HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 88 Makan Siang


__ADS_3

Willy melirik sekilas kearah Hanaria yang mengenakan seragam barunya tanpa berucap. Hari itu, dimatanya, Hanaria telihat berbeda. Ia lalu melangkah keluar dari lobby dengan langkah kaki panjangnya, membuat sekretaris Morin tergagap mengejarnya.


"Maaf tuan muda......." Sekretaris Morin segera berlari kecil mengikuti langkah tuannya itu. Sementara Hanaria mengikuti keduanya dengan langkah santainya.


Willy masuk kedalam mobilnya dan duduk dibelakang kemudi.


"Mau kemana nona Hana?" Panggil Willy yang melihat Hanaria melewati mobilnya.


"Ke mobil saya tuan....." Sahut Hanaria, ia berbalik melihat kearah tuannya itu.


"Kita berangkat satu kendaraan saja.....!" Kata Willy lagi.


"Saya tahu alamat yang akan kita tuju tuan muda. Lagi pula setelah selesai pertemuan nanti, saya akan pergi kesuatu tempat, dan saya sudah meminta ijin keluar pada tuan Moranno lewat asisten Rudi." Ucap Hanaria masih berdiri menghadap Willy.


"Kita tetap harus satu kendaraan, jangan banyak alasan lagi nona Hana. Dan aku akan mengantarkanmu ketempat yang kau maksud, setelah pertemuan kita dengan tuan Mondie Gafarlie. Dan satu hal lagi, aku paling tidak suka mengulangi ucapanku." Ucap Willy dengan nada tidak mau dibantah.


Hanaria mendengus. Tapi ia tetap melangkah menuju pintu mobil Willy, lalu masuk dan duduk dikabin belakang, tepat dibelakang Willy. Sekretaris Morin yang menyaksikan semuanya itu menyunggingkan senyumnya, dirinya merasa senang karena mendengar nada bicara ketus majikannya itu terhadap Hanaria.


"Sekretaris Morin, siapa yang mengijinkanmu duduk disitu..... ? Pindah kebelakang, bersama nona Hanaria......!" Perintah Moranno pada sekretarisnya itu.


Wajah Morin memerah menahan malu, hatinya bertambah geram pada Hanaria. Bila saja Hanaria tidak satu mobil dengan mereka, tentu saja tuannya itu akan mengijinkan dirinya duduk disebelahnya.


Dengan terpaksa, sekretaris Morin membuka pintu mobil disampingnya, ia turun dan berpindah kebelakang, dan duduk disebelah Hanaria.


"Pasang sabuk pengaman kalian berdua......" Ucap Willy. Ia mengidupkan mesin mobilnya, dan mulai menjalankannya dengan perlahan. Suasana dalam mobil cukup hening, tidak ada seorangpun diantara ketiganya yang membuka percakapan.


Ponsel Hanaria tiba - tiba berbunyi, walau volumenya kecil, tapi cukup menyita perhatian Willy dan sekretaris Morin ditengah keheningan mereka. Hanaria menatap layar ponselnya, melihat satu nama yang terus menelponnya selama dua hari belakangan ini.


Hanaria mengabaikannya, pria itu pasti membahas yang itu - itu saja secara berulang - ulang. Ponsel Hanaria kembali berbunyi, namun dirinya kembali mengabaikannya.

__ADS_1


"Kenapa tidak diangkat nona Hana? Apakah kau merasa tidak nyaman, karena ada diriku dan tuan muda?" Ucap sekretaris Morin menoleh kearah Hanaria yang belum mau mengangkat ponselnya yang terus berbunyi. Sementara Willy tetap fokus pada kemudinya dan bersikap acuh.


"Yang jelas, saya punya alasan sendiri bila tidak mengangkatnya sekretaris Morin. Dan saya rasa, ini tidak merugikan anda bukan?" Sahut Hanaria.


"Tapi suara deringan ponselmu cukup mengganggu...." Ucap sekretaris Morin merasa tidak senang.


"Saya sarankan, sebaiknya anda lakukan saja, apa yang menjadi tugas pekerjaan anda sekretaris Morin, jangan menambah beban fikiran anda dengan urusan yang bukan menjadi tanggung jawab anda. Saya khawatir anda tidak sanggup untuk menanggungnya." Sahut Hanaria datar. Sekretaris Morin tersenyum sinis mendengar perkataan Hanaria. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan wanita yang duduk disampingnya itu.


Ponsel Hanaria kembali berbunyi, ia menatap layar ponselnya yang menyala, masih penelpon yang sama. Sekretaris Morin melirik Hanaria sekilas dan kembali tersenyum sinis.


"Hallo tuan......" Hanaria akhirnya mengangkat teleponnya, dan menempelkannya didaun telinganya. Terdengar suara seorang pria diseberang sana.


"Maafkan saya tuan....... saya tidak bisa, sampaikan pada majikan anda, bukankah saya dan majikan anda sudah saling sepakat saat dikantor polisi." Sahut Hanaria pada lawan bicaranya disambungan telefon. Kembali Hanaria terlihat sedang mendengarkan, apa yang sedang disampaikan lawan bicaranya, dengan wajahnya yang semakin serius.


"Saya percaya, tidak semuanya bisa dibeli dengan uang majikan anda tuan. Saya tetap pada kesepakatan semula. Maafkan saya, sekarang saya sedang sibuk." Hanaria langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari pria yang sedang mènelponnya. Ia lalu memasukan ponselnya kembali kesakunya.


"Misteri apa yang sedang anda sembunyikan nona Hana? Mengapa seorang yang dikatakan berprestasi seperti anda bisa berurusan dengan polisi" Tanya sekretaris Morin dengan nada menyelidik. Wanita itu nampak sengaja berkata demikian untuk melihat reaksi sang majikannya yang sedang fokus pada kemudinya.


"Saya rasa, sebagian orang bisa saja berurusan dengan pihak kepolisian sekretaris Morin. Dan bagi saya tidak ada yang salah, bila itu untuk mencari keadilan dan perlindungan dari penegak hukum, berbeda halnya bila kita melakukan tindak kriminalisasi." Ucap Hanaria. Ia merasa heran mengapa wanita terpelajar seperti sekretaris Morin berfikiran begitu ficik, menganggap orang yang berurusan dengan pihak kepolisian adalah orang yang tidak baik.


"Kita turun sekarang......" Kata Willy yang baru saja memarkirkan mobilnya dilahan parkir restoran. Ia segera keluar tanpa menoleh pada kedua pegawai perempuannya yang masih berdebat hal yang tidak jelas. Sekretaris Morin segera turun menyusul Willy, diikuti Hanaria.


"Selamat siang tuan......dan nona - nona......" Sapa pelayan restoran dengan sikap sopan. Tatapan matanya tertuju pada Hanaria sejenak, lalu kembali beralih pada Willy yang berbicara padanya.


"Selamat siang nona...... saya sudah ada janji dengan tuan Mondie Gafarlie. Apakah beliau sudah datang?" Tanya Willy pada pelayan wanita itu.


"Apakah anda tuan Willy?" Tanya pelayan itu lagi, menatap lekat wajah Willy yang mengenakan kacamata gelapnya.


"Iya benar nona." Sahut Willy.

__ADS_1


"Sudah tuan. Mari saya antar." Willy, sekretaris Morin, dan Hanaria segera mengikuti pelayan itu dari belakang, menuju satu ruangan VIP.


"Silahkan masuk tuan, dan nona - nona." Ucap sang pelayan wanita itu mempersilahkan, sambil membuka dan menahan pintu masuk.


"Selamat siang tuan Willy, sekretaris Morin, dan nona Hanaria......" Sapa tuan Mondie Gafarlie yang sudah menunggu didalam. Ia berdiri dan membungkuk hormat dengan asisten pribadinya.


"Selamat siang tuan Mondie Gafarlie dan asisten Ruwind." Willy turut menyapa balik, Dirinya, dan kedua pegawai wanita yang bersamanya juga membungkuk hormat.


"Maafkan kami tuan Mondie, bila anda sudah menunggu lama." Ucap Willy sambil mengulas senyum tipis dibibirnya, ia mengambil tempat duduk berhadapan dengan tuan Mondie. Sementara Hanaria dan sekretaris Morin duduk dikiri dan kananya.


"Tidak masalah tuan, saya juga sudah memesan makan siang terlebih dahulu sesuai selera anda yang saya ketahui dari sekretaris Morin. Kita akan makan siang dulu baru melanjutkan perbincangan kita." Sahut tuan Mondie Gafarlie pada Willy.


"Nona, tolong antarkan pesanan kami sekarang." Ucap tuan Mondie Gafarlie pada pelayan restoran yang mengantarkan Willy, Hanaria, dan sekretaris Morin ketempat itu.


"Baik tuan." Pelayan itu segera bergegas, tidak lama ia kembali bersama dua pelayan wanita lainnya yang membantunya untuk menyajikan menu makan siang diatas meja.


Hanaria menatap sebagian jamuan makan siang diatas meja yang sudah tersaji. Ada Yakitori, Sashimi, Sushi, dan berbagai makanan khas Jepang lainnya. Ia memang pernah mencicipi menu - menu makanan itu, namun lidahnya sangat sulit menerimanya.


"Tuan Mondie...... Apakah saya boleh memesan makanan khas dalam negeri saja?" Ucap Hanaria sambil menatap tuan Mondie Gafarlie yang duduk berseberangan dengan dirinya. Sekretaris Morin yang mendengar permintaan Hanaria berusaha menahan senyumnya. Sementara Willy tidak berespon apa - apa, ia hanya melepaskan kacamata gelapnya, dan mengaitkannya disaku kemejanya.


"Tentu saja nona Hana......." Sahut tuan Mondie ramah.


"Nona...... tolong berikan daftar menu pada nona Hanaria." Ucap tuan Mondie pada pelayan yang masih belum selesai menghidangkan jamuan diatas meja.


"Baik tuan....." Pelayan itu lalu mengambil buku daftar menu dan memberikannya pada Hanaria. Setelah membolak - balik lembaran demi lembaran, Hanaria akhirnya menuliskan pesanannya dan memberikannya kembali pada pelayan restoran.


"Maafkan saya nona Hanaria, saya tidak tahu kalau anda tidak menyukai makanan khas Jepang." Ucap tuan Mondie Gafarlie, sesaat setelah pelayan restoran itu pergi.


"Bukan tidak suka tuan Mondie, tapi lidah saya tidak terbiasa saja. Mungkin karena saya berasal dari dusun, jadi hanya makan - makanan dalam negeri saja yang sering saya nikmati. Saya pernah mencoba, tapi tidak sanggup saya habiskan." Sahut Hanaria sopan, ia berusaha mengatur kata - katanya, supaya tuan Mondie tidak merasa tersinggung dengan ucapannya.

__ADS_1


Tuan Mondie tersenyum mendengar penuturan Hanaria.


__ADS_2