
Hanaria mengerjap-ngerjapkan matanya. Cahaya matahari pagi mengintip dari balik jendela kaca yang telah dibuka gordenya langsung menyilaukan mata Hanaria yang baru saja terbangun. Ia melirik disebelah dirinya berbaring, tidak ada siapa-siapa disana, sudah kosong. Ia sempat terpana sambil mengedarkan pandangannya, saat menyadari dimana dirinya sekarang.
Hanaria menyapu seluruh sudut kamar tidur yang cukup luas berkali- kali lipat dari kamar tidurnya yang berada dirumahnya maupun yang ada didusun, dengan cat berwarna putih berpadu gold.
Pandangannya berhenti pada poto pernikahan dirinya dan Willy yang berukuran raksasa sudah menempel rapi didinding kamar luas itu.
Hanaria sempat memperhatikan sejenak gambar dirinya dan juga Willy, ada sedikit debaran halus menghinggapi hatinya saat menyadari bila dirinya sudah menjadi seorang isteri.
Jujur saja, ini masih seperti mimpi bagi Hanaria. Bagaimana mungkin ia bisa menikahi laki-laki yang tidak mencintainya begitu juga sebaliknya. Mereka sering bertengkar saat bertemu sebelum menikah, dan sekarang harus selalu bersama, batinya.
Ceklek!
Hanaria menoleh kearah sumber suara, dimana Willy keluar dari kamar mandi sambil mengibas-ngibaskan rambut basahnya, dan hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian pinggang hingga lututnya.
Hanaria tidak bisa mengalihkan pandangannya, ia baru menyadari bila suaminya itu selalu terlihat lebih menawan setiap kali selesai mandi, ia sudah memperhatikannya selama tiga hari belakangan ini setelah mereka menikah.
"Kau baru bangun?" tanya Willy sambil berlalu melewati Hanaria menuju lemari pakaian.
"Iya," sahut Hanaria singkat.
"Kita sekarang dimana?" tanya Hanaria, ia masih betah duduk diatas tempat tidurnya. Tanpa sadar membiarkan Willy yang memilih sendiri pakaian gantinya dari dalam lemari pakaian yang seharusnya sudah menjadi tugasnya sebagai seorang isteri.
"Di rumah tua keluarga kami," sahut Willy.
"Rumah tua?" Hanaria mengernyitkan keningnya, merasa aneh dengan sebutan rumah tua oleh suaminya itu yang terdengar menyeramkan.
"Iya rumah tua, rumah keluarga Agatsa. Rumah yang dibangun mendiang opa bersama oma." jelas Willy. Ia membawa pakaian yang sudah ia pilih dari lemari pakaian ketempat tidur dimana Hanaria berada lalu menggelarnya disana.
"Siapa saja yang tinggal disini?" tanya Hanaria ingin tahu.
"Ada Oma, ada mommy dan daddy, juga para pelayan." jelas Willy.
"Lalu kau, kakak ipar, adik ipar kembar, kenapa tidak tinggal disini juga?" tanya Hanaria saat mendengar hanya nenek dan kedua orang tuanya yang tinggal dirumah tersebut.
"Kak Billy lebih banyak tinggal dirumah dinas karena tugasnya, sedangkan Mariana dan Malizha, mereka tinggal bersama kakek dan nenek Morgan, orang tua mommy yang tinggal di Singapura, sama seperti paman Harry dan bibi Margareth." sahut Willy gamblang.
__ADS_1
"Dan aku, tinggal diapartemenku." imbunya lagi.
Hanaria menganggukan kepalanya mendengar penjelasan suaminya itu.
"Mandilah, sebentar lagi kita akan turun kebawah untuk sarapan bersama." kata Willy melihat kearah Hanaria.
Hanaria masih menatap kerah suaminya, ia tidak fokus pada ucapan Willy, karena saat ini ia sedang berfikir tentang keluarga pihak Willy yang tidak ada seorang-pun anak-anaknya yang tinggal dirumah itu bersama kedua orang tuannya.
"Hana? Hana?!" panggil Willy saat ia melihat Hanaria masih menatapnya dengan pandangan menerawang.
Willy mengikuti arah tatapan Hanaria yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya pada dirinya, mungkin ada sesuatu yang aneh atau ganjil pada bagian tubuhnya, fikirnya.
"Tidak ada yang salah," batin Willy, sambil melihat beberapa bagian tubuhnya yang bisa ia lihat.
"Hana," panggil Willy lagi, namun Hanaria masih tidak mendengar, membuat Willy bertambah heran, apa sebenarya yang sedang dilihat atau difikirkan isterinya itu saat memandangnya.
Willy yang biasanya memang hobby menggoda orang lain itu, langsung tersenyum sendiri saat ide usilnya muncul begitu saja dalam kepalanya, lalu bersiap melakukan aksinya.
"OMG!" seketika itu juga, Hanaria langsung menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya hingga ke kepala dan bersembunyi dalamnya.
"Hanya melorotkan handukku," kata Willy sekenanya sambil menahan tawannya melihat ekspresi Hanaria yang sudah ia duga.
"Cepat, pasang handukmu itu lagi!" perintah Hanaria yang merasa kesal dengan sikap Willy yang usil sepagi itu.
"Tidak mau, kau 'kan pura- pura saja tidak mau melihat. Bukankah sejak tadi kau terus saja memandangi tubuhku dengan rasa kekagumanmu itu?," sahut Willy. Ia masih berusaha keras menahan tawanya.
"Kau, kau memang manusia tidak waras." gerutu Hanaria. Ia beringsut dari tengah ranjang menuju tepinya.
Brugh.
Hanaria terguling kelantai didalam selimut tebalnya. Belum sempat Willy membantunya, Hanaria sudah kembali berdiri dan dengan cepat keluar dari selimut dan berlari menuju kamar mandi dengan menyeret selimut tebalnya.
"Hana, kau lucu sekali. Aku juga tidak tega membiarkan aset berhargaku dilihat begitu saja sebelum waktunya," gumam Willy, sambil melepaskan tawanya saat Hanaria sudah mungunci dirinya dalam kamar mandi. Ia tidak benar-bemar polos, tapi masih menggunakan CD-nya saat sengaja melorotkan handuknya dihadapan Hanaria.
*
__ADS_1
Hanaria, mengintip dari balik pintu kamar mandi yang ia buka sedikit, ternyata Willy sudah berpakaian rapi, mengenakan kemeja lengan panjang dan celana kainnya yang licin, sambil duduk disofa dekat pintu menuju balkon dan membaca surat kabar ditangannya.
"Kau sudah selesai?" tanya Willy, ia meletakan surat kabar yang ia pegang diatas meja, saat melihat Hanaria keluar dari kamar mandi dan masih menggunakan selimut tebalnya.
"Sudah," sahut Hanaria singkat. Ia menuju koper miliknya yang berada disamping lemari pakaian bersama koper milik Willy.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Willy.
"Tentu saja mengambil pakaianku dari dalam koper ini," sahut Hanaria yang sedang menarik resleting kopernya.
"Jangan," larang Willy sambil beranjak dari duduknya menuju lemari pakaian yang tertutup rapi lalu membukanya.
"Kenapa?" tanya Hanaria sambil menoleh kearah Willy yang berada didepan lemari pakaian disebelahnya.
"Ini semua pakaianmu, mommy sudah menyiapkannya didalam lemari ini. Jadi selama kau berada dirumah ini, kau harus mengenakan yang ada disini." ucap Willy, sambil menarik tangan Hanaria mendekat padanya supaya dapat melihat isi lemari pakaiannya.
"Akh!" Hanaria hampir saja terjatuh kalau saja Willy tidak segera menangkapnya karena kakinya yang tersandung saat Willy menarik tangannya yang sedang memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kau masih bau, bau selimut tidur ini," Willy mengendus-endus hidungnya diarea tengkuk Hanaria, membuat isterinya itu merasa tersinggung.
"Tapi aku sudah mandi!" protes Hanaria ketus.
"Jangan bicara ketus lagi padaku. Aku hanya ingin kau wangi, tidak bau selimut. Aku tidak suka wanita yang tak wangi apalagi itu isteriku," ucap Willy datar pada Hanaria yang masih dalam rangkulannya.
"M-maafkan aku," ucap Hanaria lirih. Ia pun sebenarnya tidak berniat ketus pada suaminya itu.
"Aku maafkan. Dan aku adalah salah satu pria yang tidak suka mendengar isterinya yang suka ketus dan nge-gas saat berbicara pada suaminya." ucap Willy datar namun bernada tegas ditelinga Hanaria.
"Sekali lagi, maafkan aku," ucap Hanaria lagi dengan suara lirihnya.
"Aku juga minta maaf padamu, lupa memberikan handuk saat kau masuk kekamar mandi tadi." Willy melepaskan rangkulannya dari tubuh Hanaria yang sudah berdiri seimbang dihadapannya.
"Ini handukmu, bolehkan kau mandi lagi, supaya bau selimut itu tidak menempel ditubuhmu?" ucap Willy dengan melembutkan suaranya. Ia menyodorkan handuk pada Hanaria, yang di ambilnya dari lemari pakaian yang berada dihadapan mereka.
"Eum," Hanaria mengangguk, lalu menerima handuk yang disodorkan Willy padanya, dan dengan patuh beranjak menuju kamar mandi lagi.
__ADS_1
"Isteri pintar," ucap Willy sambil tersenyum.