
Pagi - pagi sekali para warga dusun Rimba sudah memadati Lamin (rumah panggung, panjang dan besar suku dayak) yang terletak diarea perbukitan pinggiran dusun.
Ada banyak pekerjaan yang mereka lakukan untuk mempersiapkan acara adat pernikahan antara Hanaria dan Willy.
Selama satu minggu sebelumnya para warga sudah bergotong royong untuk membersihkan dan mempercantik dusun mereka yang akan mengadakan perhelatan pernikahan anggota dari warga mereka itu. Selain itu kayu bakar sudah dipersiapkan hingga menggunung di sudut barat pekarangan lamin.
Puluhan ekor sapi sedang disembelih oleh beberapa laki - laki yang sudah ditugaskan khusus untuk pekerjaan itu.
Senda gurau dan tertawa ria bersama terdengar riuh, semua warga turut merasakan kebahagian kedua calon pengantin dan kedua keluarga besar yang akan mengikat tali kekeluargaan.
Bukan hanya Warga dusun Rimba saja, tapi beberapa warga kampung tetangga turut hadir untuk meramaikan acara adat dihari itu.
Sementara itu, dirumah baru pak guru Arta yang baru selesai dibangun, tempat keluarga Agatsa menginap, berjarak kurang lebih tiga puluh meter dari Lamin, kesibukanpun tengah terjadi.
"Rosalia......?! Kau datang sayang....." Ucap Yurina kaget saat melihat Rosalia datang bersama rombongan penata rias pengantin keluarga Agatsa.
"Iya mommy kembar, Rosalia memang harus datang, Rosa mau melihat Willy sableng itu jadi pengantin." Sahut Rosa sambil tertawa kecil pada Yurina yang sudah seperti ibunya sendiri. Yurina ikut tertawa mendengar perkataan Rosalia.
"Papah dan mamahmu mana?" Tanya Yurina sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok dokter Rosalie dan tuan Hartawan, kedua orang tua Rosalia.
"Mereka minta maaf tidak bisa hadir mommy kembar, karena papah ada tugas diluar kota mendadak, lalu mommy sedang mengurus beberapa pasiennya yang akan operasi caesar hari ini dan besok. Kata papah dan mamah mereka akan hadir saat pesta pernikahan Willy dan Hanaria diadakan dikota minggu depan." Jelas Rosalia.
"Iya, tidak apa - apa sayang. Tunggu disini dulu sebentar, mommy mau bicara dulu dengan nyonya Mexan." Ujar Yurina, ia lalu berlalu mendekati nyonya Mexan penata rias langganan keluarganya.
"Nyonya Mexan...... Selamat datang... Saya sangat senang sekali anda juga bisa datang kemari." Sambut Yurina dengan senyum ramahnya.
"Saya tidak akan menyiakan - nyiakan kesempatan baik ini nyonya, bisa tetap dipercaya menjadi perias pengantin keluarga anda, adalah suatu kehormatan bagi saya." Ujarnya dengan wajah tersenyum penuh kegembiaraan.
"Mari saya antar kekamar anda dulu nyonya Mexan, supaya anda bisa beristirahat dulu sejenak. Acara adatnya baru akan dimulai pukul 3 sore nanti. Pukul 12 siang nanti saya akan mengantarkan anda kerumah calon menantu saya, supaya ia bisa dirias.
"Baiklah nyonya......" Yurina lalu mengantarkan nyonya Mexan kekamarnya.
__ADS_1
"Kamar disebelahnya ini, untuk para pegawai anda nyonya....." Tunjuk Yurina, setelah keduanya tiba disatu bangunan yang terpisah yang hanya berjarak 5 meter dari tempat mereka menginap.
"Bagus sekali villa anda nyonya, suasana dipinggir sawah yang menyejukan dan menyegarkan." Puji nyonya Mexan.
"Ini bukan villa kami nyonya Mexan, tapi villa milik mas Arta keluarga kami yang ada didusun ini, tempat dirinya menikmati masa pensiunnya dari seorang guru." Jelas Yurina.
"Ohh.... Saya fikir milik nyonya." Ucap nyonya Mexan kemudian.
"Baiklah nyonya Mexan, saya tinggal dulu ya, mau melihat Willy. Nyonya beristirahat saja dulu." Ujar Yurina berpamitan.
"Baik nyonya....." Nyonya Mexan segera masuk kekamar peristirahatan yang sudah disiapkan untuknya, tubuhnya memang terasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan dari kota ke dusun itu.
Yurina lalu meninggal nyonya Mexan dan kembali menemui Rosalia yang tengah asik memperhatikan keramaian yang ada di Lamin dari teras rumah.
"Rosalia...... Ayo ikut mommy, kita melihat persiapan Willy dulu." Ajak Yurina. Rosalia segera mengikuti langkah Yurina yang masuk kerumah hingga kebelakang.
"Ramai sekali disini ya mommy kembar, suasana pernikahan Willy sangat terasa, mulai Rosa memasuki gerbang dusun, hinga di Lamin tadi." Ujar Rosalia sambil berjalan beriringan dengan Yurina.
"Rasanya, Rosa juga mau cepat - cepat menyusul Willy juga saat merasakan suasana ini." Ucap Rosalia sambil membayangkan wajah seorang pria idamannya.
"Siapa prianya Rosa sayang?" Tanya Yurina.
"Billy mom......my......" Rosa langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya karena keceplosan.
Yurina langsung tertawa, dan menghentikan langkahnya tepat didepan bilik Willy yang sedang mandi uap, membuat Rosalia menjadi salah tingkah.
"Oh...... Rupanya kau mau menjadi menantu mommy juga......" Yurina masih tertawa dengan senyum lebarnya.
Rosalia tidak mampu berkata - kata, ia merasa sangat malu karena sudah ketahuan, walau ia sudah terbiasa dengan Yurina, tapi tetap saja, membayangkan Yurina akan menjadi ibu mertuanya membuat ia merasa malu, karena mengungkapkannya, wajahnya terlihat memerah.
"Tidak perlu malu pada mommy Rosa. Mommy juga mau kok jadi ibu mertuamu, yang penting kau dan Billy benar - benar saling mencintai. heumm....." Ucap Yurina yang memahami perasaan Rosalia.
__ADS_1
"Sungguh mommy.......?!" Tanya Rosalia memastikan.
"Heummm......" Angguk Yurina pasti.
"Terima kasih mommy......." Rasa malu Rosalia langsung menguap dibawa angin sepoi - sepoi pagi itu, ia memeluk erat tubuh Yurina, meluapkan rasa senangnya karena telah disetujui oleh calon ibu mertuanya itu, walau dirinya belum tahu apakah cintanya pada Billy akan berbalas ataukah akan bertepuk sebelah tangan. Hal itu ia fikirkan nanti saja.
"Kita masuk sekarang, Willy ada didalam." Ucap Yurina, setelah sekian detik ia membalas pelukan Rosalia.
"Iya mommy......." Sahut Rosalia sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Yurina.
Didalam bilik, nampak wajah Willy memerah dan mengeluarkan banyak keringat seperti seseorang yang sedang mandi, begitu pula dengan seluruh tubuhnya. Aroma rempah - rempah yang berasal dari akar - akaran, dan daun - daunan, bahan untuk betangas atau mandi uap, begitu terasa wangi memenuhi bilik khusus itu. Tubuh Willy ditutupi oleh tikar pandan. Hanya wajahnya saja yang kelihatan.
Dan hufff!!! Disebelah Willy, saudara kembarnya, Billy pria yang baru saja dibicarakan Rosalia bersama Yurina, juga sedang ikut mandi uap. Wajahnya juga turut memerah, rambut kepalanya terlihat basah oleh peluhnya hingga kewajah, bahkan seluruh tubuhnya yang ditutupi oleh tikar pandan.
Rosalia gugup, dan hampir saja pingsan dibuatnya, sementara Yurina berusaha menahan senyumnya melihat ekspresi Rosalia yang nampak sangat canggung.
Rosalia mendekati Willy yang sedang memejamkan matanya menikmati mandi uapnya, sekilas ia melirik Billy yang juga sedang memejamkan matanya.
"Willy..... Kau mendengarku??" Tanya Rosalia berbisik ditelinga Willy, supaya Billy yang berada disebelah Willy tidak mendengar perkataannya, karena keadaan didalam bilik itu begitu senyap.
"Iya Rosa, aku mendengarmu..... Bahkan aku juga mendengar saat kau mengatakan bila kau juga mau cepat menikah dengan kak Billy pada mommy, saat kalian berada didepan bilik." Ujar Willy sengaja tidak berbisik, suaranya terdengar menggema didalam bilik itu.
Mata Rosalia mendelik, ia langsung membungkam mulut Willy yang tidak tahu aturan itu dengan perasaan yang sangat kesal.
"Dasar.......! Kesablenganmu tidak pernah pudar - pudar walau sebentar lagi akan menikah." Rosalia begitu gemas pada sahabatnya itu.
Sementara Yurina kembali berusaha keras menahan senyumnya, karena ulah Willy dan Rosalia yang selalu saja ribut disetiap kesempatan saat mereka bertemu.
Sementara Billy, yang hanya berjarak dua meter saja dari Willy, masih tetap memejamkan matanya dengan sikap tenang, seolah - olah dirinya tidak terganggu sedikitpun oleh keadaan disekitarnya.
...***...
__ADS_1