melalui ponsel masing-masing.


“Kamu hafal surat yasin?” Anugrah kaget lalu menggeleng pelan.


“Ayo!” mereka berdua keluar dari sana lalu kembali ke mobil.


“Ambil wudhu dulu!” titah sang kakak kembali.


Ke duanya mengambil wudhu lalu kembali memasuki kamar nenek. Mereka mengambil posisi di sisi kanan sang nenek.


“Ayo, Ma, Pa, kita baca surat yasin untuk Nenek! Sebelumnya ambil wudhu dulu ya.” Pinta Iskandar.


Setelah Cut dan Rendra keluar, Reni dan Riko juga ikut masuk setelah berwudhu. Mereka mulai membaca surat yasin bersama. Sebelumnya, Iskandar juga memberi sedikit arahan supaya surat yasin yang mereka baca dapat melapangkan jalan sang nenek. Jika masih diberi kesembuhan maka Ibu Yetti akan sembuh tidak lama setelah itu. Tapi jika ini menjadi akhir hidup sang nenek maka jalan untuk menghadapi sakratul maut akan lebih mudah.


“Asyhadu-alla-ila-ha-illallah-wa-asyhadu-anna-muhamma-darrasu-lullah.”


 


 


***


MANA BOOM LIKENYA INI????

__ADS_1


__ADS_2