HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
272. Bosan Dengar Nama Itu


__ADS_3

"Pah," Rosalie melirik kearah suaminya yang memejamkan mata disebelahnya.


"Heum," sahut Hartawan seakan malas bersuara.


"Billy itu pemuda yang baik--"


"Papah sudah tahu, Mamah pasti mau membahasnya lagi. Papah itu sebenarnya bosan dengar nama itu--, Billy, Billy, dan Billy. Tidak dikantor, tidak di lokasi kejadian, rumah sakit, dirumah ini, bahkan sampai diatas ranjang tidur kita," cerocos Hartawan ngomel tidak jelas sembari membalikan tubuh membelakangi isterinya.


Rosalie melongo memandangi punggung suaminya.


"Wah bagus dong, ternyata Billy populer juga, heum," Rosalie keluar dari dalam selimut lalu duduk bersandar pada headboard ranjangnya, matanya masih melirik suaminya, berharap ucapannya mendapat respon.


"Sepertinya tongkat estafet kepopuleran Papah dahulu saat.masih muda akan berpindah tangan pada Billy. Ya, sesuai jamannya, digenerasi yang baru," sambung Rosalie. Ia masih melirik pada suaminya, menunggu respon dari suaminya yang tetap bergeming pada posisi memunggungi dirinya.


Setelah beberapa menit berlalu masih sepi, tidak ada pergerakan, tidak ada suara, apalagi respon, Rosalie bangkit dari ranjang. "Mamah mau mengambil air putih dulu," ucapnya lalu bergegas. Ia tahu, walau tidak ada jawaban, suaminya itu pasti belum tertidur.


Sebenarnya ia bisa saja meminta asisten rumah tangganya untuk mengambil air minum dan mengantarkannya kekamar, tapi ia teringat Rosalia yang makan malam seorang diri saat suaminya memaksanya masuk kamar lebih awal dan hanya diam-diaman saja ditempat tidur.


"Kok makan malamnya hanya dipandangi saja, Sayang?" tanya Rosalie, melihat piring dihadapan Rosalia yang belum diisi makanan.


"Gak selera makan Mah, gak ada temannya," sahutnya dengan raut cemberut.


"Ya udah, Mamah temani Rosa makan ya," Rosalie duduk dihadapan putrinya, ia lalu mengisi sesendok nasi, lalu memasukan beberapa jenis sayuran kesukaan Rosalia dan sepotong ikan saus, juga sepotong daging panggang.


"Ayo, dimakan. Ini sudah kemalaman kalau ditunda-tunda makannya," Rosalie menaruh piring yang baru saja ia isi didepan putrinya.


"Mamah belum tidur?" tanya Rosalia sambil mengunyah makanannya.


"Ya belum dong Sayang, Masa Mamah bisa kemari kalau sudah tidur?" gurau Rrosalie.


"He he, iya juga sih. Kayak nya Rosa salah nanya. Mamah kenapa belum tidur?" ralat Rosalia disertai cengirannya.


Rosalie tersenyum, melihat putrinya itu masih menanyakan tujuan yang sama walau diubah kalimatnya. "Mamah mau ambil air minum untuk dibawa kekamar," sahutnya.

__ADS_1


"Ah Mamah suka ngerepotin diri sendiri, kan tinggal minta bi Uni, bisa langsung dianterin." Rosalia menambah sayuran kepiringnya, lalu mulai mengunyah lagi.


"Ya, hitung-hitung bakar kalori, lumayan kan turun naik tangga malam-malam sebelum tidur," ucap Rosalie sembari tersenyum. "Sekalian nemenin putri Mamah makan malam." sambungnya lagi.


"Mamah memang TOP deh, apa-apa dijadikan olah raga," puji Rosalia. "Ma kasih juga ya Mah udah mau nemenin Rosalia makan malam." Ia mengambil gelas air putihnya lalu meneguknya hingga habis.


"Tadi siang Rosa ngajak Billy makan malam dirumah Mah. Kayanya Billy lupa," ucapnya sambil mengupas buah. Begitulah Rosalia, ia selalu berkisah pada ibunya, hal penting maupun yang remeh-temeh, sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil.


"Pantas saja Billy tadi ke rumah.," batin Rosalie, ia tetap mendengar karena putrinya itu suka sekali didengarkan bila ia sedang berkisah.


"Billy lupa?" Rosalie mengulang perkataan putrinya.


"Heum," Rosalia mengangguk mengiyakan. "Mamah mau?" gadis itu menyodorkan buah yang sudah ia potong-potong didalam piring pada ibunya.


"Tidak, kau saja Sayang, tadi Mamah sudah," tolak Rosalie. Rosalia lalu menarik kembali piring buahnya dan mulai mencomot sepotong lalu memasukannya kedalam mulutnya.


"Itu sebabnya tadi Rosa menduga kalau Billy yang datang. Ishhh! Malah Mamang tukang sayur," gerutunya.


Rosalia tidak menyadari senyuman ibunya, ia sibuk dengan cerita dan kekesalan hatinya sambil terus mengunyah potongan demi potongan buah dari piringnya.


"Apa laki-laki seperti itu Mah, suka lupa padahal sudah berjanji?" Rosalia memandang wajah ibunya.


"Papahmu tidak Sayang, dia suami yang selalu menepati janjinya. Pernah juga sih tertunda karena sedang menjalankan tugas, tapi setelah itu ia menepati janjinya waalau terlambat."


"Itu saat sudah jadi suami Mah, kalau status masih berpacaran gimana?" tanya Rosalia penasaran.


"Heum, apalagi masih pacaran Sayang,, Papahmu sangat perfect, tidak pernah telat, karena kalau telat sudah tau konsekuensinya." Rosalie tersenyum, mengingat masa-masa pendekatan suaminya itu dengannya, sungguh tidak terlupakan.


"Apa konsekuensinya Mah?" Rosalia menatap ibunya penasaran.


"Ini rahasia orang tua.Tidak boleh tau," ucapnya sembari mengembangkan kelima jarinya diudara dengan menggoyangnya rusuh kekiri dan kanan.


"Please., kasih tau satu aja dong Mah konsekuensinya itu apa, please," pintanya dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Baiklah, satu aja yah. Waktu kami masih status pacaran, Mamah mengancam akan putus dengan Papahmu kalau dia berani ingkar janji. Itu sebabnya sampai Mamah dan Papah menikah hingga sekarang, Papahmu itu tidak pernah ingkar janji," terangnya bangga.


"Heum, Mamah memang luar biasa sampai-sampai Papah patuh banget seperti itu," Rosalia mengacungkan dua jempolnya pada sang Mamah dengan senyum lebarnya.


Selang beberapa waktu, senyum lebar itu memudar hingga tinggalah wajah Rosalia yang menekuk. "Tapi sayang, Rosa tidak bisa mengikuti jejaknya Mamah," ucapnya dengan raut sedih. "Pacaran aja belum, mana bisa minta putus," wajah Rosalia kian menekuk.


"Rosa, Rosa, kau lucu sekali sih, Sayang." Rosalie tertawa sembari mengacak pelan pucuk rambut putrinya yang terlihat sedih. "Sekarang telepon Billy pakai ponselmu itu, jadi kau bisa tahu dia lupa atau tidak," idenya, begitu melihat ponsel Rosalia tergeletak disebelah kanan putrinya itu.


"Sudah Mah," sahut Rosalia masih sedih. "Billy sekarang berada dirumah Daddy dan Mommy-nya, sedang belajar merawat bayi. Dia sama sekali tidak ingat janji makan malamnya bersama Rosa, Mah!" ucapnya sedih bercampur kesal.


"Yang membuat Rosa bertambah kesal itu Mah, udah Billy nggak minta maaf karena gak jadi makan malam, Billy juga loadspeaker ponselnya. Jadi selain Willy, nona Hanaria dan Oma Agatsa juga dengar obrolan kami ditelepon." adu Rosalia berapi-api. "Pokoknya Rosal malu, malu banget Mah!" sambungnya setengah memekik, menumpahkan segala rasa sedih, kesal, malu, kecewa, dan marah jadi satu.


"Bener seperti itu?"


"Bener Mah, masa Rosa mengada-ada," ucap Rosalia kembali berubah sedih.


"Menurut Mamah sih itu memang sedikit keterlaluan," ucap Rosalie pelan dan hati-hati, tidak ingin membuat putrinya itu bertambah sedih.


"Tapi yang lebih keterlaluan itu Papahmu, Sayang,"


"Maksud Mamah? Dan apa hubungannya dengan Papah?" ucapnya acuh, masih memikirkan kesedihan dan kekesalannya pada Billy.


"Iya, Papahmu itu keterlaluan. Billy tadi sudah datang kemari. Yang kau sangka si Mamang tukang sayur itu iya Billy, Billy yang mengebell rumah kita tadi." terang Rosalie jujur.


"J-jadi Billy sudah kemari?" tanya Rosalia kaget.


"Iya, tadi Billy kemari. Dan Papahmu mengusirnya pulang," sahut Rosalie.


"PA-PAH!!!"


Rosalie menutup daun telinganya dengan kedua tangannya. Dahsyatnya teriakan kekesalan Rosalia pada ayahnya hampir saja memecahkan gendang telinga dokter wanita itu.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2