
Rendra dan Wahyu dalam mode mengintai musuh dari jarak yang tidak telalu dekat. Rendra mengintai di luar café sedangkan Wahyu berada di dalam café. Keduanya dalam status terhubung melalui panggilan telepon dengan menggunakan headset di telinga masing-masing. Mereka datang satu jam lebih awal dari waktu yang ditentukan.
Wahyu memesan kopi dengan sepiring pasta menu khas café ini. Mereka yang pernah beberapa kali dikirim bertugas ke luar negeri dan bergabung dengan pasukan PBB tentu tidak aneh dengan makanan khas luar ini. Lidah mereka tidak sepolos dulu untuk mencicipi berbagai jenis makanan. Sementara Rendra bersandar di dalam mobilnya memperhatikan ke arah café. Sebelumnya, mereka sudah memeriksa are café secara keseluruhan termasuk kemungkinan adanya jalan tikus. Melihat tingkah keduanya seperti sedang memata-matai gembong narkoba atau *******.
“Apa kamu sengaja menggodaku dengan cara makanmu itu, Yu?”
“Pastanya enak banget. Aku jadi rindu masakan Kapten Jessi.”
“Husstt, jangan keras-keras! Nanti misi kita bisa gagal.” Keduanya tidak bercakap lagi sampai seorang pria dengan ranselnya terlihat memasuki café.
Pria itu kurus tinggi dan memakai kaca mata. Tapi dalam akunnya, pria yang mengajal berkenalan dengan Cut terlihat sangat tampan.
“Yu, apa kita salah orang? Foto di akunnya sama yang sekarang beda jauh. Di akun tersebut, pria itu sangat tampan. Tapi ini jam yang dia janjikan. Apa dia mempermainkan kita?” Rendra mengirim pesan pada Wahyu. Jika dia menggunakan saluran telepon takut akan ketahuan.
“Tunggu sebentar lagi dan lihat apa dia menghubungi Cut atau tidak.”
Rendra mengetuk jari telunjuknya berulang kali sambil menunggu pria lalu –
Tinggg…
“Aku sudah sampai, kamu dimana?”
Rendra membaca isi pesan tersebut lalu tersenyum penuh arti.
“Aku hampir tiba, kamu pakai baju apa?” balas Rendra.
Tidak lama, pria tersebut langsung membalas. “Aku pakai kaos hitam lengan pendek meja nomer 4.”
“Oke!” balas Rendra.
“Yu, meja nomer 4.”
Rendra langsung turun dari mobilnya langsung menuju café. Saat terdengar pintu terbuka, Wahyu langsung menyergap pemuda yang sedang bermain dengan laptopnya dan tanpa babibu…
__ADS_1
Bugh…
“Apa maksudmu mengirim pesan pada istriku, heh?” pemuda itu tersungkur dengan secercah darah dari bibirnya setelah terkena hantaman bogem dari Rendra.
“Ren, tenang. Kita bisa tanyakan baik-baik.” Wahyu mencoba menghentikan emosi Rendra yang sedang membludak. Setelah Wahyu menjauhkan Rendra, ia segera membantu pria tersebut untuk duduk kembali.
Para pengunjung café kembali tenang setelah permintaan maaf dari Wahyu. Kini, ketiga pria tersebut duduk berhadapan.
“Sekarang jelaskan apa maksudmu mengajak istriku bertemu?” tanya Rendra kembali. Dia sudah mulai mengontrol emosinya.
“Saya tidak mengerti maksudnya bagaimana. Tapi siapa istri Bapak dan saya tidak merasa membuat janji temu dengan istri orang.” Wahyu melirik Rendra.
“Barusan kamu mengirim pesan pada akun jejaring pertemanan milik istri saya, bukan?”
Pria itu mendesah, “Ini ponsel saya dan silakan buka akun jejaring pertemanan yang Bapak maksud. Lalu cari apa di situ ada nama akun istri Bapak atau tidak?”
Benar saja, Rendra segera membuka dan betapa terkejutnya ia jika apa yang ia lihat tidak sesuai dugaannya. Dari sorot wajah sang sahabat, Wahyu yakin jika kali ini mereka telah gagal. Rendra masih tidak percaya lalu, “Ah, orang seperti kamu pasti punya akun cadangan.”
Ting…
“Sudah kuduga, suami si Mbak pemilik akun ini akan memataiku. Hahaha…lucu sekali melihat kalian salah menghajar orang. Sampaikan salamku pada pemuda itu dan bilang padanya, terima kasih karena sudah berada di waktu dan tempat yang salah.”
“Ada apa, Ren?”
Rendra memperlihatkan pesan tersebut ada Wahyu. Mereka menghela nafas bersamaan.
“Berarti tadi dia di sini.” Mereka melihat sekeliling dan tidak menemukan orang yang mencurigakan.
“Maaf karena kami pikir pria yang sudah mengganggu istriku itu kamu.” Ucap Rendra.
Pria itu mengangguk pelan walaupun sudut bibirnya terasa perih. Rendra juga membayar minuman pria tersebut sebagai bentuk permintaan maafnya. Mereka segera pergi meninggalkan café dengan perasaan kesal.
“Sudahlah, Ren. lebih baik kamu tutup akun itu dan tak perlu bermain sosial media lagi. Tidak ada gunanya juga.” Saran Wahyu yang diangguki pelan oleh Rendra.
__ADS_1
Rendra menghapus akun Cut di saat perjalanan pulang. Dia tidak akan membiarkan siapapun mengganggu rumah tangganya.
“Aku merasa lucu. Dengan pemuda yang entah siapa hanya mengirim pesan untuk istrimu saja kamu cemburu seperti ini. Lalu, bagaimana perasaan Cut saat melihat kamu berfoto ria dengan mantan istrimu lalu kalian pajang foto itu bersamaan?”
“Bukankah yang seharusnya lebih marah di sini itu dia? Dia yang sudah kalian sakiti tapi justru tidak membalas kembali.”
“Apa kamu tidak bisa bersikap tegas pada mantan istrimu? Katakan saja kalau kamu tidak bisa lagi berdekatan seperti dulu. Untuk menjaga perasaan istrimu.” Saran Wahyu.
“Kalau aku berpikir seperti itu justru membuat Cut terlihat buruk di mata Risma, Yu. Mungkin aku hanya perlu menghindarinya saja.”
Wahyu hanya bisa menggeleng pelan. Masalah temannya ini memang cukup rumit untuknya yang tidak pernah memiliki mantan istri. Setelah mengantar Wahyu, Rendra kembali ke rumahnya. Ternyata di sana sudah ada ibunya sedang bermain dengan Anugrah.
“Sudah lama, Ma?”
“Baru setengah jam, kamu dari mana? Ini kan hari sabtu.”
“Ada perlu sama Wahyu, Ma. Cut mana?”
“Di kamar. Tadi habis makan, dia pamit tidur karena kepalanya masih pusing.”
Rendra duduk di samping ibunya. Wajahnya menyiratkan beban masalah yang sedang dipikul.
“Ada apa?” tanya sang ibu.
“Entahlah, Ma. Aku bingung. Aku tidak mau menyakiti Cut dengan bertemu dengan Risma tapi aku tidak tahu harus bagaimana memberi pengertian pada Risma jika sekarang aku sudah berkeluarga? Selama ini aku menganggapnya teman karena kita berpisah secara baik-baik walaupun dia mengkhianatiku. Aku bisa memaklumi jika dia tidak sanggup menjadi istri tentara. Tapi sekarang? Dia ingin menjadi temanku tapi Cut? Dia cemburu sama Risma. Aku harus memikirkan perasaannya.”
“Keluarga kita sudah bersahabat dengan kelaurga Risma bahkan sebelum kalian lahir. Ada ikatan yang tak kasat mata antara Papa dan Om Wahid yang Mama dan Tante Risna tidak bisa putuskan. Ikatan yang terjalin diantara mereka melebihi ikatan antara saudara. Ikatan yang tercipta saat mereka terjebak di medan perang. Dan kami para istri hanya bisa saling menguatkan dan berharap suami kami kembali dengan selamat walapun pada saat itu banyak yang kembali tak bernyawa. Begitula persaudaraan antara Papamu dan Papa Risma. Bahkan perceraian kalian tidak mampu menggoyahkan hubungan persaudaraan mereka. Kamu lihat sendiri bagaimana kuatnya ikatan persaudaraan mereka, bukan?”
“Lalu aku harus bagaimana, Ma?”
“Terima Risma sebagai temanmu dan beri perngertian pada Cut jika kalian tidak lebih sebatas teman. Mama rasa Cut akan mengerti. Risma juga sudah mengatakan pada Mama jika dia tidak berniat untuk merebutmu. Karena dia akan malu kalau harus menjadi ibu persit kembali. Dia hanya ingin berteman seperti sebelum kalian menikah. Apa kamu bisa menganggapnya teman atau sebenarnya kamu takut jatuh hati lagi padanya?”
__ADS_1
***