CUT

CUT
Cinta Itu Buta...


__ADS_3

Dari balik jendela kamar rumah Pak Cek Amir, Abu duduk menyendiri menatap langit. Kata-kata Khalid masih terngiang jelas di ingatannya. Rentetan kejadian buruk yang selama ini menimpa keluarganya terus berputar di ingatan hingga sulit memejamkan mata.


 


Seperti orang tua yang lain, Abu juga berpikir mengenai masa depan Cut. Bagaimana hidupnya nanti? Siapa yang akan mengurusinya? Bagaimana dengan sang cucu? Semua pertanyaan itu muncul satu persatu di pikiran Abu.


 


“Abu tidak tidur? Jangan berpikir terlalu keras! Biarkan saja berjalan dengan sendirinya. Semua yang terjadi sudah ada yang mengatur. Kita hanya menjalaninya saja.” Umi terbangun dari tidurnya lalu mendekati Abu yang sedang menatap langit malam dekat jendela.


 


Umi tahu jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya. Namun, Umi bukanlah wanita pemaksa. Puluhan tahun menjadi istri Abu tentu banyak hal yang sudah Umi hafal baik sifat maupun perilakunya.


 


“Beberapa hari ini, kita tidak pernah mendengar suara jeritan Cut lagi, ya? Mudah-mudahan pindahnya kita ke sini bisa menjadi obat untuk Cut.” Ucap Umi kembali.


 


Dua bulan sudah berlalu semenjak kejadian minggu pagi itu. Pengobatan serta terapi untuk Cut masih terus berjalan walaupun kadang-kadang becak yang mereka tumpangi acap kali diberhentikan oleh pasukan TNI.


 


Setiap sudut kota semakin dijaga ketat menyusul banyaknya anggota tentara yang hilang dan penyerangan pos-pos tentara atau polisi masih terus terjadi. Satuan intel ikut diturunkan untuk membantu mencari para pemberontak yang sudah berbaur ke lingkungan masyarakat.


 


Berbaurnya para pemberontak ke dalam lingkungan masyarakat menjadi kelemahan bagi pasukan pemerintah dalam membasmi mereka. Sangat tidak mungkin jika para tentara menangkap orang yang dicurigai hanya karena memiliki fisik bagus seperti tentara. Tanpa foto atau petunjuk yang akurat, para tentara tidak bisa sembarangan menangkap warga sipil saat ini. Apalagi setelah adanya kejadian Kundo dan simpang A yang menyita perhatian dunia.


 


Setelah pertemuan terakhir kali di warung kopi dekat rumah sakit. Sampai kini, Khalid tidak pernah lagi menemui Abu. Area pasar juga selalu dipantau oleh aparat TNI yang terus berjaga di berbagai sudut untuk mempersempit ruang gerak para pemberontak.


 


Pasar sudah kembali seperti biasanya. Abu bersama Mae tetap berjualan sampai jam tiga sore. Sementara Umi, Rendra dan Cut berada di rumah Mak Cek Siti.


 


Suasana rumah Mak Cek Siti kembali ceria setelah sekian bulan kepergian Razi. Awan duka telah beranjak dari atas keluarga mereka. Ditambah dengan kehadiran Rendra yang semakin besar, lincah dan cerewet seperti Mae.


 


Hari Minggu, suasana rumah Mak Cek Siti sudah mulai riuh dengan suara Rendra yang tengah asyik bersama mobil mainannya. Di temani Intan dan Faris sambil menonton serial kartun kesukaan mereka.

__ADS_1


 


Setelah banyaknya kejadian yang menimpa mereka, Abu dan Pak Cek Amir bersepakat untuk tidak berjualan pada hari minggu. “Kita tidak pernah tahu kapan  bisa bersama, jadi setiap hari Minggu lebih baik kita di rumah menikmati waktu bersama-sama. Rejeki sudah di atur sama Allah. Sehari tidak berjualan tidak akan membuat kita lapar. Bagaimana Bang?” tanya Pak Cek Amir beberapa hari setelah insiden pagi Minggu.


 


Abu mengangguk setuju. “Andai bisa kembali ke kampung. Abang rasanya lebih tenang tinggal di sana.” jawab Abu.


 


“Jangan terlalu dipikirkan, Bang. Kita harus tetap hidup walaupun putra kita sama-sama telah pergi lebih dulu. Keduanya sama-sama bernasib sama. Meninggal dalam keadaan tertembak.” Abu hanya bisa menghela nafasnya ketika mendengar perkataan sang adik.


 


“Mir, sebenarnya ada yang ingin Abang katakan.” Abu terlihat ragu.


 


“Tapi, kamu jangan katakan sama orang rumah dulu. Soalnya, Abang sendiri masih bingung.”


 


“Ada apa, Bang? Kalau ada apa-apa, Abang bisa bicarakan dengan saya. Jangan dipendam sendiri. Kita ini keluarga, orang lain saja kita bantu apalagi keluarga.”


 


 


“Kenapa Abang tidak teriak saja biar dia ditangkap?”


 


“Tenang, Mir. Abang tidak mau terjadi kontak tembak yang ujung-ujungnya orang-orang di warung itu menjadi korban. Belum lagi kerugian yang dialami pemilik warung. Keadaan sudah semakin sulit jangan kita tambah lagi.” ucap Abu bijak.


 


Sebagai orang yang sudah berumur dan banyak melihat tentu Abu harus bersikap hati-hati walaupun dalam hatinya ingin sekali berteriak supaya dia ditangkap. “Mir, yang membuat saya penasaran adalah kata-kata dia tentang tunangan dan laki-laki di toko kelontong. Saya berpikir apa maksud dia adalah Ridwan?”


 


“Ridwan?” tanya Pak Cek Amir dengan wajah bingung.


 


“Iya.”

__ADS_1


 


“Saya baru ingat. Saat saya menjenguk Ridwan di rumah sakit. Dia bercerita kalau dia sudah mengatakan langsung sama Abu tentang perasaannya padanya Cut. Apa mungkin saat itu Khalid ada di sana dan mendengar semua pembicaraan Abang bersama Ridwan? Jika iya, berarti selama ini dia sudah mengikuti Cut dan keluarga Abu.”


 


“Kalau iya itu Ridwan. Terus siapa tunangan Cut? Abang belum pernah menerima lamaran lai-laki mana pun atau jangan-jangan dia?”


 


“Siapa?” tanya Pak Cek Amir penasaran.


 


“Rendra, tentara yang dulu bertugas di kampung kami. Tapi tidak ada pertunangan antara Cut dan Rendra. Bahkan setelah bertemu sebelum kejadian dua bulan lalu, kami belum bertemu lagi.”


 


“Abang bertemu lagi sama tentara itu?”


 


“Iya, tidak sengaja saat kami sekeluarga membawa Cut ke taman kota. tapi hanya sebentar setelah itu dia langsung kembali ke kelompoknya.”


 


“Dia tahu Abang tinggal di mana?”


 


“Tahu. Abang bilang saat dia tanya.”


 


“Ya ampun, Abang. Cut akan sulit sembuh jika kedua pria tersebut terus menghantuinya. Mungkin rumah saya juga tidak akan menjamin keamanan Cut. Saat ini baik si Khalid atau yang tentara itu pasti akan tahu di mana rumah saya dan bisa jadi mereka sudah tahu saat Abang pindah.”


 


“Maafkan Abang, Mir. Abang sebenarnya tidak setuju jika Cut tinggal bersama kalian. Abang tahu pasti akan ada masalah jika kami tinggal di sana. Tapi saat itu, Abang tidak bisa menolak keinginan istri kamu. Jadi sekarang lebih baik Abang kembali ke ruko saja.”


 


“Bang, yang jadi masalah saat ini adalah si tentara itu tahu tempat tinggal Abu. Dan itu bisa memicu kemarahan dari si Khalid. Alhasil, dia bisa bertindak nekat jika tahu kalau si tentara itu datang mencari Cut. Kata-kata dia saat bertemu Abu adalah sebuah ancaman buat laki-laki lain yang ingin mendekati Cut. Cinta bisa membuat orang buta, Bang. Seperti si Khalid. Dia mau menerima Cut walaupun kondisinya tidak sehat. Apa lagi itu namanya kalau tidak buta.”


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...


__ADS_2