
"Ya sudah, berangkat saja Jonly, nanti ada ibu yang mengajari Hana untuk mengasuh anakmu......"
"Terima.kasih banyak bu......ibu memang yang terbaik......" Jonly segera mencium punggung tangan ibunya senang.
"Didalam tas bayi ini ada beberapa potong pakaian Mizha, susu dan popoknya juga ada ya Hana...." Elina memberikan tas yang ia bawa pada Hanaria.
"Iya kak......" Hanaria menerima tas yang diberikan Elina padanya sambil menggendong Mizha yang menatap wajahnya.
"Bu Elina berangkat dulu ya sama ayahnya Mizha." Pamit Elina sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Iya nak, hati - hati dijalan...."
"Iya bu......" Elina segera naik dan duduk dibelakang suaminya yang sudah menunggunya mengendarai kendaraan roda dua.
Hanaria memperhatikan Mizha yang sedang menatap kepergian kedua orang tuanya sampai menghilang dibalik pagar kayu tetangga. Sedikitpun bayi itu tidak merengek apa lagi menangis.
"Anak pintar......!!" Puji Hanaria sambil mencium pipi bakpao itu dengan gemas berulang - ulang.
"Hana bawa kemari cucu nenek itu....." Pinta ibu Hanaria yang sedari tadi memperhatikan Hanaria dan cucu kesayangannya itu.
"Ibu..... ibu 'kan masih sakit.....?" Ucap Hanaria sambil membawa Mizha mendekati ibunya.
"Tidak apa Hana, ibu juga sudah mulai sembuh..... berikan Mizha pada ibu, ibu merindukannya karena beberapa hari ini ia tidak main kerumah."
Hanaria menyerahkan bayi gendut itu yang tidak henti - hentinya menatap wajahnya walau sudah ada dalam pangkuan neneknya.
"Mizha..... lihat nenek sayang....." Panggil ibu Hanaria berusaha mengalihkan perhatian bayi itu pada dirinya. Namun mata Mizha terus memandang Hanaria hingga membuat sang nenek mencium pipi chubby bayi itu gemas membuat Mizha tertawa - tawa geli.
Hanaria tersenyum lebar melihat bayi gendut itu yang berusaha melepaskan diri dari sang nenek yang terus mendaratkan ciumannya diwajah, leher, tangan dan kakinya.
"Hana.....?? Kapan ibu menimang cucu darimu nak?" Tanya ibu Hanaria tiba - tiba setelah puas mencium cucunya.
"Ibu ngomong apaan sih....?" Ucap Hana yang kaget mendengar pertanyaan ibunya itu.
__ADS_1
"Jangan pura - pura tidak mengerti Hana....., ingat..... usiamu sudah cukup matang untuk menikah nak..." imbuh ibu Hanaria.
"Semua perempuan seusia mu dikampung ini sudah menikah Hana, kau jangan sibuk berkerja terus, nanti kelewatan, bisa - bisa jadi perawan tua."
Hanaria tidak sanggup menjawab, dirinya terdiam mendengar ucapan ibunya itu, ini untuk kesekian kali ibunya menayakan hal itu padanya.
"Ehh, nak Hana..... apa kabar? Lama gak pulang - pulang? Kapan datang?" Seru bu Erda dari depan pagar rumah heboh.
"Kemaren sore tante.....Mari mampir tante......" Ucap Hanaria menawarkan sambil melemparkan senyum pada tetangganya yang baru pulang dari berpergian.
"Iya, makasih nak Hana...... tante dari sini saja...."
"Tante baru pulang dari bantu - bantu keluarga yang ada hajatan dikampung sebelah. Kenapa gak kesana ajak ibumu Hana? Hanya ayahmu, Jonly dan isterinya saja yang tante lihat disana tadi." Ucap bu Erda sambil berpegangan pada pagar kayu.
"Ibu masih sakit tante, lagi pula saya harus menjaga Mizha selama orang tuanya pergi...." Sahut Hanaria sambil memberikan susu botol pada Mizha yang ada dipangkuan ibunya.
"Ibu Muri, bagaimana keadaannya ibu sekarang....??" Tanya bu Erda lagi dari depan pagar kayu.
"Sudah berasa lebih baik hari ini bu Erda...." Sahut ibu Hanaria dengan senyum ramahnya.
"Iyaa..... begitulah bu Erda......" Sahut ibu Hanaria masih dengan senyum ramahnya.
"Jonly memang beruntung sekali.... pengasuh bayinya saja seorang sarjana....." Ledek bu Erda sambil terkekeh.
Hanaria hanya tersenyum menanggapi ledekan ibu Erda tetangga yang berada empat rumah dari rumahnya sambil menatap wajah ibunya sekilas.
"Ngomong - ngomong.... kapan kamu menikahnya nak Hana? Lanisa yang sekelas denganmu di Sekolah Dasar aja anaknya sudah dua sekarang, malah calon tiga...."Celoteh bu Erda lagi membandingkan dengan putrinya yang seumuran dengan Hanaria.
"Belum tahu tante....." Sahut Hanaria merasa canggung sambil menatap wajah ibunya lagi yang setia menjadi pendengar.
" Jangan lama - lama lho nak Hana, nanti keburu tua.... bisa tambah sulit jodoh....Maaf lho nak Hana, tante cuma mengingatkan......" Imbuhnya lancar bagai jalan tol bebas hambatan.
"Heheee..... Iya tantee....terima kasih, udah repot - repot mengingatkan saya." Sindir Hanaria yang mulai tidak betah mendengar celoteh bu Erda yang terkenal suka berkomentar didusun itu.
__ADS_1
"Iya sama - sama nak Hana, tante hanya ingin kamu juga seperti semua anak - anak gadis dikampung kita ini, cepat menikah dan punya anak. Tante permisi dulu ya.... lumayan cape dari kampung sebelah." Ucapnya lagi sambil berlalu dengan senyum khasnya.
" Iya tante...." Hanaria akhirnya bisa bernapas lega saat bu Erda sudah pergi meninggalkan pagar kayu depan rumahnya.
"Hana....." Panggil pak Muri yang baru saja memasuki pagar rumah sepulang dari hajatan kampung sebelah dengan berjalan kaki.
"Ehh.... Ayah sudah pulang....." Hanaria berbalik dan langsung mencium punggung tangan sang ayah.
"Tadi malam ada pak guru Arta bertamu saat kau sudah tertidur. Beliau memintamu untuk membuat design rumah dikebunnya. Saat pulang hajatan tadi ia memberikan kertas ini, disIni pak guru Arta sudah memberikan ukuran tanahnya juga ukuran bangunan yang akan dibangunnya nanti." Pak Muri mengeluarkan lipatan kertas dari dalam sakunya dan memberikan lembaran kertas itu pada Hanaria.
Hanaria melihatnya sejenak, memperhatikan dengan seksama tulisan dalam kertas itu.
"Kapan pak guru Arta membutuhkannya ayah?" Tanya Hanaria sambil melipat kembali kertas ditangannya.
"Katanya tidak usah buru - buru kau membuatnya, disela - sela waktu luangmu saja, karena pak guru Arta tidak mau mengganggu liburanmu. Tapi kalau sudah selesai, kau dapat mengantarkannya sendiri kerumahnya, anggaplah kau bersilaturahmi dengan pak guru Arta yang pernah menjadi gurumu dulu."
"Iya ayah....." Sahut Hanaria. Pak Muri melihat kearah isterinya yang sedang memangku cucunya lalu segera mendekati.
"Mizha.... cucu kakek ada disini..... ayo gendong kakek sayang...." Pak Muri mengulurkan tangannya pada sang cucu, yang langsung diraih oleh bayi gendut itu dengan raut gembira.
Hanaria memperhatikan keponakannya itu yang begitu dekat dengan kakek dan neneknya, sampai - sampai orang tuannya pergi saja tidak membuatnya menangis seperti kebanyakkan bayi seusianya.
Tak sadar, Hanaria jadi membayangkan bila dirinya juga memiliki anak kelak, pasti kedua orang tuanya akan bertambah senang.
Hanaria senyum - senyum sendiri membayangkan lamunannya yang entah kapan akan menjadi kenyataan.
"Hana..... apa yang membuatmu senyum - senyum sendiri nak, beritahu ibu? " Ucap ibunya menyadarkan lamunan putri bungsunya itu.
"Hana hanya gemes melihat Mizha bu, bayi gendut itu tak henti - hentinya tertawa digèlitiki ayah." Ucap Hanaria tak jujur, bila ia mengatakan apa yang sedang dipikirkannya sebenarnya, ia sudah tahu pasti kedua orang tuanya akan membahasnya panjang dan lebar.
Sedangkan dirinya sudah terlampau jemu membahas tentang pertanyaan para tetangganya yang sudah ia hafal, 'kapan menikah?' 'kapan kawin?' 'mana pacarnya kok gak dibawa?' dan bla bla bla bla.
"Itulah Hana..... Mizha lah yang menjadi hiburan kami beberapa bulan terakhir ini, ibu dapat bayangkan bila kau juga memiliki anak nanti, pasti rumah ini akan semakin ramai dengan kehadiran cucu - cucu itu." Ucap bu Muri sambil tersenyum menerawang.
__ADS_1
"Semoga saja harapan ibu segera terkabul. Sekarang Hana antar ibu kedapur ya, waktunya ibu makan." Ucap Hana sengaja mengalihkan pembicaraan.