
Pembicaraan kemarin dengan adiknya ternyata semakin membuat Abu tidak tenang. “Ada apa, Abu? Saya sudah menjadi istri Abu puluhan tahun, suka duka telah kita lalui bersama. Apa belum cukup membuktikan jika saya layak menjadi tempat untuk Abu berbagi masalah? Bukankah Allah menyuruh hambanya menikah supaya hidup mereka tenang? Apa gunanya saya jika hanya menatap Abu yang terus memikirkan semuanya sendiri tanpa mau berbagi sedikit pun bersama saya?”
Abu mendekati sang istri dengan perasaan bersalah. Umi kerap kali memergoki Abu tengah berdiri di dekat jendela saat tengah malam.
“Umi, banyak sekali yang ingin Abu sampaikan tapi semua itu tertahan di sini.” ucap Abu seraya memukul dadanya pelan.
Umi meraih tangan Abu lalu mencium takzim tangan sang suami yang sudah puluhan tahun menemani hari-harinya. “Jika kita bersama, Insya Allah kita sanggup menghadapi semuanya.” Abu menatap mata penuh keyakinan milik sang istri seraya menggenggam kuat tangan yang sudah tidak lagi muda tersebut.
Abu menceritakan semuanya kepada Umi dari pertemuannya dengan Khalid sampai isi pembicaraannya dengan sang adik. “Abu, biarkan Umi berpikir beberapa saat semoga Allah memberikan petunjuk. Mari kita tidur, kita harus mempunyai cukup tenaga untuk menghadapi hari esok.” sebuah senyum terbit dari sudut bibir Abu.
Setangguh-tangguhnya seorang pria, dia pasti membutuhkan seorang wanita untuk menguatkan.
Menjelang subuh, Abu dan Umi yang baru menyelesaikan salat berjamaah di kamar kini duduk berhadapan setelah Umi menahan Abu untuk tidak beranjak.
“Abu, Umi pikir alangkah baiknya bila Cut kita tempatkan di rumah sakit. Hanya itu satu-satunya tempat yang cukup aman dan jauh dari kedua lelaki itu. Kita juga bisa kembali ke toko tanpa khawatir kalau kedua pria tersebut datang. Bagaimana? Kita tidak mungkin kembali ke kampung dengan situasi seperti sekarang. Rumah juga sudah tidak ada. Kalau kita pulang ke rumah kerabat juga rasanya pasti akan sama seperti sekarang. Jadi lebih baik kita pulang ke toko. Biarkan Cut di sana, kita bisa menjenguknya setiap saat.”
Abu tersenyum lega, “Kenapa tidak terpikirkan oleh Abu sebelumnya ya?” tanya Abu.
“Karena Abu memikirkan semuanya sendiri, padahal belum tentu selesai dengan Abu pendam sendiri.” ejek Umi yang membuat Abu tertawa kecil.
“Abu, Umi masih sanggup menghadapi semua masalah keluarga kita bersama Abu. Jadi, apa pun yang terjadi hari esok. Tolong, Abu bicara sama Umi!”
“Maafkan, Abu. Abu hanya tidak mau menambah beban pikiran Umi.”
__ADS_1
“Melihat Abu tiap malam berdiri dekat jendela sambil menatap langit sudah menambah pikiran Umi.”
“Maafkan, Abu.”
Kedua suami istri yang sudah tidak muda lagi akhirnya berdamai dengan pemikiran masing-masing. Setelah sarapan pagi, Abu menyampaikan niatnya pada keluarga sang adik.
“Kenapa tiba ingin memasukkan Cut ke sana? Siapa yang akan menjaganya kalau malam?” Mak Cek Siti berusaha mencegah keputusan Abu. Sang adik juga ikut menolak keputusan tersebut. Namun, Abu sudah sepakat dengan Umi untuk menentukan sendiri nasib putri mereka.
“Kak, kenapa Cut harus ke sana? Apa Kak Mah tidak nyaman tinggal bersama kami?” tanya Mak Cek Siti pada Umi.
“Bukan begitu, Siti. Keberadaan Cut di sini bisa mendatangkan masalah untuk kalian. Kami tidak mau ada keluarga yang menjadi korban gara-gara Cut.”
“Kenapa Ayah membiarkan mereka membawa Cut ke rumah sakit jiwa? Harusnya Ayah menahan Bang Din supaya tetap tinggal bersama kita.” Pinta sang istri.
“Mamak sendiri sudah menahan kan? Apa berhasil?” Mak Cek Siti menggeleng cepat.
“Bang Din itu biar sudah tua tapi pendiriannya teguh. Jika sudah membuat keputusan susah untuk dicegah. Biarkan saja, mungkin mereka punya pemikiran sendiri. Walaupun masih keluarga dekat, kita tidak bisa mencampuri urusan rumah tangga mereka terlalu dalam. Sekedar memberi saran atau pendapat masih wajar tapi kalau sampai seperti Mamak tadi, itu tidak boleh. Cut itu anak mereka, kita tidak punya hak untuk mengaturnya.”
“Jika Mamak sayang sama Cut, jenguk dia! Ajak dia bicara sama seperti saat dia tinggal bersama kita. Ayah juga sangat menyayanginya. Semua yang ia alami sangat berat, semoga Allah memberi kesembuhan padanya.”
“Amin...”
__ADS_1
Hari berganti bulan tanpa terasa sudah enam bulan Cut berada di rumah sakit jiwa provinsi. Keadaannya sudah sedikit membaik walaupun masih jarang bicara. Ia menghabiskan waktunya dengan membaca, menyapu, menanam tanaman serta ikut menyiraminya. Berbagai kegiatan positif diberikan untuk mengalihkan pikiran Cut.
Terapi ini cukup berhasil. Ia juga kerap kali membantu pegawai di dapur. Membuat berbagai makanan untuk pasien. Cut senang, dia sering tersenyum. Ketika bunga yang ditanam mekar, ia akan terus tersenyum sepanjang hari. Kehidupan di sana sangat menyenangkan. Bahkan banyak perawat yang berteman baik dengannya.
Sebulan terakhir kegiatan Cut mulai bertambah. Ia mulai bermain dengan komputer. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh pihak keluarga, dokter yang menangani Cut dari awal mulai mengarahkan Cut ke berbagai keahlian yang pernah ia tekuni. Setiap hari, dokter akan memberikan selembar kertas yang berisi beberapa tulisan untuk diketik ulang oleh Cut.
Dari tulisan yang mudah sampai ke pembuatan tabel dan secara perlahan mulai ke pelajaran yang sulit. Semua itu diberikan secara bertahap dalam pantauan dokter serta psikiater. Hari demi hari keahlian Cut semakin berkembang, ia sudah mulai menyapa para perawat lebih dulu. Tersenyum atau memanggil lebih dulu.
Seorang pria baru saja keluar dari ruang psikiater yang menangani Cut selama ini. Ia terus melangkah ke halaman depan di mana Cut sedang menanam tanaman. Sebuah senyum terbit dari bibirnya ketika melihat sang pujaan hati yang sudah lama ia rindukan. Hari ini, ia tidak menggunakan seragam militernya. Ia datang bersama keluarga Cut setelah sehari sebelumnya ia menemui Abu di ruko.
Sehari sebelumnya ia datang mencari ruko tempat Abu berjualan dengan memakai pakaian biasa bahkan bisa dibilang pakaian tidak layak pakai. Ia menyamar menjadi seorang pengemis dengan pakaian lusuh serta wajah acak-acakan. Tidak ada Rendra yang tampan, klimis serta bersih.
Rekan-rekannya ikut terkejut ketika mendengar rencananya esok hari. Mereka menertawakannya sepanjang Rendra berhias. Untuk berjaga-jaga, beberapa tentara bersenjata lengkap sudah lebih dulu berada di area pasar untuk melindungi komandan mereka.
“Mlekom...” ucap Rendra dengan nada dibuat-buat sambil menengadah tangan ke arah Abu.
Letak toko Abu tepat di depan pasar ikan sehingga tidak menyulitkan Rendra untuk mencari. Untuk menghindari kecurigaan, ia terlebih dulu mampir ke beberapa toko untuk meminta sedekah. Ia juga mendapat satu nasi bungkus dari ibu-ibu penjual nasi di salah satu warung kopi.
Di sana juga terdapat beberapa tentara yang sedang minum kopi. Beberapa dari mereka melirik Rendra dengan senyum mengejek sambil menggelengkan kepala.
“Cinta bisa membuat orang gila.” Ucap Wahyu dengan suara sedikit dikeraskan supaya Rendra mendengar. Tawa beberapa rekannya semakin membuat Wahyu terbahak-bahak sambil melirik Rendra yang pura-pura tidak peduli.
***
__ADS_1
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...