HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 100 Rencana Tuan Doffy


__ADS_3

Hanaria, Shasie, Norsa, Laras, Linda, Edrine, Stefhany, dan Harison berdiri terpaku, saat melihat tuan Doffy sudah ditemani oleh CEO mereka. Bisik - bisik terdengar samar - samar tidak jelas diantara para pengunjung kantin, yang notabanenya adalah para pegawai dari Agatsa Properti Group.


"Ayo...... Kemarilah, duduklah disini....." Panggil tuan Doffy, saat melihat Hanaria dan pasukannya hanya berdiri dan saling berpandangan satu sama lain karena merasa sungkan pada kehadiran Willy dimeja itu. Mereka serentak membungkuk hormat.


"Pak Harison..... Duduklah disamping tuan muda." Ucap tuan Doffy melihat kearah Harison. Dengan gaya sedikit kikuk, Harison mengikuti perintah dari tuan Doffy, ia merasa sedikit menyesal karena telah mengikuti para gadis - gadis itu, tentu ia akan salah tingkah didekat sang CEO tampan itu.


"Nona Hana...... Kemarilah.......!" Panggil tuan Doffy, sambil menunjuk kursi disebelahnya. Hanaria terpaksa mengikuti perkataan tuan Doffy. Sementara empat temannya yang lain berjejer mengikutinya mengisi kursi - kursi yang masih kosong, demikian pula dengan Edrine dan Stefhany.


Meja traktiran tuan Doffy, spontan jadi pusat perhatian di jam makan siang, siang itu. Bagaimana tidak, gosip yang merebak dikantor itu, mengenai naiknya jabatan Hanaria sebagai wakil Kepala Divisi Arsitecture karena kedekatannya dengan sang CEO, anak pemilik Agatsa Properti Group, semakin dikuatkan, saat mereka menyaksiakan Willy dan Hanaria ada dalam satu meja yang sama.


Terlihat semua kepala pengunjung kantin itu saling berdekatan satu sama lain, berbisik - bisik karena takut terdengar oleh Hanaria dan Willy yang sedang mereka gosipkan.


Hanaria memang melihat semuanya itu. Perasaan risih dan kurang nyaman memang ada dihatinya, namun dirinya tidak mau memusingkan hal itu lagi, hanya membuatnya bad mood saja seperti yang pernah terjadi diawal pemberitaan itu, yang mengakibatkan dirinya jatuh sakit.


Dalam hal ini, ia sangat menyadari, dirinyalah yang menjadi pusat pergunjingan itu, karena semua orang akan berfikir bahwa pegawai biasa seperti dirinyalah yang berusaha menjebak para majikan seperti Willy karena menginginkan status, kekayaan, dan bla - bla - bla, jarang ada yang berfikir bila kejadian sebenarnya adalah yang sebaliknya, itulah yang sering terjadi dalam masyarakat.


Berbeda halnya dengan Linda, Norsa, Laras dan Shasie. Satu meja dengan Willy, CEO idola kaum hawa itu, membuat mereka tidak henti - hentinya melirik secara diam - diam wajah tampan yang ada dihadapan mereka.


Entahlah, mimpi apa mereka semalam hingga begitu merasa beruntung dihari ini, ditraktir tuan Doffy, dan dapat bonus satu meja dengan sang CEO idola, sehingga dapat memandangnya dari dekat, yang biasanya hanya bisa dipandang dari jauh.

__ADS_1


Edrine dan Stefhany, dua gadis belia itu, dengan kulit asia bersinarnya, saling berkomunikasi dengan bahasa inggrisnya, sambil mengunyah makan siangnya, itu sebabnya Shasie menyebut keduanya Korea Bule.


Harison, yang saat itu duduk disebelah Willy, terlihat gelisah ditempat duduknya, tapi tidak berani bergerak disamping majikannya itu. ia hanya menyuapi dirinya dengan makan siang dihadapannya. Menjawab seperlunya saat Willy mengajaknya berbicara, itu karena dirinya merasa minder berdekatan dengan idola kaum hawa diperusahaan itu, , dirinya merasa tenggelam oleh pesona sang majikannya itu


Bukan tanpa alasan bila tuan Doffy mengundang Willy untuk ikut makan siang bersama Hanaria dan para sahabatnya itu. Merebaknya gosip yang hingga menjadi konsumsi publik membuatnya ingin melihat reaksi kedua tokoh utamanya itu, saat berada dalam satu meja yang sama.


Ia sangat mengenal Hanaria, pegawai yang memang sangat berprestasi dalam bidangnya. Prestasi yang pegawainya itu sandang bukan sekedar isapan jempol belaka, wanita itu memang sangat handal sebagai seorang arsitek, bahkan sering membantunya dalam menyelesaikan berbagai masalah proyek yang sering ia hadapi.


Tidak ada yang aneh menurutnya, Hanaria tetap bersikap sebagai seorang pegawai pada Willy, begitu juga sebaliknya. Bahkan dirinya berfikir, alangkah baiknya bila keduanya bersama, akan membuat perusahaan tempat mereka berkerja semakin solid dan maju, sambil tersenyum sendiri membayangkannya.


"Apa gang membuat tuan Doffy tersenyum sendiri seperti itu?" Tanya Willy yang tidak sengaja melihat senyuman diwajah tuan Doffy.


"Pernikahan?? Maksud tuan Doffy??" Willy mengernyitkan keningnya, bagaimana mungkin pria yang sudah mulai beruban itu memikirkan masalah pernikahan lagi, apalagi seperti sekarang ini, disaat isterinya yang sudah mulai sakit - sakitan itu, banyak membutuhkan dirinya sebagai suami, fikirnya.


"Bukan saya tuan muda....... Saya 'kan adalah suami yang setia pada isteri saya." Ujar tuan Doffy seolah mengerti apa yang sedang difikiran Willy.


"Sebenarnya saya sedang memikirkan tuan muda. Tuan muda sudah sangat pantas memiliki seorang teman hidup. Apa lagi tuan sangat tampan, saya lihat banyak yang ngantri...... " Imbihnya kembali tersenyum lebar.


Linda, Norsa, Laras, dan Shasie ikut tersenyum mendengar ucapan tuan Doffy yang sangat pas pada pendengaran mereka, seolah mewakili dari isi hati mereka. Keempat gadis itu melirik diam - diam kearah Willy, ingin melihat reaksi sang bos yang sedang dibahas oleh tuan Doffy.

__ADS_1


"Iya..... tuan Doffy benar...... Usia saya sudah selayaknya untuk menikah......" Willy menjedah ucapannya sejenak, ia meneguk air mineral hingga tandas. Para gadis - gadis itu, berdebar - debar menunggu kelanjutan kalimat yang sengaja dibuat pria itu menggantung.


"Lalu??" Tuan Doffy pun nampak tidak sabar menunggu kelanjutan kalimat Willy. Hanya Hanaria, Harison, Edrine, dan Stefhany yang tidak terlalu antusias menunggu apa yang akan dikatakan Willy selanjutnya, mereka masih asik menghabiskan menu makan siangnya masing - masing.


"Posis saya masih menunggu tuan Doffy. Mommy dan daddy sudah melamar seorang gadis, jadi kami masih menunggu jawaban dari gadis itu." Sahut Willy gamblang sambil menatap wajah tuan Doffy yang tegang mendengar penuturannya.


"Uhhukk...... uhhuukk...... uhhuuķkkk........ " Hanaria langsung tersedak jus mangga yang sedang ia minum, hingga terbatuk - batuk hebat, mengundang perhatian teman - temannya, demikian juga dengan tuan Doffy, Willy dan Harison. Mereka berusaha mencari air mineral diatas meja, namun semuanya sudah terbuka dan digunakan mereka masing - masing.


"Permisi pak...... Saya minta air mineralnya satu." Willy dengan sigap mengambil air mineral diatas meja pengunjung yang lain, yang berada dibelakangnya.


"Silahkan tuan muda......." Ucap pegawai pria yang berasal dari Departemen HRD itu mempersilahkan.


"Ini minumlah nona Hana....... "Willy menyodorkan air mineral yang telah ia buka penutup botolnya pada Hanaria. Sementara Linda yang duduk disebelah Hanaria mengusap - usap punggung sahabatnya itu sambil melihat Hanaria meneguk isi botolnya hingga hampir habis.


"Kau baik - baik saja Hana?" Tanya Linda sambil memberikan tissue pada Hanaria yang sempat menghamburkan jus yang ia minum keatas meja.


Sementara tuan Doffy merasa rencana yang telah ia fikirkan belum apa - apa sudah gagal total, setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Willy barusan.


Demikian pula dengan para sahabat Hanaria, mereka langsung merasa lesu, terutama Linda yang masih menaruh harapan dan kekaguman pada sang CEO idolanya itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2