
Author POV...
Sebulan kemudian...
Seorang pria berdiri di dekat jendela kamarnya seraya memandang langit biru tanpa diselimuti awan. Hatinya terluka bahkan tidak sebanding dengan rasa sakit yang timbul dari luka di sekujur badan. Beberapa jahitan bahkan belum mengering sempurna. Ia merindukan kekasih hati yang sudah sebulan ini tidak bisa dijumpai.
Kontak senjata malam itu menjadi tragedi paling lama sepanjang ia bertugas di Aceh. Taktik lempar lari yang biasanya dilakukan oleh para pemberontak dan sudah terbaca namun, malam itu justru sebaliknya. Para tentara merasa di atas angin karena sudah tahu taktik mereka harus menelan pil pahit saat para pemberontak menyerang mereka dengan taktik baru di luar dugaan.
Al hasil, banyak tentara yang gugur serta terluka diakibatkan kelengahan mereka dalam membaca situasi. Rendra sendiri selaku komandan ikut terluka parah. Dia baru sadar setelah satu minggu dirawat secara intensif.
Hal pertama yang ia tanya ketika sadar adalah, “Hari ini tanggal berapa?”
Ia terkejut begitu tahu bahwa ia melewatkan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Jawaban dari lamaran yang ia tunggu-tunggu selama ini. Ia bergegas untuk bangun dan menemui sang kekasih hati namun, lagi-lagi ia harus kecewa saat mengetahui bahwa sang kekasih sudah pindah ke ibu kota provinsi.
“Kenapa Komandan memberikan izin?” tanyanya pada salah satu personil yang berjaga di sana.
Personil itu tidak menjawab karena ia memang tidak tahu. Sampai terdengar suara derap langkah sepatu masuk ke kamar tersebut.
“Siap Dan.” suara para personil penjaga.
Dokter mulai memeriksa sebentar, “Bagaimana kondisi personil saya, Dok?” tanya sang komandan yang ikut masuk bersama dokter dari rumah sakit militer.
“Sudah membaik tapi belum permanen. Kita perlu menunggu beberapa jahitan mengering sempurna dan melihat apakah ada infeksi atau tidak. Seminggu lagi akan kita foto kembali untuk melihat apakah sudah sempurna atau tidak.”
“Terima kasih, Dokter. Saya tunggu kabar baiknya.”
“Kalau begitu saya permisi dulu, selamat pagi.”
“Selamat Pagi.”
Begitu dokter keluar, “Dan, bagaimana kondisi rekan-rekan saya?” lirih Rendra.
__ADS_1
“Mereka semua masih dirawat sama seperti kamu. Cepat sembuh supaya kamu bisa menemui mereka. Oke.”
“Dan, apa ada yang gugur? Bagaimana para pemberontak itu? Apa mereka tertangkap?” Komandan diam sejenak menatap Rendra. “Ada beberapa yang gugur dan sudah kita pulangkan. Beberapa dari para pemberontak ada yang tewas dan pemimpin mereka juga belum tertangkap. Kita masih mengejarnya sampai sekarang.”
“Kamu istirahat yang banyak supaya cepat pulih, saya permisi dulu.”
Saat sang komandan hendak memutar langkah, Rendra kembali memanggilnya. “Dan, kalau boleh saya bertanya tentang keluarga Bapak Salahuddin Nur? Beliau pindah ke mana?” sebuah senyuman mengejek terbit di wajah Komandan serta yang mendampinginya.
“Kamu ini, kenapa tidak dari tadi. Alamatnya ada di markas, cepat sembuh supaya kamu tahu mereka di mana. Saya permisi dulu.”
“Siap Dan, terima kasih.” lirih Rendra yang dibalas senyuman kecil dari sang komandan.
Tok...tok....
“Lapor, Dan. Kami datang untuk menjemput Komandan keluar dari rumah sakit.” Dua orang personil menjemput Rendra dari rumah sakit.
Sesampainya di barak, Rendra kembali menuju markas walaupun masih sedikit tertatih karena cedera yang dialaminya. Ia memeriksa daftar teman-temannya yang gugur serta terluka parah. Berbicara sebentar menanyakan perkembangan terkini tentang pengejaran para pemberontak hingga langkahnya berhenti pada sebuah meja tempat riwayat korban tercatat.
Sepenuh harap ia membuka lembaran demi lembaran berkas yang tersusun rapi di atas meja tersebut sampai akhirnya menemukan apa yang ia cari. ‘Keluarga Pang Sagoe’ nama yang tertulis di halaman depan berkas tersebut.
“Tunggu Abang, Cut!” ucap Rendra saat mendapati foto kopi KTP Merah Putih Pak Cek Amir.
***
Kota Banda Aceh...
Hari-hari keluarga Cut menjadi lebih berwarna dipenuhi semangat baru. Sebulan menetap di kota Banda membuat Abu pelan-pelan terbiasa dengan rutinitas baru sebagai seorang pedagang bumbu dapur di pasar. Ruko berlantai dua tersebut digunakan sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggal. Di lantai bawah sebagai tempat berjualan sedangkan di atas sebagai tempat tinggal. Cut sendiri sudah mulai belajar pelan-pelan secara otodidak melalui buku-buku peninggalan sepupunya sebelum mengikuti ujian masuk sekolah khusus bagi mereka yang putus sekolah.
__ADS_1
Cut sangat bersemangat untuk belajar dan melanjutkan sekolah kembali. Motivasi yang diberikan oleh Mak Cek Siti serta keinginan dari dalam dirinya yang sangat besar membuat Abu dan Umi senang juga ikut mendukung. Rendra kecil berada dalam asuhan Umi, kadang-kadang ia dibawa turun oleh Umi untuk menemani abu berjualan.
Allah SWT sepertinya melimpahkan berkah dan rahmat berlimpah pada keluarga mereka. Baru sebulan Abu membuka usaha, Abu sudah mendapat pelanggan yang cukup banyak. Entah karena Abu orang yang ramah dan berbakat atau memang usaha yang Abu pilih memang cocok di sana. Pasar ikan dan bumbu dapur memang tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling membutuhkan.
Setiap sore, Cut akan pergi ke rumah Pak Cek Amir atau kadang-kadang anak Pak Cek Amir yang akan ke ruko untuk membantu Cut belajar. Mereka cepat bergaul bahkan mereka sering mengajak Cut untuk pergi jalan-jalan atau sekedar ikut mereka berenang. Walaupun Cut tidak ikut berenang tapi dia senang menjadi penonton untuk mereka bertiga. Ketiga anak Pak Cek Amir sangat kompak dan itu terkadang membuat Cut sedih.
“Kakak kenapa?” tiba-tiba Intan datang saat Cut sedang mengingat masa lalunya bersama sang abang.
“Tidak ada.” bohong Cut.
“Kakak jangan bohong, dosa, masuk neraka, mau?” usil Intan.
“Ada apa?” kedua kakak Intan ikut bergabung di tepi kolam.
“Kak Cut habis menangis. Sepertinya ingat sama pacarnya. Kakak punya pacar? Aku dengar di kampung kakak itu seram ya? Banyak orang-orang bersenjata? Pacar Kakak punya senjata juga? Aku dengar semua anak laki-laki di kampung punya senjata.” ucap Intan polos
“Hus....jangan membahas itu di tempat umum apalagi di sini. Kamu tidak lihat itu banyak tentara yang lagi berenang. Kalau mereka dengar bisa ditangkap kita.” sela Razi.
Sementara Intan dan Faris hanya mangut-mangut kepala seraya cengengesan.
“Tapi, pertanyaanku tadi belum dijawab. Kak Cut kenapa menangis? Kak Cut ingat sama pacar ya?” Razi sang kakak tertua hanya bisa menghela nafasnya. Faris menatap Cut dengan rasa penasaran yang tinggi sama seperti Intan. Sedangkan Cut sendiri bingung dengan istilah pacar yang mereka tanyakan.
“Sudah, tidak perlu dijawab. Mereka berdua memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi tapi sayangnya sifat ingin tahu itu malah digunakan untuk mengetahui urusan orang.” sindir Razi dengan tatapan sinisnya.
“Apa? Benar kan yang Abang bilang? Mau bantah?” Razi melotot kepada kedua adiknya.
"Abang kalau bicara sesuai fakta tapi sayang, Abang salah ambil jurusan. Maunya jadi pengacara jangan dokter. Tidak cocok!” balas Intan.
“Eh, dokter juga harus bicara sesuai fakta. Tidak boleh bohong nanti dikira malpraktek. Bisa masuk penjara.” sela Faris.
Perdebatan ketiga saudara itu kembali membuat Cut sedih. Ia rindu pada sosok Ilham. Abang satu-satunya yang ia miliki dan kini telah pergi jauh. Perang telah merenggutnya dari sisi Cut Zulaikha.
***
__ADS_1
LIKE...LIKE...LIKE...