
"Ibu guru Raila, ini hadiah yang saya janjikan pada adik - adik kelas enam kemaren." Hanaria membawa banyak bag paper dan menyerahkannya pada ibu guru Raila diruang guru.
"Banyak sekali hadiah - hadiahnya nak Hana..... Terima kasih banyak ya atas perhatiannya pada anak - anak." Ibu guru Raila menerima pemberian Hanaria dan menaruhnya didekat kursinya.
"Iya bu..... sama - sama, ini juga nilainya tidak seberapa kok bu.....hanya hadiah biasa saja. Saya permisi dulu ya bu..... mau mengantarkan ayah dan ibu kesawah." Ucap Hanaria berpamitan.
"Iya nak Hana, salam buat ayah dan ibumu ya nak Hana...." Ucap ibu Raila dengan senyumnya.
"Baik bu...." Hanaria mencium punggung tangan ibu Raila dan bergegas keluar dari ruang guru.
Suasana sekolah nampak masih lengang, murid - murid banyak yang belum datang, demikian juga dengan guru - guru yang lain, hanya beberapa anak murid yang melakukan piket dikelasnya saja yang sudah datang lebih awal.
"Hana......!" Reymon buru - buru turun dari sepeda motornya saat melihat Hanaria sudah menaiki sepeda motornya untuk meninggalkan halaman sekolah.
"Iya mas..... Mas Rey memanggilku??" Tanya Hanaria yang sudah menghidupkan mesin motornya.
"Iya Hana, siapa lagi..... disini hanya ada mas dan dirimu Hana....." Ucap Reymon membenarkan. Hanaria menoleh kekiri dan kekanan.
"Ada, tuh anak - anak muridnya mas Reymon." Tunjuk Hanaria yang melihat beberapa murid berpakakan seragam merah - putih yang baru datang secara bergerombolan.
"Kau selalu saja punya jawabannya Hana...." Ucap Reymon melemparkan senyumnya saat sudah berada didekat Hanaria.
"Ada apa mas?" Hanaria mematikan mesin motornya.
"Kapan kau kembali ke kota?" Reymon menatap wajah Hanaria yang masih duduk diatas motornya dengan santai melihat kearahnya.
"Ibu sudah baikan beberapa hari ini mas. Mungkin dua atau tiga hari lagi, kenapa mas.....?" Hanaria menatap pria berpakaian seragam guru itu dengan meneliti.
"Kalau mas bilang mau datang kerumahmu malam ini untuk melamarmu apa kau percaya....?" Tanya pria itu menaikan alisnya sambil melempar senyumnya. Lesung pipit dikedua pipi Reymon selalu membuat Hanaria terpukau.
Sudahlah mas.... cukup bercandanya, nanti ibu kelamaan nunggunya....." Ucap Hanaria sambil menghidupkan mesin motornya.
"Pak guru.... pacar pak guru cantik...." Teriak beberapa murid perempuan yang melewati Hanaria dan Reymon sambil tertawa kecil dengan melajukan langkah kaki mereka. Hanaria mendelikan matanya tak percaya saat murid - murid SD itu sudah bisa berkata demikian.
"Tentu saja anak - anak......" Sahut Reymon melihat kearah anak - anak murid yang dengan cepat sudah menjauh.
"Mas..... Setahuku, anak - anak kampung sini pemalu - pemalu dan..... agak takutlah kalau berbicara dengan gurunya, apa lagi sampai berbicara seperti itu...." Ucap Hanaria sambil menatap murid - murid yang sudah menjauh menuju kelasnya.
__ADS_1
"Mereka anak didiknya mas dikelas empat. Mas selalu berusaha membuat mereka merasa nyaman, tidak takut, atau pun sungkan, yahh seperti bersahabat dengan mas sebagai wali kelas mereka. Jadi mereka suka bercanda, contohnya seperti tadi." Jelas Reymon dengan senyumnya. Pria itu mengalihkan pandangannya kembali pada Hanaria didepannya.
Senyum pria berkulit sawo matang itu, memang selalu menarik perhatian para gadis - gadis muda dikampung itu, tidak terkecuali Hanaria.
"Memang mau kemana?" Tanya Reymon penasaran melihat Hanaria yang nampak terburu - buru.
" Mengantarkan ibu ke sawah..... Hana pamit ya mas...." Hanaria lalu menjalankan motornya dengan lambat tanpa menunggu jawaban pria itu.
Reymon masih menatap Hanaria hingga menghilang dibalik pagar kayu milik sekolah. Ia lalu menuju keruang guru.
...•••...
Hanaria memperhatikan wajah lelah ayahnya yang datang mendekat saat mereka bertiga beristirahat dipondok yang berada ditepi sawah.
"Ayah di minum dulu teh nya....." Ucap Hanaria menawarkan teh yang telah ia tuang kedalam cangkir kesayangan ayahnya.
"Terima kasih Hana....." Pak Muri menyesap tehnya, wajah tuanya terlihat sangat menikmati teh buatan putri kesayangannya.
"Enak tehnya ayah??" Tanya Hanaria menatap wajah ayahnya yang baru saja meletakkan tehnya yang tinggal separuh isi dalam cangkirnya.
"Iya Hana.... apa lagi kalau menikmati tehnya sambil memandang hamparan sawah yang menghijau. Sawah ini sudah berusia 45 hari, semoga tidak ada hama yang merusak, sehingga panennya berhasil." Ucap pak Muri memandang hamparan sawahnya dengan senyum merekah.
"Wah asik sekali mengaso nya pak Muri....." Ujar pak Arta yang melewati pondok sawah pak Muri.
"Iya nih pak guru Arta, mampirlah kemari, kita minum - minum teh dulu bersama...." Pak Muri menawarkan.
"Mari pak guru, duduk dulu....." Ucap ibu Muri mempersilahkan dan memberi ruang pada pak Arta didekat suaminya.
"Diminum dulu tehnya pak guru....." Hanaria menyodorkan secangkir teh panas dihadapan pak Arta.
"Terima kasih nak Hana, tidak perlu repot - repot...." Ucapnya sambil tersenyum.
"Tidak pak guru, hanya secangkir teh saja." Sahut Hanaria ikut tersenyum.
"Dengan siapa kemari pak guru Arta?" Tanya pak Muri saat pak Arta sudah meminum tehnya.
"Sendirian pak Muri. Saya cari - cari keringat, maklum sudah terbiasa sejak dulu, rasanya bahagia kalau bisa melihat tanaman hasil tangan sendiri." Kekeh pak Arta.
__ADS_1
"Iya, pak guru benar..... saya dan ibunya Hanaria juga selalu kemari, walau hanya sekedar memandang sawah, dan menanam beberapa sayuran yang baru untuk mengganti tanaman yang lama, yang sudah mulai berkurang buahnya." Ucap pak Muri mulai asik dengan obrolannya.
"Sayuran apa yang ditaman pak Muri sekarang dikebun ini?"
"Beberapa jenis terong pak.... Tapi ibunya lebih banyak menanam terong asam, ia suka buahnya tahan lama, dan tidak mudah rontok." Jelas pak Muri sambil melihat ke arah isterinya.
"Itu sama seperti saya pak Muri. Saya menanamnya karena suka menjadikanya lauk....."Kekehnya lagi.
Begitulah kebiasaan pak Muri dan pak Arta bila bertemu, mereka sibuk mengobrol tentang sawah dan kebun mereka masing - masing tanpa habis - habisnya.
"Selamat siang..... wah asik sekali mengobrolnya...." Seorang pria yang seusia pak Arta dan pak Muri datang menghampiri mereka.
"Selamat siang......." Sahut mereka bersamaan.
"Ayo, mari masuk.... minum teh dulu pak Narko." Ibu Muri menawarkan dengan ramah.
"Iya bu Muri, terima kasih atas tawaranya, saya baru saja ngeteh dirumah, lalu langsung kemari, ada janji dengan pak guru Arta." Sahut pak Narko ramah.
"Ngeteh lagi pak Narko, ini anak gadis saya yang buat, setelah ini, bisa lama baru bisa menikmati buatannya." Pak Muri ikut menawarkan.
"Oh iya, saya baru sadar, ada nak Hana juga disini rupanya." Ucapnya pada Hana yang membawakan secangkir teh untuknya.
"Iya pakde..... diminum dulu tehnya....." Sahut Hanaria sambil mempersilahkan pak Narko untuk meminum teh yang dibawanya.
"Terima kasih banyak nak Hana...."
"Sama - sama pakde....." Hanaria kembali duduk disamping ibunya.
Mereka kembali terlibat obrolan ringan seputar kebun dan sawah - sawah mereka yang tidak lama lagi akan panen. Itulah yang menjadi bahan pembicaraan mereka setiap kali bertemu.
"Pak Muri, tadi saya buat janji dengan pak Narko untuk melihat lokasi yang akan dibangun rumah untuk saya pensiun nanti. Kebetulan nak Hana ada disini, boleh kami pinjam sebentar untuk menjelaskan design gambar yang telah ia buat untuk saya." Ucap pak Arta pada pak Muri yang duduk didekatnya.
"Iya, silahkan pak Arta. Hana, kau boleh ikut pak guru Arta dan juga pak Narko, mumpung kau ada disini nak...." Ucap Pak Muri melihat kearah putrinya.
"Iya Ayah....." Sahut Hanaria setuju.
"Bagaimana kalau kita pergi sekarang sebelum hujan segera turun, lihat langit nampak mendung." Ucap pak guru Arta lagi.
__ADS_1
"Iya, pak guru Arta benar...." Ucap ibu Muri sambil melihat keangkasa.