HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
288. Sudah Tidak Punya Cinta


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, Rosalia meninggalkan mobilnya begitu saja didepan rumah, lalu bergegas masuk. Hartawan dan Rosalie juga berbuat demikian, mereka segera meninggalkan mobil yang terparkir didepan rumah tanpa memasukannya terlebih dahulu kedalam garasi.


"Rosa tunggu, Papah ingin bicara!" Hartawan mengejar putrinya yang ingin menaiki tangga menuju kekamarnya dilantai atas. Nampak Rosalie pun ikut mengejar dibelakang suaminya.


"Rosa ngantuk Pah, lagi pula tidak ada yang perlu kita bahas, ini juga sudah larut malam," ucap Rosalia malas.


"Duduk dulu sebentar, Papah tidak akan banyak bicara,"Hartawan tahu putrinya sedang sangat marah padanya tapi sikap diam yang ditunjukan Rosalia membuatnya malah khawatir dibandingkan bila putrinya mengeluarkan seluruh uneg-unegnya bersama semua kemarahannya seperti siang tadi.


Rosalia menurut, ia lalu menuju sofa dan duduk disana, walau sebenarnya dirinya sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit dan gejolak yang bergemuruh dalam dadanya sejak dari rumah keluarga Agatsa setelah mendengar bila Billy akan menikah dengan orang lain.


"Lupakan Billy, Rosa. Baru beberapa hari yang lalu ia mengajakmu menikah malah kita mendengar kabar kalau ia akan menikah dengan gadis lain," Hartawan menatap putrinya yang membuang pandangannya ke sembarang arah, tidak ingin memandang wajahnya.


"Pah, sebaiknya jangan membahas itu dulu malam ini," Rosalie menyentuh lengan suaminya memperingatkan dengan suara berbisik.


"Tidak Mah, Papah tidak mau putri kita memikirkan laki-laki itu lagi," sahutnya terdengar oleh Rosalia.


"Apa Papah hanya ingin bicara itu saja?" Rosalia memandang datar pada ayahnya.


Hartawan dan Rosalie terpaku ketika melihat tatapan kosong putri mereka, tidak ada gairah hidup disana.


"Rosa sudah tidak punya cinta Pah, sudah Rosa buang dari kehidupan Rosa, Papah jangan khawatir lagi. Bukankah keinginan Papah Rosa melajang seumur hidup? Dan sekarang Rosa akan mewujudkannya, supaya Papah puas dan bahagia." Rosalia berdiri, tanpa bicara apapun lagi gadis itu beranjak menuju tangga.


"Jangan Pah," Rosalie menahan suaminya yang ingin mengejar.

__ADS_1


"Tapi Mah--"


"Papah malah akan memperkeruh suasana." Rosalie masih mencengkram lengan suaminya supaya tidak beranjak mengejar putrinya.


"Harusnya Papah sadar, Rosa itu cintanya sama Billy, bila mendengar pujaan hatinya akan menikah begitu tiba-tiba dengan gadis lain hatinya pasti sangat sakit, tapi Papah malah membahasnya dan menyuruhnya melupakan Billy."


"Iya Papah tahu Mah, tapi buat apa memikirkan laki-laki tidak setia itu. Itulah sebabnya selama ini Papah berusaha menghalangi mereka, dan sekarang terbukti 'kan kalau pemuda itu dengan mudahnya akan menikahi gadis lain tanpa memikirkan perasaan Rosalia," debatnya.


"Itu bukan maunya Billy Pah, tapi keluarganya. Yah--, mungkin saja keluarganya tahu apa yang telah Papah lakukan pada putra kesayangan mereka. Papah dengar sendiri kan sindiran yang dilontarkan nyonya Agatsa tadi?"


Rosalie yang biasanya tidak mau meladeni suaminya berdebat kini bersemangat membalas perdebatan.


"Jadi Mamah membela meraka dan merasa semua ini salah Papah?" Hartawan memandang isterinya.


"Bukan begitu Pah, Mamah tahu Papah sangat sayang pada Rosalia, tapi cara Papah melindungi Rosalia dari para pria terkesan menyakiti putri kita Pah, aku merasa seperti itu." lirihnya.


Hartawan terdiam mendengar ucapan isterinya. Ia memang begitu protektif pada putri tunggalnya itu, ia sangat takut bila putrinya tersakiti, ia berusaha menemukan laki-laki yang menyayangi Rosalia seperti dirinya menyayangi putri kesayangannya itu.


"Mamah ingin menyusul putri kita dulu keatas," Rosalie menepuk lembut punggung suaminya. Ia beranjak meninggalkan Hartawan yang sedang termenung setelah mendengar ucapannya.


Tok! Tok! Tok!


Setelah sekian lama mengetuk pintu, akhirnya Rosalia membukakan pintu untuk ibu sambungnya itu.

__ADS_1


"Boleh Mamah masuk?" Rosalie menatap wajah sayu putrinya yang berdiri diambang pintu.


Rosalia hanya mengangguk lalu membalikan tubuhnya dan berjalan kembali masuk dalam kamarnya.


Rosalie menyusul, ia melihat bila putrinya sudah berganti piyama, bersiap untuk tidur.


"Ada apa Mah?" tanya gadis itu, wajahnya yang memerah dan sembab menandakan bila dirinya baru saja habis menangis.


"Boleh Mamah memelukmu?" Rosalie mengembangkan kedua tangannya selebar-lebarnya sembari tersenyum lembut.


Mendapat perhatian Rosalie seperti biasanya, Rosalia segera menubrukan tubuhnya kedalam pelukan ibunya bersama ledakan tangisnya yang sudah tidak tertahankan lagi.


"Ternyata mencintai itu begitu sakit," Rosalia sesunggukan.


Rosalie mengusap lembut punggung putrinya. Ia tidak tahu harus berkata apa, pengalaman cintanya sangat jauh berbeda, ia tidak pernah mengalami cinta yang sedemikian rumit, ditentang orang tua seperti putri sambungnya itu.


"Billy bukan laki-laki yang jahat, Rosa yakin Papah dan Mamah juga tahu itu. Billy tidak mungkin menikah dengan gadis lain Mah, Billy sudah bilang kalau di mau menikah dengan Rosa, Billy juga bilang kalau dia menyukai Rosa semenjak kami di taman kanak-kanak," gadis itu semakin sesenggukan, bayangan Billy terakhirr mereka bertemu kembali melintas dalam benaknya.


"Saat dia akan pergi bertugas di perbatasan-pun, Billy tetap memberitahuku Mah lewat pesannya. Jadi tidak mungkin dia menikahi gadis lain selain Rosa Mah," dalam tangisnya, gadis itu terus saja berbicara sambil sesenggukan, meluapkan segala rasa yang ada dalam benaknya, hatinya berusaha menyangkal semua yang ia dengar dari bibir nenek Billly itu.


"Bila kau merasa yakin, bertahanlah Rosa." Rosalie semakin mengeratkan pelukannya. Ia pun tidak rela bila Billy menikahi gadis lain selain putrinya. Ia ikut meneteskan air mata, hatinya pun merasakan pilu yang sama dengan putrinya yang terus menangis dalam pelukannya.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2