
Nyonya Mingguana menatap lurus kedepan dengan wajah datarnya dari kursi kebesarannya yang berposisi dikepala meja rapat. Ia memberikan keleluasaan pada para dewan direksi dan pemegang saham itu untuk tertawa sepuas hati mereka.
Para peserta rapat itu memandang asisten David yang datang memanggul satu kursi dari luar ruangan, dan meletakannya tepat disebelah nyonya Mingguana untuk Hanaria.
"Satunya seorang badut, dan satu lainnya lagi tukang panggul kuli pelabuhan, sungguh hebat Nyonya memilih para asisten," cemooh pria dari anggota dewan direksi itu lagi. Wajahnya terlihat sangat puas, ketika perkataannya itu kembali disambut gelak tawa para peserta rapat dalam ruangan itu.
Nyonya Mingguana melirik dengan ekor matanya pada Hanaria dan asisten David yang duduk disisi kanan dan kirinya, kedua anak buahnya itu duduk tenang menatap lurus kedepan sama seperti dirinya tanpa bereaksi apapun mendengar diri mereka menjadi bahan tertawaan segenap dewan direksi, pemegang saham, dan para manager itu.
Lambat laun, suara-suara tawa riuh itu mulai menghilang seperti dibawa angin, masing-masing diri mulai mengatupkan mulutnya, entah karena terlalu lelah tertawa, atau melihat ekspresi sang owner yang dingin bersama kedua anak buahnya.
"Nyonya, kenapa meeting-nya belum dimulai juga? Lihat, kita sudah melewatkan dua puluh menit waktu yang sia-sia," ucap pria anggota dewan direksi itu lagi sambil melirik arloji tangannya, ia terlihat sangat santai sambil memutar-mutar kursinya kekiri dan kekanan.
"Anda benar tuan Rudolf Bong," sahut nyonya Mingguana datar. Ia menatap lurus pada sepasang mata pria yang menimbulkan hiruk pikuk diawal pertemuan eksklusif itu dengan tatapan dinginnya. Suasana nampak senyap, bersiap mendengarkan kalimat nyonya Mingguana selanjutnya.
"Saya telah membuang-buang waktu berharga saya selama dua puluh menit hanya untuk menyaksikan para badut yang tertawa aneh seperti manusia yang menderita sakit jiwa," sarkas nyonya Mingguana tajam. Segenap peserta nampak menatap nyalang kearahnya, namun nyonya Mingguana tidak merasa menyesal dengan ucapannya.
"Apa maksud ucapan Nyonya?" wajah tuan Rudolf memerah dan berubah serius, ia menegakkan punggungnya yang sebelumnya menyandar pada kursi yang ada dibelakangnya. Sementara peserta yang lain menatap sang owner dengan pandangan sinis tidak terima, namun tidak ada yang berani menyanggah selain tuan Rudolf.
"Bukankah tuan Rudolf Bong yang memberikan ide pada saya untuk menyewa seorang badut?"
"Menurut saya itu tidak perlu tuan Rudolf Bong, karena kita sudah memiliki para badut gratis hari ini, manusia-manusia yang dengan sukarela menertawai sesuatu yang tidak layak ditertawai!"
"Sederhana sekali, saya sedang menguji tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang terhormat, saya ingin melihat siapa yang perduli, dan dengan ringan hati mau menyiapkan kursi untuk seorang pegawai marketing biasa saya? Tenyata tidak ada! Hanya bisa mengumbar tawa saat asisten pribadi saya memanggul kursi!" semua peserta rapat masih terdiam, meski wajah mereka terkesan tidak terima mendengar perkataan yang dilontarkan sang owner yang mereka benci.
__ADS_1
"Asisten David, buka rapatnya sekarang, waktu kita hanya bersisa seratus lima puluh menit saja, setelah sempat terbuang dua puluh menit yang sia-sia," perintah nyonya Mingguana pada asistennya yang duduk disisi kirinya.
"Baik Nyonya," asisten David lalu menatap lembaran kertas dihadapannya yang telah ia persiapkan, lalu mulai membacanya.
"Peraturan rapat :
Rapat dipimpin langsung oleh owner Perusahaan Mega Otomotif, nyonya Mingguana Alhandra Liem.
Pembahasan hanya dalam lingkup keuangan, sparepart, product penjualan, dan marketing.
Peserta rapat boleh bersuara dan berbicara, bila telah mendapat ijin langsung oleh pemimpin rapat.
Pemimpin rapat berhak mengeluarkan peserta yang tidak patuh pada aturan rapat.
"Rapat penting antara owner, anggota dewan direksi, pemilik saham, dan para manager di BUKA!" seru asisten David membuka rapat. ia meraih palu yang berada disisi kanannya, lalu membenturkan benda tersebut kepermukaan meja beberapa kali pertanda pertemuan penting itu segera dimulai.
Dok! Dok! Dok!
"Silahkan Nyonya," kata asisten David pada sang majikannya, lalu meletakan kembali palu ditangannya pada posisinya semula.
__ADS_1
"Tuan Rudolf Bong, raja para badut! Silahkan suarakan suaramu di forum eksklusif ini dengan sopan dan penuh etika," ujar nyonya Mingguana menatap dingin pada tuan Rudolf yang duduk tepat berseberangan dengan dirinya.
"Maaf Nyonya, saya keberatan dengan sebutan Anda yang tidak pantas itu pada saya," ungkap tuan Rudolf tidak terima seraya berdiri dari kursi empuknya dengan wajah masam.
"Keberatan ditolak! Anda hanya diperkenankan berbicara sesuai yang saya ijinkan, bila tidak, silahkan keluar dari ruangan ini sesuai peraturan rapat. Ide sebutan itu saya ambil dari saran tuan Rudolf sendiri," sanggah nyonya Mingguana datar.
"Silahkan duduk kembali, atau keluar dari ruangan ini," lanjut nyonya Mingguana dengan penuh penekanan. Tuan Rudolf membuang nafas kasar, tidak ada pilihan lain selain menghempaskan bokongnya kembali dikursi empuknya bila tidak ingin kehilangan segalanya.
Sementara peserta yang lain tidak bereaksi apapun. Selama ini mereka hanya mendengar sepak terjang sang pembisnis wanita yang terkenal dengan gaya arogansinya yang tanpa memandang bulu itu.
"Silahkan tuan Rudolf, raja para badut! Kau dan anggota dewan direksimu yang ada dikubumu, yang membawahi manager keuangan dibawahmu, paparkan secara jelas dan gamblang semua laporan keuangan secara transfaran diforum ini," tegas nyonya Mingguana menatap wajah masam tuan Rudolf.
Tuan Rudolf akhirnya terpaksa menginstruksikan pada manager keuangan untuk menunjukan laporan keuangan lewat monitor yang ada dihadapan masing-masing peserta rapat.
Hanaria ikut memperhatikan pada layar monitor dihadapannya, setiap detail yang dilaporkan oleh manager keuangan. Mulai dari keuangan perusahaaan hingga jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham itu. Berbekal ilmu accounting yang ia dapatkan dari Willy, pada saat suaminya itu rajin memeriksa laporan dari sekretaris Morin saat dirumah, membuatnya bisa memahami hingga pada laporan rugi-laba.
"Demikian Nyonya," ucap manager keuangan mengakhiri laporannya.
"Terima kasih. Empat puluh menit lebih dua puluh detik, selama itu kita mendengarkan laporan keuangan yang amat sangat menyedihkan," kata nyonya Mingguana, mengungkapkan pendapatnya setelah mendengarkan laporan keuangan perusahaan Mega Otomotif yang telah menjadi miliknya selama empat bulan terakhir.
"Sekarang giliran Anda Manager Sparepart, silahkan sampaikan laporannya," ucap nyonya Mingguana menatap seorang pria beruban yang sudah mempersiapkan semua datanya.
"Baik Nyonya," Pria itu mulai menampilkan beragam stock sparepart yang sudah ia daftarkan secara terperinci sambil sesekali memberi penjelasan pada beberapa jenis sparefart yang perlu diketahui.
__ADS_1
Setelah pelaporan sparefart usai, berlanjut hingga product-product yang dihasilkan perusahaan otomotif itu, hingga launching dan pangsa marketing-nya.
"Waktu tinggal tiga puluh menit lagi, silahkan Manager Marketing, Pak Antonio, memaparkan pemasaran yang sudah biasa Anda lakukan selama menjadi Manager Marketing di Mega Otomotif ini," ucap nyonya Mingguana menatap pegawai senior di Perusahaannya itu.