HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 69 Pengakuan Willy


__ADS_3

Seseorang itu......... dia adalah......... mommymu......" Willy terkesiap, roman wajahnya terlihat bertambah tegang, saat nama mommynya yang disebut oleh ayahnya.


"Waktu itu....... mommymu........ menggigit bibir dady, karena dady berusaha memperkosanya......." Moranno kembali menjedah ucapannya. Iya berfikir sejenak, rahasia yang ia simpan dari anak - anaknya itu, kini akan ia buka pada Willy.


"Daddy.........??!!" Mata Willy mendelik, tubuhnya seketika terasa lemas, mendengar kelanjutan ucapan ayahnya. Wajah ibunya yang lembut langsung melintas dibenaknya, membayangkan tindakan jahat ayahnya saat itu, membuatnya ingin sekali memukul ayahnya itu, namun Willy menahan dirinya dengan wajah geram, ia berusaha tetap mendengarkan kelanjutan kisah ayahnya.


Moranno menatap wajah Willy, ia dapat melihat, putranya itu merasa geram padanya, saat mendengar kisah yang ia ceritakan. Namun, Moranno tetap ingin melanjutkan kisahnya, supaya putranya dapat mengetahui keseluruhannya dan tidak salah mengambil kesimpulan.


"Malam itu, dipesta ulang tahun perusahaan, daddy diberi minuman yang sudah dilarutkan obat perangsang oleh seorang pelayan, pelakunya adalah bibimu Gandis, kakak mommymu. Itu sebanya, daddy sering memperingatkan kalian, anak - anak daddy untuk hati - hati menerima minuman atau makanan saat ada pesta." Ucap Moranno.


"Obat perangsang itu akhirnya berkerja, membuat hasrat daddy memuncak. Dengan bantuan asisten Rudy, daddy berhasil menyelinap keluar dari ruang pesta, dan pergi keruang kerja daddy. Daddy sudah dua kali mengalaminya Willy, jadi daddy tahu gejala - gejalanya. Sialnya, didalam ruang kerja daddy ada mommymu, yang saat itu berkerja sebagai cleaning service, membersihkan ruangan daddy. Daddy sudah berusaha menyuruh mommymu untuk keluar, tapi mommy tidak segera keluar, akhirnya terjadilah hal yang tidak diinginkan itu, mommy mu mengandung, dan daddy memutuskan untuk bertanggung jawab dengan menikahinya, walaupun saat itu, oma kalian sangat tidak menyetujui pernikahan kami. Setwlah pernikahan itu, maka lahirlah dirimu, dan kakak kembarmu Billy ." Moranno akhirnya mengakhiri kisahnya.


Moranno memperhatikan Willy yang tengah termenung, setelah mendengarkan kisah yang ia ceritakan. Moranno semakin curiga, bila putranya itu sedang menyembunyikan sesuatu, ia khawatir bila Willy sudah bertindak terlalu jauh pada pegawai perempuannya itu.


"Willy?" Panggil Moranno lirih. Willy tidak menjawab, ia masih asik termenung, tangan kirinya mengusap - usap pelipisnya, matanya terlihat menerawang, panggilan ayahnya tidak didengarnya.


"Willy.....?!" Panggil Moranno sekali lagi, sedikit lebih keras. Namun, Willy masih saja asik dengan lamunanya, ia sama sekali tidak mendengar, bila ayahnya memanggil dirinya.


"Willy..........???!!!" Teriak Moranno mulai kesal. Willy gelagapan, ia spontan berdiri, menatap bingung pada daddynya yang sedang memelototi dirinya.

__ADS_1


"Iya dad...... Ada apa dad......??" Wajahnya masih terlihat bingung. Moranno mengambil nafas, lalu menghempaskannya dengan kasar. Dirinya semakin yakin, bila Willy sudah bertindak jauh. Hatinya tiba - tiba merasa kalut, ia tidak rela, bila putranya itu salah langkah.


"Apa yang sedang kau lamunkan Willy? Daddy memanggilmu sampai tiga kali, kau baru bisa mendengarkan daddy, itupun karena daddy berteriak. Kalau tidak, kau pasti belum sadar sampai sekarang dari lamunanmu itu....... " Ucap Moranno masih merasa kesal pada sikap putranya itu.


"Tidak ada dad........Willy tidak melamunkan apa - apa......" Sahut Willy sambil mengeleng - gelengkan kepalanya.


"Sejauh mana perbuatanmu dengan nona Hanaria? Katakan dengan jujur pada daddy?" Paksa Moranno. Willy menelan salivanya, ia langsung bergidik ngeri. Ia memiliki firasat, kalau ayahnya itu pasti tahu sesuatu mengenai apa yang telah terjadi antara dirinya dan Hanaria, pikirnya.


"Perbuatan yang bagaimana maksud daddy?" Willy pura - pura tidak mengerti, maksud dari perkataan sang ayah, wajahnya dibuat seperti orang bodoh, membuat Moranno semakin kesal dan tidak sabaran menghadapi putra keduanya itu.


"Plaaakkk........" Moranno memukul punggung Willy dengan salah satu berkas yang ada diatas meja kerja Willy dengan gemas, membuat putranya itu meringis kesakitan, sambil mengusap - usap punggungnya yang menjadi sasaran kekesalan sang ayah.


"Apakah kau sudah meniduri nona Hanaria.......??!! Huhhh??!! Daddy tidak mau tahu.......!!! kau harus menikahinya, secepatnya........!!! " Moranno yang sudah terlanjur kesal pada Willy, yang terkesan bersikap belat - belit, akhirnya memutuskan secara sepihak.


"Daddy tidak percaya........!! Kau sengaja tidak mau mengakuinya 'kan?? Daddy kecewa padamu Willy.......!! Sebagai laki - laki, kau tidak mau bertanggung - jawab......! " Ucap Moranno, ia merasa sangat marah pada putranya itu, padahal dirinya dan isterinya, sudah mendidik putranya itu dengan baik.


"Daddy.......! Willy bersumpah.......! Willy tidak pernah meniduri nona Hanaria.......! Willy memang mencium dan menggigit bibir dan lidahnya.......! itu hanya untuk menghukumnya saja.......!" Ucap Willy jujur, perkataan itu terlontar begitu saja dari mulutnya, membuat Moranno terkesiap mendengarnya, sambil menatap Hanaria yang sudah berdiri tegak dibelakang Willy.


"Nona Hana....... kau sudah bangun? Apakah kau baik - baik saja?" Tanya Moranno, pria paruh baya itu masih terpaku ditempat dirinya berdiri. Ia khawatir, pegawai perempuannya itu telah mendengarkan semua apa yang telah ia perbincangkan dengan Willy putranya.

__ADS_1


"Saya baik - baik saja tuan....... saya permisi dulu, sepertinya saya sudah terlambat, karena pukul 8 tadi, saya sudah ditelepon oleh Linda untuk hadir diruang pertemuan." Ucap Hanaria, ia memperlihatkan senyum tipisnya.


"Kau tidak terlambat nona Hana, acaranya tadi ditunda karena ada trouble, 10 menit lagi baru akan dimulai." Sahut Moranno, dirinya balas tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamannya pada pegawainya itu.


"Syukurlah kalau begitu...... saya permisi dulu tuan, saya akan langsung kesana sekarang......." Ucap Hanaria masih tersenyum tipis. Hanaria membungkuk hormat pada Moranno, juga pada Willy yang masih bersujud dikaki ayahnya.


"Tunggu nona Hana, apakah tidak sebaiknya..... andaa....... merapikan diri dulu....... ditoilet......." Ucap Moranno tersendat, sambil menunjuk dengan kedua jari telunjuk kiri dan kanannya pada wajahnya sendiri.


"Saya merapikan diri ditoilet yang ada diluar saja tuan...." Sahut Hanaria masih tersenyum tipis. Ia kembali membungkuk hormat pada Moranno dan Willy, setelahnya ia segera melangkah keluar, dengan langkah kaki panjangnya.


Moranno, dan Willy yang masih terduduk dilantai, menatap kepergian Hanaria, yang menggendong tas ransel dipunggungnya, hingga menghilang dibalik pintu, yang ia tutup dengan rapat dibelakannya. Moranno dan Willy akhirnya, hanya bisa saling pandang satu sama lain.


Sekretaris Morin memperhatikan Hanaria, yang baru saja keluar dari ruang kerja CEO incarannya. Ia mengikuti Hanaria secara diam - diam ke toilet wanita yang ada disamping ruang pertemuan.


Saat ingin masuk, ternyata pintu toilet terkunci dari dalam. Sekretaris Morin tidak mau menyerah, ia sangat penasaran, ingin tahu apa yang sedang terjadi pada saingan beratnya itu. Ia mulai menempelkan daun telinganya dipintu toilet wanita yang sedang terkunci. Tidak terdengar sesuatu yang mencurigakan didalam, hanya gemericik suara air yang krannya dibuka.


Didalam toilet, Hanaria yang telah membuka kran air. Ia lalu mulai menangis sejadi - jadinya, menumpahkan segala kekesalan dan risau hatinya. Bila saja dirinya tidak salah masuk lift karena terburu - buru, mungkin saja apa yang telah menimpa dirinya pagi itu, tidak akan terjadi.


Hanaria sangat membenci tuan mudanya itu, laki - laki itu sudah beberapa kali melecehkan dirinya, ia merasa tidak terima diperlakukan seperti perempuan murahan. Kejadian didalam lift tadi, harus yang terakhir kalinya ia alami, tekad Hanaria.

__ADS_1


...***Terima kasih buat readers yang sudah mampir dan meninggalkan like dan comennya....


...Authorl sangat menghargainya sebagai dukungan bagi author untuk lebih semangat lagi menulis. 😊🙏***...


__ADS_2