
"Terima kasih," ucap Hanaria, ia menghentikan langkahnya, menatap Willy yang juga turut menghentikan langkahnya.
"Untukmu, Mommy, dan juga Daddy, yang sangat baik dan perduli padaku, walau aku banyak maunya," ucap Hanaria seraya tersenyum tipis pada Willy yang menatapnya.
"Kalian begitu perduli padaku, membantuku dan mengajariku untuk mempersiapkan diri menghadapai pekerjaan baruku," imbuh Hanaria dengan perasaan penuh haru.
"Kau isteriku, dan kita sudah menjadi satu keluarga Agatsa. Jadi tidak mungkin kami membiarkanmu sendiri." Ucap Willy lembut. Ia kembali meraih tangan Hanaria dan mengajaknya melanjutkan langkah mereka menuju kebun mawar yang tinggal beberapa langkah lagi.
Hanaria memejamkan matanya, saat aroma wangi bunga-bunga mawar tercium oleh indera penciumannya sambil terus melangkah melintasi gerbang yang terbuka lebar. Hanaria terpesona, ketika ia membuka matanya perlahan, melihat hamparan luas kebun Mawar yang membentang dihadapannya.
"Apakah kau suka?" tanya Willy sambil tersenyum melihat reaksi isterinya itu.
"Suka, suka sekali," sahut Hanaria memandang kagum kebun mawar yang beraneka warna terhampar luas dihadapannya, berbaris rapi dan memberikan aroma yang menyegarkan disore itu.
Ia melepaskan tangan Willy dari tangannya, melangkah maju, menyentuh kuntum-kuntum mawar yang bermekaran disepanjang sisi jalan. Hatinya ikut berbunga-bunga.
Willy tetap mengikuti Hanaria dari belakangnya, membiarkan isterinya itu menikmati suasana kebun mawar dengan caranya sendiri.
"Selamat sore tuan muda," sapa seorang wanita paruh baya, kepala kebun mawar datang menghampiri Willy sambil membungkuk hormat.
"Selamat sore juga Bibi," Willy menoleh, menghentikan langkahnya lalu balas menyapa sambil mengulas senyum pada sang kepala kebun kepercayaan keluarganya.
"Ada yang perlu saya bantu tuan muda?" tanya wanita itu sopan.
"Tidak bibi, kami hanya berkunjung saja. Hanaria, menyukai kebun bunga mawar ini, jadi saya membiarkannya untuk menikmatinya sesuka hatinya," sahut Willy, pandanganya terus mengawasi Hanaria yang masuk kerumpun-rumpun mawar menemui beberapa pekerja yang sedang melakukan pekerjaannya.
"Nona Hanaria sangat cantik, dan juga ramah, sangat serasi dengan anda tuan muda," puji sang kepala kebun, ia turut memandang kearah Hanaria yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa pekerja yang sedang membersihkan ranting-ranting mawar yang perlu dipangkas.
"Kalau saja dia tidak cantik wajah dan hatinya, aku tentu tidak akan menikahinya Bibi," puji Willy dengan senyuman mengembang membuat sang kepala kebun turut tersenyum melihat majikannya itu.
"Jika saya perhatikan, cinta tuan muda teramat besar pada nona," sambung sang kepala kebun dengan maksud menggoda Willy untuk melihat reaksinya.
__ADS_1
"Bibi bisa saja, memangnya saya terlihat seperti itu?"ucap Willy, ia berusaha menyembunyikan perasaannya didepan wanita tua itu.
Sementara Hanaria terlihat terburu-buru meninggalkan para pekerja kebun mawar itu, dan mendekati Willy dan kepala kebun dengan seikat tangkai mawar dalam pelukannya.
"Tentu saja Tuan muda, saya juga pernah muda, sama seperti Tuan muda dan Nona," sahut wanita kepala kebun itu. Ia membungkuk hormat pada Hanaria yang sudah berada didekat mereka.
"Selamat sore Nona," sapa sang wanita kepala kebun.
"Selamat sore juga Bibi," sahut Hanaria membalas sapaan wanita itu sambil mengulas senyum ramahnya. Pandangannya lalu beralih pada Willy suaminya.
"Willy-," wajah Hanaria menunjukan rasa cemasnya saat menyebut nama suaminya itu.
"Ada apa Hana, apa yang terjadi, sehingga membuatmu cemas seperti itu?" tanya Willy, ia melihat ada kegelisahan yang tersirat diwajah Hanaria.
"Firlita-," suara Hanaria tercekat dilehernya. Kekhawatiran terlihat jelas dari wajahnya membuat Willy dan wanita kepala kebun turut khawatir melihatnya.
"Firlita? Apa yang terjadi padanya Hana?" tanya Willy penasaran, hatinya ikut cemas, karena siang harinya saat ia bersama-sama para team audit dikantor sebelum menjemput Hanaria, ibunya sempat memberi kabar padanya melalui WhatsApp bila Firlita pergi dari rumah.
"Bolehkah kita pulang sekarang, aku takut terjadi apa-apa padanya Willy," pinta Hanaria menatap wajah suaminya itu penuh harap. Willy tidak tega melihat wajah Hanaria yang penuh kecemasan, ia terpaksa mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, kita pulang sekarang," sahut Willy, walau hatinya sebenarnya tidak rela menyia-nyiakan liburan bulan madunya yang ia nikmati baru dua hari bersama isterinya itu, namun ia tidak bisa mengesampingkan ķecemasan Hanaria pada keadaan Firlita yang akan melahirkan.
"Bibi, kami permisi dulu. Firlita, adik Hanaria akan melahirkan," ucap Willy pada wanita kepala kebun untuk berpamitan.
"Baiklah Tuan muda dan Nona, hati-hati dijalan," sahutnya, lalu membungkuk hormat. Ia memandang kepergian Willy dan Hanaria. Dalam hatinya, ada sedikit pertanyaan, mengapa adik nona-nya itu lebih dulu menikah dan sebentar lagi akan melahirkan, namun ia segera menepisnya, karena tidak pantas bertanya hal yang bukan urusannya.
...***...
Willy tidak membiarkan Hanaria menyetir, walau isterinya itu memaksa, ia khawatir Hanaria akan lepas kendali sama seperti ketika ia dan isterinya itu pulang dari proyek, karena mengejar waktu untuk menghadiri panggilan pihak kantor kepolisian yang ada hubungannya dengan Firlita juga waktu itu.
Sepanjang perjalanan Hanaria terlihat gelisah, duduknya tidak tenang. Willy yang sesekali memperhatikannya dengan ekor matanya hanya mendiamkan saja tanpa berkomentar apapun. Ia berfokus pada jalan dihadapannya, walau ia tidak melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, namun ia berusaha bisa sampai sesegera mungkin.
__ADS_1
Pukul sepuluh malam kurang lima menit, mobil sport merah milik Willy memasuki halaman rumah Hanaria. Terlihat bibi Salu yang berada diteras rumah Hanaria, dan dua orang pria, pengawal pribadi Moranno yang menemaninya segera berdiri dan membungkuk hormat saat Willy dan Hanaria turun dari mobil.
"Bibi Salu, kenapa hanya berdiri diluar saja?" tanya Hanaria, ia measa heran melihat pintu rumahnya tertutup rapat.
"Nona Firlita berada didalam nona Hana, ia sama sekali tidak membuka pintu. Saya takut terjadi sesuatu padanya," sahut bibi Salu cemas.
Hanaria segera merogoh saku tas jalannya, mengambil kunci rumah yang ada disana dan membukanya dengan anak kunci itu.
"Firlita!" panggil Hanaria, ia segera menghambur masuk diikuti oleh Willy dan bibi Salu, sementara dua pengawal pribadi Moranno hanya menunggu diteras saja.
"Kau dimana Firlita?!" Teriak Hanaria semakin cemas, ketika tidak melihat Firlita dikamarnya, ia segera menuju kamar mandi saat mendengar suara rintihan dari sana.
"Apa yang terjadi Firlita?!" Hanaria panik. Firlita nampak tidak berdaya didalam kamar mandinya, disela-sela pahanya mengalir darah segar.
"Kak Hana, aku terpeleset," ucapnya lemah.
"Perutku, sakit sekali kak," wajah Firlita terlihat pucat, ia memegang perutnya yang terasa semakin sakit dan terus bergerak-gerak, sementara keringat dingin mengucur dari keningnya.
"Willy, tolong bopong Firlita ke mobil," pinta Hanaria.
Willy dengan sigap mebopong Firlita dan membawanya kemobil. Tanpa permisi, Hanaria merogoh kunci mobil di dalam saku celana suaminya, ia langsung masuk dan duduk dibelakang kemudi.
"Aku yang akan menyetir, kita langsung kerumah sakit Pemerintah, menemui dokter Rosalia," ucap Hanaria sambil menghidupkan mesin mobil Willy, lalu segera melarikannya kerumah sakit.
Sementara bibi Salu dan dua pengawal Moranno mengikuti mereka dari belakang.
"Hana, hati-hati!" Willy memperingatkan, karena Hanaria melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara Firlita yang masih berada dalam pangkuan Willy dikabin belakang, memeluk erat lehernya, membuat Willy merasa tidak nyaman.
...***...
__ADS_1