
Willy menelan salivanya dengan susah payah, menatap beberapa lembaran kertas yang berisi daftar saham milik perusahaan Mega Otomotif yang harus dibeli oleh Hanaria isterinya. Kepalanya tiba-tiba berdenyut, perutnya terasa mual dan ingin muntah.
Ini untuk kali yang kedua dirinya merasa pusing tujuh keliling berhubungan dengan pembayaran, setelah kisah pernikahannya yang menghabiskan nilai yang fantastis untuk memenuhi semua persyaratan isterinya itu sebelum mereka menikah.
"Hana," Willy memanggil nama isterinya selembut mungkin.
"Heum," Hanaria menoleh pada Willy yang juga sedang menyandarkan punggung di headboard seperti dirinya.
"Apa semuanya ini belinya pakai uang?" Willy memasang wajah konyolnya, berusaha menyembunyikan kebingungannya yang menggunung. Dirinya saat ini tidak memiliki uang senilai belasan triliun seperti jumlah nominal yang tertera pada daftar yang dibacanya.
"Iya my Husband, my Honey, my Handsome, belinya pake uang alias duit, bukan daun," ucap Hanaria tanpa beban sembari menyandarkan kepalanya dengan manja pada bahu Willy, sementara jari tangannya yang lain bergerilya memijat area-area sensitive pada tubuh suaminya itu dengan sengaja.
" Dan bayarnya harus besok, dan harus lunas juga," imbuh Hanaria lagi.
"Apa? Besok?" sepasang bola mata Willy mendelik, kaget bukan kepalang, hingga tak sadar menegakkan tubuhnya, membuat Hanaria yang bersandar padanya ikut menegakkan tubuh beratnya yang sedang hamil besar.
"Heum," gumam Hanaria dengan anggukan kepalanya. "Sesuai janjiku pada para pemegang saham itu tadi siang," sambungnya lagi.
Hanaria memperhatikan Willy yang kini tengah memijat pelipisnya yang semakin berdenyut, memikirkan uang belasan triliun yang harus ia sediakan besok karena ulah isterinya itu.
""Apakah kau pusing suamiku yang tampan dan glowing?" tanya Hanaria menatap wajah suaminya. Ia sadar, bila keputusannya dihari itu telah membuat suaminya pusing tujuh keliling. Ia juga bingung, kenapa dirinya berani mengucapkan janji itu pada para petinggi itu.
Willy menoleh, tidak langsung menyahut ucapan isterinya itu. Untuk sesaat, ia menatap lekat wajah Hanaria yang membulat, dengan pipinya yang bertambah chubby, lalu turun ke perutnya yang besar membola dan tengah bergerak-gerak di balik daster lebarnya.
Perlahan tangan Willy menyentuh area perut Hanaria yang bergerak halus dan mengusapnya lembut, merasakan dan meresapi pergerakan bayinya didalam sana. Beberapa detik kemudian, pergerakan halus itu berubah semakin kuat, membuat Willy tertawa sendiri, memikirkan senakal apa anaknya itu bila keluar nanti.
__ADS_1
Melihat Willy tertawa, Hanaria mengulas senyum tipisnya dengan hati yang menghangat bahagia. Ia tahu saat ini suaminya itu pasti sedang pusing bagaimana caranya menyiapkan dana yang jumlahnya tidak sedikit itu.
"Willy," panggil Hanaria lirih.
"Heum," sahut Willy tanpa melihat wajah isterinya, ia masih sibuk memperhatikan pergerakan bayinya, sementara tangannya terus menempel dan merasakan setiap gerakan yang ditimbulkan oleh kegiatan bayinya dari dalam sana.
"Maafkan isteri bulatmu ini suamiku, yang telah membuatmu pusing dengan keputusanku dikantor hari ini," ucap Hanaria lirih.
Willy menghentikan usapan tangannya diperut isterinya itu, lalu mendongakan wajahnya, menatap wajah Hanaria yang terlihat sedih.
"Siapa bilang aku pusing? Heum?" ucap Willy sembari tersenyum dan memegang ujung dagu Hanaria. Laki-laki itu berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya tengah dirasakannya saat ini, supaya isterinya itu tidak sedih, tapi tetap menampilkan wajah cerianya.
"Aku hanya bisa pusing, kalau tidak bisa menjenguk para bayiku didalam sana," goda Willy sembari membawa masuk isterinya itu kedalam dekapannya.
Wajah Hanaria seketika merona, ia tahu maksud perkataan suaminya itu.
"Aku yakin, anak kita kembar didalam rahimmu ini sayang." Hanaria membiarkan tangan Willy menelusup masuk dibalik dasternya dan mengusap perutnya pelan dengan gerakan memutar.
"Sudah lama aku tidak menjenguk mereka didalam sana," tanpa menunggu persetujuan isterinya itu, Willy mulai mendaratkan beberapa kecupan lembut pada tengkuk istirinya, dan mulai melancarkan banyolan-banyolan ringannya supaya isterinya itu rileks.
Sesekali Hanaria tergelak, merasakan geli pada tengkuk dan lehernya, ditambah ucapan Willy yang kadang terdengar konyol, namun dirinya sangat menyukainya.
"Awgghhh...." gelakan Hanaria perlahan berubah menjadi eran*an manja yang mengalun memenuhi kamar mereka, merasakan sentuhan-sentuhan bibir basah Willy pada setiap inchi tengkuk hingga menurun kepunggungnya.
"Kau tahu Hana?" Willy dengan hati-hati menyingkapkan daster lebar isterinya ke.atas dan meloloskannya begitu saja lewat kepala, hingga memperlihatkan tubuh polos, montok, dan cukup menggelikan seperti ikan buntal.
__ADS_1
"Tau apa? Ughhssss," tanya Hanaria sembari men*esis.
"Ngidam anak pertama kita, ternyata mahal sekali," ujar Willy dibarengi kekehannya. Ia kembali mencumbu isterinya itu.yang terlihat lebih menggairahkan saat sedang hamil tua seperti itu.
Hanaria ikut terkekeh mendengar ucapan jujur suaminya. Heum, mungkinkah hal itu ngidam? Batinnya tak percaya. Apakah ada wanita hamil yang ngidamnya saham? Dan mahal sekali seperti kata suaminya tadi. Ah, entahlah. Hanaria juga tidak mengerti. Saat ini yang ia tahu, betapa nikmatnya bercinta bersama suaminya itu saat ini.
Ya, Willy yang selalu tahu bagaimana caranya membuat dirinya selalu berga*rah, melayang, dengan napas yang saling mengejar dan memburu, yang selalu membuatnya menger*ng hingga melupakan rasa malunya.
Ia bahkan sengaja ingin menge*ang sekencang-kencangnya, agar semua orang tahu betapa hebatnya suaminya itu saat bergelut bersamanya.
"Hana... ughss" panggil Willy yang mulai ikut mendesis meniru Hanaria. Jangan heran, karena ular kasur miliknya sedang menjadi mainan kesukaan isterinya itu saat ini.
"Eumhhh... hhsss" sahut Hanaria dengan suara tidak jelasnya. Tangannya sedang memijat dan memelintir, lalu mengorek-ngorek ular kasur yang sudah tegak menegang, bersiap mematuk dan mengeluarkan bisa beracunnya.
"Kata dokter Rosalia--, Daddy dedek bayi harus sering-sering menjenguk para bayi di dalam sana, untuk membantu membuat jalan lahiran, uhssss," ucapnya terus mendesis diujung kalimatnya.
"Jadi kita harus mengatur jadwal rutin untuk membantumu lebih mudah saat melahirkan nanti, ughsss," imbuhnya lagi sembari melakukan aktifitasnya tanpa henti.
Hanaria seketika tersenyum hingga tertawa kecil, pasalnya dirinya tidak pernah mendengar dokter Rosalia mengatakan hal itu saat mereka sedang memeriksakan kandungannya.
Senyuman dan tawa kecil Hanaria tertangkap basah oleh Willy yang merasa gemes melihatnya. "Kau tidak percaya? Heum? Aku akan buktikan, eumphss... bersiaplah," ungkapnya sambil berayun-ayun ria.
Hanaria hanya bisa pasrah, lebih tepatnya menikmati dan meresapi setiap permainan suaminya itu, yang membawanya berayun-ayun melayang ke angkasa impian tanpa batas.
Suara desa**n dan era**an keduanya terdengar saling bersahut-sahutan, riuh memenuhi kamar bersuhu dingin itu hingga beberapa saat lamanya.
__ADS_1
Untuk sesaat, Willy dan Hanaria melupakan masalah mereka yang sudah menanti diesok harinya.
Bersambung...👉