HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 104 Pemeriksaan Kandungan Firlita


__ADS_3

"Selamat malam dokter...... Maaf kami sedikit terlambat." Ucap Hanaria yang memasuki ruangan dokter Rosalia lebih dulu.


"Selamat malam juga nona Hana...... Tidak masalah..... Mari silahkan duduk......." Dokter Rosalia mempersilahkan pada ketiga tamunya itu.


"Tuan ini siapa?" Tanya dokter Rosalia saat melihat Mahendra ikut duduk dikursi.


"Ini tuan Mahendra...... Ayah dari bayi yang dikandung oleh adik saya Firlita." Jelas Hanaria tanpa basa basi. Dokter Rosalia langsung teringat diawal pemeriksaan Firlita yang dibawa kerumah sakit karena perbuatan kasar pria itu.


"Syukurlah tuan Mahendra, anda bisa datang, saya sangat senang. Terlepas dari niat untuk mencampuri masalah intern keluarga anda. Sebagai dokter, saya sarankan, anda harus memperlakukan ibu dan bayinya dengan baik. Bayi yang belum lahir itu, berhak hidup juga. Sekalipun anda tidak menginginkannya, tapi apa yang telah anda lakukan bersama ibunya dimasa silam secara tidak sengaja telah menghadirkannya kedunia ini." Ucap dokter Rosalia menatap wajah pria dihadapan mejanya yang juga tengah menatapnya dengan tatapan dimginnya, seperti tidak suka.


"Sepertinya nama saya sudah diburukkan, makanya dokter berkata seperti itu pada saya." Ucap Mahendra sambil melirik kearah Hanaria dan Firlita yang ada didekatnya.


"Tidak ada yang memburukkan nama anda tuan Mahendra. Sayalah yang merawat nona Firlita, saat pertama kali ia kemari setelah mendapat kekekerasan dari anda. Setelah itu, kami pihak rumah sakit menerima surat dari kantor polisi untuk melakukan test DNA pada bayi yang ada dalam kandungan nona Firlita guna untuk penyidikan. Sebagai dokter kandungan, saya berhak memperingatkan pada siapa saja yang melakukan kekerasan pada pasien saya dan bayinya, tuan Mahendra......" Mahendra terdiam, perkataan dokter Rosalia sanggup membungkamnya, ia tidak menduga bila dokter kandungan ini, adalah salah satu team medis yang dilibatkan pihak kepolisian dalam mendiagnosa hasil test DNA dirinya dan bayinya.


"Silahkan berbaring nona Firlita......" Ucap dokter Rosalia kemjdian, mempersilahkan Firlita naik keranjang pasien, sambil berdiri dari duduknya dan mempersiapkan alat pemeriksaannya.


Firlita langsung naik keranjang pasien, dan berbaring disana. Hanaria membantu menyelimuti perut bawah Firlita hingga bagian kakinya, saat dokter Rosalia membalur gel diperut Firlita yang membuncit besar.


Dokter Rosalia mulai menggeser dan menggulir tansduser diatas perut Firlita yang bergerak - gerak.


"Lihat...... perutmu bergerak - gerak nona Firlita, bayimu memberi respon." Ucap dokter Rosalia yang merasakan pergerakan pada jarinya yang menyenyuh perut besar Firlita.


Firlita mengangguk sambil tersenyum merasakan gerakan - gerakan bayinya yang memang lebih aktif selama dua bulan belakangan ini.


"Perhatikan dilayar monitor........." Ucap dokter Rosalia lagi. Hanaria dan Firlita ikut menatap kearah monitor yang disebutkan dokter Rosalia, senyum keduanya langsung mengembang dengan wajah bahagia.


Dokter Rosalia mulai memberikan penjelasan secara terperinci mengenai perkembangan bayi sesuai dengan apa yang diperlihatkan dilayar monitor. Hanaria dan Firlita begitu antusias memperhatikan apa yang dijelaskan oleh dokter Rosalia.


Hanaria melirik sekilas kearah Mahendra yang masih duduk ditempatnya semula sejak ia datang. Laki - lak itu ikut melihat kearah monitor. Berbeda dengan reaksi Hanaria, Firlita dan dokter Rosalia, Mahendra nampak biasa - biasa saja, seolah - olah apa yang diperlihatkan pada layar monitor yang memperlihatkan bayinya yang bergerak - gerak aktif sama sekali tidak ada artinya, perasaan pria itu sungguh tidak tersentuh. "Manusia berhati batu!" Gumam Hanaria didalam hati.


...***...


Willy memperhatikan Hanaria yang masuk ke kabin belakang mobil milik Mahendra bersama Firlita dari dalam mobilnya.

__ADS_1


Tidak lama berselang, dokter Rosalia datang menemuinya diparkiran saat mobil Mahendra baru saja pergi mendinggalkan rumah sakit itu.


"Maaf ya agak lama ......" Ucap Rosalia, sesaat setelah duduk disamping Willy sambil mengenakan sabuk pengaman ketubuhnya.


"Iya bu dokter....... Tidak masalah...... kan aku yang memaksa untuk bertemu." Ucap Willy sambil menjalankan mobilnya meninggalkan tempat parkir.


"Mau makan dimana?" Tanya Willy kemudian.


"Ditaman saja...... Mumpung suasananya cerah." Sahut Rosalia sambil menatap langit dari kaca jendela mobil disampingnya.


"Kau yakin? Nanti tidak higienis......" Ucap Willy sambil menyetir.


"Aku sering makan disana bersama Billy, baik - baik saja sampai sekarang. Makananya juga enak." Sahut Rosalia tanpa sadar, membuat Willy menoleh kearahnya, lalu kembali fokus pada jalan didepannya.


"Kau sering keluar dengan kak Billy? Apa kau sudah jadian dengannya, heumm?" Tanya Willy penasaran.


"Belum......" Sahut Rosalia singkat.


"Lalu?" Tanya Willy dengan nada mengejar.


"Lalu kenapa belum jadian......?" Ucap Willy memperjelas pertanyaannya.


"Tunggu kakakmu lah yang nembak, masa aku..... Malu lah......" Ucap Rosalia menatap jalan didepannya.


Willy terkekeh mendengar ucapan Rosalia. Rosalia yang merasa ditertawakan langsung memukul punggung Willy dengan tangan kosongnya, sambil merengutkan wajahnya.


Willy semakin terkekeh. Ia membelokan mobilnya memasuki area taman yang nampak sangat ramai dipenuhi pedagang kaki lima. Setelah mendapatkan lahan parkir yang kosong, ia lalu memarkirkan mobilnya disana.


"Kita duduk disini saja. Kau mau makan apa?" Tanya Rosalia.


"Yang ada?" Willy balik bertanya, karena ia baru pertama kali mampir ditempat terbuka seperti itu.


"Ada ayam bakar, ayam goreng, sup ayam. Ada juga bebek panggang, goreng..... Ikan juga ada..... Mau yang mana?" Sahut Rosalia memberi pilihan, terlihat ia sudah terbiasa datang ke warung kaki lima seperti itu.

__ADS_1


"Ayam bakar saja." Pilih Willy, setelah mendengar menu yang disampaikan Rosalia padanya.


"Pake sayur?" Tanya Rosalia lagi.


"Tidak......." Sahut Willy menggeleng.


"Kau itu ya, mulai dulu tidak suka sayur, sayur itu sehat tau......" Ucap Rosalie memonyongkan mulutnya.


"Tahu...... Tapi aku mau cepat makan sekarang....... Lapar......." Ujar Willy malas berdebat.


"Tunggu disini ya, aku akan memesan keabangnya disana." Rosalia lalu beranjak menuju salah satu warung kaki lima yang banyak diserbu pengunjung. Katanya, kalau banyak yang ngantri biasanya masakannya enak.


Willy menunggu seorang diri di meja makan, yang hanya berisi dua kursi sambil memainkan ponselnya. Ia memeriksa beberapa e-mail yang masuk ketabletnya, dan segera memeriksa laporan sekretaris Morin yang baru ia lihat.


Beberapa menit kemudian, Rosalia datang membawa dua nampan ditangannya.


"Makan Yuk udah laper......." Rosalia meletakan satu nampan didepan Willy dan satu nampan lagi dihadapan dirinya.


"Apa yang membuatmu mengajakku makan diluar. Heumm?" Tanya Rosalia sambil mengunyah makanan didalam mulutnya.


"Aku hanya rindu padamu." Sahut Willy asal.


"Gombal! Ayo katakan padaku..... Aku tahu dari gelagatmu itu...... Pasti cerita bersambung tentang nona Hanaria lagi kan? Oya, bagaimana hasil pertemuanmu dengan daddy dan mommy kembar?" Walau banyak bertanya, namun dokter cantik itu tetap konsentrasi menikmati makan malamnya.


Willy tidak langsung menjawab, ia sibuk menyobek ayam bakarnya dengan kedua tangannya. Rosalia yang melihatnya langsung tersenyum. Willy terlihat sangat canggung berada ditempat terbuka seperti ini, ia memang tidak seperti Billy, kakak kembarnya, yang bisa makan dimana saja.


Pria dihadapannya itu memang anak mommy, yang terbiasa nempel pada ketiak i bunya. Tapi masih mending sekarang, sudah mau belajar mandiri.


"Enak ayam bakarnya?" Tanya Rosalia memandang wajah lucu Willy.


"Enak......" Sahut Willy singkat.


Rosalia membiarkan Willy menyelesaikan makan malamnya, sambil dirinya pun melanjutkan makannya yang sempat tertunda.

__ADS_1


"Tanganku baunya masih tidak enak, dimana mencuci tangan supaya lebih bersih?" Willy mengendus tangannya yang masih bau anyir makanan, ia merasa jijik menciumnya.


"Disana......!" Rosalia menunjuk toilet umum yang berada disudut taman kota. Willy segera beranjak menuju arah yang ditunjuk oleh Rosalia. Sementara Rosalia mengamankan ponsel dan tablet milik Willy masuk kedalam tas kerjanya, lalu mengembalikan piring dan gelas kotor mereka kewarung kaki lima, sekalian membayar tagihan.


__ADS_2