
“Ya Allah, kenapa hati hamba sesak begini? Kenapa perasaan hamba tidak tenang? Ya Allah, apa yang terjadi dengan hamba?”
Cut terbangun di tengah malam seperti biasa untuk melaksanakan salat istikharah dan salat malam merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Suara sirene mobil ambulans serta pesawat dari atas langit semakin menambah kegelisahan Cut.
“Ada perang lagi, di mana ya kira-kira?” tanya Umi yang ikut masuk mengikuti Abu ke kamarku.
Pernah hidup di situasi saat ini tentu ada trauma yang membekas. Mereka duduk di lantai karena terbiasa di kampung saat terjadi kontak senjata.
“Ya Allah, lindungilah kami serta warga kampung kami dari mara bahaya.” lirih Abu dengan suara tercekat. Rendra kecil masih tidur seakan tidak terjadi apa-apa di luar sana. Balita ini sudah merasakan perang sejak ia masih dalam kandungan ibunya. Suara senjata ataupun bom seakan hanya suara mainan.
Keesokan harinya, Abu dan Umi mendatangi rumah tetangga mereka untuk menanyakan perihal semalam. Dari penuturan sang pemilik rumah mengatakan bahwa penyerangan semalam terjadi di dekat desa Tanjung. Banyak tentara yang gugur dan terluka. Bahkan, truk tentara yang dikirim untuk membantu juga ikut diserang di jalan bahkan mobil ambulans juga ditembaki sampai terbalik.
Ia juga menuturkan jika sampai subuh tadi masih banyak prajurit yang dikerahkan untuk membantu ke lokasi. Jumlah yang gugur dan terluka belum teridentifikasi.
“Kami mendapat perintah untuk memperketat penjagaan termasuk di area perumahan. Jadi, untuk sementara, Abu sekeluarga jangan ke mana-mana dulu.”
“Baik, Pak. Terima kasih atas informasinya.”
“Berdoa saja, Abu. Semoga perang ini segera berakhir.”
“Amin. Saya permisi dulu. Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
__ADS_1
***
POV CUT...
7 hari berlalu...
Hari-hari masih terasa mencekam dan sangat terasa karena Abu sekeluarga tinggal di perumahan tentara dengan penjagaan cukup ketat. Tanpa disadari, aku juga memikirkan Rendra yang tidak pernah datang lagi ke rumah
Tok...tok....
“Assalamualaikum.” suara seorang pria memberi salam membuyarkan lamunanku yang sedang berada di kamar.
Seorang tentara berdiri di depan pintu dengan senjata lengkap. “Maaf, Pak. Apa Bapak memiliki keluarga yang bernama Amiruddin Nur?” tanya tentara tersebut.
“I-ya, itu adik saya yang berada di Banda Aceh. Ada apa dengan dia, Pak?” tanya Abu gelisah.
“Beliau ada di pos depan. Silakan Abu sekeluarga ikut saya!”
Abu sekeluarga akhirnya mengikuti tentara tersebut sampai di pos penjaga. Dan benar saja, begitu melihat Abu, Pak Cek Amir langsung tersenyum dan menyalami tangan Abu yang sudah lama tidak ditemui.
__ADS_1
Pak Cek Amir adalah adik laki-laki abu yang sudah lama menetap di ibu kota provinsi. Pak Cek Amir, begitulah aku bersama keponakan yang lain memanggilnya.
Beliau tidak pernah pulang ke kampung bahkan saat lebaran tiba. Keluarga Abu dapat menerima malah tidak pernah menyuruh pulang karena situasinya berbeda dengan di kota. Di ibu kota provinsi tidak separah di kabupaten.
Di sana mereka masih bisa hidup dengan tenang dan tanpa suara-suara tembakan seperti di sini.
Abu pernah bercerita jika dulu Pak Cek Amir menjual sepetak ladang sebagai modal awal beliau merantau untuk pertama kali. Dan keluarga sangat bersyukur saat mengetahui jika beliau berhasil menjadi seorang pedagang sembako yang sudah memiliki dua muka ruko serta sebuah rumah dan beberapa tanah di Banda Aceh.
Pak Cek Amir juga memilih menikah dengan gadis yang berasal dari Banda Aceh. Seorang pegawai negeri yang bekerja di kantor wali kota. Mereka telah dikaruniai tiga orang anak. Dua laki-laki dan satu perempuan.
“Bagaimana kamu tahu jika kami di sini?” tanya Abu setelah disuguhkan minuman oleh Umi. Aku dan Rendra ikut duduk bersama di ruang tamu.
“Saya bertemu si Min di Banda Aceh. Dia mengatakan semua yang terjadi pada keluarga Abang sampai Abang harus tinggal di sini. Sebenarnya, kedatangan saya kemari ingin menjemput Abang sekeluarga untuk pindah ke Banda Aceh. Abang bisa memulai hidup baru di sana bersama tanpa harus takut didatangi oleh para pemberontak itu. Bagaimana? Abang tidak bisa selamanya tinggal di sini. Perumahan ini diperuntukkan untuk para tentara. Kalau bukan hari ini, besok pasti akan datang orang yang meminta untuk mengosongkan rumah ini. Jadi bagaimana? Jika Abang mau kita bisa minta izin untuk keluar hari. Besok kita bisa langsung berangkat. Bagaimana?”
“Kami memang berencana untuk pulang ke kampung, tapi...” Abu menatap Pak Cek dengan helaan nafas berat.
Kemudian, Abu menceritakan semuanya pada Pak Cek Amir tentang aku dan Rendra yang tidak beliau tahu. “Jadi, bagaimana sekarang? Sebelumnya saya minta maaf, tapi menurut saya lebih baik Abang dan Kakak pikirkan lagi soal lamaran tentara itu. Menikah bukan hanya menyatukan dua orang tapi juga dua keluarga. Apa Abang sudah menanyakan pada Rendra tentang keluarganya? Belum lagi Cut yang tidak pernah pergi jauh. Akan sulit untuknya beradaptasi apalagi dengan orang yang berbeda budaya dengan kita.”
“Cut, Pak Cek minta maaf, bukannya Pak Cek melarang kamu. Tapi coba kamu pikirkan lagi dengan saksama. Pernikahan ini apa banyak manfaat atau mudaratnya? Ke Banda Aceh saja kamu belum pernah. Apalagi ini ke pulau Jawa. Adat budaya serta suku saja sudah jauh berbeda dengan kita. Setingkat di Banda Aceh saja kita sudah merasa berbeda karena tidak hanya kita yang tinggal di sana, ada orang dari suku atau budaya yang lain yang juga menetap di sana. Contoh yang paling terdekat saja Pak Cek dan Mak Cek kamu. Dari segi bahasa saja Pak Cek susah memahami waktu baru-baru menikah. Makanya kadang-kadang kami mencampur dengan bahasa Indonesia agar lebih cepat mengerti. Belum lagi soal makanan. Ini yang masih satu suku, nah kamu dengan Rendra? Aceh dan Jawa jauh berbeda. Bahasa, adat budaya serta makanan. Kamu menikah dengan dia, otomatis kamu yang akan belajar sesuatu yang dia suka, memahami lebih tentang keinginan dia karena kamu seorang istri. Apa kamu sanggup? Dan satu lagi yang paling penting. Kamu menikahi seorang tentara. Prosedur menikah dengan tentara berbeda dengan orang biasa. Bagaimana dengan status pendidikanmu? Apa kalian sudah membahasnya? Apa keluarganya mau menerima kamu jika mereka tahu sekolah dasar saja kamu tidak lulus? Maaf jika perkataan Pak Cek kasar tapi, Pak Cek tidak mau kamu membayangkan hal-hal indah setelah menikah seakan semua masalah hilang. Kamu harus tahu, saat kamu menikah kamu justru sedang memasuki masalah yang lebih pelik lagi.”
“Jangan lihat pernikahan Abu dan Umi kamu. Mereka menikahi orang kampung sendiri dan terus tinggal di kampung itu. Coba lihat berapa banyak orang kampung kita yang bercerai? Hampir tidak ada kan? Karena mereka tinggal di kampung yang tidak dimasuki oleh perilaku dunia modern dari kota. Sedangkan Pak Cek sudah lama merantau di kota. Apa yang Pak Cek lihat dan alami menjadi pengalaman yang berharga untuk anak-anak Pak Cek maupun keponakan Pak Cek seperti kamu. Tidak semua laki-laki di luar sana sebaik Abu kamu. Dan tidak semua wanita di luar sana sebaik Umi kamu.”
***
__ADS_1
LIKE...LIKE...LIKE...
komen yang buanyakkk yahhh...