HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Epiaode 56 Salah Arah


__ADS_3

"Kau bisa diam tidak.....!! Aku tidak segan - segan melakukan sesuatu padamu kalau kau tidak bisa diam. Mengerti??!!" Bentak Willy hingga membuat Hanaria langsung bungkam.


"Aduh gawat.......!! Ternyata perempuan berpenampilan sederhan itu adalah pacarnya tuan muda." Gumam security Andra seorang diri, saat dirinya melihat Willy membopong Hanaria dalam gendongannya, dari jok belakang dan memindahkannya kejok depan.


Willy segera memasang sabuk pengaman pada tubuh Hanaria. Wanita itu menghirup aroma wangi citrus yang keluar dari tubuh Willy yang hampir menempel pada tubuhnya. Hanaria menahan napasnya, pria itu memang berwajah tampan dengan postur tubuh pria ideal, nyaris sempurna sebagai seorang pria. Tapi Hanaria selalu merasa takut berada didekatnya, dengan beberapa pengalaman yang tidak menyenangkan setiap kali bersama tuannya itu.


Setelah selesai memasang sabuk pengaman pada tubuh Hanaria, Willy langsung menutup pintu mobil dan bergegas menuju pintu disebelah kemudi. Willy memasang kembali kacamata hitamnya lalu menghidupkan mesin mobilnya.


Tidak menunggu lama, Mobil yang dikendarai Willy merayap lambat menuju gerbang rumah sakit. Beberapa petugas security membungkuk hormat saat mobil Willy melintas dihadapan mereka, termasuk security Andra yang berdebar - debar saat melihat Hanaria duduk disamping Willy dengan tenang dari balik kaca mobil depan yang sengaja diturunkan oleh Willy.


"Kemana arah rumahmu nona Hana?" Tanya Willy tanpa menoleh pada Hanaria yang duduk disampingnya.


"Kanan tuan muda......" Sahut Hanaria seperlunya. Seorang security jaga membantu untuk memberi arahan pada lalu lintas didepan gerbang supaya mobil majikannya itu bisa melintas dengan aman saat menyebrang jalan. Willy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang saat posisinya sudah berada dijalan raya.


"Berikan arahan padaku saat harus berbelok atau berputar arah." Ucap Willy ditengah konsentrasinya mengemudi.


"Iya tuan muda......." Hanaria masih menjawab seperlunya saja. Ia merasa perjalanan pulang kerumahnya kali ini begitu panjang dan terasa lama, hanya ada keheningan didalam mobil itu.


Willy membelokkan mobilnya memasuki area pusat perbelanjaan yang ada dihadapannya. Setelah memarkirkan mobilnya ia begegas keluar tanpa mengatakan apapun pada Hanaria. Hanaria pun tidak perduli. Ia sibuk memeriksa ponselnya, melihat beberapa pesan yang masuk dari WhatsApp dan beberapa e- mail dari tuan Doffy mengenai beberapa design proyek yang harus ia review ulang.


Willy kembali menjalankan mobilnya setelah meletakan beberapa barang belanjaannya dibagasi belakang. Sekilas ia melirik Hanaria yang tengah sibuk memeriksa e-mail diponselnya.


"Apakah kau sengaja sibuk dengan ponselmu, supaya kita tersesat, sehingga kau bisa berlama - lama berduaan denganku didalam mobil ini?" Walau dengan nada datar, perkataan Willy mampu membuat Hanaria menghentikan kegiatannya dan menatap samping wajah Willy yang terkesan acuh.

__ADS_1


Hanaria kembali menatap kearah jalan didepannya, dirinya merasa asing dengan jalan yang sedang mereka lalui.


"Tuan muda ..... saat keluar dari pusat perbelanjaan tadi, ada persimpangan empat traffic light. Tuan mengarah kemana??" Tanya Hanaria kembali menatap Willy yang sedang pokus mengemudikan mobilnya.


"Kekanan......" Sahut Willy santai.


Hanaria langsung menepuk jidadnya. "Tuan muda...... berhenti didepan.......!!" Ucap Hanria setengah berteriak dan tanpa sengaja menepuk keras lengan Willy yang sedang menyetir, membuat pria itu terkejut hingga kecepatan mobil yang dikemudikannya tidak seimbang dan hampir menabrak trotoar.


"Nona Hana......!! Apa yang kau lakukan.....!! Hampir saja kita menabrak trotoar.....!! " Teriak Willy, wajahnya terlihat panik, ia menarik rem hingga berhenti mendadak dipinggir jalan. Untung saja situasi lalu lintas saat itu terbilang sepi.


"Maafkan saya tuan muda...... saya tidak sengaja....." Hanaria menurunkan suaranya, dan merasa sangat bersalah.


"Sudahlah.... tidak apa - apa..... kenapa kau menyuruhku menghentikan mobil ini?" Willy turut menurunkan suaranya.


"Ternyata kau sengaja membuat kita tersesatkan, supaya kau bisa berlama - lama bersamaku dalam mobil ini, bukanlah aku sudah mengingatkanmu dari awal supaya kau menunjukan arah jalan kerumahmu, bukannya asik dengan ponselmu itu." Hanaria mendelik kesal mendengar ucapan Willy yang seenaknya menuduhnya.


"Jalan menuju kerumah saya selalu lurus kedepan, hanya berbelok sekali bila memasuki komplek perumahan saya tuan muda....." Hanaria berusaha menjelaskan karena merasa tidak bersalah.


"Yaa..... mana saya tahu jalur rumah anda nona Hana bila tidak dituntun arahnya." Ucap Willy tak mau kalah.


"Kalau begitu..... turunkan saya disini saja tuan, lebih baik saya pulang sendiri, saya tidak mau berdebat, apalagi menyusahkan dan merepotkan anda tuan muda." Ungkap Hanaria yang merasa semakin kesal dengan sikap tuannya itu.


"Tidak boleh, daddy sudah memperingatkanku supaya tidak menurunkanmu disembarang tempat sebelum tiba dirumahmu. titik.....! Sekarang katakan, aku harus mengarahkan mobilku kemana?" Ucap Willy kembali menghidupkan mesin mobilnya.

__ADS_1


Hanaria menarik napas dalam - dalam lalu mengempaskannya dengan kasar, Willy yang melihatnya berusaha menahan dirinya melihat sikap pegawai wanitanya itu yang tidak merasa takut sama sekali padanya.


"Berbalik arah kebelakang.....! Saat menemukan perempatan traffic light, berbelok kekanan....." Walau masih merasa sedikit jengkel, Hanaria tetap memberitahu arah jalan menuju rumahnya. Willy langsung mengikuti instruksi Hanaria, mobilnya segera berbalik arah menuju jalan yang telah dikatakan Hanaria. Saat menemukan traffic light, Willy menghentikan mobilnya sejenak hingga menunggu lampu berubah berwarna hijau.


Willy membelokan mobilnya kearah kanan jalan setelah melihat lampu diperempatan jalan berwaran hijau. Suasana didalam mobil kembali hening disepanjang perjalanan. Willy sesekali melirik dengan ekor matanya kearah Hanaria yang duduk membisu disampingnya dengan wajah merengut. Tanpa ia sadari, ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman melihat sikap pegawai wanitanya itu.


"Dua puluh meter lagi didepan, berbelok kekiri tuan..... itu komplek perumahan saya." Instruksi Hanaria, Willy mengikuti arahan Hanaria. Saat akan melintas pos jaga, Willy menurunkan kaca mobilnya, seorang security menghampiri mobil Willy yang terlihat asing baginya.


"Selamat siang tuan...... anda mau kemana dan ada keperluan apa?" Tanya security tegas namun tetap bersikap sopan.


"Mengantarkan nona Hana yang baru pulang dari rumah sakit pak....." Jawab Willy menatap kearah satpam sambil melepaskan kacamata hitamnya. Security menatap kagum pada Willy, walau sesama pria, pria dibelakang kemudi mobil sport merah itu memang tidak bisa dipungkiri daya tariknya yang bisa membuat siapa saja terpesona saat memandangnya.


Security melirik kearah Hanaria yang duduk disebelah pria tampan itu. " Pantas saja beberapa hari ini saya tidak melihat anda nona Hana. Apakah anda sudah sembuh nona?" Tanya security itu melemparkan senyum saat melihat Hanaria.


"Iya pak.... saya sudah sembuh..... terima kasih." Sahut Hanaria sambil mengulas senyum tipisnya.


"Silahkan dilanjut tuan, maaf mengganggu perjalannya." Ucap securiry itu dengan sopan. Willy hanya menunjukan senyum tipisnya, laju menjalankan mobilnya dengan pelan memasuki area perumahan didepannya.


Sekilas, Willy memperhatikan situasi dan bentuk bangunan yang terlihat sederhana dikiri dan kanan jalan yang mereka lalui. Walau sederhana, komplek perumahan itu terkesan tenang, bersih, teratur, dan rapi.


"Belok kiri tuan......" Hanaria kembali memberi arahan. Willy tinggal mengikuti arahan pegawainya itu.


"Ya...... sekarang berhenti didepan pagar rumah yang ada depan itu tuan." Willy menghentikan mobilnya tepat seperti yang diarahkan Hanaria. Hanaria membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Ia membuka pagar besi rumahnya yang hanya setinggi dada orang dewasa. Hanaria memberi isyarat agar Willy membawa mobilnya masuk kepekarangannya yang tidak begitu luas.

__ADS_1


"Kak Hana..... aku rindu padamu....." Firlita yang baru keluar dari pintu rumah langsung menghambur kedalam pelukan Hanaria.


__ADS_2