HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
144. Perkenalan Keluarga part 2


__ADS_3

"Hana, ini nenek-nya mommy, kau boleh memanggilnya nenek buyut Naomi," kata Yurina memperkenalkan seorang wanita yang sudah sangat lanjut dan berambut putih lembut.


Hanaria dan Willy mendekati nenek buyut yang baru diperkenalkan. Willy langsung meletakan kepalanya dipangkuan wanita tua itu sambil menggosok- gosokan wajahnya disana.


"Willy, kebiasaanmu memang tidak pernah hilang," keluh sang buyut bernada bahagia, sambil mengusap lembut rambut Willy yang rapi.


"Aku sangat merindukanmu nenek buyut," ujar Willy sambil mendongakan wajahnya menatap sang nenek buyut yang sudah sangat lanjut itu.


"Omong kosong! Kalau kau memang merindukan nenek buyutmu ini, kau tinggal menyeberangi lautan dengan kapal laut atau terbang dengan pesawat yang tidak menghabiskan waktu seharian perjalanan," cela sang buyut sambil mengacak-acak rambut rapi cucu buyutnya.


"Hanya Edward yang selalu menjaga nenek buyut," imbuh nenek buyut yang bernama Naomi itu.


"Maafkan Willy nenek buyut, Willy sibuk berkerja untuk mengumpulkan banyak uang supaya bisa menikah dan cepat memberi nenek buyut seorang piut." sanggah Willy tak habis jawaban.


"Kau ini Willy, selalu saja ada jawaban, menyingkirlah! Nenek buyut mau melihat isterimu," usir nenek buyut dengan suara tuanya yang masih bisa didengar jelas.


Willy segera menyingkir setelah mendapat pengusiran dari sang nenek buyutnya yang hanya bercanda.


"Salam nenek buyut," sapa Hanaria sambil menyatukan kedua tangannya didepan dada, dan mendekati wanita yang tertua dikeluarga itu, lalu mencium punggung tangannya dengan hati-hati.


"Siapa namamu?" tanya sang nenek buyut lembut.


"Hanaria nenek buyut, cukup dipanggil Hana saja," sahut Hanaria sopan.


"Semoga kau sabar menjadi isteri cicitku Willy ya Hana, diantara para cicitku, hanya dia yang sulit diatur dan suka berulah, yang lainnya manis semua," ucap sang nenek buyut apa adanya, membuat Willy menoleh kearah buyutnya seolah tak terima bila hanya dirinya saja yang dianggap cicit yang tidak patuh.


"Kenapa? Apakah kau tidak terima?" tanya buyut Naomi menoleh kearah Willy.


"Tidak-, Willy tidak masalah, Willy terima saja," sahut Willy pasrah sambil menggeleng rusuh.

__ADS_1


"Baguslah, mulai sekarang kau tidak boleh banyak ber-ulah lagi seperti yang sering kau lakukan saat tinggal bersama bibimu di Singapura dulu," kata sang nenek buyut lagi. Hanaria hanya turut mendengarkan saja, entah ulah apa yang dilakukan Willy waktu itu, ia tidak berani menduga-duga.


"Nenek buyut sangat bersyukur, bisa melihatmu Hana, isteri dari cicitku Willy. Semoga saja nenek juga bisa melihat piut buyut seperti yang Willy katakan tadi," ucap buyut Naomi sambil mengurai senyum hangatnya pada Hanaria, membuat gadis itu sedikit salah tingkah mendengar ucapannya. Namun Hanaria berusaha bersikap setenang mungkin.


"Saya juga turut bersyukur, bisa bertemu langsung nenek buyut, orang yang tertua dikeluarga besar kita." ucap Hanaria.


"Sejak kecil saya sudah tidak memiliki seorang kakek dan juga nenek, baik dari pihak ayah, maupun dari pihak ibu, nenek buyut," imbuh Hanaria.


"Itulah Hana, nenek buyut juga merasa heran. Sepertinya Tuhan lupa pada nenek buyut, sehingga sampai setua dan serenta ini, nenek masih hidup karena belum dipanggil pulang," ucap nenek buyut Naomi terkekeh, membuat seisi ruang makan ikut terkekeh bersamanya.


"Rupanya bakat ngebanyol Willy menurun dari nenek buyut Naomi," batin Hanaria yang turut tertawa kecil bersama semua keluarga besar diruangan itu.


"Marina! Malizha! Beri salam pada kakak ipar kalian," panggil Yurina pada kedua putri kembarnya.


Keduanya mendekati Hanaria dan Willy lalu mencium punggung tangan keduanya dengan hormat secara begantian.


Keduanya juga bangkit dari duduknya dan mendekati Hanaria dan Willy lalu mencium punggung tangan pasangan pengantin baru itu secara bergantian.


"Firlita! Kemari sayang, kau juga harus memberi salam dan ucapan selamat pada kakakmu," kata Yurina sambil mengulas senyumnya menatap kesatu arah, diantara para putri kembarnya dan keponakan kembarnya.


Hanaria terkesiap, ia menatap Firlita dengan perut besarnya yang seperti bola melangkah dari antara saudara-saudara Willy dan sepupu-sepupunya. Ia tidak menyangka bila adik angkat yang ia rindukan itu berada dirumah keluarga suaminya.


"Firlita! Bagaimana kau ada disini?" ucap Hanaria, ia menyentuh wajah Firlita dengan kedua tangannya seakan tidak percaya.


"Nyonya Yurina yang menjemputku kemari kak, saat mereka pulang dari dusun dua hari yang lalu.


"Terima kasih ny-nyonya, m-mommy," ucap Hanaria tergagap, rasa bahagianya melihat Firlita membuatnya salah mengucapkan panggilannya pada ibu mertuanya itu.


"Sama-sama Hana," sahut Yurina. Ia mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Mommy hanya tidak ingin melihatmu merasa khawatir Hana, jadi mommy mengajak Firlita kemari. Sesuai keinginanmu sayang," imbuh Yurina masih tersenyum.


Hanaria menatap wajah ibu mertuanya, sorot matanya mengungkapkan rasa terima kasih yang tidak terhingga, karena pihak keluarga suaminya itu juga mau menerima Firlita ada ditengah-tengah keluarga mereka.


Hanaria dapat melihat, bahwa keluarga dari suaminya itu sangat serius menepati semua persyaratan yang ia minta dalam 10 point permintaannya, termasuk meminta Firlita untuk ikut dengannya setelah ia menikah dengan Willy.


"Billy tidak bisa berkumpul bersama-sama kita hari ini karena ada tugas negara yang tidak bisa ia tinggalkan," jelas Yurina mengenai ketidak-hadiran putra sulungnya ditengah-tengah keluarga besar itu.


"Hana, kami semua menyambutmu dengan senang hati, kau sekarang sudah menjadi bagian dari anggota keluarga Agatsa, keluarga besar Morgan juga," kata Yurina mengakhiri perkenalan keluarga pagi itu.


"Mari kita sarapan dulu, nanti keburu dingin, semuanya sudah siap dimeja makan," kata Yurina mempersilahkan keluarga besarnya menyantap sarapan pagi bersama.


Selesai sarapan pagi Hanaria meminta ijin pada Willy suaminya dan ibu mertuanya untuk diberi waktu mengobrol sejenak dengan Firlita, mengingat jadwal yang sudah diatur oleh Yurina untuk memberi pembelajaran pada menantunya mengenai tata aturan dalam keluarga Agatsa.


Hanaria menarik tangan Firlita untuk mengikutinya menuju pintu keluar yang menghubungkan ruang makan dan taman samping.


Hanaria yang baru menginjakan kakinya dirumah besar itu dihari pertamanya setelah kepulangannya dari dusun semalam, membawa Firlita dengan hati-hati duduk dikursi taman yang tidak jauh dari kolam teratai.


"Bagaimana keadaanmu Fir, kakak khawatir meninggalkanmu sendiri dirumah, saat berangkat kedusun waktu itu," kata Hanaria, ketika keduanya sudah duduk dikursi taman, sambil menggenggam kedua tangan Firlita.


"Aku baik kak," sahut Firlita ikut menggenggam erat tangan Hanaria, ia terlihat sangat bahagia karena bisa melihat dan bertemu Hanaria lagi.


"Seharusnya-, kak Hana tidak perlu meminta nyonya Yurina membawaku kerumah ini, aku tidak enak merepotkan kak Hana terus," ungkap Firlita.


"Jangan bicara begitu Firlita, kakak tidak merasa kau repotkan," ucap Hanaria menatap lekat wajah Firlita dihadapannya.


"Justru kakak merasa senang kau berada disini, jadi kak Hana tidak perlu khawatir lagi kau tinggal sendirian," imbuh Hanaria.


"Bagaimana keadaan kandunganmu sekarang, dan apa kata dokter Rosalia?" tanya Hanaria sambil mengelus perut Firlita yang sedang bergerak-gerak aktif.

__ADS_1


__ADS_2