HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
BAB 145 Karena Hanaria


__ADS_3

Justru kakak merasa senang kau berada disini, jadi kak Hana tidak perlu merasa khawatir lagi padamu Fir," imbuh Hanaria.


"Bagaimana keadaan kandunganmu sekarang, dan apa kata dokter Rosalia?" tanya Hanaria sambil mengelus perut Firlita yang sedang bergerak-gerak aktif.


"Menurut dokter Rosalia, bayiku akan lahir dalam dua belas hari lagi kak, bisa lewat, bisa juga sebelumnya," jelas Firlita, ia ikut mengelus perutnya yang masih terlihat bergerak-gerak semakin aktif.


"Bagaimana perasaanmu Firlita? Apakah kau sudah mempersiapkan dirimu menghadapi hari kelahiran bayimu?" tanya Hanaria menatap wajah Firlita.


"Sebenarnya, aku merasa takut kak. Katanya sangat menyakitkan," sahut Firlita. Semburat kekhawatiran memang terlihat dari wajah lembutnya.


Hanaria memeluk tubuh mungil Firlita yang kini sulit ia rangkul sepenuhnya karena terhalang perut buncit adik angkatnya itu yang kian membesar.


"Jangan takut Firlita," ucap Hanaria sambil mengusap lembut rambut Firlita.


"Walau kakak belum pernah melahirkan, kata ibu kakak didusun-, seorang wanita yang mengandung dan akan melahirkan itu, selalu mempunyai kekuatan lebih untuk melahirkan bayinya."


"Dan rasa sakit saat melahirkan itu tidak akan kau ingat lagi, setelah melihat lucunya, dan menggemaskannya bayimu yang akan kau lahirkan nanti," ucap Hanaria sambil tetap mengusap rambut Firlita.


"Ucapan kak Hana sama persis seperti dokter Rosalia," ucap Firlita sambil tersenyum.


"Aku merasa tenang kalau ada kak Hana didekatku," Firlita melepaskan pelukan Hanaria perlahan dari tubuhnya.


"Bisakah kak Hana menemaniku disaat aku melahirkan nanti?" pinta Firlita. Ia menatap wajah Hanaria penuh harap.


Hanaria turut menatap wajah Firlita, ia-pun mengangguk pelan tanda menyetujui, "kakak akan berusaha sebisa mungkin menemanimu Firlita," ucap Hanaria disela senyumannya, walaupun dalam hatinya ia ragu, dirinya tidak pernah punya pengalaman melihat apalagi menemani wanita yang melahirkan.


"Kak Hana memang yang terbaik," Firlita kembali memeluk Hanaria, ia begitu bahagia mendengar kesanggupan Hanaria.


"Permisi nona Hana, maaf mengganggu anda dan nona Firlita," kata bibi Nani. Tanpa keduanya sadari, kepala pelayan itu sudah ada didekat mereka bersama seorang pelayan lainnya yang ada disebelahnya sambil membungkuk hormat.


"Tidak apa Bibi. Ada apa Bibi kemari?" tanya Hanaria melihat kearah kedua pelayan itu secara bergantian.


"Kata nyonya Yurina, sudah waktunya pembelajaran untuk anda sebagai menantu dirumah ini nona Hana," sahut bibi Nani sopan.


"Saya akan mengantarkan nona Hana menemui nyonya Yurina," tambahnya lagi.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu Bibi, tapi bagaimana dengan Firlita?" Hanaria menoleh kearah Firlita, ia tidak tega melihat adik angkatnya itu tinggal seorang diri ditaman samping.

__ADS_1


"Jangan khawatir nona Hana, nona Firlita akan ditemani bibi Salu," sahut bibi Nani.


"Baiklah Bi."


"Fir, kak Hana tinggal dulu ya," pamit Hanaria sambil mengulas senyumnya.


"Iya kak," sahut Firlita. Ia menatap kepergian Hanaria bersama bibi Nani yang melangkah menjauhinya.


Dari kursi taman yang didudukinya, ia melihat Hanaria memasuki rumah besar milik keluarga Agatsa yang mirip dengan sebuah kastil dicerita dongeng anak-anak semasa dirinya masih kecil.


Firlita berfikir betapa beruntungnya Hanaria, kakak angkatnya itu, memiliki jalan hidup yang begitu indah dan nyaman dalam pemandangannya.


Ia kembali teringat akan moment beberapa jam yang lalu, saat Hanaria tiba diruang makan sambil menggandeng lengan Willy suaminya yang telihat sangat perhatian pada kakak angkatnya itu


Belum lagi keluarga besar pihak suaminya, mereka semua menyambut kakak angkatnya itu dengan senyum bahagia, semuanya ia saksikan tanpa ada yang terlewatkan satu-pun.


Dirinya berada disini-pun karena Hanaria. Ibu mertua kakak angkatnya itu tidak ingin membuat menantunya khawatir bila dirinya berada jauh dari Hanaria.


Bisa tinggal, dan menikmati semua fasilitas yang ada didalam rumah ini dengan bebas, bahkan dilayani dan dihormati bagai seorang anggota keluarga Agatsa pula.


"Andai saja aku seberuntung dirimu kak Hana?" Firlita mengusap airmatanya yang tiba-tiba jatuh begitu saja, mengingat nasib malang yang menimpa dirinya.


Tapi laki-laki itu sekarang entah dimana, semenjak insiden dikamarnya, dirumah ibu mertuanya yang nyaris menghilangkan nyawanya, Firlita tidak pernah melihat batang hidungnya lagi, apalagi tahu keberadaannya dimana.


Lalu ibu mertuanya? Wanita kaya itu hanya perduli pada dirinya sendiri, bahkan alasannya menyetujui pernikahan dirinya dengan putranya hanya karena Hanaria yang sangat perduli dan menyayanginya sebagai adik.


Alangkah bahagianya bila dirinya bisa bertukar nasib dengan kakak angkatnya itu, fikirnya.


"Nona Firlita?" panggil bibi Salu sopan, membuyarkan lamunan Firlita yang begitu rumit.


"Iya Bibi," sahut Firlita sambil menoleh kearah bi Salu.


"Hari sudah menjelang siang nona, sebaiknya nona Firlita segera kembali kekamar untuk beristirahat, agar nona tidak kelelahan." kata bibi Salu dengan sikap sopannya sambil menaruh kedua tangannya didepan perutnya.


"Baik Bibi," Firlita menurut, ia bangkit lalu berjalan perlahan menuju kamarnya diikuti oleh bibi Salu.


*

__ADS_1


"Hana, kemarilah sayang," panggil Yurina dengan suara lembutnya.


Hanaria mendekat, ia merasa gugup saat diminta bergabung dengan para wanita paruh baya yang terhormat dikeluarga itu.


"Duduklah disini sayang," Yurina mempersilahkan Hanaria duduk diantara dirinya dan Margareth dalam satu kursi sofa. Sementara dihadapan mereka, yang dibatasi dengan meja kaca, duduk nenek buyut Naomi diapit oleh nyonya Agatsa dan nyonya Morgan.


"Hana, apa Willy sudah memberikan semua kartu kredit dan kartu debitnya padamu?" tanya Yurina, sesaat setelah Hanaria duduk ditengah-tengah mereka.


"Kartu kredit dan kartu debit?" Wajah Hanaria nampak bingung mendengar pertanyaan ibu mertuanya itu.


"Iya, apakah Willy sudah memberikannya padamu?" tegas Yurina.


"Belum mom," sahut Hanaria jujur.


"Willy?!" Panggil Yurina.


Willy yang sedang mengobrol dengan ayahnya, Harry pamannya, dan tuan Morgan kakeknya, segera menoleh saat mendengar panggilan ibunya. "Iya mom," sahutnya.


"Kemari nak!" panggil Yurina lagi setengah berteriak.


Willy segera beranjak meninggalkan obrolannya yang belum selesai untuk memenuhi panggilan ibunya.


"Ada apa mom" tanya Willy. Ia berdiri tepat dibelakang sofa nenek buyutnya duduk.


"Mana dompetmu? Berikan pada mommy," pinta Yurina sambil mengulurkan tangannya pada putranya.


"Untuk apa mom?" tanya Willy berusaha mendapatkan penjelasan dari ibunya.


"Berikan saja, jangan banyak tanya," kata Yurina masih mengulurkan tangannya.


Willy mengambil dompetnya yang berada disaku celana bagian belakangnya. " Mommy butuh apa, nanti Willy ambilkan," kata Willy yang belum mau menyerahkan dompetnya.


"Mommy butuh dompetmu, biar mommy ambil sendiri isinya," ucap Yurina lagi menatap wajah putranya yang masih belum mau memberikan dompetnya.


Willy menatap Margareth bibinya, nyonya Agatsa omanya, Nyonya Morgan neneknya, terkahir nenek biyut Naomi. Keempat wanita yang sudah berusia lewat dari setengah abad itu, sama-sama menaikan kedua alis dan bahu mereka secara bersamaan, sambil mengangkat kedua belah tangan mereka.


Walau ragu, Willy akhirnya terpaksa memberikan dompetnya pada Yurina ibunya.

__ADS_1


Dengan senyum mengembang Yurina menerima dompet putranya, lalu dengan lincahnya, jari-jemarinya mengeluarkan semua kartu-kartu kredit dan debit milik putranya itu dari dalam dompet ditanganya tanpa rasa belas kasihan.


"Mom-mom, kenapa semuanya dikeluarin?" Willy nampak shock melihat ulah ibunya.


__ADS_2