HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
174. Rekening Membengkak


__ADS_3

"Dasar perempuan dusun bodoh!" kata sekeretaris Morin disertai tawa jahatnya. Beberapa orang yang berada disekitarnya sempat menoleh dengan tatapan heran melihat tingkah gadis muda itu, saat keluar dari ruang mediasi.


Sekretaris Morin bergegas keluar dari kantor polisi, karena hasil mediasi hari ini, berkat kesaksian Hanaria satu hari sebelumnya, ia telah bebas dari tuntutan akibat penyebaran video yang ia lakukan secara sengaja sekitar dua bulan yang lalu.


"Aku bebas dari jerat hukum, dan dapat uang satu milyar pula," sambungnya lagi masih tertawa lepas sambil melangkah menuju taksi online yang telah ia pesan.


Sejak kemarin siang, malam, hingga siang ini, sekretaris Morin tidak henti-hentinya memikirkan saldo yang ada dalam rekeningnya yang membuat dirinya tidak enak tidur dan tidak enak makan karena telah banyak rencana untuk menghabiskan saldonya itu.


Sepanjang perjalanan sekretaris Morin tertawa sendiri di jok belakang mobil, membuat sopir taksi online yang melihatnya dari kaca spion dalam bergidik ngeri.


"Kita sudah sampai Nona," kata sopir taksi online, ketika ia telah menghentikan mobilnya tepat dihalaman dealer mobil ternama dikota itu. Sekretaris Morin mengambil dompet dari dalam tasnya, lalu menarik tiga lembaran uang kertas pecahan seratusan ribu rupiah dari dalamnya dan menyerahkannya pada sang driver.


"Terlalu banyak Nona," kata driver taksi online tersebut sambil menatap lembaran uang kertas ditangannya yang ia terima dari sekretaris Morin.


"Itu buat Abang, ambil saja pengembaliannya, anggap saja saya berbagi rejeki," ucap sekretaris Morin sok murah hati sambil keluar dari mobil yang ia tumpangi.


Driver taksi online melongo, belum sempat ia mengucapkan terima kasih, sekretaris Morin sudah pergi meninggalkan mobilnya. Sang driver akhirnya segera menjalankan mobilnya kembali, meninggalkan tempat itu, bersyukur telah berhasil menurunkan sang gadis aneh yang ia anggap tidak waras karena selalu tersenyum dan tertawa sendiri di jok belakang mobil. Sekalipun uangnya banyak, sang driver taksi online itu berharap tidak pernah bertemu lagi dengan gadis aneh itu.


Sekretaris Morin dengan perasaan bahagianya, melangkah memasuki dealer mobil dihadapannya. Tidak lupa ia memasang wajah datar dengan gaya elegan saat seorang pegawai dealer menghampiri dirinya.


"Selamat siang Nona, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang customer service menyambutnya dengan senyum ramahnya.


"Saya Morin Ariani, yang memesan satu unit mobil via telepon kemarin," sahut sekretaris Morin, masih dengan gaya elegan yang ia ciftakan, supaya terkesan sebagai seorang wanita yang berkelas.


"Oh, Nona Morin Ariani. Mobil pesanan Anda sudah siap. Mari saya antar untuk melihatnya," kata sang customer service, ia berjalan menuju salah satu mobil yang telah dipersiapkan di salah satu sudut showroom diikuti oleh sekretaris Morin dibelakangnya.


"Ini Nona, mobil pesanan Anda," tunjuk sang customer service itu pada pada satu unit mobil berwarna putih mengkilap yang berdiri gagah dihadapan keduanya.

__ADS_1


"Wuahh, sempurna," sekretaris Morin berdecak kagum memandang mobil yang telah ia pesan satu hari sebelumnya. Ia lalu melangkah semakin mendekat, mengitari mobil baru yang menjadi impiannya selama ini.


"Nona Morin boleh masuk sekalian mencobanya," kata sang customer service itu lagi dengan senyum yang tetap terpancar dari wajahnya, ia menyerahkan kunci kontak pada sekretaris Morin yang menerimanya dengan tangan gemetar.


Sang customer service yang melihatnya hanya tersenyum kecil, ia sudah terbiasa melihat beberapa customer yang berperilaku seperti itu karena terlalu bahagia membeli mobil baru impian mereka.


Sekretaris Morin menekan remote pada kunci kontak ditangannya.


Ceklek!


Begitu suara pintu mobil berbunyi ia segera meraih gagang pintu mobil dan masuk kedalam mobil lalu duduk dibelakang kemudi dengan senyum bahagia.


"Bagaimana? Apa saya terlihat cocok duduk dibelakang kemudi ini Nona?" tanya sekretaris Morin pada sang customer service yang masih setia menemaninya.


"Tentu saja Nona, bahkan Nona terlihat semakin cantik saat berada dibelakang kemudi mobil pilihan Nona ini," puji sang customer service tulus.


Sekretaris Morin mulai meraba, bagian demi bagian dalam kabin mobilnya, ia seolah tidak percaya bisa membeli mobil setingkat para manager yang ada dikantornya, bahkan melebihi mobil butut isteri CEO-nya yang telah menjadi anggota keluarga Agatsa yang terhormat itu, yang telah men-transfer dana kaget padannya hingga membuat rekeningnya membengkak.


Seumur hidupnya, sekretaris Morin tidak pernah bermimpi bila saldo dalam rekeningnya bisa mencapai nominal sepuluh digit seperti sekarang ini, biasanya paling tinggi tujuh digit saja, itu-pun diawal bulan, sedangkan diakhir bulan hanya bersisa lima digit saja, atau lima puluh ribu, koma sekian-sekian rupiah saja, karena saldo rekeningnya tidak boleh nol rupiah.


Setelah merasa puas mengagumi setiap inchi dari mobil barunya, sekretaris Morin bergeser dari belakang kemudi dan beranjak keluar dari sana.


"Anda tidak mencobanya dulu Nona? Test drive gitu?" kata sang customer service memberi ide, saat dilihatnya sekretaris Morin sudah turun dari belakang kemudi mobil barunya, tanpa berusaha menghidupkan mesinnya apalagi sampai menjalankannya.


"Tidak perlu Nona, seorang wanita kaya seperti saya tidak akan menyetir seorang diri. Nanti ada sopir saya yang mengambilnya kemari," ucap sekretaris Morin berlagak sombong.


"Oh, baiklah Nona."

__ADS_1


"Kalau begitu, bila Nona sudah merasa cocok dengan pilihan Nona ini, bagaimana bila kita melakukan transaksi pembayarannya?" kata sang customer service, ia tidak terlalu menanggapi kesombongan yang ditampilkan oleh sekretaris Morin. Ia sudah sangat terbiasa dan berpengalaman bertemu dengan para customer sekelas wanita yang ada dihadapannya itu, baginya yang terpenting adalah bagaimana para customer yang ia layani merasa puas dan membeli unit mobil yang ia tawarkan dengan rasa bahagia.


"Baiklah, saya setuju..Saya.juga masih ada urusan lain yang lebih penting dari sekedar membeli mobil," sahut sekretaris Morin masih bernada sombong.


"Mari, ikutlah dengan saya nona Morin," ajak sang customer service itu dengan sikap ramahnya. Sekretaris Morin mengikutinya untuk menemui kasir diruang pembayaran.


"Mohon duduk disini dulu ya nona Morin, saya akan membawa berkas-berkas ini pada kasir," ucap sang customer service mempersilahkan sekretaris Morin duduk diruang tunggu.


Setelah berkata demikian customer service itu terlebih dahulu menghampiri lemari pendingin, ia lalu mengambil satu botol softdrink dari dalamnya dan meletakannya diatas meja didepan sekretatis Morin.


"Silahkan diminum dulu nona Morin," ucap customer service itu menawarkan.


"Terima kasih," sahut sekretaris Morin. Ia segera mengambil softdrink yang diberikan oleh customer service cantik itu, lalu meneguknya hingga tiada bersisa dan membuangnya ke dalam tong sampah yang tidak jauh dari tempat ia duduk.


"Nona Morin Ariani?!" panggil sang kasir memecah keheningan diruang tunggu. Sekretaris Morin yang mendengar namanya dipanggil segera berdiri dan melangkah cepat kedepan menuju meja kasir yang dibatasi dengan sekat kaca transparan.


"Selamat siang Nona Morin Ariani?" sapa sang kasir tersenyum ramah, saat melihat sekretaris Morin telah berdiri dihadapan mejanya.


"Selamat siang juga Nona," sahut sekretaris Morin turut mengulas senyum tipis diwajahnya.


"Apakah Nona akan melakukan pembayaran secara cash atau melalui transfer di rekening?" tanya sang kasir memberi pilihan.


"Transfer saja Nona, tolong berikan nomor rekeningnya pada saya," ucap sekretaris Morin.


"Baik Nona Morin," sang kasir lalu memberikan selembar kertas bertuliskan nomor rekening dealer mobil dan menuliskan nominal yang harus di transfer oleh sekretaris Morin.


Sepasang ibu jari sekretatis Morin mulai mengetik dengan lincah diatas layar ponselnya, dalam hitungan detik, nominal yang ia kirim sudah berpindah tempat dari rekeningnya ke rekening dealer mobil yang ia tuju.

__ADS_1


"Nominal enam ratus tiga puluh juta lima ratus ribu rupiah sudah masuk ke rekening kami Nona," ucap sang kasir mengeja nominal yang telah di transfer oleh sekretaris Morin.


__ADS_2