CUT

CUT
KUA...


__ADS_3

Selama dua minggu Rendra sering mengunjungi kediaman Mak Cek Siti untuk bertemu Iskandar dan yang pasti adalah calon istrinya. Mak Cek Siti sepertinya bergerak cepat dalam perjodohan sang keponakannya kali ini. Tanpa sepengetahun Cut, Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir sering bertemu dengan Rendra di luar. Kadang, Rendra datang ke ruko Pak Cek Amir sewaktu anggotanya berbelanja.


“Sedang apa?”


“Astaugfirullah, mengagetkan saja.” gerutu Cut saat dia sedang memasak sayur di dapur.


“Saya sudah ucap salam dan kamu tidak menjawabnya.” Timpal Rendra sambil menarik kursi di meja makan lalu duduk menghadap Cut yang tengah memasak.


“Iskandar tidak ada. dia pergi sama kakek neneknya.” Balas Cut yang merasa canggung karena Rendra berada di belakangnya.


“Saya tahu, Intan sudah memberitahukan tadi di depan. Tidak ada anaknya maka ada ibunya.”


“???”


Cut tidak menimpali perkataan Rendra. Sejujurnya ia cukup canggung saat ini. Apalagi ia sempat menangkap dengan ekor matanya jika Rendra terus memperhatikan apa yang ia lakukan.


“Duduk di depan saja, jangan di sini!” seru Cut


“Kenapa? Pintu terbuka, Intan di ruang tamu dan kita tidak melakukan perbuatan tercela. Kenapa harus takut? Atau kamu sedang salah tingkah karena saya perhatikan?”


Gleg…


Cut menelan salivanya dengan susah. Sejujurnya, sayur yang ia masak sudah matang tapi dia tidak tahu harus berbuat apa jika kompor dimatikan sekarang.


Klik…


“Sayurnya hampir jadi bubur kalau kompornya tidak kamu matikan.” Ucap Rendra seraya mematikan api kompor.


Deg…


Suara Rendra terdengar sangat dekat dengannya. “Saya mau bicara, apa kamu ada waktu?”


Cut mengangguk, “Ayo!”

__ADS_1


Deg…


Rendra menggenggam tangan Cut lalu mereka ke luar rumah. “Dek, Abang bawa Kakak sebentar ya!”


“Oke. Kembalikan seperti semula ya!” jawab Intan seraya tersenyum sambil menonton televisi.


Rendra membuka pintu mobil untuk Cut lalu dirinya kembali ke balik kemudi. “Ki-kita kemana?”


“Ke KUA, mau?”


“Hah?” Cut menatap pria itu dengan mata melebar. Gurauan laki-laki di depannya ini sungguh diluar dugaan.


Rendra tersenyum lalu menjalankan mobilnya menuju tempat yang Cut tidak ketahui. Selama perjalanan, Cut memilih diam seraya menatap ke arah luar. Kondisi pasca gempa dan tsunami masih terlihat. Jalan yang dia lalui dulu penuh dengan bangunan rumah ataupun ruko yang sudah tidak berbentuk.


Rendra sendiri memilih fokus menyetir tanpa berniat membuka pembicaraan. Ia juga menyadari jika wanita di sampingnya tengah fokus melihat pemandangan di luar sana. Apa yang akan dia katakan amatlah serius hingga ia ingin mengatakan di tempat yang tenang dan nyaman. Seutas senyum terbit di sudut bibirnya tatkala sebuah kenangan muncul. Siatuasi saat ini pernah ia alami juga dulu bersama Cut hanya daerahnya saja yang berbeda. Tentunya status keduanya juga masih sama-sama lajang.


Hampir tiga puluh menit mereka berkendara lalu mobil berhenti di di sebuah bukit dengan pemandangan laut di bawahnya. Pemandangan yang cukup indah namun menyayat hati karena rumah-rumah disepanjang pantai tersebut suda rata dengan tanah.


“Ayo, Kita duduk si bawah pohon itu!” ajak Rendra seraya pohon jemblang yang rindang di atas bukit.


“Duduklah!”


Cut memperhatikan bentuk tikar yang tidak panjang itu dan tentu saja akan berpengaruh pada hatinya yang saat ini saja sudah tidak tenang. Jantungnya mulai terpacu begitu dia mendudukkan dirinya di samping Rendra. Tikar yang tidak seberapa luas itu tentu saja membuat posisi keduanya mau tidak mau menjadi dekat.


“Apa yang mau dibicarakan sampai kita harus jauh-jauh kemari?” tanya Cut serius.


“Tadi saya ajak ke KUA yang dekat kamu tidak mau. Sekarang malah protes diajak jauh. Kalau bisa, saya malah mau ajak kamu ke tempat yang lebih jauh dari ini.”


Cut menatap Rendra, “Kemana?”


“Bukan kemana tapi mau atau tidak?” bukannya menjawab, Rendra malah bertanya balik dan otomatis membuat Cut memikirkan maksud perkataan Rendra tersebut.


“Mau tidak saya ajak ke Jawa? Memulai hidup baru bersama saya dan Iskandar?”

__ADS_1


Deg…


“Abang melamar saya?” cicit Cut.


“Kenapa? Kurang romantis ya?”


Pandangan keduanya bertemu dan lagi-lagi Cut dibuat salah tingkah. Apalagi Rendra memberikan senyum termanis yang pernah Cut lihat. Jangan lupa tatapan matanya yang membuat jantung Cut berdetak lebih kencang dari biasanya.


“Mak Cek sudah menceritakan tentang niat Abang pada saya. Saya janda anak satu juga cacat. Lebih baik Abang cari wanita lain yang lebih baik dari saya.”


“Apa ini artinya kamu menolak saya?”


Gleg…


Cut bingung harus menjawab apa. “Saya mau tahu jawaban kamu dulu sebelum kita berpisah. Hari itu saya tidak bisa datang karena tugas dan saat saya kembali ternyata kamu sudah pergi. Sampai sekarang saya masih ingin mendengar jawaban kamu saat itu.”


“Keadaan saat itu dengan saat ini sudah berbeda. Jawabannya pun sudah berbeda.”


“Berarti kamu menerima saya saat itu?”


Rendra terlihat antusias dan bahagia. Manik matanya terlihat berbinar saat mendengar penuturan Cut.


“Menjawab pertanyaan itu sudah tidak bisa merubah apapun saat ini.” lirih Cut.


“Tugasmu hanya menjawab, saya yang akan membuatnya berubah. Katakan pada saya secara lantang apa kamu menerima lamaran saya dulu?” Cut mengangguk lemah, berbicara dengan Rendra sama seperti menjual barang pada orang Cina. Laki-laki ini memang tidak mengenal kata menyerah.


“Mantan istri saya adalah wanita yang cantik dan juga pintar. Dia sukses dalam pekerjaannya serta mandiri. Bahkan, gajinya lebih besar dari pada gaji saya. Saya tidak masalah dengan itu dan dia juga tidak. Kami menikah karena orang tua kami bersahabat. Pernikahan kami cukup membahagiakan walapun tanpa kehadiran seorang anak. Mantan istri saya belum siap untuk memiliki anak karena dia ingin fokus dengan karirnya. Saya tidak keberatan hingga pernikahan terus berlanjut dan lambat laun rumah tangga kami jadi hambar. Saya sering tugas ke luar daerah, dia juga sering dinas ke berbagai kota. Hingga mungkin titik jenuh dan kurangnya perhatian dari saya membuat dia berpaling. Saya yang sering dikirim tugas membuatnya kesepian tapi apa mau dikata. Seorang prajurit hidupnya memang untuk negara setelah itu baru keluarga. Saya merasa gagal sebagai seorang laki-laki. Harga diri saya hilang saat mantan istri saya diam-diam bermain dengan rekan satu kantornya.”


Rendra menjeda perkataannya sesaat seraya mengambil botol minum lalu membukanya untuk Cut dan untuk dirinya sendiri.


“Kesempurnaan fisik yang kamu jadikan acuan tidak beralasan. Saya adalah bukti nyata jika fisik seseorang tidak menjamin rumah tangga yang sempurna. Kamu paham kan apa maksud ucapan saya?”


Cut mengangguk lemah. Ia tidak menyangka pernikahan Rendra hampir serupa dengan dirinya.

__ADS_1


“Saya sulit untuk hamil kembali.”


***


__ADS_2