CUT

CUT
Tikungan Jodoh...


__ADS_3

“Assalamualaikum, Kak.” Cut mengangkat panggilan telepon dari Kak Julie.


“Cut, apa benar gadis bernama Anindita itu anak Fais dan Shinta?”


“I-iya, Kak. Tapi, Cut tidak pernah bertanya pada Kak Shinta. Tapi melihat wajahnya, Kakak pasti sudah menebakkan? Mereka sama persis.”


“Ya, kebanyakan anak di luar nikah itu perempuan, cantik dan mirip dengan bapaknya.” Sindir Kak Julie pada seseorang yang duduk di samping ibunya. Anindita benar-benar mengunjungi keluarga dari ayahnya. Berbekal alamar dari Cut, ia telah sampai ke Aceh tanpa sepengetahuan ibunya. Shinta sendiri sibuk bekerja sampai lupa dengan anak-anaknya.


“Apa dia sudah sampai, Kak?” lirih Cut.


“Sudah dan kamu tidak memberitahukan terlebih dahulu ke aku. Apa kamu tahu reaksi Bapak dan Ibu? Tekanan darah keduanya langsung naik saat mendengar perkataan gadis itu.”


“Maaf, Kak. Cut pikir dia tidak akan berani ke sana.”


“Sudahlah, semua sudah terjadi. Jadi apa maksud Shinta jika anak itu sudah meninggal?”


“Tidak tahu, Kak.”


Mereka mengakhiri panggilannya.


“Jadi apa tujuanmu menemui kami?” tanya Kak Julie yang sudah bergabung dengan keluarganya lagi. Di sana juga ada Bang Adi.


“Aku hanya ingin bertemu sama keluarga dari ayahku, Tante.”


“Apa kamu tahu jika ibumu mengatakan pada kami kalau kamu sudah meninggal?” Kak Julie masih saja ketus.


“Tidak, Tante.”


“Bagus, harusnya kamu temui ibumu lalu minta penjelasan darinya.”


“Aku tidak ingin mendengar kebohongan dari mulutnya lagi makanya aku ke sini.”


“Lalu dimana ayahku?”


“Bukannya kamu sudah tahu kalau ayahmu mungkin saja sudah meninggal? Tidak ada yang tahu tentang ayahmu. Dan jangan bertanya lagi tentang itu di depan mereka.” Larang Kak Julie seraya melirik ke dua orang tuanya. Dita melihat foto-foto ayahnya semasa hidup dan dia begitu terharu saat wajahnya memang sangat mirip dengan sang ayah.


Ibu Murni menceritakan kembali bagaimana kejadian itu terjadi tepat semalam sebelum kejadian gempa dan stunami. “Nenek yang salah karena mengusirnya untuk menemuimu di Medan. Ibumu mengatakan pada Cut jika kamu sakit sakit dan membutuhkan kehadiran ayahnya. Cut meminta cerai malam itu lalu menyuruh ayahmu untuk menemuimu di Medan. Ayahmu pergi dan tak kembali sampai sekarang.” Ibu Murni kembali terisak.


“Seandainya Nenek tidak menyuruhnya pergi mungkin ayahmu masih hidup. Nenek sangat menyesal. Tinggallah di sini, nenek senang kamu datang. Tapi apa yang akan dilakukan ibumu jika ia tahu kamu kemari?”


“Kenapa Nenek tidak merestui ayah dan ibuku menikah? Apa benar karena perbedaan agama atau karena wanita bernama Cut itu?”


“Cut tidak ada hubungannya dengan putusnya hubungan ayah dan ibumu.” Sahut Kak Julie cepat.


“Jangan menyalahkan Cut. Dia juga menerima sakit seperti yang ibumu rasakan. Ibumu tidak dizinkan oleh orang tuanya untuk pindah agama. Sementara ayahmu tidak bisa mengikuti agama ibumu. Kalau ibumu bisa pindah ke agama kami tentu kami akan merestuinya. Tapi orang tua ibumu tetap tidak setuju. Jadi ini murni karena perbedaan agama.”


Dita tertawa kecil, “Pantas saja Mama begitu tenang menghadapi lamaran dari Anugrah. Ternyata ia pernah mengalaminya.”


Ibu Murni dan Pak Fahri langsung menyayangi Dita begitu melihat pada pandangan pertama. Apalagi wajah Dita yang mewarisi hampir 95% wajah ayahnya. Dita menerima tawaran sang nenek untuk tinggal di sana. Dita mengabaikan pandangan tidak suka dari Kak Julie. Dia sudah sejauh ini tidak mau terintimidasi oleh wanita berstatus Tante itu.


Di kediamannya, Cut ikut resah memikirkan kondisi di rumah mantan mertuanya. Rendra menghubungi Bang Adi untuk mengetahui keadaan di sana. Cut sedikit tenang setelah tahu bahwa keadaan Ibu Murni dan Pak Fahri baik-baik saja. Bang Adi mengatakan jika kedatangan Dita bisa jadi sebagai penubus rasa bersalah yang selama ini mendera Ibu Murni.


Seminggu, dua minggu hingga satu bulan berlalu, Shinta baru menyadari jika putrinya sudah tidak pulang ke rumah selama ini.


“Kakak pernah minta alamat orang tua Anugrah sama Rara. Waktu itu dia bilang ingin bertemu dengan Tante Cut karena ada yang mau dibicarakan masalah kerja sama.”


“Kerja sama apa?” sahut Shinta.


“Tidak tahu, Ma. Tapi, Rara gak kasih. Habis itu dia minta sama Mamang.” Jelas Tiara melalui sambungan telepon.


“Ada apa, Ma? Kenapa Mama panik begitu?”


“Tidak ada. Ya sudah, Mama tutup dulu ya?”

__ADS_1


Tuuuttttttttt…..


Shinta semakin kesal karena panggilannya tidak diangkat oleh Dita. “Apa tujuan anak itu?” Kesal Shinta di rumahnya. Sementara itu, di salah satu markas tentara. seorang pria tengah memandang sendu unggahan sahabat SMAnya. Ya, itu ada Doni yang sedang merangkul mesra Tiara dengan keterangan, “She said, yes!”


Tiara terlihat bahagia memamerkan cincin di jari manisnya. Senyumnya begitu lebar di samping Doni dengan sebelah tangannya lagi menggenggam buket bunga mawar merah. Tiara begitu cantik di foto itu membuat Anugrah terpana namun sedih.


“Selamat, Don! Semoga kalian selalu bahagia.” Anugrah menulis sebuah pesan di kolom komentar. Sebulan ini keduanya jarang bertukar pesan. Anugrah sibuk dengan kegiatannya begitu juga dengan Doni.


15 menit kemudian, dering ponsel Anugrah berbunyi.


“Hai, A. Maaf baru menghubungimu sekarang.” Lirih Doni. Ia merasa tidak enak tapi ia juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan saat hubungannya dengan Tiara sudah begitu dekat.


“Tidak apa, Don. Kita sama-sama sibuk. Selamat ya, jangan lupa undangannya.”


“Maaf, A. Aku tidak bermaksud merebutnya darimu. Tapi-“


“Sudah, Don. Tidak ada kata merebut. Kami sudah berpisah lama dan kamu berhak memilikinya. Dia bukan milikku, Don. Kamu tidak perlu meminta maaf.”


“Sekali lagi maaf, A.”


“Sudahlah, jadi kapan resminya?” tanya Anugrah kembali.


“Tiga bulan lagi, A. Kalau tidak ada halangan.”


“Semoga lancar sampai hari H.”


“Ameen, kamu sendiri bagaimana? Apa sudah mendapatkan penggantinya?”


“Belum, Don. Aku masih ingin sendiri dan fokus sama tugas.”


Mereka berbincang banyak hal hingga, “Don, kamu sudah ma-“ Anugrah jelas mendengar suara Tiara. Reflek matanya melihat ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.


“A, sudah dulu ya.”


“Oke, Don.”


“Mereka sudah tinggal bersama, kenapa hatiku masih sulit menerimanya?” Anugrah keluar dari mess lalu pergi mengendarai sepeda motornya. Di tengah malam yang cukup tenang, ia malajukan motor dengan kecepatan tinggi. Cintanya harus berakhir dan sahabatnya yang menggantikan posisinya. Itu sangat menyakitkan bagi Anugrah.


Sesekali Anugrah berteriak kencang. Ia seakan sedang berlomba dengan suara deru ombak di pantai. Semilir angin laut yang seharusnya menyejukkan tapi tidak berlaku untuk Anugrah. Hatinya panas, dadanya penuh dengan kemarahan tak terluapkan. Pikirannya kosong hingga tampa sadar –


Brakkk…


Anugrah menabrak sebuah sepeda motor di persimpangan lampu merah. Kedua motor saling menghantam hingga terseret beberapa meter sementara kedua pengemudi motor tergelatak tidak jauh dari tempat kejadian.


Prang…


Iskandar tidak sengaja menyenggol gelas kopi dengan sikunya. Perasaannya tiba-tiba tidak enak lalu mengambil ponsel mengghubungi sang ibu. Cut yang baru selesai salat isya juga merasa aneh dengan hatinya hingga suara dering ponselnya membuat Cut bertambah takut. Tidak ada yang menelepon malam-malam begini kecuali ada yang penting.


“Assalamualaikum, Ma. Mama baik-baik saja?”


“M-mama baik. baru selesai salat. Kamu kenapa tiba-tiba tanya begini?”


“Papa mana?” saat Iskandar bertanya, Rendra baru keluar dari kamar mandi.


“P-papa baru keluar dari kamar mandi. Ada apa sih? Kamu bikin Mama takut.”


“Tidak, ada. Anugraha udah telepon Mama?”


“Udah, tadi satu jam yang lalu. Mungkin sekarang sudah tidur.”


“Ya, sudah. Aku tutup dulu ya, Ma. Assalamualaikum.”


Selepas mengakhiri panggilan dengan sang ibu, Iskandar langsung menghubungi Aisyah.

__ADS_1


“Assalamualaikum, Aisyah. Apa terjadi sesuatu di sana?”


“T-tidak, Pak. Ada apa, Pak? Kenapa Bapak kedengaran panik?”


“Baiklah kalau begitu. Maaf menganggumu malam-malam. Assalamualaikum.”


Iskandar kembali menarik nafas dalam-dalam. Instingnya mengatakan sesuatu sedang terjadi. Lantas, ia kembali menghubungi Anugrah tapi sayang tidak diangkat. Satu, dua, tiga dan terus berulang tapi tidak ada jawaban dari Anugrah sampai –


“Hallo, selamat malam”


Deg…


Ini adalah panggilan kesekian baru ada jawaban dari Anugrah dan yang menjawab panggilan itu adalah seorang perempuan. Iskandar sampai melihat kembali nomer yang ia hubungi untuk memastikan jika ia tidak salah.


“Hallo, apa saya sedang-“


“Sus, biar kami yang bicara.”


“Hallo, selamat malam. Maaf, saya berbicara dengan siapa?” Iskandar kembali mengernyit saat mendengar suara wanita telah berganti dengan suara pria.


“Saya Kakak dari Anugrah. Ini dengan siapa?” tanya Iskandar risau.


“Maaf, Pak. Saya Handoko kepala barak Pratu Anugrah. Pratu Anugrah sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan beberapa menit yang lalu.”


“Ya Allah. Bagaimana keadaannya?”


“Masih diperiksa secara intensif, Pak. Kami juga meminta pihak keluarga untuk datang ke sini.”


“Saya akan ke sana secepatnya. Tolong kabari saya jika ada sesuatu.”


Iskandar panik namun tetap bersikap tenang. Ia kemudian menghubungi sang ayah. Rendra mengerutkan keningnya saat dering ponselnya kembali berbunyi.


“Pa, Mama mana?”


“Ada apa, Is? Mama baru saja tertidur.” Rendra sangat mengenal karakter Iskandar. Dia tidak akan menghubunginya jika tidak ada yang penting.


“Pa, banguning Mama pelan-pelan ya!”


“Ada apa?”


“Anugrah kecelakaan beberapa menit lalu. Sekarang sudah dibawa ke rumah sakit. Tidak ada penerbangan lagi ke sana jam segini. Besok pagi kita berangkat, Is sudah pesankan tiket. Papa siap-siap terus kita ketemu di bandara.”


“B-baik.”


Sepanjang malam itu, Iskandar tidak bisa tidur memikirkan adiknya. Ia juga menghubungi Handoko untuk mengetahui perkembangan Anugrah. Semantara di rumah, Rendra mengusap pelan sang istri hingga terbangun.


“Ma, bangun sebentar. Papa mau bicara.”


“Em, apa Pa? sudah malam ini.”


“Ma, Papa sama Is mau ke Balikpapan besok pagi.”


Cut langsung membuka matanya, “Apa yang terjadi sama Anugrah?” Selama ini, Rendra selalu mengatakan pada Cut untuk selalu siap mendengar kabar mengejutkan di waktu tak terduga.


“Memiliki anak yang berprofesi sebagai prajurit sama dengan menikahi seorang prajurit. Kamu belum merasakan seperti para prajurit lainnya yang menunggu kepulangan suami mereka dengan harap-harap cemas karena kita menikah ketika saya tidak lagi dikirim ke daerah konflik seperti Aceh dulu. Tapi bagi mereka sudah merasakan akan mudah menerima segala sesuatu yang mungkin terjadi pada putra-putra mereka dalam tugas. Saya harap kamu siap jika suatu saat ada kabar buruk tentang Anugrah di tengah malam. Kamu harus tenang dan menerima apa pun yang terjadi pada putra kita karena seorang prajurit itu hidupnya untuk negara bukan lagi untuk kita.” Saat itu Cut hanya mengangguk kecil seakan ia sanggup tapi sekarang saat suaminya mengatakan akan ke Balikpapan besok pagi. Cut seperti terkena serangan panik. Ia bangun lalu bingung harus melakukan apa. Rendra mengambil koper kecil lalu memasukkan beberapa potong pakaian.


“Pa, Mama bawa ini, eh tidak jadi, ini saja.”


“Pa, Mama, em…”


Rendra memeluk istrinya kuat, ia tahu istrinya sedang kalut tapi inilah hidup. Kita dipaksa untuk selalu siap dengan semua keadaan.


“Bang, aku tidak siap kehilangan Anugrah sekarang!”

__ADS_1


***


Sorry telat....ayo absen dulu pembaca setia....🙃


__ADS_2