
Rosalia memasuki ruang kerjanya, ia baru saja selesai melakukan operasi caesar pada salah satu pasiennya. Sebelum istirahat makan siang, ia terlebih dahulu memeriksa berkas pasiennya sebelum diserahkan pada bagian administrasi.
"Dok, ada pasien ingin bertemu," ucap suster dari ambang pintu.
"Persilahkan masuk," ucapnya tanpa menoleh, pokusnya masih pada berkas dihadapannya yang sebentar lagi kelar.
"Baik Dok." suster itu keluar,.lalu mempersilahkan pasien yang ia maksud untuk masuk.
Walau sedikit ganjil karena si pasien tidak mengucapkan salam saat masuk, juga aroma parfum yang tidak asing pada indera penciumannya, Rosalia tetap saja fokus pada berkasnya hingga rampung.
"Apa yang bisa saya--" Rosalia menegakkan kepalanya setelah selesai dan meletakan pulpennya diatas berkas.
"Billy?" Rosalia kaget ketika tamu yang disangkanya pasien adalah laki-laki yang sejak semalam menjadi buah fikirannya. Mulutnya terbuka, hendak melayangkan protes karena laki-laki itu tidak mengucapkan salam sehingga ia tidak tahu bila itu dirinya.
"Maaf, membuatmu kaget. Aku tidak mengucapkan salam khawatir mengganggu konsentrasi kerjamu," ucap Billy kalem seolah memahami isi fikiran Rosalia.
__ADS_1
"Untukmu," tangan Billy terulur, menyodorkan sebuket mawar merah tua segar ditangannya.
"U-untukku?" Rosalia tergagap, menatap Billy dan bunga yang terulur padanya, laki-laki itu membuat dadanya mulai berdegup memaknai sebuket mawar merah tua bersama filosofinya, rasa kesalnya semalam menguap begitu saja entah kemana.
"Heum," Billy mengangguk.
"Sebagai permintaan maafku karena membuatmu kesal semalam. Aku, sampai tidak bisa tidur memikirkannya," jujurnya
Mendengar ucapan jujur Billy, seketika rona merah menghiasi belahan pipi mulus Rosalia, aliran menghangat itu begitu cepat merambat sampai kehatinya.
"Dengan menerima bunga itu, sama halnya kau mau menerima hatiku yang ingin ku titipkan padamu," sambung Billy membuat Rosalia semakin tergagap.
"B-bagaimana bisa? Bukankah ini hanya sebagai permintaan maafmu saja?" ucap Rosalia pura-pura tenang, padahal jantungnya sudah kian berpacu didalam sana. Apakah ini alasannya, ayahnya sering menghalangi laki-laki itu untuk mendekatinya supaya ia tidak mengalami kepanikan yang tiba-tiba saja melandanya seperti ini, batinnya.
Bukannya menjawab, Billy malah berdiri.
__ADS_1
Rosalia semakin tergagap karena laki-laki itu melangkah mendekati dirinya yang masih duduk dibelakang meja.
"Stop! Kau melewati daerah terlarang!" Rosalia seketika berdiri, menaruh bunga mawar pemberian Billy begitu saja diatas meja, kedua tangannya terentang kedepan dan menempel pada dada kokoh Billy, menahan tubuh laki-laki itu supaya tidak bertambah maju lagi.
Rosalia lega ketika Billy tidak berusaha melangkah lagi, tapi tangan laki-laki itu meraih kedua tangannya begitu saja dan menggenggamnya erat.
"Apa kau masih ingat? Ketika kita masih kecil, kau selalu mengatakan ingin menjadi ratuku dan Willy adikku?"
Rosalia tak sanggup menjawab, ia hanya terpaku memandang sorot mata Billy yang seakan mampu menembus hingga kejantungnya.
"Willy adikku, dia sudah menikah, dan memiliki ratunya sendiri," jakun Billy mulai naik turun, saat matanya turun dan melihat bibir merekah didepannya.
"Jadilah Ratuku dokter Rosalia, menikahlah denganku. Aku tidak menerima penolakan. Aku bisa mati kalau kau menolakku, karena aku sudah menyukaimu sejak kita di Taman Kanak-Kanak," ungkap Billy.
Kaget, tentu saja. Lidah dokter cantik itu terasa kelu. Walau sudah lama ia berharap Billy mengungkapkan perasaan padanya, dan mempersiapkan hati dan batinnya dengan baik, tapi tetap saja ia gugup menerima pernyataan cinta sang pujaan hatinya.
__ADS_1
Bersambung...👉