CUT

CUT
Kata Cerai...


__ADS_3

Percikan air menyadarkan Cut dari pingsannya. Seluruh anggota keluarga berkumpul mengelilinginya yang terbaring di sofa termasuk sang suami dengan raut wajah khawatir dan sorot mata mengantuk. Hanya satu orang yang duduk dengan raut wajah yang susah ditebak. Dia adalah Kak Julie, orang pertama yang menemukan Cut pingsan saat hendak ke dapur.


“Kamu kenapa, Nak? Kenapa tiba-tiba pingsan begini? Apa ada yang sakit?” Ibu Murni terlihat panik dan khawatir. Cut memandang sang suami lekat dan tanpa diminta, air matanya langsung keluar begitu saja.


“Ibuk tanya sama anak laki-laki kebanggaan Ibuk bukan sama Cut!” ketus Kak Julie seraya menatap tajam ke arah Faisal.


“Ada apa ini?” tanya sang ayah.


Cut menatap sang suami lalu berkata, “Abang yang katakan atau saya?”


“Ada apa sih ini sebenarnya?” tanya Ibu Murni kembali menatap menantu dan putranya bergantian.


“Kita bisa bicara berdua dulu?” pinta Faisal pada sang istri namun Cut yang sedang tersulut emosi enggan mengiyakan keinginan sang suami.


“Katakan saja yang sejujurnya di depan Ibu dan Bapak kalau kamu punya seorang anak lagi dari perempuan lain di Medan sana.”


“APAAA????” Ibu Murni dan Pak Fahri kompak terkejut mendengar apa yang Cut katakan. Kedunya menatap Faisal diikuti oleh cemoohan dari wajah Bang Adie.


“Wah…-“ ucapan Bang Adie terhenti ketika sebelah tangan sang bapak terangkat.


“Apa maksud perkataan Cut? Katakan yang sejujurnya pada kami!” suara tegas sang ayah membuat Faisal menunduk ketakutan.


“Maaf…” Faisal hanya bisa mengucapkan kata itu seraya menunduk. Ia yang selama ini menjadi anak bungsu kebanggaan orang tuanya harus berhadapan dengan kekecewaan mereka hari ini tepat di depan matanya.


Ibu Murni terduduk di sofa ketika mendengar perkataan sang putra yang berarti itu adalah sebuah kebenaran. Ia tahu betul putranya seperti apa sehingga tanpa menjawapun Ibu Murni sudah yakin apa yang mereka tuduhkan itu benar.


Semua terdiam menatap Faisal yang masih setia menunduk. “Siapa yang kamu hamili?” tanya Bapak Fahri memecah keheningan di antara mereka.


Faisal tidak langsung menjawab, ia masih menunduk seperti seorang terdakwa. “Jawab Bapak! Apa kurangnya Cut sampai kamu masih merasa belum cukup?”

__ADS_1


Berbagai pertanyaan terus keluar dari mulut Bapak Fahri dan Ibu Murni yang tersulut emosi. Sementara itu, Kak Julie dan Bang Adi memilih pergi meninggalkan persidangan itu bersama si kecil Iskandar.


“Ayo, Is. Kita belum cukup umur.” kelakar Bang Adi pada keponakannya yang sedang digendong oleh Kak Julie.


Akhir pekan yang seharusnya menyenangkan seperti hari-hari pekan sebelumnya kini berubah penuh emosi dan ketegangan di ruang keluarga. Setiap kata yang keluar dari mulut Faisal seperti sebuah rencong yang ditusuk berulag kali dijantungnya. Cut tidak siap menerima semua kenyataan ini dalam waktu singkat.


“Ceraikan saya!”


Cut yang sedari tadi memendam amarah serta luka yang terus ditorehkan oleh sang suami memutuskan mengurung diri di kamar setelah mengatakan kalimat pantang tersebut. Cut tidak mau melihat wajah Faisal, ia juga butuh ketenangan untuk sementara waktu.


“Mau dibawa kemana muka kita di depan keluarga besan, Pak? Ibuk malu. Belum lagi jika orang-orang komplek tahu kalau Faisal dan Cut bercerai. Bapak tahu sendiri Pak Syukri itu kerja di pengadilan agama. Istrinya itu ya masya Allah mulutnya sampai satu komplek tahu.”


Kedua orang tua Faisal sedang berdiskusi di kamar setelah mendengar semua cerita Faisal termasuk Shinta yang merupakan mantan pacar Faisal selama kuliah di Medan.


Faisal sendiri memilih untuk mencoba mengetuk pintu kamar dengan harapan sang istri akan membuka pintu kamar mereka. Wajah lelah serta mengantuk membuat Faisal menyerah setelah berdiri di depan pintu kamar selama satu jam.


“Pasti! Anak yang selama ini mereka banggakan justru melempar kotoran lembu ke muka mereka,” sahut Kak Julie.


“Bukankah kita juga bersalah?” Kak Julie menatap tajam kearah sang adik.


“Kita tidak mencampuri urusan masing-masing. Jangan karena kita saudara kandung jadi bisa sesuka hati mencampuri urusan orang.”


“Ibuk dan Bapak akan menyesal jika tahu kalau anak-anaknya berprinsip seperti kita,” balas Bang Adi.


“Orang tua harus siap menerima perubahan zaman termasuk pemikiran dari anak-anaknya. Bukan lagi zamannya seorang anak harus selalu mendengarkan orang tua. Ada kalanya, orang tua yang harus mendengarkan anak-anak mereka.”


“Maka hasilnya adalah kita. Anak-anak yang tidak lagi mengikuti kata-kata orang tua mereka.”


Kak Julie tersenyum sinis tatkala mendengar perkataan sang adik. Keduanya memang keras kepala dan tidak meu menuruti permintaan kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Pernikahan itu kita yang menjalani bukan mereka. Apa mereka yakin kalau pernikahan kita akan sama dengan mereka? belum tentu kan? Kita  tidak bisa memprediksi masa depan. Jadi jangan pernah memaksakan kehendak. Contohnya sudah ada kan?”


Kali ini Bang Adi yang tersenyum mengejek. “Apa yang akan terjadi pada pernikahan mereka? Kasihan Is.”


“Hahhh” Kak Julie menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia sendiri kesal mengingat perilaku sang adik namun ia sendiri tidak bisa  berbuat apa-apa.


Iskandar pulang karena merasa haus setelah berkeliling bersama om dan tantenya. Rumah tampak sepi dan tenang ketika ketiganya masuk. Kak Julie langsung melangkah kakinya menuju kamar Cut.


Tok…tok…


“Cut, Iskandar haus minta susu.” teriak Kak Julie di balik pintu.


Cut keluar dengan mata sembab berserta sebuah tas besar, “Kak, tolong antar Cut dan Is ke rumah Abu.”


Bang Adi yang hendak menaiki tangga tiba-tiba berhenti saat mendengar ucapan sang adik ipar “Jangan lari dari masalah, Cut! Kamu sudah menjadi seorang ibu sekarang. Apa jadinya perasaan Abu dan Umi saat melihat kamu pulang dengan keadaan seperti ini? Apa mereka akan bahagia saat kamu di sana? Tidak! Mereka akan tersu gelisah memikirkan kamu di usia mereka yang tidak lagi muda. Sudah cukup mereka menderita dulu, jangan buat mereka kembali menderita dengan masalah pernikahanmu. Abang tahu mereka orang tuamu. Tapi kami juga keluargamu. Selasaikan semua di sini, kalau nanti kamu mau pulang, silakan! Abang sendiri yang akan mengantar.”


Kak Julie menatap tidak percaya dengan mulut terbuka mendengarkan setiap perkataan sang adik yang selama ini tidak pernah banyak bicara kecuali saat menggangu Faisal. Kak Julie tidak percaya dibalik kenakalannya, sang adik justru memiliki pemikiran dewasa. Kak Julie dan Bang Adi sama-sama mengetahui bagaiman kenakalan mereka tapi tidak ada yang mencampuri urusan masing-masing karena itu adalah menjadi peraturan yang tidak bisa diganggu gugat di antara keduanya.


“Kalau begitu, Cut akan menyelesaikannya saat ini juga.”


 


***


Makasih buat kalian para pembaca setia...


jangan lupa mampir di DENDAM SI PETUGAS PAJAK...


makasih....

__ADS_1


__ADS_2