
"Bi Narsih, Elvano mau dibawa kemana?" tanya Hanaria panik, ia bergegas keluar dari dalam lift yang baru saja terbuka, mendekati asisten rumah tangga nyonya Mingguana yang sedang menggendong Elvano dengan kain melilit dilehernya dan menenteng tas pakaian milik bayi Elvano.
Bayi Elvano yang tengah menangis dalam gendongan bibi Narsih terdiam sejenak, saat dilihatnya Hanaria datamg mendekat. Tangan mungil itu menggapai-gapai kearah Hanaria. "Mom-mom," ucapnya dengan air mata yang masih berderai. Ya, hanya itu saja kata-kata yang sedikit jelas terdengar, sementara kata-katanya yang lain belum bisa dipahami sepenuhnya oleh telinga yang mendengar.
Willy yang melihat hal itu juga buru-buru keluar dari dalam lift, lalu menghampiri Hanaria dan bibi Narsih yang sedang berbicara dengan wajah tegang.
"Maaf Nona Hana, saya hanya melakukan perintah asisten David untuk menjemput den Elvano," sahut bibi Narsih.
"Asisten David yang memerintahkan?" tanya Hanaria memastikan, sambil mengambil alih bayi Elvano dari dalam gendongan bibi Narsih.
"Benar Nona," sahut bibi Narsih polos, tanpa tahu menahu apa sebenarnya yang telah terjadi.
"Bagaimana keadaan pak Aji? Apakah sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Hanaria saat mengingat alasan bayi Elvano dititipkan padanya beberapa hari yang lalu, sementara bayi itu sudah tenang sepenuhnya sambil memeluk erat leher Hanaria yang tengah menggendongnya.
Beberapa hari diasuh oleh Hanaria, tubuh bayi Elvano sudah terasa lebih berat, lebih berisi dibandingkan awal dirinya datang, pipinya mulai terlihat sedikit tembem.
"Pak Aji masih dirumah sakit Nona, belum diperbolehkan pulang oleh dokter. Saya juga bingung, antara mengasuh den Elvano, dan juga masih harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menengok pak Aji yang masih dirawat disana," kata bibi Narsih jujur.
"Bagaimana dengan keluarga pak Aji? Apakah tidak ada seorangpun yang menemaninya dirumah sakit?" tanya Hanaria menatap bibi Narsih.
"Tidak ada Nona, pak Aji hanya memiliki satu-satunya keluarganya, yaitu isterinya yang saat ini tinggal dipanti jompo, dan sudah enam tahun ini beliau disana," jelas bibi Narsih lagi, sementara Hanaria yang mendengarnya hanya bisa tertegun dengan mulut sedikit terbuka karena baru mengetahui hal itu.
Setelah mendengar semuanya itu, Hanaria langsung meraih ponselnya lalu menghubungi asisten David.
"Hallo Nona Hana," terdengar sapaan sopan dari seberang sambungan telepon yang baru saja tersambung.
"Asisten David, apa maksudmu memerintahkan bibi Narsih menjemput bayi Elvano. Apakah kau tidak tahu, bila bibi Narsih masih harus bolak-balik kerumah sakit karena pak Aji masih dirawat disana? Tidak mungkin 'kan, bi Narsih membawa bayi Elvano ke rumah sakit," ucap Hanaria mengebu-gebu menahan emosi yang tengah bergejolak didalam dadanya.
__ADS_1
"Iya, saya tahu Nona. Saya hanya menjalankan tugas sesuai perintah," sahut asisten David kaku dan datar.
Hanaria mengatupkan kedua rahangnya dengan kuat, ia merasa sangat geram. Siapa lagi kalau bukan mantan majikannya, nyonya Mingguana yang memerintahkan itu pada asisten David, batinnya.
"Persetan dengan perintah gila Nyonyamu yang tidak punya hati itu! Biarkan saja untuk sementara waktu, bayi Elvano berada bersamaku disini, setelah pak Aji pulang dari rumah sakit, bibi Narsih boleh menjemputnya pulang," kata Hanaria dengan nada meninggi. Walau demikian, ia tetap berusaha mengontrol emosinya.
"Maaf, tidak bisa Nona. Bayi Elvano harus dibawa pulang sekarang juga," sahut asisten David kukuh dengan bahasa kakunya.
"Dan apabila nona Hana memaksa-, saya terpaksa akan melaporkan Nona pada pihak yang berwajib karena telah menculik bayi Elvano yang belum mendapat putusan dari pengadilan menjadi anak adopsi Nona," sambung asisten David bernada ancaman.
Hanaria menatap wajah Willy yang tengah memperhatikannya berbicara dengan asisten David, wajahnya memerah karena menahan amarah yang sedari tadi ia tahan.
"Ternyata kau-pun sama asisten David. Kau sama dengan Nyonya-mu yang tidak punya hati itu," geram Hanaria.
"Maafkan saya Nona, saya hanya menjalankan tugas sebagai seorang bawahan," sahut asisten David lagi.
"Tidak akan," Hanaria langsung menutup teleponnya secara sepihak.
Dengan perasaan kesal, Hanaria terpaksa memberikan bayi Elvano kepada bibi Narsih. Sementara bayi mungil itu meronta sambil menangis, tidak mau digendong oleh bibi Narsih.
"Pulanglah Bibi, dan bawalah bayi Elvano bersamamu," setelah berkata demikian, tanpa menunggu jawaban, Hanaria berbalik badan, dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Hanaria sengaja tidak menoleh, ia tidak bisa menahan hatinya, bila melihat bayi itu menangis sambil menjulurkan kaki dan tangan mungilnya mengarah padanya.
"Bibi Narsih pulang bersama siapa?" tanya Willy yang serba salah, antara mengejar Hanaria dan menemani bibi Narsih yang masih berdiri disana.
"Saya naik taxi Tuan, tadi saya meminta sopirnya menunggu dibawah," sahut bibi Narsih, ia terlihat kesulitan mendiamkan bayi itu yang terus menangis.
__ADS_1
"Tunggu sebentar bibi," Willy meraih ponselnya, tidak lama langsung tersambung.
"Bibi Salu, kemari. Saya menunggu didepan lift arah kiri saat bibi keluar apartemen."
"Baik tuan."
Tidak menunggu lama, terlihat bibi Salu datang mendekat.
"Bibi Salu, tolong bawakan tas bayi Elvano ini, dan antarkan mereka sampai naik taxi," kata Willy pada asisten rumah tangganya itu.
"Baik Tuan," sahut bibi Salu.
"Mari bi Narsih, saya antar sampai kebawah," kata bibi Salu seraya menenteng tas pakaian bayi Elvano dan peralatan lainnya.
"Iya, terima kasih bi Salu," ucap bi Narsih dengan senyumnya.
"Tuan, saya permisi dulu. Terima kasih banyak," ucap bibi Narsih pada Willy sambil membungkuk hormat.
"Sama-sama Bibi, hati-hati dijalan. Bila ada sesuatu, kabari kami saja, jangan sungkan," pesan Willy.
"Iya Tuan."
Willy memandang sedih pada bibi Salu dan bibi Narsih yang masuk kedalam lift, membawa bayi Elvano yang terus menangis menatap kearahnya, hingga pintu lift tertutup.
Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, karena sebelum ada putusan pengadilan, ia dan Hanaria pasti terkena masalah bila nekat menahan bayi Elvano tinggal bersama mereka, walau niat mereka baik untuk menolong.
Bersambung...👉
__ADS_1