
Willy merasa lucu melihat kepanikan Hanaria, hingga muncul ide dikepalanya untuk menggoda isterinya itu.
"Seumur hidupku, aku tidak pernah menanggung hutang sebanyak ini," ucap Willy dengan nada dibuat sedih.
Hanaria menatap wajah Willy disampingnya dengan perasaan bersalah. "Aku memang keterlaluan," batin Hanaria merutuk dirinya sendiri.
"Maafkan aku Willy, sudah menyusahkanmu," ucap Hanaria pelan, ia turut merasa sedih dan prihatin pada suaminya itu, untuk membantunya-pun ia merasa tak bisa. Gaji terakhirnya saja saat masih berkerja sebagai kepala divisi wakil kepala Divisi baru mencapai lima digit nol dibelakang tiga angka. Entah berapa gaji yang bisa ia terima ditempat kerjanya yang baru nanti, karena disana jabatannya hanya sebagai seorang marketing biasa saja.
"Willy, bagaimana kalau kita batalkan saja pembangunan manssion yang baru saja mulai dibangun itu? Lagi pula ayah dan ibuku juga tidak tahu kalau aku yang memintanya untuk diberikan pada mereka," ucap Hanaria memberi ide.
Willy menoleh pada Hanaria, menunjukan wajah seriusnya, "Hana, apakah kau fikir aku adalah laki-laki yang akan menarik apa yang sudah kuberi?"
"Bukan-bukan itu maksudku?" ucap Hanaria sambil menggerakan tangannya rusuh, lalu menggigit sedikit jarinya karena merasa salah bicara.
"Apakah kau fikir suamimu ini tidak sanggup menutupi kekurangan tagihan itu, hmm?" lanjut Willy lagi.
"Tidak, aku juga tidak berfikir seperti itu Willy. Aku hanya tidak ingin kau terbeban karena permintaanku yang dahulu, aku merasa kasihan padamu." Hanaria berusaha memberi penjelasan.
"Oh, jadi kau merasa kasihan padaku, suamimu? Berarti aku terlihat menyedihkan dimatamu? Hmm?" ucap Willy lagi, ia lalu berdiri meninggalkan Hanaria sendiri duduk disofa dan pergi keranjang tidur mereka.
"Willy, maafkan aku, aku salah bicara," ucap Hanaria merasa tidak nyaman, sambil mengejar Willy dan meraih lengan suaminya itu dan memeluknya erat.
Willy melirik sejenak kearah Hanaria yang memeluk erat lengannya, lalu beralih menatap mawar-mawar cintanya, karya para pelayan yang ada di Villa itu atas perintahnya.
__ADS_1
"Sudahlah, lepaskan lenganku, aku mau tidur sekarang?" ucap Willy datar.
Hanaria terpaksa melepaskan lengan Willy dari pelukannya, ia melihat Willy naik ke ranjang dan masuk kedalam selimut dengan sangat hati-hati, sangat terlihat bila suaminya itu tidak ingin susunan tulisan dari bunga-bunga yang ada di atas selimut tebal itu rusak begitu saja.
"Willy?" panggil Hanaria pelan.
"Hmm," Willy hanya bergumam, wajahnya membelakangi Hanaria yang masih berdiri disisi tempat tidur. Ia memejamkan matanya sambil berbaring menghadap ke sisi tempat tidur dimana Hanaria akan berbaring disebelahnya nantinya.
"Handukmu?" ucap Hanaria hati-hati, takut salah bicara lagi.
"Memang kenapa dengan handukku?" tanya Willy dengan mata masih terpejam.
"Apakah kau tidur menggunakan handuk saja, tidak menggunakan piyamamu?" Ucapan Hanaria membuat mata Willy langsung terbuka, ia meraba kebawah, dan baru sadar kalau sejak tadi ia masih setia menggunakan handuknya itu.
"Biarkan saja, aku tidak melihat kau menyiapkan piyamaku, jadi aku terpaksa harus tidur menggunakan handuk ini saja," sahut Willy beralasan, dan kembali memejamkan matanya sambil tersenyum memikirkan ide baru yang terlintas dikepalanya.
"Maafkan aku Willy, aku benar-benar lupa. Aku akan mengambil piyamamu sekarang," ucap Hanaria lalu beranjak menuju lemari pakaian khusus suaminya.
"Tidak perlu, aku sudah sangat mengantuk," ucap Willy, membuat Hanaria menghentikan langkahnya didepan lemari pakaian suaminya itu.
Hanaria berbalik, menatap Willy yang sudah benar-benar memejamkan matanya diatas pembaringan. Ia pun tidak bisa memaksa suaminya itu untuk bangun hanya demi berganti pakaian, karena ini semua memang salahnya. Dalam hatinya, ia berjanji pada diri sendiri, tidak akan mengulangi keteledoran itu lagi.
Hanaria kembali melangkah menuju sofa, dimana ia telah meninggalkan ponsel dan tas jalannya. Tangannya mulai sibuk mengusap dan menggulir, kekiri dan kekanan, keatas dan kebawah dengan jarinya pada layar ponselnya.
__ADS_1
Ia mulai mentransfer tagihan- tagihan yang telah masuk keponselnya satu demi satu, hanya memakan waktu sepuluh menit saja, semua tagihan-tagihan itu sudah terselesaikan. Hanaria melihat saldo yang tersisa, masih menyisakan sebelas digit angka pada rekening suaminya itu.
Seumur hidup Hanaria, belum pernah angka demikaian ada di dalam rekeningnya. Perlu puluhan tahun ia harus berkerja keras dan berhemat secara luar biasa, itupun belum tentu bisa menyamai saldo milik suaminya itu.
Setelah selesai Hanaria menyimpan ponsel dan tas jalannya diatas meja sofa. Ia menuangkan air putih kedalam gelas lalu meminumnya hingga habis.
Hanaria beranjak menuju ranjang Ia berhenti sejenak disisi tempat tidur sebelum naik keatasnya. Kembali ia mengeja tulisan kelopak-kelopak mawar diatas selimut tebal sambil tersenyum-senyum sendiri memandang wajah Willy yang sudah tertidur pulas dengan nafasnya yang teratur.
Hanaria kembali memungut beberapa helai kelopak mawar-mawar itu, meletakannya diatas telapak tangannya, lalu menghirup wanginya berulang- ulang. Senyumnya terus mengembang, entah apa yang sedang ia fikirkan.
Setelah puas dengan kegiatanya itu, Hanaria meletakan kembali kelopak-kelopak mawar yang ada ditelapak tangannya ketempatnya semula.
Perlahan ia naik keranjang, dan masuk kedalam selimut disamping Willy, ia melakukannya dengan sangat hati-hati supaya tidak membangunkan Willy yang sudah pulas tertidur.
Hatinya kembali merasakan debaran-debaran aneh. Sudah seminggu mereka menikah dan selalu tidur bersama, namun debaran-debaran itu selalu hadir dihatinya, merambat mengikuti alitan-aliran darahnya.
Hanaria memandang wajah Willy yang tertidur pulas menghadap kearahnya. Dimatanya, suaminya itu memang terlihat tampan dan bertambah hari bertambah menawan. Selimut yang menutupi tubuh Willy hanya sampai kedadanya, memperlihatkan punggung dan dadanya yang polos, membuat Hanaria segera membalikan tubuhnya supaya hayalannya tidak menjadi liar memikirkan lebih dari apa yang bisa ia lihat dengan mata telanjang.
Hanaria berusaha menutup matanya untuk tidur, untuk beberapa saat lamanya, rasa lelah yang dirasa akhirnya membuatnya sangat mengantuk.
Samar-samar dirasanya, ada tangan kokoh memeluk tubuhnya dengan erat dari belakang. Hanaria tidak kuasa untuk nenolak, ia merasa terlalu lelah dan sangat mengantuk.
Sentuhan-sentuhan yang ia rasakan dari tengkuk hingga punggungnya yang terbuka seolah semakin menghanyutkan dan menina-bobokan dirinya dalam mimpi.
__ADS_1
Hanaria berusaha membuka matanya saat dirasanya ada benda yang keras mengganjal didaerah panggulnya. Ia mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan benda yang mengganggu tidurnya itu.
Hanaria membuka matanya saat mendengar suara mendesis dari mulut suaminya yang berbaring dibelakangnya. Sementara tangannya terus berusaha menyingkirkan benda keras dengan susah payah, meremas, memegang dengan kuat dan menariknya untuk menjauhkannya, tapi benda itu tidak bisa menjauh, malah semakin mengeras dan menjulur seakan melawan.