
"Bagaimana Dokter?" tanya pak Paris tidak sabar dengan wajah cemas, tatkala dokter Domianus baru saja keluar dari ruang tindakan operasi.
"Syukurlah, operasinya berjalan dengan baik dan lancar pak Paris," sahut dokter Domianus dengan senyuman mengembang diwajahnya.
"Pak Paris dan Nona Hanaria boleh menengok kedua pasien setelah para perawat memindahkan mereka ke ruang rawat inap. Dan saya permisi dulu, karena masih ada pasien yang harus saya tangani lagi," pamit Dokter Domianus.
"Baiklah Dokter, terima kasih banyak," sahut pak Paris dan Hanaria hampir bersamaan. Dokter Domianus lalu pergi meninggalkan keduanya dengan langkah terburu-buru.
"Nona Hanaria, terima kasih banyak, Anda sudah banyak membantu, sehingga putri saya Lania bisa di operasi hari ini. Saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih dan membalas semua kebaikan Anda nona Hana," ungkap pak Paris tulus, ketika dokter Domianus sudah menjauh dari dekat mereka.
"Semua yang saya lakukan ini semata-mata atas dasar rasa kemanusian, dan tidak berharap Anda akan membalasnya," kata Hanaria menatap pak Paris.
__ADS_1
"Harapan saya, pak Paris segera membenahi pekerjaan yang sempat terbangkalai itu," kata Hanaria menatap pria yang berusia tiga puluhan itu untuk mengingatkannya.
"Pak Paris tahukan standar kualitas dari Perusahaan Agatsa Properti Group, hasil kerja harus seratus persen sesuai gambar kerja, bila sedikit saja ditemukan pekerjaan tidak sesuai standart, Bapak harus bersiap-siap memberikan surat pengunduran diri sebelum diminta," lanjut Hanaria lagi.
"Iya, saya mengerti Nona Hana," sahut pak Paris sambil mengangguk pelan. Ia tahu, isteri dari sang CEO tempatnya berkerja itu tidak sedang mengancamnya, sebagai seorang mantan arsitek handal, tentu saja wanita dihadapannya itu sangat tahu kinerja dirinya selama mereka sama-sama berkerja dalam satu atap Perusahaan yang sama.
"Nona Hana bolehkah saya menanyakan sesuatu?" kata pak Paris meminta ijin, raut wajahnya terlihat sedikit ragu, khawatir bila apa yang dirinya tanyakan tidak berkenan pada lawan bicaranya itu.
"Tanyakan saja pak Paris, tidak perlu sungkan, saya akan berusaha memberi jawaban sesuai porsi saya," ungkap Hanaria yang dapat membaca keraguan pak Paris dari gestur tubuhnya.
"Maafkan saya Nona, bila pertanyaan saya tidak berkenan dihati Anda," ungkapnya merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa pak Paris," sahut Hanaria masih menatap lekat pria dihadapannya itu.
"Pertama, Nona Morin bukan sekretaris pribadi suami saya lagi. Dia sudah dipecat dari Perusahaan Agatsa Properti Group," kata Hanaria membuat pak Paris terkaget-kaget karena baru mengetahui hal itu. Jujur saja, dirinya yang lebih banyak berkerja diluar kantor tidak mengetahui kabar terbaru itu.
"Kedua, bukan saya yang memenjarakan nona Morin, tapi dirinya sendiri yang menyebabkannya harus mendekam disana pak Paris," kata Hanaria melanjutkan ucapannya.
"Maksud nona Hana bagaimana? Maafkan saya, saya tidak mengerti," kata pak Paris bingung, menurutnya, tidak ada seorangpun yang ingin memenjarakan dirinya sendiri, sekalipun orang tersebut bersalah.
"Perbuatan nona Morin yang melawan hukum-lah yang membawanya harus dipenjarakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku dinegeri kita," jelas Hanaria.
"Kalau boleh saya tahu, perbuatan melawan hukum yang bagaimana sehingga membuat nona Morin harus dipenjara?" tanya pak Paris ingin tahu.
__ADS_1
"Apakah pak Paris bersungguh-sungguh tidak tahu apa yang telah dilakukan nona Morin, sepupu pak Paris itu?" kata Hanaria membuat pak Paris langsung tersentak kaget.
"B-bagaimana nona Hana bisa tahu, bila nona Morin adalah saudara sepupu saya?" ucap pak Paris gugup bercampur takut.