
Ponsel Hanaria tiba - tiba berderit didalam sakunya, saat dirinya baru saja tiba didepan meja kerja tuan Doffy. Hanaria meraih ponselnya, ia melihat nomor rumah tidak dikenal menelponya.
"Permisi tuan, saya angkat telepon dulu......" Ijin Hanaria pada tuan Doffy yang sedang duduk dibelakang meja kerjanya.
"Silahkan nona Hana......" Sahut tuan Doffy mempersilahkan.
"Hallo...... Selamat pagi......" Sapa Hanaria sopan.
"Selamat pagi juga nona Hanaria, saya Yurina mommynya Willy......" Terdengar suara sahutan seorang wanita dari seberang sambungan telepon. Hanaria tersentak, wajahnya nampak gugup karena isteri dari pemilik perusahaan tempat dirinya berkerja sedang menelponnya.
"Nyonya Yurina....... Apa yang bisa saya bantu?" Ucap Hanaria lagi, jantungnya tiba - tiba terasa berdebar - debar. Tuan Doffy mengernyitkan keningnya saat mendengar nama isteri dari tuan besarnya yang sedang menelpon Hanaria.
"Apakah nona Hana siang ini ada waktu, saya ingin kita makan siang bersama, direstoran yang dekat dengan kantor Agatsa Properti Group saja." Ungkap Yurina dari sambungan telepon.
"Mohon maafkan saya nyonya...... Siang ini saya ada mediasi dikantor polisi." Ucap Hanaria.
"Tidak apa - apa nona Hana...... Bagaimana kalau malamnya saja, kita makan malam?" Tanya Yurina lagi menawarkan.
Hanaria berfikir sejenak, ia merasa tidak enak kalau harus menolak. Dilihat dari cara isteri majikannya itu mengajaknya dengan rela mengulur waktu demi menyesuaikan jadwal dirinya untuk bertemu, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, fikirnya.
"Baiklah nyonya..... Saya usahakan akan datang nyonya......" Sahut Hanaria menyetujui.
"Terima kasih nona Hana......." Nada suara Yurina terdengar senang mendengar jawaban dari Hanaria.
"Nanti saya akan share lokasinya dan pukul berapa kita akan bertemu." Imbuh Yurina lagi.
"Baik nyonya......" Sahut Hanaria. Sambungan telepon terputus, Hanaria langsung menyimpan ponselnya kembali didalam sakunya.
Tuan Doffy menatap wajah Hanaria penuh tanya, ada apa gerangan nyonya Yurina menghubungi Hanaria, wakilnya itu, apakah mereka sedekat itu, fikirnya didalam hati. Tuan Doffy membuang rasa ingin tahunya itu, ia mulai membuka berkas - berkas yang telah ia siapkan diatas mejanya sedari tadi.
"Nona Hana...... Setelah meninjau beberapa lokasi proyek kemarin, ada beberapa pekerjaan konstruksi yang tidak sesuai dengan yang kita rencanakan, tapi tidak jauh berbeda, hanya persekian persen saja...... disini..... kau bisa melihatnya bukan?" Tunjuk tuan Doffy, pada lembaran berkas yang ia buka dihadapan Hanaria.
__ADS_1
"Iya tuan..... Saya melihatnya......" Sahut Hanaria sambil memperhatikan dengan seksama.
"Kira - kira..... apa yang bisa kita lakukan, karena bila harus merombak sesuai design, akan mengalami kerugian besar, karena bangunannya sudah mulai rampung. Hanya tinggal memplester dindingnya saja." Ungkap tuan Doffy agak khawatir.
Hanaria terdiam sejenak, ia nampak berfikir sambil memperhatikan hasil pekerjaan para tukang dilapangan dan membandingkan design yang telah ia rancang itu.
"Sebaiknya kita bertemu dengan tuan Louis, memberitahukan adanya kesalahan sedikit pada bagian sudut ini. Sementara, saya akan menambah dan mempercantiknya baik dari eksterior maupun interiornya sedikit, dan pemiliknya nanti tidak perlu menambah biaya, sedang perusahaan kita juga tidak mengalami kerugian karena penambahan itu.
"Apa bisa seperti itu nona Hana?" Tanya tuan Doffy memandang wajah Hanria.
"Kita coba saja tuan...... Saya akan membuat design gambar sudut yang kita maksud, saya usahakan selesai hari ini, dan akan memperlihatkan hasilnya nanti pada anda tuan.
"Baiklah...... Kau boleh melakukan sesuai katamu itu nona Hana. Saya Harap, permasalahan ini segera terselesaikan. " Ungkap tuan Doffy dengan penuh harap.
"Apa masih ada yang perlu kita bicarakan lagi tuan Doffy?" Tanya Hanaria.
"Sebenarnya masih banyak. Tapi saya ingin nona Hana menyelesaikan satu masalah ini dulu, supaya saat tuan Louis datang kita sudah mendapat solusinya." Sahut pria itu.
"Selamat pagi kak Hana........" Sapa Edrine yang sudah duduk dimeja kerjanya yang ada didalam ruang Hanaria sambil mengulas senyum manisnya.
"Selamat pagi juga nona muda......." Ucap Hanaria balas menyapa sambil membungkuk hormat.
"Kak Hana lupa ya...... tidak boleh memanggilku nona muda dan membungkuk seperti itu? Nanti orang - orang mencurigaiku sebagai anggota keluarga Agatsa." Ucap Edrine mengingatkan dari tempat duduknya.
"Iya, saya lupa nona Edrine...... Maafkan saya......" Sahut Hanaria.
"Tidak apa - apa kak....... Ada pekerjaan untukku kah kak? Aku bosan tidak ada kesibukan." Ucqp gadis itu lagi, ia berdiri dari duduknya, lalu mendekati meja kerja Hanaria.
"Banyak...... Ayo mendekatlah kemari......" Hanaria lalu membuka lemari berkas dibelakangnya. Mengambil satu berkas dari dalamnya, dan memberikannya pada Edrine.
"Pelajari berkas itu baik - baik nona..... Bila ada yang tidak nona fahami, tanyakanlah padaku. Oya, nona bisa menggunakan program autocad bukan?" Tanya Hanaria pada Edrine yang sedang menerima berkas dari tangan Hanaria..
__ADS_1
"Bisa kak......" Sahut Edrine singkat.
"Bagus......! Setelah selesai nona mempelajari berkas itu, dan sudah memahaminya...... buatlah design gambarnya sesuai yang tertera diberkas itu....." Pinta Hanaria.
"Baik kak......" Edrine segera pergi kemeja kerjanya dengan membawa berkas yang diberikan Hanaria ditangannya.
Setelah Edrine pergi, Hanaria menyalakan laptop diatas mejanya. Ia mulai membuka berkas yang dibawanya dari ruangan tuan Doffy. Beberapa detik kemudian, Hanaria sudah terlihat sibuk dengan laptopnya, tatapannya lebih banyak tertuju pada layar laptop dihadapannya dengan tangannya yang terus menari - nari diatas tombol keyboardnya. Sesekali tatapannya beralih pada lembar berkas yang terbuka diatas meja.
"Kak Hana......." Panggil Edrine yang tiba - tiba ada dihadapan Hanaria, membuyarkan konsentrasinya.
"Iya..... Ada apa nona......." Sahut Hanaria sambil menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Aku tidak mengerti yang ini kak....." Ucap Edrine sambil menunjukan salah satu halaman pada lembaran berkas yang ia bawa.
Hanaria memperhatikannya sejenak, lalu mulai memberikan penjelasan pada gadis belia yang cantik itu. Edrine terlihat mengerti setelah mendengarkan penjelasan Hanaria yang begitu gamblang menurutnya.
"Terima kasih kak...... Kak Hana memang hebat.......!" Puji Edrine sambil meninggalkan meja kerja Hanaria. Hanaria yang mendengar pujian Edrine hanya mengulas senyumnya, lalu mulai melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Menit demi menit berjalan, tidak terasa hingga berganti jam demi jam.
"Kak Hana......?!" Panggil Edrine lagi, sambil berdiri didepan meja kerja Hanaria.
"Ada yang mau ditanyakan lagi?" Tanya Hanaria, sambil mendongakkan wajahnya menatap Edrine.
"Tidak kak...... Sudah waktunya makan siang...... Kakak mau ikut?" Ucap Edrine balik bertanya.
"Oh...... Benarkah..... Sampai lupa waktu......" Ujar Hanaria sambil melirik arloji tanganya.
"Maaf ya...... Lain kali kita bisa makan siang bersama. Kak Hana sudah ada janji siang ini...." Sahut Hanaria sambil membereskan beberapa berkas yang agak berhamburan diatas mejanya.
"Baiklah..... Aku pergi dulu ya kak, mau menemui Stefhany dan makan siang bersamanya......" Pamit Edrine sambil tersenyum.
"Oke......" Sahut Hanaria, ia menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Setelah berkas - berkasnya sudah tersusun rapi dan mematikan laptopnya, Hanaria juga segera keluar meninggalkan ruang kerjanya.
__ADS_1
...***...