HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 85 Belum Bisa Memutuskan


__ADS_3

Dokter Herman menghampiri Moranno Agatsa, Willy, dan pak Firman yang masih mengobrol diruang tamu.


"Bagaimana keadaan nona Hanaria dok?" Tanya Moranno Agatsa pada dokter Herman yang baru saja menyelesaikan pemeriksaannya pada Hanaria.


"Kondisi nona Hana sudah lebih baik, hanya perlu istirahat yang cukup. Usahakan nona Hana tidak terlalu kefikiran dengan apa yang telah terjadi." Ujar dokter Herman, menatap Moranno Agatsa, dan Willy. Keduanya langsung memahami, maksud dari ucapan sang dokter keluarga mereka.


"Iya dokter, kami mengerti. Dan terima kasih banyak telah memeriksakan kondisi nona Hanaria." Ucap Moranno lagi.


"Sama - sama tuan....... Sepertinya saya harus pamit dulu, masih ada pasien yang sedang menunggu." Ucap Dokter Herman, seraya membungkuk hormat pada Moranno Agatsa dan juga Willy.


"Saya pamit pak RT......" Dokter Herman memberikan senyum ramahnya pada pak Firman.


"Baik dokter..... Hati - hati dijalan." Sahut pak Firman tersenyum. Dokter Herman segera bergegas menuju pintu keluar, dan menuju mobilnya yang masih terparkir diluar pagar rumah Hanaria. Sementara Moranno Agatsa, Willy, dan pak Firman, mereka mengantarkan hingga keteras rumah, dan kembali melanjutkan obrolan mereka disana, sambil menikmati angin malam diluar rumah.


Tidak lama berselang, Yurina, Firlita, dan ibu RT keluar dari kamar Hanaria dan menghampiri ketiga pria yang sedang asik mengobrol diteras rumah.


"Firlita, kami permisi dulu ya...... Jaga kesehatanmu, juga kandunganmu ya...... Untuk Hanaria, ingatkan dia untuk menghabiskan buburnya itu." Ucap Yurina pada Firlita, sambil .menyentuh punggung gadis mungil itu.


"Iya nyonya...... Terima kasih banyak...... Terima kasih juga untuk bubur yang nyonya bawa buat kak Hana. Semoga dengan memakan bubur buatan nyonya, kak Hana cepat sehat. Ini kotak makannya, sudah Firlita bersihkan nyonya." Firlita memberikan paper bag ditangannya kembali pada Yurina.


"Sama - sama Firlita." Sahut Yurina sambil tersenyum hangat, dan menerima paper bag miliknya dari tangan Firlita.


"Suamiku..... Willy....... Ayo kita pulang." Ajak Yurina menatap suami dan putranya yang sudah bersiap untuk pulang.


"Bu RT....... dan pak RT , kami pamit....... " Ucap Yurina sambil tersenyum. Moranno dan Willy ikut tersenyum ramah.


"Iya nyonya, hati - hati dijalan........" Sahut ibu RT turut tersenyum ramah.

__ADS_1


Moranno Agatsa menggandeng pundak isterinya mesra, berjalan dibelakang Willy yang mendahului mereka untuk membukakan pintu mobil bagi kedua orang tuannya itu.


Willy membunyikan klaksonnya sekali, dan dibalas lambaian tangan oleh Firlita, Pak RT, dan ibu RT. Selanjutnya, ia memundurkan mobilnya keluar dari halaman rumah Hanaria, dan meninggalkan rumah itu dengan berjalan pelan.


"Bu....... Bagaimana dengan keadaan nak Hana?" Tanya pak RT pada isterinya, sesaat sesetelah mobil Willy sudah tidak terlihat lagi.


"Nak Hana sudah lebih baik pak, ia sedang beristirahat dikamarnya. Kita pulang juga sekarang ya pak, sudah malam......." Ajak bu RT yang bersuara lembut itu pada suaminya.


"Baik bu......" Sahut pak Firman menyetujui.


"Nak Firlita....... kami pulang dulu ya, salam pada nak Hana, jaga kesehatan kalian berdua masing - masing." Pesan pak Firman pada Firlita.


"Iya pak RT dan ibu RT, terima kasih banyak telah mengunjungi kami." Firlita lalu mencium punggung tangan pak Firman dan isterinya itu, sebelum mereka pulang meninggalkan rumah Hanaria.


...***...


Willy melirik sejenak kearah ibunya yang duduk dibelakangnya bersama ayahnya lewat kaca spion didepannya.


"Belum mommy......" Sahut Willy datar, kembali menatap fokus kedepan.


"Kapan Willy?" Tanya Yurina lagi masih menatap wajah putramya lewat kaca spion depannya.


"Please mommy......ini keputusan yang sulit buat Willy, Willy tidak bisa memutuskannya tanpa pemikiran yang matang, tidak semudah membalikkan telapak tangan mom...... Mommy pasti tahu itu." Willy menunjukkan wajah kesalnya pada sang mommy, seolah ibunya itu menekannya. Yurina mendadak gemas mendengar jawaban putranya itu.


"Bagaimana kalau kita balik begini saja Willy...... Seharusnya kau memikirnya dengan matang - matang, sebelum melakukan tindakan yang kau sebutkan 'HUKUMAN' yang tidak masuk akal itu. Tindakan 'HUKUMAN' mu itu, sudah membuat seorang gadis yang bernama HANARIA menderita hingga sakit seperti tadi."


"Lalu dengan mudahnya kau memberi jawaban pada mommy, bahwa itu adalah keputusan yang sulit. Yang telah terjadi pada nona Hanaria, adalah akibat dari perbuatanmu, dan sekarang dirinya sedang menghadapi hasil dari perbuatan konyolmu itu Willy, mendapat cibiran, cemooh, bahkan hinaan dilingkungan pekerjaannya, tempat tinggalnya, bahkan dimasyarakat, karena televisi - televisi itu telah memberitakannya. Dan entah dari mana mereka mendapatkan sumbernya. Dan, dirimu Willy! Apa yang telah kau lakukan, untuk membuat semuanya ini menjadi kembali kondusif. Belum ada bukan?? Bahkan kau belum mencari tahu, siapa dalang penyebar video itu!" Yurina terlihat bertambah gemes pada putranya yang selalu berusaha mencari alasan dalam memberi keputusannya.

__ADS_1


Willy terdiam, apa yang telah dikatakan ibunya itu adalah benar. Ia seolah berpangku tangan, tidak melakukan apa - apa, bahkan ia tidak kefikiran siapa yang membuat rekaman video itu. Sedangkan Hanaria, pegawainya perempuannya itu kini telah menjalani akibat dari tindakannya itu.


Moranno Agatsa yang duduk disamping isterinya tidak berkomentar apapun, ia hanya mendengarkan perdebatan antara isteri dan putranya itu, namun matanya terus menatap wajah Willy melalui kaca spion didepan putranya itu dengan tatapan tajam.


Willy memelankan kecepatan kendaraannya, saat mobil sport merah yang ia kemudikan sudah berada didekat pagar kokoh rumah milik keluarga Agatsa. Dua security jaga tergopoh - gopoh membukakan pagar dan memberi hormat.


Willy kembali menjalankan mobilnya dengan pelan memasuki halaman luas mansion milik kelurga Agatsa, hingga berhenti tepat didepan pintu utama. Seorang security jaga berlari - lari kecil mendekati Willy dan kedua orang tuanya yang baru saja turun dari dalam mobil.


"Selamat malam tuan, nyonya, dan tuan muda....." Ucap security jaga itu terengah - engah sambil mengatur nafasnya, dan tidak lupa membungkuk hormat.


"Ada apa pak?" Tanya Moranno menatap security jaga itu.


"Permisi tuan...... saya mengantarkan ini....." Security jaga itu mengulurkan kedua tangannya pada Moranno, memberikan satu amplop putih yang masih terkunci rapi ditangannya.


"Terima kasih...... " Moranno menerima amplop putih itu sambil memperhatikan tulisan yang tertera disana.


"Saya permisi tuan......" Pamit security itu. Ia membungkuk hormat lalu kembali ke pos jaga.


Sepeninggal security itu, Moranno membuka kuncian amplop itu, dan meraih lembar didalamnya. Sementara Yurina, dan Willy memperhatikan wajah Moranno Agatsa yang sedang membaca lembaran ditangannya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak.


"Apa itu suamiku?" Tanya Yurina, sesaat setelah ia melihat Moranno selesai membaca lembaran putih ditangannya.


"Surat panggilan dari kantor polisi sayang, untuk Willy putra kita." Sahut Moranno Agatsa datar, lalu memberikan surat dan amplop ditangannya begitu saja pada Willy. Willy segera menerimanya dengan sigap, karena lembaran surat dan amplop itu hampir saja melayang jatuh keubin dibawahnya.


"Besok..... kau harus kekantor polisi, memenuhi undangan itu Willy." Ucap Moranno, ia lalu meraih tangan isterinya dan berlalu pergi memasuki rumah besarnya, meninggalkan Willy yang sedang membaca surat yang telah dibaca dirinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2