
Tidak lama, setelah Giran meninggalkan restoran, Shasie datang bersama ayahnya menuju ruang VIP yang dikirim oleh Hanaria tadi pagi padanya. Ada rasa was-was dihati gadis itu karena sahabatnya tidak memberi bocoran sedikitpun tentang apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan siang itu dengan sang pemilik Agatsa Group itu.
Mendengar namanya saja, sejak awal nyali Shasie selalu ciut. Dan menolak untuk tidak datang, dirinyapun tidak memiliki keberanian itu.
"Silahkan Tuan dan Nona, nyonya Agatsa sudah menunggu Anda berdua didalam," ucap seorang pelayan lalu membuka pintu dengan lebar.
Shasie menatap wajah ayahnya sejenak, "Papa duluan," bisiknya.
"Kau saja Shasie, Nyonya Agatsa 'kan Bos-mu dikantor," sahut Gun. Shasie lalu beranjak masuk lebih duluan.
"Selamat siang Nyonya," ucap Shaise dan ayahnya bersamaan sambil membungkuk hormat.
"Selamat siang nona Shasie dan tuan Gun. Silahkan duduk," nyonya Agatsa mempersilahkan keduanya pada kursi tepat dihadapannya.
"Maaf kami terlambat," kali ini Gun, ayah Shasie yang bersuara.
"Tidak, saya saja yang lebih dulu datang, karena tidak suka ditunggu." ucap nyonya Agatsa tersenyum tipis pada kedua tamunya.
"Silahkan pesan makan siang kalian pada pelayan, saya sudah memesan lebih dulu," sambung wanita itu lagi.
Shasie lalu membuka daftar menu, dan ia dengan cepat membuat pesanan, tidak ingin terlalu lama hanya sekedar memesan makanan, sementara ayahnya lebih cepat lagi, karena menyamakan pesanan dengan putrinya. Mereka berharap pertemuan makan siang itu segera berakhir.
"Tuan Gun, maaf kalau saya mengundang Anda kemari hanya lewat menantu saya Hanaria," nyonya Agatsa membuka obrolan sambil menunggu pesanan datang.
__ADS_1
"Tidak masalah Nyonya, suatu kehormatan bagi saya setelah sekian lama mendengar nama besar Anda baru kali ini bisa bertatapan muka," ungkap Gun hormat.
Nyonya Agatsa kembali mengurai senyum.
"Saya tidak suka berbasa basi. Saya ingin meminta bantuan Anda untuk menyelidiki beberapa orang yang ada di empat perusahaan tambang milik nyonya Mingguana," ucap nyonya Mingguana.
"Bukankah perusahaan itu sudah beralih nama pada cucu mantu Anda nyonya?"
"Iya, itu benar," sahut nyonya Agatsa mengamati laki-laki dihadapanya itu
"Mohon maaf Nyonya, saya tidak bisa," sahut Gun setelah sempat berfikir sejenak.
"Saya bertemu langsung dengan Anda karena tidak ingin mendengar penolakan." datar nyonya Mingguana, ia sudah tau bila laki-laki itu akan menolak.
"Sekali lagi saya mohon maaf Nyonya," Gun tetap pada pendiriannya.
"Apa hubungannya penolakan saya dengan dipidananya Shasie?" hati laki-laki itu seketika geram, namun sebisa mungkin ia berusaha berbicara tenang. Gun memang sering mendengar sikap arogan sang Nyonya konglomerat itu, dan sekarang ia sedang diperhadapkan dengan situasi itu.
"Tuan sengaja menyelundupkan nona Shasie masuk dalam perusahaan Agatsa Properti Group untuk menggali informasi dan diberikan dengan lawan bisnis keluarga Agatsa."
"Shasie murni seorang arsitek Nyonya, jadi tuduhan Nyonya tidak beralasan," sanggah Gun.
"Baiklah, sepertinya saya harus memberikan sedikit bukti dahulu," setelah berucap demikian, nyonya Agatsa mengambil ponsel didalam tasnya lalu menekan satu nomor yang telah ia temukan.
__ADS_1
📞"Kirim sekarang," perintah wanita itu.
Setelah tiga detik kemudian, ponsel Gun terdengar begitu riuh dengan pesan yang masuk. Laki-laki itu buru-buru meraih ponsel miliknya. Wajahnya memucat, ketika melihat beberapa kiriman foto dan dokumen-dokumen penting putrinya. Shasie yang ikut mengintip layar ponsel ayahnyapun memperlihatkan raut yang sama.
"Bagaimana?" nyonya Agatsa tersenyum dingin.
"B-bagaimana Nyonya bisa mendapatkan semuanya ini? Dan bagaimana Nyonya juga bisa tahu nomor ponsel pribadi saya yang hanya keluarga saya saja yang menyimpannya?" mulut laki-laki itu ternganga, ia benar-benar merasa wanita tua dihadapannya itu bukan manusia biasa.
"Orang hebat seperti dirimu ternyata memiliki sedikit kebodohan juga." nyonya Agatsa masih menampakan senyum dinginnya.
"Aku tidak suka memberi penjelasan panjang lebar. Sekarang aku tanya sekali lagi, apakah tuan Gun siap atau tidak?"
"Bila jawaban tidak, hanya hitungan detik, aku akan menghancurkan Anda dan putri Anda tuan Gun," lanjutnya dengan nada ancaman.
Shasie memegang tangan ayahnya yang ada dibawah meja, jujur saja ia sangat takut setelah melihat semua pesan dari ponselnya secara rahasia bisa dikirim oleh orang yang ditelepon nenek tua itu kembali pada ayahnya, padahal ia sudah menghapusnya begitu terkirim, bagaimana mungkin itu bisa muncul lagi sekarang?
"Baiklah, saya siap," Gun akhirnya menyanggupi, setelah merasakan dinginnya telapak tangan putrinya itu.
"Baguslah, kau memilih langkah yang tepat," nyonya Agatsa tersenyum puas, lalu kembali menelpon kembali orang yang sama.
📞"Kirim dua nama dulu, setelah melihat perkembangan pekerjaan, baru kirim semuanya,"" perintah nyonya Agatsa lagi lalu menutup teleponnya.
Notifikasi ponsel Gun kembali riuh terdengar. Ia segera melihat sederet pesan yang masuk. Disana tertera dua nama yang sangat dekat dengannya selama 4 tahun terakhir dan lengkap dengan segala bukti kecurangan yang telah mereka lakukan.
__ADS_1
"Aku yakin kau pasti mengenal dua nama manusia itu. Itu alasannya aku memintamu menggantikan cucuku menyelidiki tentang mereka. Bila kau berkhianat, aku tidak akan melepaskanmu," tekannya dengan tatapan dingin.
Bersambung...👉