HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
199. Teguran Willy


__ADS_3

Billy memperhatikan Willy yang sedang berusaha menelan kunyahan sayuran didalam mulutnya dengan susah payah. Ia harus beberapa kali menahan napas melihat kelakuan adik kembarnya itu melakukan apa yang tidak biasa ia makan.


"Kenapa kau menyusahkan dirimu dengan memakan sayuran yang tidak kau suka?" tanya Billy akhirnya. Sementara garpu ditangannya sedang mencocol daging kedalam saos sambel dan segera masuk kedalam mulutnya.


"Semua karena Hanaria," sahut Willy lalu memasukan kembali wortel dan brokoli secara bersamaan kedalam mulutnya, dan mengunyahnya dengan penuh perasaan.


"Apa isterimu itu memaksamu?" tanya Billy menatap Willy sambil mengunyah. Ia sangat mengenal adiknya itu, ibu mereka saja yang selalu berusaha menyajikan sayuran dengan hiasan hidangan semenarik mungkin, tidak mampu membuat Willy menyentuh hidangan sayuran apalagi sampai memakannya.


"Tidak, aku sendiri yang mau. Karena katanya lebih baik makan vitamin langsung dari sayuran dan buah-buahan dari pada minum vitamin dalam bentuk tablet ataupun kapsul." kata Willy sambil mengingat perkataan Hanaria padanya setiap kali melihat dirinya menelan beberapa vitamin sebelum tidur.


"Bagaimana kak, bisakah dirimu menolong isteriku? Aku tidak tega membiarkannya terjerat kasus hukum," ujar Willy mengalihkan pembicaraan, setelah berhasil menghabiskan semua makan siangnya. Itulah tujuan utamanya mengajak kakaknya untuk makan siang direstoran yang jaraknya tidak jauh dari kantornya.


"Biarkan adik ipar menjalani prosesnya Willy, ini negara hukum," sahut Billy santai. Ia memasukan suapan terakhirnya lalu segera meraih gelas jusnya dan meminumnya hingga habis.


"Kak Billy tega melihat Hanaria ditahan? Dia itu isteriku kak," ucap Willy menatap wajah kakaknya tidak percaya. Selama ini ia tahu Billy, kakaknya itu tidak pernah tinggal diam bila salah satu anggota keluarga Agatsa mengalami masalah yang berkaitan dengan hukum.


"Willy, kau bicara seolah-olah percaya bila isterimu itu bersalah saja," sahut Billy menyela ucapan adiknya itu, ia mengusap sudut-sudut bibirnya menggunakan tissue yang diambilnya dari atas meja.


"Adik ipar adalah wanita yang pintar, dia tahu apa yang musti dia lakukan, kau jangan khawatir. Sudahlah, aku harus pergi sekarang, pekerjaanku sudah menanti," ucap Billy seraya berdiri untuk meninggalkan Willy yang masih ingin mengobrol dengannya.


"Tunggu, jangan pergi dulu," cegah Willy cepat.


"Ada apa lagi?" tanya Billy dengan raut tak sabar, sebagai salah satu anggota inteligent, dirinya memang tidak punya banyak waktu lama-lama mengobrol santai.


"Bayar dulu tagihan makan siangnya kak. Apakah kau lupa semua kartu-kartu ku dipegang oleh isteriku?" ucap Willy dengan wajah memelas.


"Hmm baiklah," Billy langsung mengeluarkan dompetnya. " Kau sudah memboroskan gajiku saja hari ini Willy. Kau tahu kan, bila gajiku sebagai abdi negara tidak sebanding dengan gajimu sebagai seorang CEO. Lain kali kau harus menggantinya dengan cara mentraktirku," imbunya Billy lagi sambil berlalu menuju kasir.

__ADS_1


...***...


"Hana!" panggil Willy.


Hanaria yang baru saja turun dari belakang kemudi mobil tambang bersama manager Antonio segera menoleh kearah dimana Willy memanggilnya, suaminya itu segera melangkah mendekat.


"Kau sudah lama menunggu?" tanya Hanaria menatap kearah Willy yang sudah berada didekatnya.


"Lumayan, hampir setengah jam yang lalu," sahut Willy. Matanya tidak sengaja melihat celana manager Antonio didaerah pangkal pahanya basah, hidungnya spontan bergerak-gerak seolah sedang mencium aroma sesuatu.


"Oh iya, perkenalkan, beliau adalah atasanku, manager Antonio, manager marketing diperusahaan Mega Otonotif ini," kata Hanaria memperkenalkan atasannya, saat dilihatnya Willy sedang menelisik tubuh manager Antonio dari ujung kaki hingga keujung rambut kepalanya.


"Willy!" ucap Willy sambil mengulurkan tangannya dan langsung disambut kikuk oleh Manager Antonio. Siapa yang tidak kenal dengan pengusaha muda yang menggantikan ayahnya di Perusahaan besar dan ternama milik Keluarga Agatsa.


"Antonio," sahutnya berusaha menampakkan senyumnya.


"Tidak tuan Willy. Bahkan di area tambang sangat panas," sahut manager Antonio sedikit salah tingkah, sepertinya pria paruh baya itu mengerti maksud pertanyaan dari suami bawahannya itu, itu sebabnya ia buru-buru mau meninggalkan tempat itu.


""Nona Hanaria, saya permisi dulu, besok kita bahas mengenai perjalanan kita hari ini. Kebetulan sekarang sudah jam pulang kerja," kata manager Antonio pada Hanaria.


"Baiklah Manager Antonio," sahut Hanaria tanpa curiga.


"Tuan Willy, saya permisi," pamit manager Antonio sambil membungkukkan sedikit tubuhnya dihadapan Willy. Setelah Willy menjawabnya dengan gumaman singkat, pria paruh baya itu buru-biru meninggalkan tempat itu.


"Ayo, kita pulang," ajak Willy setelah dilihatnya manager Antonio sudah pergi menjauh.


"Bukankah tadi pagi aku membawa mobil sendiri kemari?" ujar Hanaria mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, aku tahu itu. Tinggalkan saja mobilmu disini. Aku sengaja menjemputmu, karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu," kata Willy serius.


"Apa itu?" Hanaria nampak penasaran.


"Dimobil saja kita bicara. Ayo," Willy lalu meraih pergelangan tangan isterinya dan membawanya masuk ke mobil yang tidak jauh dari mereka berdiri.


"Hana, apakah hari ini kau kembali kebut-kebutan saat di area tambang?" tanya Willy melirik sekilas kearah Hanaria yang duduk disebelahnya. Setelah menghidupkan mesin mobilnya, ia mulai menjalankan mobilnya dengan pelan menuju pos jaga security.


"Tidak. Aku melajukan mobil dengan santai saja, nyatanya kami tiba dikantor bertepatan jam pulang kerja," sahut Hanaria berbohong. Ia mengalihkan pandangannya kearah samping, melihat security yang tengah menekan tombol portal sehingga mobil Willy yang ia tumpangi dan beberapa mobil yang berjejer dibelakang mereka bisa melintas keluar.


"Aku tidak percaya," sanggah Willy, ia membunyikan klaksonnya dua kali lalu melajukan mobilnya dijalan raya, meninggalkan area Perusahaan Mega Otomotif.


"Buktinya, manager Antonio sampai terkencing-kencing dicelananya," ungkapnya sambil memperhatikan lalu lintas yang ramai didepannya.


"Benarkah? Aku kok tidak tahu?" Hanaria menatap wajah Willy yang sedang pokus pada kemudinya.


"Sepertinya indera penciumanmu sedang bermasaalah Hana, sehingga tidak mencium aromanya. Aku juga melihat basah di area itu," ucap Willy mengambang.


Hanaria yang mendengar penuturan Willy langsung terkekeh geli. Dirinya tahu benar, bahwa Willy yang terbiasa hidup bersih pasti sangat sensitif bila melihat hal-hal yang dianggapnya menjijikan.


"Iya, maafkan aku. Aku memang sengaja melarikan mobil tambang itu hingga batas maksimal," aku Hanaria masih tertawa.


"Tapi aku punya alasan melakukannya," kata Hanaria membela diri.


"Hana, apa kau lupa perjanjian kita, kau tidak boleh kebut-kebutan lagi, apa lagi sekarang kita sedang memprogramkan kehamilanmu," ucap Willy gemas setelah mendengar jawaban isterinya.


"Kalau program kita gagal bulan ini, itu artinya dibulan berikutnya kita harus lebih sering membuatnya sampai kau benar-benar hamil," ancam Willy menunjukan wajah seriusnya, sementara didalam hatinya ia tersenyum lebar.

__ADS_1


...***...


__ADS_2