HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
222. Pengangguran


__ADS_3

Yang berniat mengadopsi bayi Elvano adalah Hanaria, tetapi pada kenyataannya, yang begitu sibuk mengurus persyaratan dalam pengadopsian tersebut adalah Willy.


Willy yang notabenenya seorang pengusaha, segala urusannya terbiasa diurus oleh para bawahannya, kali ini terpaksa harus turun tangan sendiri mengurus semuanya tanpa bisa diwakilkan sesuai aturan.


Sudah hampir dua bulan Willy harus bolak-balik, dan naik-turun kantor-kantor pemerintah setempat, dukcapil, instansi sosial, rumah sakit, hingga pengadilan untuk melegalkan pengadopsian bayi Elvano, putra mendiang Firlita.


Untungnya, ayahnya yang sudah tahu kesibukannya itu siap membantu menggantikan dirinya bila ada klien perusahaan yang ingin bertemu saat dirinya tidak berada dikantor.


Tidak mudah memang. Willy yang terbiasa memberi perintah, dalam urusan bayi Elvano, ia harus mau merendahkan diri dan bersabar menunggu antrian dalam setiap pengambilan surat-surat yang diperlukan. Belum lagi para pegawai itu sengaja mengoper dirinya kesana-kemari tidak jelas hanya ingin melihat wajah tampannya yang seliweran didalam kantor mereka.


Willy bukannya tidak tahu, ia hanya membiarkannya saja, asalkan urusannya bisa beres dan hak pengadopsian itu dapat ia peroleh sesuai prosedur.


Setelah urusannya selesai, Willy melirik arloji tangannya sejenak. Sebelum kembali kekantor, ia segera melarikan mobilnya menuju apartemennya, tentu saja ingin menemui Hanaria dan makan siang bersama isterinya itu.


"Hallo suami tampanku," sapa Hanaria dengan senyum hangatnya, saat membuka pintu apartemen dan melihat wajah Willy yang sedang tersenyum memandangnya didepan pintu.


Willy mencium kening Hanaria lalu menyentuh dan mengelus lembut perut istenya yang terlihat seperti orang kekenyangan walau belum terlalu membuncit besar.


"Bagaimana keadaan dirimu dan anak kita?" tanya Willy.


"Sepertinya baik-baik saja didalam sana, hanya aku saja yang bosan," keluh Hanaria dengan wajah sedikit ditekuk.


"Bosan?" Willy mengangkat kedua alisnya, menatap wajah Hanaria dengan pipinya yang semakin hari semakin chubby.


"Iya, sangat bosan. Aku jadi pengangguran selama dua bulan ini. Dan dirumah ini, bibi Salu juga tidak memperbolehkanku melakukan apapun selain tiduran dan menonton acara televisi," adu Hanaria lagi.


"Itu bukan salah bibi Salu, aku yang menginstruksikannya seperti itu," Willy merangkul punggung Hanaria dan menggandengnya masuk.


"Pekerjaan ratu-ku dirumah ini memang harus seperti itu. Bercinta denganku, mengandung, melahirkan, lalu bercinta lagi, lalu mengandung lagi, lalu-," ucapan Willy terhenti.

__ADS_1


"Lalu melahirkan lagi, lalu bercinta lagi, lalu mengandung dan melahirkan lagi," potong Hanaria dengan bibir mencucu.


Willy tertawa gemas, ia mendudukkan isterinya itu dalam pangkuannya disofa tamu.


"Sabar ya, sebentar lagi urusan pengadopsian bayi Elvano akan segera selesai, kita tinggal menunggu putusan pengadilan," ucap Willy mengusap lembut rambut Hanaria sambil mencium aroma wangi yang keluar dari rambut panjang isterinya itu.


"Lama sekali," sungut Hanaria tidak sabar.


"Semua butuh proses Hana. Semuanya harus kita urus sampai tuntas, supaya dikemudian hari tidak ada hal yang menyulitkan kita, juga menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan tentang pengadopsian bayi Elvano," jelas Willy memberi pemahaman.


Hanaria mengangguk-anggukan kepalanya, dirinya bukan tidak mengerti, ia hanya merasa bosan saja karena sudah terbiasa berkerja diluar rumah.


"Aku lapar," ucap Willy berbisik ditelinga Hanaria.


"Ayo, bibi Salu sudah menyiapkan makan siang untuk kita," Hanaria bangkit, ia menarik pergelangan tangan Willy dan membawanya menuju meja makan.


Bibi Salu yang melihat kedua majikannya memasuki ruang makan segera mengundurkan diri seperti biasa. Pasalnya, dirinya sering merasa gugup saat melihat kedua majikannya itu bermesraan tanpa kenal tempat. Supaya aman, ia segera menjauhkan diri, bila semua pekerjaannya sudah beres.


"Untuk apa?" tanya Hanaria sambil menyendok makanan kedalam mulutnya.


"Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padamu mengenai cucunya," sahut Willy ikut menyendok makanan kedalam mulutnya.


Hanaria tetap mengunyah makanan yang ia masukan kedalam mulutnya sambil berfikir. Untuk apa mantan bos-nya itu mau bertemu dengannya? Bukankah wanita tua itu sudah tidak perduli lagi pada cucunya, batin Hanaria.


"Kapan nyonya Mingguana ingin bertemu denganku?" tanya Hanaria kemudian.


"Kapan kau siap?" Willy balik bertanya.


"Kapan saja aku siap. Bukankah aku sekarang adalah seorang pengangguran, selain tugasku mengandung dan melahirkan anak," sahut Hanaria kembali dengan wajah menekuk.

__ADS_1


Willy kembali terkekeh, melihat tingkah Hanaria yang merasa kesal tidak jelas, ia tahu itu bawaan bayi yang ada dalam kandungannya, hormon kehamilan wanita itu memang sering membuatnya bertingkah tidak seperti biasanya.


Apapun yang dilakukan Hanaria, Willy menyukainya, ia bahkan selalu merasa gemas melihatnya dan selalu ingin bercinta dengannya disaat mood isterinya itu tidak baik.


Ya, seperti yang dilakukannya saat ini. Willy segera menghabiskan jus dari dalam gelasnya, ia berdiri menggeser kursi, lalu menghampiri Hanaria yang masih asik menyuapi dirinya sendiri.


"Willy, aku sedang makan. Turunkan aku," Hanaria meronta minta dilepaskan, sambil melambaikan kedua sendok ditangan kiri dan kananya.


"Jangan bergerak, tubuhmu itu sudah semakin berat, nanti kita berdua bisa sama-sama terjatuh," ucap Willy memperingatkan. Ia segera melarikan tubuh isterinya itu kedalam kamar.


Hanaria langsung patuh, ia juga tidak ingin terjatuh kelantai, apalagi dengan kondisi dirinya yang sedang hamil. Ia menatap wajah Willy yang memerah, menahan beban bobot tubuh dirinya yang tidak terbilang ringan lagi, apalagi sekarang sudah berbadan dua.


Dulu saja, Willy sudah susah payah menggendongnya, karena tubuhnya dan Willy memiliki tinggi yang sama, hanya berbeda beberapa sentimeter saja.


"Aku belum selesai makan," sungut Hanaria lagi, mengulang ucapannya yang sebelumnya.


"Kau bisa memakanku," sahut Willy sambil menurunkan Hanaria dipembaringan mereka.


"Tidak mau! Tidak enak!" ketus Hanaria semakin terlihat kesal.


"Benarkah? Kau itu sudah makan tiga piring. Bila aku tidak menghentikanmu, kau bisa sesak napas karena makanan-makanan itu," ujar Willy seraya menyodorkan gelas air putih pada isterinya yang ia ambil dari atas nakas.


Bukannya merasa malu, Hanaria bahkan semakin menekukan wajahnya, tidak senang mendengar suaminya terlalu jujur. Ia meraih gelas yang diberikan Willy, dengan beringas meneguknya hingga meluber keluar dari mulutnya dan membasahi sebagian baju atasannya.


"Hati-hati, basah jadinya kan," kata Willy seraya mengambil tissue, mengeringkan area basah pada bagian bibir, dagu hingga leher Hanaria.


"Ayo, ganti bajunya, nanti masuk angin," ucap Willy bersemangat membantu melepas atasan Hanaria.


"Ini akal-akalanmu saja kan?" ungkap Hanaria curiga, tapi tetap menurut.

__ADS_1


"Isteriku memang pintar," Willy kembali terkekeh. "Tapi ini juga karena ketidak hati-hatianmu juga Hana, minum begitu beringas. Kalau mau beringas, jangan pada gelas, tapi pada suamimu ini," ucap Willy seraya menyergap tubuh isterinya yang kini hanya menyisakan penutup gunung kembar dan segitiganya saja.


Bersambung...👉


__ADS_2