
"Kau cukup mendekati tuan muda, kariermu pasti akan segera melejit sebelum kau menjadi tua dan bungkuk....." Ujar seorang wanita berseragam dari Divisi Finance sambil tertawa, dan kedua temannya ikut tertawa mendengar ucapannya sambil menoleh kearah Hanaria yang ikut mengantri didepan pintu lift pegawai.
Sementara Hanaria yang mendengar perkataan pegawai wanita dari Divisi Finance itu bersama kedua temannya, hanya berdiam diri, ia berusaha menahan dirinya dengan berpura - pura tidak mendengar.
"Mulutmu dijaga nona, apakah kau mau dilaporkan karena perbuatan tidak menyenangkan dengan memfitnah tanpa bukti?!" Bela Shasie yang merasa panas mendengar ucapan pegawai wanita itu, yang tertawa bersama kedua temannya.
"Hello nona..... kenapa kau yang merasa tersinggung? Kami bahkan tidak membicarakan siapa - siapa, apa lagi menyebut dirimu......" Kembali wanita itu tertawa mengejek diikuti kedua temannya.
"Tadi kau bilang, kalau mau karier langsung melejit, dekati saja tuan muda. Siapa lagi yang kalian makaud, bila bukan temanku. Bukankah kalian sedang membahas tentang video yang lagi viral ditelevisi itu?" Ucap Shasie dengan nada geram.
"Kenapa kau yang musti sewot? Pemeran di video itu saja cuek, tidak perduli......! Ternyata prestasi yang digaung - gaungkan hanya jadi kedok belaka." Ucap wanita itu lagi, masih dengan nada mengejek dan merendahkan.
Shasie melirik wajah Hanaria yang terlihat sudah merah padam menahan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. Ia kembali menoleh kearah ketiga wanita itu yang masih tertawa mengejek berdiri disebelahnya.
"Aww.....! Sakit......! Apa yang kau lakukan perempuan sialan......!" Teriak pegawai wanita itu.
"Mulutmu adalah HARIMAUmu.....! Ini akibat mulut yang tidak dijaga, bukankah aku sudah memperingatkanmu tadi, huhh.....!!??" Teriak Shasie, sambil menjambak rambut panjang wanita yang dicat berwarna merah marron itu.
"Sakit......! Lepaskan sialan......! Kalau tidak.......!" Ancam wanita itu, sambil memegang rambutnya yang masih dijambak Shasie semakin kencang.
"Kalau tidak apa.....??!! Kau pikir aku takut padamu......!!??" Shasie semakin kencang menarik rambut wanita yang sedang dijambaknya, hingga membuat wanita itu hampir terjatuh.
"Nona Shasie.....!! Lepaskan nona Riana.....!!" Terdengar suara berat seorang pria. Shasie segera melepaskan tangannya dari rambut Riana, dan menoleh kearah datangnya suara.
__ADS_1
Riana, wanita berambut merah marron itu, segera merapikan rambutnya yang nampak kusut akibat ulah Shasie yang beringas padanya.
Shasie terkesiap, ternyata itu suara manager HRD. Dan disebelahnya, OMG! Itu tuan muda Willy, mereka sedang menatap kearahnya dengan tatapan datar. Hati Shasie sedikit bergetar melihat pandangan mereka padanya. Rupanya mereka sudah berada disana beberapa menit yang lalu, dan melihat apa yang telah terjadi.
"Maafkan saya pak manager...... Maafkan saya tuan muda....." Shasie segera membungkuk hormat. Ucapannya terdengar sangat gugup, karena tertangkap basah melakukan keributan.
Hanaria dan beberapa pegawai lainnya yang masih mengantri didepan lift turut membungkuk hormat saat melihat keberadaan Willy ditempat itu. Willy maju beberapa langkah mendekati Hanaria.
"Ikutlah denganku..... Jangan membantah...... Atau kau akan mempermalukanku didepan para pegawai - pegawaiku." Bisik Willy ditelinga Hanaria, belum sempat Hanaria berfikir, Willy sudah menarik tangannya menuju lift pribadi owner.
Semua pegawai yang hadir disana terperangah, termasuk Shasie dan Riana, yang sudah menciftakan insiden didepan lift pegawai itu. Semua mata tertuju pada tangan Willy yang menarik pergelangan tangan Hanaria dengan wajah melongo, hingga keduanya memasuki lift dan mengilang disana.
"Shasie.....! Riana......! Temui saya diruangan, setelah kalian berdua selesai mengabsenkan diri. Ingat! Saya tidak suka menunggu lama, mengerti?!" Tegas Manager HRD.
Sementara itu, didalam lift owner. Willy segera melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Hanaria, begitu pintu lift tertutup. Keduanya saling diam membisu sejenak, Hanaria sudah tidak bersemangat lagi bertengkar dengan CEOnya itu, demikian pula sebaliknya dengan Willy. Willy menekan tombol lantai 6 untuk Hanaria, supaya lift pribadinya itu akan berhenti disana nantinya.
"Maafkan aku......." Lirih Willy, suaranya begitu rendah, namun masih bisa terdengar.
"Semua perkataan buruk itu..... semuanya menimpa padamu karena kecerobohanku...... Aku akan berusaha untuk meredamnya." Imbuhnya lagi, sambil tetap menatap lurus kearah pintu lift didepannya, tanpa menoleh sedikitpun kearah Hanaria yang berdiri disampingnya.
Hanaria masih terdiam membisu, dirinya sedang tidak tahu merespon bagaimana, saat Willy berkata demikian. Ia selalu berusaha kuat, setiap kali mendengar orang - orang yang mencela dirinya akibat penyebaran video itu, yang hingga kini belum diketahui siapa dalang yang menyebarkannya.
"Ting - tong.....!" Pintu lift terbuka saat tiba dilantai 6, Hanaria membungkuk hormat pada majikannya itu sebelum keluar. Tanpa sengaja ia melihat memar dirahang dan bibir Willy, saat dirinya mendongakkan wajah hendak keluar lift.
__ADS_1
"Itu...... tuan..... kenapa??" Hanaria yang penasaran tidak bisa menahan mulutnya untuk bertanya, sambil menunjuk rahang dan bibirnya sendiri, namun tatapannya melihat ke rahang dan bibir Willy yang memar.
"Aku pikir kau tidak perduli......" Willy tersenyum sinis. "Ini hasil perbuatan kakakmu." Imbuhnya lagi, masih tersenyum sinis dengan ujung bibirnya sedikit tertarik keatas.
"Kakak saya? Kak Jonly?" Ucap Hanaria melongo, sambil menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuknya.
"Siapa lagi....... Bukankah kakakmu hanya dia seorang. Sudahlah, lupakan..... Segeralah keluar sebelum pintu lift ini tertutup kembali." Ucap Willy sambil menekan tombol dengan jarinya, supaya pintu lift itu tidak tertutup.
"Apakah kau tidak takut lama - lama berdua denganku didalam lift? Nanti kejadian beberapa hari yang lalu bisa terulang lagi. Apakah kau mau?" Ucap Willy dengan nada datarnya, ia sengaja menakuti pegawainya itu supaya ia lekas keluar dari dalam lift pribadinya.
Hanaria mendelik, secara spontan dirinya keluar dari lift pribadi Willy, tanpa bertanya lagi. Willy kembali menyunggingkan senyum diujung bibirnya setelah pintu lift secara sempurna tertutup. Wajah Hanaria terkadang terlihat menggelikan, dan terkadang menyebalkan dimatanya.
"Hana.......?! Tidak salah liat......?! Kau keluar dari lift tuan muda Willy.....?!" Ujar Laras yang baru keluar dari lift pegawai bersama Norsa dan para pegawai Divisi Arsitecture lainnya. Hanaria sedikit kikuk, membuat Norsa, Laras dan lainnya tersenyum.
"Cieeee......! Yang lagi dekat dengan tuan muda......" Ledek Norsa, Laras dan pegawai lainnya tersenyum senang penuh arti.
"Hushhh.......! Itu tidak benar.......! Tadi sedikit ada urusan pekerjaan......! Makanya tuan muda Willy mengajakku ikut dengannya." Kilah Hanaria.
""Urusan hati......." Ledek pak Harison menambahi, membuat yang lain kembali tertawa. Wajah Hanaria jadi merah padam karena malu, malu bila hal itu akan sampai ketelinga Willy, karena dirinya dan Willy tidak ada hubungan apa - apa. Bahkan sebaliknya, mereka sekarang sedang berseteru.
"Duh....... Sumpah.......!! Ini tidak seperti yang kalian fikirkan. Aku dan tuan muda Willy tidak ada hubungan apa - apa, kami bersama tadi sungguh - sungguh karena urusan pekerjaan." Hanaria berusaha menjelaskan dengan segenap kemampuannya, namun sia - sia. Teman - temannya masih pada pemikiran mereka, sambil tersenyum penuh ledekan.
"Nona Hanaria...... Tolong datang keruanganku setelah kau absen." Kata tuan Doffy, saat dirinya baru keluar dari lift pegawai, dan melihat Hanaria.
__ADS_1
"Baik tuan......" Sahut Hanaria yang merasa lega, ia segera menyusul tuan Doffy memasuki ruang Divisi Arsitecture untuk absensi. Ia punya alasan untuk melepaskan diri dari ledekan teman - teman seruangannya itu.