
"Mom-mom, kenapa semuanya dikeluarin?" Willy nampak shock melihat ulah ibunya.
Yurina tidak menggubris. Ia hanya mengembalikan dompet putranya tanpa mengembalikan apa yang telah ia keluarkan dari dalamnya
Willy segera membuka dan memeriksa isi dompetnya yang terasa lebih ringan dari sebelumnya. Ia hanya menemukan kartu identitasnya, SIM, NPWP, dan kartu-kartu lainnya.
"Mom, please mom?!" Willy menghiba pada ibunya, sambil menunjukan dompetnya yang terbuka dan nampak menyedihkan.
"Pria dalam keluarga Agatsa yang sudah menikah, tidak memerlukan kartu debit apalagi kartu kredit, cukup kartu identitas, SIM, NPWP dan kartu berobat saja," jelas Yurina lugas.
"Lalu bagaimana Willy harus membayar semua tagihan-tagihan Willy, kalau semuanya mommy yang pegang?" protes Willy tidak terima.
"Semua tagihanmu akan dibayarkan oleh Hanaria isterimu, karena semua kartu-kartumu ini akan dipegang oleh isterimu yang akan menjadi bendahara dalam keluarga kecilmu." jelas Yurina, sambil menyerahkan semua kartu-kartu milik Willy itu pada Hanaria.
Hanaria yang mendengar perdebatan suami dan ibu mertuanya merasa ragu menerima semua kartu-kartu yang diberikan padanya.
"Dan kau Hana, mulai sekarang, kau harus menyiapkan bekal makan siang untuk suamimu saat ia mulai masuk berkerja nantinya. Kalau kau lupa, suamimu akan kelaparan, atau jatuh sakit." ucap Yurina pada Hanaria, dan hanya dijawab anggukan pelan oleh menantunya itu.
"Dan satu lagi, nomor ponselmu sudah mommy daftarkan, jadi untuk setiap transaksi masuk dan keluar, akan ada notifikasinya diponselmu Hana, dan kau bertanggung-jawab menyelesaikan semua tagihan atas nama suamimu, kau mengerti Hana?" tanya Yurina, ia melirik kearah menantunya yang duduk mematung diantara dirinya dan Margareth.
"I-iya mom, Hana mengerti," sahut Hanaria gugup, sambil merapikan kartu-kartu debit dan kredit milik suaminya yang baru ia terima dari ibu mertuanya.
Dalam hatinya, Hanaria merasa kasihan pada para pria yang sudah menikah dalam keluarga Agatsa ini. Dengan adanya aturan seperti yang disampaikan oleh sang ibu mertuanya, itu artinya para suami dalam keluarga Agatsa ini sama sekali tidak memegang uang sepeser-pun, sungguh sangat menyedihkan.
Para suami yang berkerja keras, tapi para isteri-lah yang menghabiskan rupiah hasil kerja keras suami-suami mereka. Tapi ini menarik, fikir Hanaria kemudian.
"Walau Willy merayumu untuk mengembalikan kartu-kartu itu, jangan kau berikan padanya Hana. Diwaktu yang tidak kau duga, mommy pasti akan me-rajia-mu," ancam Yurina.
__ADS_1
"Dan kalian berdua yang akan menanggung akibatnya, bila tidak patuh pada apa yang mommy katakan ini," imbuhnya lagi.
"Nenek buyut, aku tidak pernah menyangka, ternyata menikah membuat para pria dalam keluarga Agatsa yang sangat dihormati ini menjadi pria-pria miskin," keluh Willy. Ia memeluk leher nenek buyutnya dari belakang, berharap mendapat pembelaan dari wanita tertua dalam keluarga besar Agatsa dan keluarga besar Morgan itu.
"Nenek buyut juga turut prihatin padamu Willy. Nenek buyut hanya bisa menyarankan padamu, nikmatilah saja kemiskinanmu sebagai seorang pria beristeri mulai sekarang." ungkap buyut Naomi, tanpa memberikan solusi apapun seperti harapan cicitnya itu.
"Lihatlah!" Buyut Naomi menunjuk kearah Moranno, Harry, dan tuan Morgan yang masih asik mengobrol disisi lain ruang keluarga itu.
"Mereka terlihat baik-baik saja tanpa sepeser-pun uang didompet mereka, bahkan mereka terlihat santai saja tanpa beban," ungkap buyut Naomi lagi sambil melihat kearah para anak menantu dan cucu menantunya itu.
Perlahan, Willy melepaskan pelukannya pada nenek buyutnya itu, wajahnya nampak lesu, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain pasrah dan menerima takdir dompetnya yang hanya berguna untuk kartu-kartu yang tidak terlalu penting menurutnya. Karena kartu yang tersisa didompetnya itu, adalah kartu- kartu yang sangat jarang disentuhnya dibandingkan dengan kartu-kartu yang disita oleh ibunya dan diberikan pada Hanaria.
Willy melirik sekilas kearah Hanaria sebelum pergi, yang juga diam-diam memperhatikannya, saat mata keduanya beradu, Hanaria buru-buru menundukkan wajahnya.
Yurina, Margareth, nyonya Agatsa, nyonya Morgan, dan buyut Naomi, para wanita berumur itu hanya memperhatikan langkah gontai Willy yang meninggalkan mereka dengan tak bersemangat.
"Untuk apa?" tanya Moranno, menatap aneh pada putranya yang tidak pernah menanyakan barang pribadinya.
"Sebentar saja dad, Willy tidak akan mengambil satu benda apapun dari dalam dompet daddy, Willy janji," pinta Willy penuh harap.
Moranno yang tidak mengerti, nampak ragu, tapi ia tetap mengambil dompet dari saku celananya.
"Ini," Moranno menyerahkan dompet miliknya pada putranya itu.
"Terima kasih dad," Senyum Willy langsung mengembang, ia berharap dapat membuktikan bahwa hanya dirinya saja yang diperlakukan tidak adil oleh ibunya.
Dengan cepat dan bersemangat Willy langsung membuka dan memeriksa dompet ayahnya. "Ini tidak mungkin," gumam Willy dengan mimik tak percaya, setelah ia melihat isi dompet ayahnya yang tidak jauh berbeda dengan isi dompetnya yang sekarang.
__ADS_1
Tanpa mengucapakan kata apapun, ia mengembalikan dompet ayahnya begitu saja.
"Paman, boleh Willy pinjam dompet paman sebentar saja?" Willy kembali beralih pada Harry yang sejak tadi memperhatikan apa yang sedang dilakukan kakak iparnya dan keponakannya itu, sementara tuan Morgan juga turut memperhatikan apa yang dilakukan Moranno menantunya dan Willy cucunya.
"Memangnya untuk apa Willy?" tanya Harry penuh selidik.
"Itu paman-,"Willy berfikir sejenak.
"Apakah isi dompet paman sama atau berbeda dengan dompet milik Willy," sahut Willy, ia berusaha memberi penjelasan supaya pamannya itu juga mau memperlihatkan isi dompetnya.
"Tentu saja sama, tidak ada bedanya," ujar Harry, ia meraih dompetnya dan memberikannya dengan mudah tanpa bertanya lagi sambil melemparkannya pelan keatas meja dihadapan Willy.
Willy yang masih penasaran, tanpa buang waktu langsung menyambar dompet pamannya dan melihat isinya.
"Apa ada yang beda?" tanya Harry pada keponakannya itu, saat Willy kembali menunjukan wajah lesunya setelah memeriksa isi dompetnya.
Willy tidak menjawab, ia hanya menggeleng lemah.
"Ternyata paman dan daddy tidak ada bedanya," ucap Willy sambil meletakan dompet pamanya diatas meja.
"Berpenampilan parlente! Berjalan dengan kepala tegak! Dan diberi penghormatan oleh ribuan pegawainya! Ternyata didompetnya nihil, hanya berisi kartu identitas belaka!" ucap Willy menatap keduanya dengan senyum mengejek.
"Bukankah itu termasuk dirimu Willy?" sahut Moranno tidak terima mendengar ucapanya putranya, sementara Harry dan tuan Morgan hanya tersenyum tanpa ikut berkomentar.
"Ternyata, para pegawai cleaning service masih lebih sejahtera dibandingkan kita para pria keluarga Agatsa," timpal Willy. Ia terlihat larut dalam imajinasi kemiskinannya.
Moranno, Harry, dan tuan Morgan saling berpandangan. Mereka berusaha menahan senyum, saat melihat sikap Willy yang frustrasi membuat mereka bermain mata dengan para isteri yang sedang memperhatikan mereka sejak Willy bergabung kembali bersama mereka.
__ADS_1
*