
"Iya, Mamah tahu itu, dan Mamah setuju," ucap Rosalie memahami pemikiran suaminya, Dirinya dan suaminya itu memang acap kali memberi pembelajaran itu pada Rosalia kecil mereka, walau di sekolah anak-anak memang sudah diajarkan oleh guru-gurunya.
"Tapi Rosalia sekarang sudah dewasa Pah, sebagai seorang gadis usianya sudah cukup untuk menikah, dia juga sudah memiliki karier yang bagus. Jadi, berilah kesempatam padanya untuk bisa dekat dengan seorang lawan jenis,"
"Billy, kurasa dia laki-laki yang tepat untuk Rosalia, mereka sudah saling mengenal dan memahami sejak kecil, dan putri kita juga kelihatannya menyukainya," Rosalie menjedah ucapannya, melirik wajah suaminya yang hanya memperlihatkan ekspresi datarnya mendengar ucapannya.
"Rosalia memang bukan putri kandungku Pah, tapi segenap perhatian dan kasih sayangku, seutuhnya aku curahkan padanya. Aku ingin Rosalia mendapatkan pria yang baik dan tepat untuknya," Rosalie mendesah pelan, menekan suaranya yang mulai terdengar serak.
"Aku memang tidak bisa memberikan keturunan dari rahimku untuk rumah tangga kita--"
"Jangan bicara itu lagi, bukankah kita sudah sepakat tidak akan membahasnya lagi. Dan kau tahu, aku tidak pernah mempersalahkannya," Hartawan merengkuh isterinya yang sudah terbawa perasaan bila membahas kearah itu, itu sebabnya ia segera memotong pembicaraan yang bersifat sensitif itu.
Dalam dekapan hangat Hartawan, Rosalie berusaha meredakan gejolak perasaannya. Perkataan Hartawan memang benar, selama ini suaminya itu memang tidak pernah mempermasalahkan bila dirinya mandul, bahkan hal itu diketahui Hartawan sebelum mereka berdua resmi menjadi suami isteri.
Tapi sebagai seorang wanita, ia merasa bukan isteri yang sempurna karena tidak bisa melahirkan seorang buah cinta dalam rumah tangganya bersama sang suami.
__ADS_1
"Berjanjilah padaku, ini kali terakhir kau membicarakannya, dan pasti selalu berujung seperti ini," Hartawan menyeka buliran bening pada sudut-sudut kelopak mata isterinya yang hampir jatuh.
Laki-laki itu masih mengeratkan dekapannya.
"Hidup bersamamu sudah membuatku bahagia Mah. Melihatmu setiap hari, bisa berbagi suka dan dukaku, merasakan genggaman tanganmu, mendekapmu...itu sudah cukup, aku tak ingin yang lain lagi. Aku ingin kita seperti ini terus sampai tua, sampai kita dipanggil pulang oleh Sang Pencifta."
"Kau dan Rosalie, kalian adalah dua wanita yang paling aku sayangi dihidup ini, aku akan menjaga kalian selama aku ada," Hartawan mendaratkan kecupan lembut pada pucuk rambut isterinya dengan penuh rasa sayang, dan lama.
"Lalu--"
"Lalu apa?" tanya Hartawan lembut.
Tidak ada sahutan. Seperti dugaannya, suaminya itu akan terdiam seribu bahasa bila berbicara tentang Rosalia dan laki-laki yang akan menjadi pasangannya.
Setelah beberapa detik berlalu, Rosalie memutuskan untuk tidak melanjutkan pembahasan itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kita tidur sekarang, malam sudah semakin larut. Besok pagi kita berdua sama-sama harus menunaikan pekerjaan kita masing-masing," putus Rosalie, dan berusaha melonggarkan pelukan suaminya.
"Biarkan seperti ini dulu," Hartawan masih mendekap erat, belum rela melepaskan isterinya beranjak, tidak ingin ada jarak diantara mereka. Rosalie menurut, menyandarkan kepala didada suaminya, merasakan detakan jantung Hartawan yang teratur berirama.
"Berikan aku waktu," suara Hartawan kembali mengudara terdengar sangat lirih hampir tak terdengar.
"Aku butuh waktu untuk menilai laki-laki itu tepat atau tidak buat putri kita. Lamanya mereka kenal dan bersahabat tidak menjamin bila dia bisa menjaga Rosalia seperti aku dan dirimu menjaga putri kita, " lirihnya lagi.
"Dan aku juga butuh waktu untuk bisa melepas Rosalia dari kita Mah. Hampir 27 tahun ini Rosalia bersama kita, dan bila ia menikah, ia akan pergi meninggalkan rumah ini, dan sepertinya aku sulit menerima itu Mah," tandas Hartawan, dan laki-laki itu tidak berbicara lagi. Rosalie merasakan pelukan suaminya semakin erat pada tubuhnya.
Dengan penuh perasaan Rosalie turut memeluk tubuh suaminya erat. Ia dapat mengerti perasaan suaminya yang pernah mengalami kehilangan ibu kandung Rosalia, beberapa hari setelah Rosalia lahir karena penyakit kanker yang diderita oleh isteri pertamanya itu.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana Rosalia yang masih bayi ketika itu tidak pernah mendapat ASI ibunya, dan harus dirawat seorang pengasuh, bergantian dengan nenek dari ibu kandung Rosalia sehingga anak itu sering sakit-sakitan.
Rosalie yang saat itu menjadi dokter kandungan ibu Rosalia, terpaksa ikut turun tangan karena sudah mengetahui riwayat kesehatan Rosalia sejak dalan kandungan ibunya.
__ADS_1
"Mamah mengerti apa yang Papah rasakan," Rosalie menepuk lembut punggung suaminya, lalu membelainya, berusaha menyalurkan energi positifnya sebagai seorang isteri.
Bersambung...👉